Keindahan dari Kehancuran – Kisah Joelle Maryn

Joelle Maryn (Sumber: chnetwork.com)

Iman yang Bernyala-nyala

Dahulu, saya seorang gadis kecil yang rajin berdoa. Saya dilahirkan dan dibesarkan dalam Iman Katolik. Saya dibesarkan di kota kecil di negara bagian New York. Anda bisa melihat gereja St. Mary dan aula parokinya dari jendela ruang tamu di rumah kami. Presbiter paroki sering datang untuk makan malam, dan keluarga saya sangat terlibat di kehidupan menggereja. Iman saya begitu dalam, dan saya berbicara dengan Tuhan seolah-olah saya punya saluran telepon langsung. Saya merasakan kehadiran-Nya dalam hidup saya dan tahu kalau Ia bisa memindahkan gunung.

Tetapi ketika saya berusia 6 tahun, sekitar satu pekan sebelum Natal, ada orang yang lupa mematikan lilin di lingkaran Adven, sehingga pohon Natal kami yang masih hidup itu terbakar. Saya terbangun karena ayah saya meneriakkan nama saya ketika nyala api itu bernyala-nyala. Saat itu sebagian rumah kami terbakar. Begitu banyak asap hitam, sehingga sulit untuk melihat dan bernapas. Tapi ayah saya menggendong saya menembus kobaran api. Entah bagaimana saya tidak terbakar.

Ayah berkata kepada saya supaya saya pergi ke rumah tetangga untuk meminta bantuan. Saya berlari keluar ke dalam cuaca yang sangat dingin, saya tiba di ujung batas rumah saya dan melihat ke belakang. Saya melihat rumah saya hampir habis dilalap si jago merah dan pikiran saya terbagi antara meminta bantuan tetangga atau kembali ke rumah untuk menyelamatkan ayah saya. Ayah sedang berusaha menyelamatkan kakak perempuan saya yang berusia 11 tahun, namanya Maria. Tapi nyala api yang sangat besar mengelilingi pintu, sehingga ayah sulit masuk. Saya yakin ayah bisa meninggal jika berusaha masuk. Saya lari kembali ke rumah yang terbakar untuk menjemput ayah, dan ayah datang ke rumah tetangga bersama saya untuk menelepon pemadam kebakaran. Ironisnya, pemadam kebakaran terletak di jalan kecil rumah kami yang jaraknya kurang dari satu mil! Tapi saluran telepon sedang gangguan, dan pada awalnya kami tidak bisa mencapai tempat itu. Akhirnya, ketika pemadam kebakaran datang, mereka tidak bisa menemukan kakak perempuan saya itu. Begitu mereka menemukannya, dia masih hidup hanya tidak sadarkan diri, dan mereka buru-buru membawanya dengan ambilans ke rumah sakit.

Saya tidak akan pernah lupa ketika berada di kamar rumah sakit bersama dengan ayah saya ketika kami berdua baru saja pulih karena terlalu banyak menghirup asap dan menunggu bagaimana kabar Maria. Saya berdoa supaya Allah menyelamatkannya, tapi mimpi buruk saya menjadi kenyataan, ketika dokter datang ke ruangan kami untuk mengabarkan bahwa ia sudah meninggal. Meskipun dia tidak mengalami luka bakar, jantung dan paru-parunya melemah karena terlalu banyak menghirup asap.

Ayah saya meratapi dan menjerit-jerit ketika ia memeluk saya. Pada saat itu, hati saya bisa merasakan dalamnya sakit hati yang dialami ayah, sehingga saya tidak bisa memikirkan diri saya sendiri. Melihat seorang pria, ayah saya, dalam rasa sakit batin yang menyiksa ini, tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkannya.

Sakitnya Kehilangan

Rasa sakit kehilangan saudari saya tidak bisa dilukiskan. Semua anggota keluarga kami sangat terluka. Hidup seolah-olah tidak punya tujuan lagi, tanpa makna, tanpa harapan. Malam itu, saya tidak hanya kehilangan saudari saya. Saya kehilangan ibu saya karena depresi, dan ayah saya jatuh ke dalam alkoholisme, rumah saya, mainan, pakaian, dan segalanya dan semua orang yang saya kenal dan cintai.

Saya merasa tersesat dan sendirian, seolah-olah saya tidak ada lagi atau tidak punya alasan untuk hidup. Saya punya pertanyaan tapi tidak punya jawaban. Mengapa hal ini terjadi? Di mana Tuhan? Mengapa saya selamat tapi saudari saya tidak? Mengapa Tuhan meninggalkan saya di kehidupan yang sengsara dan seperti mati rasanya?

Beberapa bulan kemudian, di ulang tahun saya yang ke-7, saya sangat kehilangan saudari saya, dan ada suatu pemikian muncul di benak saya. Saya tahu Kitab Suci dengan baik, dan bahwa Allah punya kuasa untuk membangkitkan orang mati. Saya punya iman yang dalam dan seperti anak-anak dan saya punya rencana! Saya mengumpulkan semua boneka saya untuk membuat bentuk seukuran manusia yang menyerupai saudari saya. Kemudian saya berdoa dan memohon kepada Allah supaya mengembalikannya. Saya memohon kepada-Nya untuk membangkitkannya, tetapi tidak terjadi apa-apa. Saya kira kalau Ia tidak mendengar saya atau saya belum berdoa dengan keras, jadi saya berusaha lagi, tapi tetap tidak terjadi apa-apa. Kemudian, saya berusaha untuk ketiga kalinya. Ketika tidak ada yang terjadi, saya merasa diri sungguh-sungguh hancur. Saya sangat merindukan saudari saya! Saya tahu Allah punya kuasa membangkitkan orang mati, tapi saya pikir Ia tidak terlalu mengasihi saya, dan saya kehilangan kepercayaan dan harapan saya kepada-Nya.

Tidak sadar, saya memutus saluran telepon dengan-Nya, dan meskipun saya masih berdoa, saya tidak lagi punya iman yang sama. Saya masih ikut Misa bersama keluarga saya, tapi seiring tahun-tahun berlalu, keraguan saya semakin besar dan kehidupan rohani saya melemah.

Kehilangan Perasaan akan Dosa

Selama masa remaja saya, saya mulai membenarkan dosa dan tumbuh semakin jauh dari Allah. Kakek dan nenek saya yang sudah membantu membesarkan saya yang tinggal di ujung jalan dari rumah kami, mereka orang-orang Katolik yang taat. Mereka rutin ikut Misa dan berdoa Rosario beberapa kali dalam sehari, serta melakukan banyak doa lain dan novena. Dengan setiap dosa, saya merasa gagal total. Seolah-olah tidak ada harapan lagi bagi saya. NAmun, saya bersembunyi di balik topeng seolah-olah saya punya segalanya. Inilah sesuatu yang sudah menjadi keahlian saya.

Dibesarkan di teater dan sudah berada di panggung sejak usia 5 tahun. Sejak usia dini, saya mulai bersembunyi di balik peran karakter dan menemukan kelegaan sementara karena tidak harus menghadapi diri saya sendiri. Saya tidak yakin siapa diri say aini, maka saya lebih nyaman berpura-pura menjadi orang lain. Selama SMA, saya mulai bepergian ke New York City untuk ikut audisi dan kelas vokal dan akting. Setelah saya lulus, saya pindah ke sana untuk mengejar impian saya.

Saya tinggal di New York City sekitar lima tahun, kemudian pindah ke Los Angeles selama lima tahun lagi sebelum saya pindah ke Austin, Texas. Dulu saya seorang aktris dan model, kemudian saya menjadi seorang juru bicara untuk sebuah perusahaan kosmetik nasional. Selama tahun-tahun ini, saya menjadi model untuk merek-merek nasional seperti Jergens dan Target. Diri saya pernah dipajang di billboard yang dipajang di Times Square, dan juga menjadi pembawa acara TV untuk ABC-5, dan pernah tampil dalam film-film independent, pernah tampil di beberapa sampul buku dan menjadi bintang tamu di acara berita seperti yang ada di NBC. Bagi dunia, sepertinya saya punya segalanya. Tapi, semakin banyak yang saya miliki, semakin saya merasa hampa.

Kehilangan Diri Saya Sendiri

Selama tahun-tahun itu juga ada banyak peran dan posisi yang tidak saya peroleh ketika saya ikut audisi. Kebanyakan orang tidak membicarakan hal ini, tapi saya mengalami banyak penolakan dalam bisnis hiburan. Saya dihakimi dari penampilan saya dan seberapa banyak uang yang bisa dihasilkan untuk orang lain, semuanya itu sangat sulit. Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk tersesat, dan harga diri saya anjlok.

Mengingat tekanan untuk membuat citra-citra palsu untuk memuaskan keinginan dunia, saya tidak pernah merasa cukup baik. Saya berjuang selama bertahun-tahun dengan citra diri yang buruk, dan meskipun saya tidak pernah resmi didiagnosis kelainan makan, bobot tubuh saya 97 pon (± 44 kg) selama lebih dari 5 tahun. Seperti banyak model lainnya, saya tidak pernah berpikir kalau saya ini cukup kurus.

Mereka bilang bahwa mata adalah jendela jiwa. Ketika saya melihat gambar model saya sekarang dan menatap mata saya, saya melihat adanya kekosongan, tatapan hampa dan kesedihan yang mendalam yang saya yakin banyak orang akan melewatkannya saat melihat gambar luar yang kelihatan glamor. Saya tidak tahu identitas sejati saya di dalam Kristus, atau saya diciptakan untuk sesuatu yang lebih dari itu. Saya menjadi citra dunia, dan saya punya banyak ilah palsu, seperti materialisme dan kesombongan. Dan ilah-ilah itu menelan saya.

Kemiskinan dalam Kekayaan

Saya berpikir, “Setelah saya punya ini, saya akan bahagia.” Atau, “Sesudah saya melakukan ini, saya akan Bahagia.” Tapi tidak ada yang memuaskan. Saya hanya mencentangi kolom-kolom di selembar kertas. Tetap saja, kekayaan materi yang ada. Saya punya dua rumah impian di laut di Florida dan sebuah rumah impian di Austin dengan halaman bergaya Italia dan pemandangan Hill Country dan danau. Saya pulang pergi naik pesawat antara New York City dan Los Angeles, bertemu dengan bos majalah dan selebriti dan menerima kiriman pakaian dari para desainer. Bagi dunia, sepertinya saya punya segalanya, tapi saya TIDAK PUNYA APA-APA! Saya mencari kesembuhan dan penerimaan di semua tempat yang salah.

Sekitar 8 tahun lalu, saya terbang ke Los Angeles untuk sesi pemotretan untuk perusahan kosmetik saya. Saya berdiri di atas Gedung dengan tanda Hollywood di belakang saya dan matahari sedang menyinari saya. Mengenakan gaun seharga $4.000 dan mengambil foto saya sebagai wajah perusahaan. Tampaknya hal itu mejadi momen puncak, seolah-olah akhirnya saya berhasil.

Tapi masalahnya bukan itu. Saya tidak berhasil.

Setelah serangkaian kejadian lain di malam itu, saya sadar bahwa saya tidak pernah merasa lebih tersesat dan sendirian dari saat itu. Saya mencapai titik spiritual yang paling rendah. Saya bersembunyi di balik peran karakter itu, bersembunyi di balik riasan, bersembunyi di balik sesuatu yang glamor dan sukses. Bersembunyi dan terus bersembunyi dari kebenaran. Bahkan saya tidak yakin lagi apa itu kebenaran, tapi saya sadar bahwa saya sedang bersembunyi darinya. Saya lelah bersembunyi dari kebenaran. Begitu sakit rasanya ketika bersembunyi. Begitu menyakitkan ketika melihat segala kejadian hidup “disatukan,” padahal kenyataannya saya sedang hancur berantakan. Saya perlu kebenaran, saya perlu kesembuhan, saya perlu tahu siapa diri saya sebenarnya dan bagaimana keluar dari kekacauan hidup yang saya alami. Saya ingin bebas, tapi saya terbelenggu rantai dosa, keegoisan, dan dusta identitas diri saya. Ini marupakan waktu yang sangat penting. Saya sedang mengalami krisis identitas, dan saya menghabiskan waktu malam itu dengan menangis di lantai kamar mandi hotel yang mewah di West Hollywood.

Meratap dan menangis. Saya merasa hancur, sangat hampa.

Di masa yang putus asa ini, saya berseru kepada Tuhan. Saya sungguh berdoa untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Saya pikir saya sudah berdoa selalu, tapi doa-doa saya sangat dangkal. Saya berdoa seperti, “Tuhan, saya ingin bekerja dengan selebriti ini itu,” dan “Tuhan, saya ingin ini,” dan “Tuhan, saya butuh ini” seolah-olah “ini” yang paling saya butuhkan.

Dosa Saya Menjadi Dosa Mereka

Saya tidak punya hubungan dengan Tuhan dan tidak tahu siapa Tuhan itu atau juga saya tidak tahu lagi siapa diri saya sendiri. Pada waktu di kamar mandi, akhirnya saya membuka hati saya untuk punya hubungan dengan Tuhan. Saya mengakui kehancuran diri saya dan kebutuhan saya akan Tuhan. Saya memohon supaya Tuhan menyelamatkan saya dan kembali ke hidup saya. Pada saat itu, saya memulai perjalanan pulang saya ke Gereja Katolik.

Ketika saya kembali ke Austin, saya terus berdoa dan memohon bimbingan Allah. Sekitar satu pekan kemudian, saya sedang berada di kamar mandi dan tiba-tiba saya berjumpa Tuhan. Saya melihat hidup saya dalam sekejap dalam mata saya. Seperti pengalaman mendekati kematian, seperti dipanggil di pengadilan. Saya melihat setiap dosa yang pernah saya lakukan. Sungguh menyiksa melihat dosa-dosa itu dalam jiwa saya, dan melihat bagaimana saya sudah melukai Allah yang luar biasa.  Lebih buruk lagi, saya diperlihatkan bagaimana saya sudah menyalahgunakan karunia kepemimpinan saya, dan saya melihat dampak dosa saya terhadap orang lain, dan bagaimana ketika orang-orang yang mengikuti saya dosa saya melukai semakin banyak orang. Saya melihat bagaimana satu dosa kecil berubah menjadi dosa lain. Dan bagaimana, setiap dosa itu, saya semakin buta sampai tidak bisa melihat kebenaran lagi. Dan terlihat seperti efek bola salju.

Saya punya dosa berat dalam jiwa saya. Tapi yang paling buruk dari apa yang saya lihat bahwa “kolom baik” saya yaitu kolom yang apa saya perbuat, dan menggunakan karunia yang sudah diberikan kepada saya, kolom itu hampir kosong. Saya sudah menjadi sangat egois. Saya tidak pernah mengasihi.

Tidak ada kata yang bisa menggambarkan rasa sakit yang saya rasakan. Rasa sakit ketika mata rohani saya terbuka dan melihat bahwa diri saya belum memenuhi kehendak Allah dan menjadi manusia yang bukan seperti yang Ia kehendaki. Dan juga ada rasa sakit ketika melihat karunia dan rahmat yang terbuang percuma.

Pengalaman ini sungguh luar biasa, dan dengan melaluinya hidup saya berubah untuk selamanya. Saya harus membuat pilihan. Apakah saya akan terus hidup sebagaimana adanya dan menuju arah yang salah atau apakah saya sudah siap untuk kembali kepada Tuhan dan menyerahkan hidup saya kepada-Nya? Apakah saya siap untuk mengisi “kolom baik” dan menjadi diri yang sesuai dengan kehendak-Nya? Perlu waktu hampir dua tahun untuk mendapatkan kejelasan tentang pengalaman ini, sementara itu saya menemukan bahwa orang lain juga menghadapi hal yang serupa. Katekismus menyebutkan bahwa pada akhir zaman, setiap orang akan mengalaminya:

Kalau Ia datang pada akhir zaman untuk mengadili orang hidup dan orang mati, Kristus yang dimuliakan akan menyingkapkan isi hati yang terdalam dan akan membalas setiap manusia sesuai dengan pekerjaannya, tergantung pada, apakah Ia menerima rahmat Tuhan atau menolaknya. (Katekismus Gereja Katolik §682)

Dengan cara yang sama, St. Faustina menulis dalam buku hariannya: “Tiba-tiba aku melihat kondisi jiwaku seutuhnya seperti yang dilihat oleh Allah. Aku bisa melihat dengan jelas semua yang tidak berkenan kepada Allah. Aku tidak tahu bahwa pelanggaran sekecil apa pun harus dipertanggungjawabkan. Sungguh peristiwa yang luar biasa! Siapa yang bisa menggambarkannya? Berada di hadirat Allah Tritunggal yang Mahakudus!”

Dalam Belas Kasih-Nya

Syukur kepada Allah! Dalam belas kasih-Nya, saya diberi kesempatan lagi. Saya tidak mati, akhirnya saya memperoleh hidup lagi. Saya dibangkitkan dalam-Nya dalam kebenaran, dan akhirnya saya tahu apa artinya keindahan. Kasih sendirilah yang merupakan keindahan sejati, karena tanpa kasih semuanya besar dan tidak ada yang buruk.

Tepat setelah pengalaman di kamar mandi, saya sangat bersyukur karena memperoleh kesempatan baru untuk mengasihi dan melayani. Saya lapar dan haus akan kebenaran, dan tak lama kemudian saya mulai membaca Alkitab. Saya membaca Alkitab sampai tamat dalam waktu dua bulan. Perikop tentang Yesus yang hilang dan berada di Bait Allah sedang mendengarkan para pengajar (Lukas 2:41-52) selalu muncul dalam doa saya. Saya memohon kepada Allah, “Di mana saya bisa menemukan Bait Allah seperti ini dan bisa belajar dari guru-guru-Mu?” Saya berkata kepada-Nya, “Saya ingin hilang dan berada di Bait-Mu!”

Ketika saya mendoakan hal ini, suatu gambaran tentang Gereja Katolik muncul di benak saya, dan saya memutuskan untuk mulai ikut Misa harian. Saya sudah menghabiskan waktu 12 tahun menjauh dari Gereja Katolik, dan itu menjadi 12 tahun terburuk dalam hidup saya! Dan selama itu saya sudah memberi tahu orang lain kalau saya itu seorang Katolik dan ikut Misa hari raya bersama keluarga, tapi sebenarnya saya tidak menjalankan iman saya.

Pulang menuju Kedamaian

Setelah perjumpaan ini, saya tidak berjalan, saya tidak berjalan melainkan saya berlari kembali ke Gereja Katolik. Saya tidak akan pernah lupa dengan Misa pertama saya setelah saya kembali, dan bagaimana perasaan berada di rumah ketika berada di gereja. Sepertinya begitu benar, dan memberikan kedamaian yang tak terlukiskan. Ketika saya menerima Yesus dalam Ekaristi Kudus, jiwa saya dipenuhi dengan sukacita dan kerendahan hati yang luar biasa. Saya merasa diri sangat kecil, namun aman dalam pelukan-Nya. Saya punya keinginan untuk membantu orang lain, bukan hanya membantu diri saya sendiri. Seolah-olah saya sedang diciptakan kembali. Kedamaian hati saya menegaskan bahwa akhirnya saya menemukan tempat tinggal dan menuju arah yang benar.

Ketika saya terus ikut Misa harian, saya bertumbuh dalam keyakinan bahwa saya juga perlu Sakramen Rekonsiliasi. Pada saat perjumpaan saya dengan Tuhan di kamar mandi, saya tidak sadar kalau saya harus mengaku dosa sebelum menerima Yesus dalam Ekaristi. Dalam belas kasih-Nya, Ia dengan lemah lembut menuntun saya ke sana.

Meskipun kedamaian yang saya cari sudah kembali, saya merasa 12 tahun dosa saya itu masih membebani jiwa saya bagaikan awan gelas yang tebal. Terakhir kali saya mengaku dosa waktu di perguruan tinggi, ketika saya sedang mengunjungi keluarga saya di akhir pekan. Nenek saya menyuruh saya ikut pengakuan dosa yang ada di sebelah saya. Melihat ke belakang, itulah hal terbaik yang pernah dilakukan orang lain bagi saya, meskipun pada saat itu saya tidak merasa demikian. Bahkan nenek saya tahu kalau saya sedang tersesat. Nenek saya seorang wanita yang saleh dan kudus, dia tidak pernah berhenti berdoa buat saya supaya saya kembali ke Gereja. Saya yakin bahwa doa nenek saya, doa ayah saya, dan doa dari Vinny (paman saya yang seorang diakon tertahbis) yang memungkinkan campur tangan ilahi yang sangat saya butuhkan ini.

Jadi ketika saya ikut pengakuan dosa dengan membawa 12 tahun dosa saya yang saya tuliskan. Saya merasa kasihan dengan presbiter yang harus mendengarkan semua itu! Tapi saya tahu itu perlu dilakukan. Di sisi lain, ketika saya sampai di rumah, saya benar-benar mengalami pergumulan untuk percaya kalau saya sudah diampuni. Sepekan kemudian, saya kembali ke Sakramen Rekonsiliasi, bertobat dari keraguan saya dan kurang percaya kepada Allah. Saya juga berpuasa dan berdoa supaya Allah mengangkat awan pekat yang masih saya rasakan.

Abba, Abba

Pada malam itu, saya pulang ke rumah dan menangis di samping tempat tidur saya, dengan pertobatan dan penyesalan yang mendalam. Tiba-tiba saya menyerukan kata-kata, “Abba, Abba!” Saya ingat kalau saya merasa terkejut ketika kata-kata ini keluar dari mulut saya. Saya sudah membaca Alkitab, tetapi tidak ingat bahwa dalam Roma 8:15 dikatakan, “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”

Ketika saya menyerukan kata-kata ini: “Abba, Abba,” dengan tangisan yang mendalam di hati saya, saya mengalami perjumpaan lain dengan Tuhan. Dalam sesaat, saya dipenuhi dan dibanjiri dengan kedamaian dan kasih-Nya. Segala kegelapan dan beban terangkat! Saya merasa ringan dan air mata saya berubah menjadi pujian bagi-Nya!

Saya mengalami kuasa penyembuhan kasih Allah yang begitu mendalam sehingga saya tidak bisa menyimpan kabar gembira ini hanya untuk diri saya sendiri. Saya ingin semua orang tahu akan kasih Bapa Surgawi kita dan mengamai kasih dan belas kasih-Nya seperti yang saya rasakan. Tak lama setelah itu, saya mulai ikut bimbingan rohani dengan seorang presbiter dan terlibat dalam pelayanan gereja. Saya membaca seluruh tulisan dalam Katekismus Gereja Katolik dan terpesona oleh semua kebenaran dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sulit. Saya menggunakan waktu berjam-jam di depan Sakramen Mahakudus dan berulang kali memohon kepada Allah supaya memberi tahua siapa diri saya, sehingga identitas saya bisa dibangun kembali di dalam-Nya dan dibangun dalam kebenaran. Saya tidak kenal lelah dan seiring waktu saya dipulihkan dan disembuhkan, sehingga saya bisa memulikan Tuhan dengan hidup saya.

Memilah-milah untuk Melayani

Ketika saya mulai melakukan pelayanan, saya mulai melakukan pemilahan untuk panggilan pelayanan penuh waktu. Dan hampir tiga setengah tahun proses memilah, saya memutuskan untuk menutup pintu dari perusahaan kosmetik saya. Saya merasa kesulitan memberi tahu pada wanita tentang masalah mereka yang berupa bagaimana cara memakai eyeliner, sementara saya tahu kalau mereka punya masalah yang lebih besar untuk dihadapi,  dan di atas segala hal, bagaimana Allah menghendaki kita untuk menemukan jati diri kita yang sebenarnya di dalam-Nya.

Tuhan mulai memanggil saya ke dalam pelayanan. Dengan penyelenggaraan Ilahi, saya menjadi Direktur Pelayanan Orang Muda dan Penguatan. Kemudian saya dipanggil untuk menjadi pembicara dan penginjilan penuh waktu. Saya menceritakan kisah saya dan kuasa penyembuhan Allah dalam kasih bersama dengan orang muda dan dewasa, dengan fokus tentang hidup sakramental  Gereja, identitas sejati sebagai anak-anak Allah, dan doa. Saya punya semangat untuk berbicara tentang penyembuhan, kecantikan sejati, dan peperangan rohani dan juga Teologi Tubuh, dan saya mendapat sertifikasi dalam Katekese Kasih Manusia dari Keuskupan Austin. Saya juga menghargai kekuatan menginjili melalui seni dan proyek-proyek berikutnya dalam film, acara televisi, dan media kamera berbasis iman selain acara-acara untuk menjadi pembicara.

Selama masa pertobatan saya, saya jatuh hati dengan St. Teresa dari Avila dan saya sangat dipengaruhi bukunya yang berjudul Interior Castle yang menurut saya sudah banyak mengungkapkan apa yang saya alami. Saya ikut pembentukan sebagai anggota Karmelit Sekuler (OCDS) selama empat tahun. Meskipun saya tidak bisa lagi ikut menghadiri pertemuannya karena jadwal saya, tapi di dalam hati saya seorang Karmelit selamanya!

Keindahan dari Kehancuran

Selebihnya, keyakinan saya adalah hanya kepada Allah. Ialah yang memindahkan gunung dan menebus masa lalu kita untuk memperoleh kemuliaan-Nya. Saya bisa menceritakan kisah yang tak terhitung banyaknya tentang perjumpaan luar biasa yang Tuhan berikan dalam hidup saya, supaya saya mengenal, mengasihi dan melayani-Nya. Ada seorang teman saya yang terus menerus mengingatkan saya bahwa Allah memperlengkapi mereka yang berkekurangan, dan hanya Tuhan sendiri yang tahu apa yang kita butuhkan. Ia pasti menyediakannya dengan cara yang ajaib dan merindukan kita semua untuk bersatu dengan-Nya. Kemuliaan kepada Allah!

Api sudah merenggut kehidupan saya, tapi ada api lain yaitu Roh Kudus yang menyelamatkan saya. Kuasa Roh Kudus dan sukacita Injil menjelaskan bagaimana Allah menggenapi janji-Nya untuk mendatangkan kebaikan dari segala hal. Itulah janji yang Ia perbuat bagi kita semua ketika kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya. Akhirnya, saya sangat bersyukur bisa tahu siapa diri saya dan bagaimana saya dikasihi. Akhirnya saya bebas. Akhirnya saya berada di rumah.

 

Joelle Maryn seorang pembicara, penginjil, dan aktris Katolik. Pada tahun 2012, dia mengalami perubahan besar untuk kembali ke iman dan sekarang dia menyebarluaskan pesan penyembuhan kasih Allah yang memancarkan harapan dan tujuan hidup kepada banyak orang di seluruh dunia. Informasi lebih lanjut bisa ditemukan di JoelleMaryn.com.

 

Sumber: “Beauty from Ashes”

Posted on 4 March 2021, in Kisah Iman and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: