Pencarian Gereja Universal – Kisah Dr. G. Lloyds Raja

Dr. G. Lloyds Raja (Sumber: chnetwork.org)

Masa kecil

Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang menjadi anggota CSI (Church of South India / Gereja India Selatan), yang dibentuk oleh persatuan gereja-gereja Episkopal dan non-Episkopal pada tahun 1940-an. Nenek dari pihak ayah adalah seorang guru Alkitab di CSI, dan kakek dari pihak ibu adalah seorang penginjil. Menurut norma CSI, saya dibaptis sewaktu masih bayi dan diikutsertakan ke Sekolah Minggu dan Christian Endeavor Union di usia yang sangat dini. Saya memenangkan banyak hadiah dalam kompetisi pengetahuan Alkitab yang diadakan oleh Keuskupan CSI Kanyakumari. Ibu saya mendorong saya supaya membaca Alkitab dan berdoa, tapi sebagian besar belajar dan berdoa tidak ada artinya selain untuk mendapatkan hadiah dalam kontes tanya jawab Alkitab.

Sebagai anak kecil, saya bukanlah anak yang saleh. Ketika saya di kelas 9, saya biasa ikut kelas Alkitab yang dipimpin oleh seorang wanita Protestan yang mengunjungi sekolah saya setiap Jumat pagi. Suatu hari, penekanan pada seriusnya dosa dan penderitaan Kristus di kayu salib sebagai penebusan atas dosa-dosa saya. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya bertobat dan menyerahkan hidup saya kepada Kristus. Teman, keluarga, guru, dan kerabat saya mulai melihat perubahan dalam diri saya. Tuhan membantu saya untuk punya kendali atas sifat saya yang keras, meskipun ada insiden tertentu yang masih mengingatkan diri saya kalau saya sangat mudah diprovokasi. Tapi saya mulai mengasihi orang tua saya dan menghormati guru saya. Setelah menerima Tuhan, saya juga mulai berhati-hati dalam memilih teman. Saya dikukuhkan dalam denominasi saya dan bergabung dengan persekutuan penuh CSI ketika saya di kelas 10.

Meskipun saya tidak percaya dengan Injil kemakmuran, tapi saya harus mengakui bahwa Tuhan memberkati saya dalam bidang akademik dan memberi saya rahmat untuk menjadi unggul dalam studi saya. Saya mulai mendapat nilai 95% dalam matematika, padahal sebelumnya saya jarang mendapatkan nilai lebih tinggi dari 35%. Motivasi saya untuk membaca Alkitab dan cara berdoa berubah setelah pertobatan yang saya lakukan. Saya membaca setiap lembar Alkitab sampai dua kali ketika saya lulus pascasarjana. Saya pernah bosan dalam mendengarkan khotbah, tapi sekarang saya rajin mendengarkannya. Selain itu, saya suka berbicara dengan Tuhan dalam doa dan mencoba memahami ayat-ayat yang sukar dalam Kitab Suci. Selama masa kuliah, praktik seperti ini membuat saya tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan dunia.

Kebaikan seorang presbiter Katolik tidak mencegah saya menjadi seorang anti-Katolik

Pada tahun 2011, saya mendapat jabatan mengajar di Francis Xavier Engineering College yang menjadi tempat kerja saya selama 8 bulan. Pada masa itu, saya diperkenalkan dengan persekutuan Kristen di kampus, yang membantu saya bertumbuh dalam Tuhan.  Kemudian saya diterima di program Ph. D. di IIT (Indian Institute of Technology) Patna pada tahun 2012. Beberapa pekan kemudian, saya menderita demam tinggi karena cacar air. Oleh karena itu, saya harus meninggalkan asrama perguruan tinggi, teman saya memasukkan saya ke Mahavir Vatsalya Hospital. Di Mahavir, ada seorang dokter yang merekomendasikan kamar yang bagus untuk menjalani isolasi. Keesokan harinya, saya dipulangkan dan diminta untuk segera meninggalkan rumah sakit. Saya tidak tahu bagaimana untuk pulang ke rumah atau ke kamar asrama. Karena tidak tahu apa yang harus saya lakukan, saya pikir untuk menelepon Romo Devasia Chirayil, pastor paroki di Sacred Heart Catholic Church, Patliputra, meskipun saya baru kenal dua pekan, dan berharap kalau ia akan membantu saya dirawat di Holy Family Hospital. Sebaliknya, ia memberi saya makan dan tempat tinggal di rumahnya selama lebih dari dua pekan tanpa mengetahui apa pun agama atau latar belakang keluarga saya.

Saya mulai ikut Misa Bahasa Inggris setiap Sabtu malam di Sacred Heart Church dan terus melakukannya dari tahun 2012 sampai 2015. Sebagian besar khotbah singkat Romo Devasia berfokus pada satu tema, yaitu Kasih Allah, dan bagaimana kita umat Kristen dapat mewujudkannya di dunia yang terasing ini. Saya bisa melihat bahwa pria ini menjalani kehidupan yang sepenuhnya sesuai dengan apa yang ia khotbahkan. Sebagian besar waktunya digunakan untuk merawat umatnya, mendorong mereka dalam iman, mendoakan umat. Ia jarang mengunjungi kampung halamannya sendiri di Ernakulam, Kerala. Menerima pelayanan dari Romo Devasia menjadi berkat buat saya. Saya ikut di parokinya, meskipun saya banyak tidak sepakat dengan doktrin Gereja Katolik. Dengan rahmat Tuhan, saya masih berkomunikasi dengannya dan terus melakukan devosi dan doa.

Pada tahun 2013, melalui beberapa pendeta Protestan, saya terpapar bahan ajaran anti-Katolik secara daring. Saya bingung dan menjadi anti-Katolik. Kendati demikian, saya tetap ikut Misa karena hanya di tempat itu saja saya bisa beribadah dalam bahasa Inggris. Gereja-gereja Protestan beribadah hanya dalam bahasa Hindi, yang menurut saya sulit dipahami. Mungkin lebih dari segalanya, Tuhan menggunakan ikatan kuat yang saya punya dengan presbiter Katolik yang sudah membantu saya ketika saya membutuhkan. Bersamaan dengan itu terjadi suatu pertentangan yaitu preferensi saya untuk ikut ibadah di gereja Katolik sekaligus saya juga memegang keyakinan anti-Katolik. Selama bertahun-tahun, saya tidak lagi merayakan Natal, Jumat Agung, dan Paskah karena berasal dari agama pagan yang kemudian diadopsi oleh orang Katolik. Pada titik ini, saya juga mulai memposting materi anti-Katolik di media sosial. Bahkan, saya mulai menarik teman-teman Katolik supaya mereka meninggalkan Gereja Katolik.

Ekumenisme dan Evangelikalisme

Menjelang akhir tahun 2014, dari seorang mahasiswa mantan Katolik di kampus, saya dikenalkan dengan beberapa keluarga Kristen yang tergabung dalam  Union of Evangelical Students of India (UESI). Kami mulai membuat persekutuan non-denominasi di kampus sewaktu saya mengejar gelar PhD di Indian Institute of Technology Patna. Selama pertemuan yang kami adakan, mahasiswa Katolik dan Protestan biasanya berkumpul untuk berdoa, mempelajari Alkitab, dan memuji Tuhan dalam lagu. Pada banyak kesempatan, saya memimpin studi alkitab. Saya takut berbicara di depan umum bahkan di hadapan dua orang, tapi Tuhan membantu saya menjadi orang yang percaya diri untuk mengajar di depan umum. Kadang-kadang, saya berkhotbah di beberapa gereja independen dan acara-acara khusus ketika saya diundang menjadi pembicara tamu.

Saya punya keinginan supaya Tubuh Mistik Kristus (umat Kristen di seluruh dunia) menjadi satu, saya sangat yakin bahwa gereja yang terpecah-pecah tidak memuliakan Tuhan seperti yang semestinya. Inilah motivasi utama saya untuk menyatukan orang-orang dari berbagai denominasi Protestan, Kristen Ortodoks dan Katolik. Saya merasa kalau umat Kristen perlu dipersatukan untuk memberikan kesaksian yang efektif kepada dunia. Saya mulai memustkan perhatian pada persamaan daripada perbedaannya dan menghindari membahas topik yang memecah belah umat Kristen. Tapi, ada sesuatu yang terus menarik saya untuk ikut Misa Katolik. Bahkan, ketika masih di kampus, kami dipindahkan ke sebuah desa bernama Bitha yang jauhnya 40 km dari Patna. Menjelang akhir tahun 2015, kadang-kadang saya pergi ke Patna untuk ikut Misa Sabtu Bahasa Inggris. Ketika saya tidak bisa ikut Misa karena jauh, saya merasa hampa, meskipun sebagai gantinya saya ikut dalam “gereja rumah” pada hari Minggu yang dipimpin oleh seorang pendeta dari gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (Assemblies of God).

Antara tahun 2012 dan 2015, saya satu-satunya orang Kristen di lab penelitian saya, ada lima mahasiswa Muslim yang menantang iman saya. Bahkan orang-orang dari ISKCON (International Society of Krishna Consciousness/Masyarakat Internasional Kesadaran Kresna atau dikenal sebagai organisasi Hare Krishna) yang berusaha menarik saya ke kelompok mereka. Orang-orang ateis, agnostik, dan skeptis juga menantang iman Kristen yang saya anut. Pengalaman-pengalaman ini membuat saya semakin menyadari 1 Petrus 3:15, yang mengatakan bahwa kita harus “siap sedia untuk memberi pertanggungjawaban kepada setiap orang yang memintanya dari [kita] tentang pengharapan yang ada pada [kita].” Saya bersyukur karena menjadikan Yohanes 10:27-29 sebagai keinginan hati saya. Saya sangat ingin menjadi salah satu domba Sang Kristus dan mendengarkan suara-Nya.

Saya mulai mempelajari sudut pandang dari ajaran lain di dunia dan mempertanggungjawabkan iman Kristen dari keberatan yang mereka ajukan. Bahkan beberapa teman saya mengkritik saya karena terlibat dengan pelayanan dan persekutuan saat mengejar gelar PhD dan mereka juga berkata bahwa saya tidak akan pernah bisa menyelesaikan gelar doktor. Mereka juga bilang kalau seharusnya saya menjadi seorang presbiter Katolik. Saya terus melayani Tuhan, bahkan ketika saya mendapat pekerjaan di Kalinga Institute of Industrial Technology (KIIT) University di Bhubaneswar setelah menyelesaikan gelar PhD. Selama dua tahun di Bhubaneswar (Agustus 2017 sampai September 2019), saya bergabung dengan Union of Evangelical Students of India (UESI) dan jemaat Baptis Evangelikal Independen. Para mahasiswa akan datang ke ruangan saya untuk persekutuan dan studi Alkitab. Karena kami berasal dari berbagai macan denominasi Protestan dari berbagai macam negara, kami menyuarakan ketidaksepakatan tentang masalah yang berkaitan dengan macam-macam iman, dan beberapanya adalah kelompok besar.

Kebingungan tentang Baptisan

Karena gereja Baptis Evangelikal saya biasa memberikan komuni hanya kepada orang-orang yang sudah dibaptis dengan cara ditenggelamkan, maka saya merasa tidak sepakat dengan persyaratan baptisan kedua. Saya bergumul dengan validitas ajaran Anabaptis tentang baptisan orang percaya terhadap baptisan saya waktu bayi, serta persyaratan gereja Baptis tentang baptisan selam. Saya mendengarkan debat antara Dr. R.C. Sproul dan Dr. John MacArthur mengenai baptisan. Saya menjadi bingung, tetapi setelah melakukan banyak pertimbangan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke baptisan kedua pada Juli 2018 sehingga saya bisa menerima komuni Baptis tanpa halangan.

 Pada tanggal 16 Juli 2019, saya mendengar kabar dari presbiter lain dari Patna bahwa Romo Devasia mengalami serangan jantung pada larut malam sebelumnya dan sudah meninggal dunia. Saya merasa tertekan  dengan itu karena saya tidak bisa ikut hadir dalam Misa pemakaman orang yang punya kekudusan ini. Pada saat yang sama, saya merenungkan perintah pertama dan terakhir yang ia berikan kepada saya. Yang pertama diberikan ketika saya menderita cacar air. Waktu itu ia memberi saya rosario dan menyuruh saya untuk berdoa. Perintah terakhir yang diberikan yaitu ketika saya berjumpa dengannya pada tahun 2018. Ia berkata, “Jadilah seorang Katolik ke mana pun kamu pergi.” Bahkan, selama saya tinggal di Bhubaneswar, ada sesuatu yang menarik saya untuk ikut Misa Katolik.

Kehidupan di Shanghai, Tiongkok

Pada bulan Oktober 2019, saya pindah ke Shanghai untuk mengejar penelitian pasca-doktoral di Universitas Shanghai Jiao Tong. Sejak mendarat di Shanghai, saya mencari-cari gereja. Saya sadar bahwa umat Kristen Tionghoa sudah menghadapi banyak penganiayaan. Banyak teman-teman dari aliran Evangelikal di India memberi tahu saya bahwa orang Kristen sejati dan ajaran Alkitab yang asli bisa ditemukan di gereja-gereja bawah tanah (rahasia) di Tiongkok. Tanpa banyak mencari informasi lagi (kesalahan di pihak saya), saya percaya dengan kata-kata mereka. Saya tidak punya gereja tetap selama tinggal di Tiongkok. Karena saya senang berjumpa dengan orang lain, saya mengunjungi gereja-gereja yang berbeda (baik yang diakui maupun yang tidak diakui pemerintah). Gereja-gereja yang tidak diakui tampaknya kurang memiliki hubungan dengan badan gerejawi, dan jemaat non-denominasi yang dibuat untuk orang asing itu kacau balau, karena sebagian besar pengikutnya berasal dari berbagai tradisi Protestan yang saling bertentangan. Namun demikian, ada sesuatu yang sangat menyentuh ketika saya memutuskan untuk mengunjungi sebuah gereja Katolik pada Malam Natal 2019. Dan saya menganggap diri sebagai seorang Evangelikal hingga awal tahun 2020, meskipun saya ikut Misa Katolik kapan pun saya bisa, karena saya sangat percaya bahwa baik Gereja Katolik dan Ortodoks sudah melakukan Ekaristi dengan benar. Saya masih bermasalah dengan teologi Katolik tentang Pengakuan Dosa, doa perantaraan Maria, St. Yusuf dan para kudus, dan api penyucian. Saya juga punya masalah besar dengan penggunaan patung dan ikon.

Aliran-aliran Protestan, Kredo, dan berbagai macam pertanyaan lainnya

Waktu masih kecil, saya sudah diajarkan Pengakuan Iman Para Rasul. Saya akan mengaku bahwa saya percaya “akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, Persekutuan Para Kudus.” Saya diajarkan untuk menerima komuni dengan penuh hormat. Pengajar Alkitab yang paling keras yang pernah saya tahu adalah ibu saya sendiri. Biasanya dia mengajarkan saya untuk membaca beberapa ayat dan berdoa sebelum memulai belajar ilmu sekuler. Biasanya dia membawa saya ke sebuat toko buku Kristen yang ada di desa kami dan dia membelikan saya buku, termasuk satu buku tentang St. Fransiskus dari Assisi.

Di komunitas CSI, kami akan mendaraskan Pengakuan Iman Nikea dengan mengatakan, “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa.” Saya selalu merasa tidak yakin tentang arti Persekutuan Para Kudus dan mengapa hal itu menjadi penting jika saya menerima komuni kalau komuni itu sekadar simbol.

Dengan rahmat Tuhan, saya mulai mengembangkan cinta akan Ekaristi. Ketika ikut Misa Katolik, saya melihat umat Katolik bersujud di hadapan pengangkatan Roti Ekaristi. Saya juga merasa terganggu dengan doa Confiteor (Saya mengaku) ketika mengucapkan, “Oleh sebab itu saya mohon, kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus, dan kepada Saudara sekalian supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.” Selama bertahun-tahun, saya bungkam ketika umat mendaraskan kalimat itu.

Akhirnya, menjadi suatu berkat luar biasa ketika dalam pikiran dan hati saya, saya menyadari bahwa Kristus benar-benar hadir dalam Ekaristi, bukan sekadar simbol jika ada daya gunanya. Tuhan sedang mempersiapkan diri saya untuk Malam Natal 2019, ketika banyak permasalahan ini datang bersamaan dalam pikiran dan hati saya. Saya masih berjuang dengan teologi Katolik mengenai pengakuan dosa, doa perantaraan Maria, St. Yusuf dan para kudus, juga tentang api penyucian. Saya juga punya masalah serius tentang penggunaan patung dan ikon.

Rindu Kampung Halaman

Pada tahun 2019, saya pergi ke Shanghai, Tiongkok untuk melanjutkan riset pascadoktoral. Pada tanggal 24 Desember tahun itu, saya ikut Misa bahasa Inggris di sebuah gereja Katolik di Shanghai. Setelah ikut macam-macam gereja di Tiongkok, saya merasa sudah menemukan jalan pulang. Dan itulah liturgi yang sama dengan yang digunakan di Paroki Sacred Heart di Patna, Patliputra. Hati saya melunak. Rasa ingin pulang yang menyebabkannya. Saya rindu akan liturgi yang saya kenali dan berada di Hadirat Ekaristi yang lebih dalam lagi dari yang saya sadari. Keagungan Malam Natal itu masih ada.

Pada awal tahun 2020, saya berada di Filipina dan Hong Kong. Sekali lagi, saya menemukan kalau liturgi itu sama dan saya kenali. Sejak masa kanak-kanak, saya sudah mendaraskan “Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik,” tapi saya tidak bisa menemukan gereja masa muda saya di luar India selatan, dan juga saya tidak bisa menemukan Gereja Baptis yang sudah saya ikuti di Bhubaneswar, dan juga saya tidak bisa menemukannya di banyak gereja tempat saya berkhotbah dan kunjungi selama bertahun-tahun di luar India. Tapi ada satu Gereja yang menyatakan satu iman, satu baptisan, dan satu Tuhan dan Juruselamat tanpa batas wilayah, etnis, dan batas negara. Gereja ini benar-benar satu, kudus, katolik dan apostolik, dan itulah Gereja Katolik. Puji Tuhan bahwa Gereja ini sudah mewartakan kepenuhan iman yang diserahkan Yesus kepada para Rasul-Nya. Bahkan dalam berbagai tradisi liturgi dan ritus Gereja Katolik yang berbeda-beda, esensi dan kebenarannya tidak berubah. Beragam tapi satu. Gereja itu terdiri dari orang-orang yang tidak sempurna namun terus menghasilkan buah dan menghasilkan orang-orang kudus demi kemuliaan Allah yang lebih besar. Semua pihak yang berusaha menghancurkannya binasa, tapi Gereja tetap menjadi biji mata bagi Tuhannya dan Mempelai Perempuan yang menantikan Sang Mempelai Laki-lakinya.

Hari terakhir di Filipina

Di hari terakhir perjalanan selama 22 hari ke Filipina, saya berada di kamar hotel dekat Bandara Internasional Ninoy Aquino di Manila. Saya semakin yakin bahwa Gereja Katolik punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh tubuh Kristen lainnya. Pada hari itu, saya ingin ikut Misa pagi pukul 6 pagi. Saya sangat ingin bersyukur kepada Tuhan karena sudah menjaga saya selama perjalanan dan memberikan jabatan di National Institute of Technology Patna, pekerjaan yang menantikan saya kembali dari sini. Jadi, saya berjalan ke Gereja Katolik terdekat dengan bantuan GPS. Saya menemukan tempat suci yang didedikasikan kepada St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Sang Pujangga Gereja. Uskup Oscar Jaime Florencio, uskup militer, yang mempersembahkan Misa di sana. Dalam homilinya, ia menceritakan beberapa pandangan pribadinya tentang Reformasi Protestan. Tentu saja ia menjadi perhatian bagi saya. Saya mendengarkannya sewaktu ia berbicara hal itu dengan tenang. Ia tidak mengecam para reformator, sebaliknya ia mengatakan bahwa hal itu menyebabkan reaksi dari Katolik yang dikenal dengan nama Kontra-Reformasi Katolik. Gereja Katolik tampil dengan lebih kudus, lebih bijaksana, dan lebih mampu menjawab tantangan masa depan. Inilah untuk pertama kalinya saya mendengarkan seorang presbiter Katolik berbicara tentang Reformasi.

Satu-satunya pengalaman saya dari mimbar non-Katolik adalah orang-orang yang menghina umat Katolik, memberikan informasi keliru tentang apa yang kepercayaan dan praktik-praktik Katolik, bahkan ada beberapa orang yang dengan sengaja berbohong tentang iman Katolik untuk menarik orang supaya keluar dari Gereja Katolik.

Sesudah hari itu dan selama penerbangan dari Manila ke Kuala Lumpur kemudian ke Kochi, saya terus menerus merenungkan hal ini. Saya berpikir tentang berbagai macam gereja yang berbeda dan juga aliran-aliran sesat yang saya jumpai. Saya bertanya-tanya, mengapa ada begitu banyak perpecahan? Bagaimana mungkin Alkitab yang saya ditafsirkan dengan cara yang saling bertentangan, yang menyebabkan begitu banyak perselisihan? Mengapa kebanyakan kelompok non-Katolik menyangkal Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi? Mengapa orang-orang non-Katolik di Filipina sangat anti-Katolik?

Saya merumuskan satu jawaban dalam benak saya: Dalam sebuah keluarga mungkin ada perselisihan antara suami dan istri. Perceraian bukanlah solusi, sebuah rumah yang terpecah melawan dirinya sendiri akan runtuh. Ketika di sebuah rumah terjadi perpecahan, musuh membuat terobosan, seperti yang terjadi dengan jelas di semua persimpangan jalan ini. Tanpa Magisterium Gereja yang dibimbing oleh Roh Kudus dan Tradisi Suci Gereja yang hidup, seseorang tidak bisa menafsirkan Alkitab dengan benar. Saya menyadari bahwa orang-orang non-Katolik punya seperangkat ayat favorit mereka yang mereka tafsirkan sesuai dengan ajaran mereka sendiri. Sebaliknya, Gereja Katolik yang memberikan Perjanjian Baru bagi kita melalui Roh Kudus dan menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci dalam terang semua Kitab Suci. Umat Katolik melihat Perjanjian Baru dalam terang Perjanjian Lama dan sebaliknya.

Di tempat itu dimulai

Ibu saya melahirkan saya pada tahun 1988 di Holy Cross Hospital, Nagercoil, sebuah rumah sakit yang dikelola oleh para suster Katolik. Pada hari kedua setelah saya dilahirkan, Dr. Mary John menetapkan bahwa saya berada dalam situasi kritis karena malrotasi usus. Hal ini menyebabkan sistem ekskresi berfungsi secara normal. Para suster menghibur ibu saya, memberikannya gambar Bunda Maria dan mendorongnya untuk berdoa bersama dengan Sang Bunda. Pada saat itu, kedua orang tua saya masih miskin, mereka disarankan untuk membawa saya ke Trivandrum Medical College sesegera mungkin untuk melakukan tindakan operasi. Tempat itu jauhnya 70 km. Ada seorang pengemudi beragama Hindu mempertaruhkan kendaraan dan nyawanya untuk menyelamatkan hidup saya dengan membawa kami dari Nagercoil ke kampung halaman saya, kemudian pergi ke Trivadrum Medical College.

Tidak ada kamar kosong ketika kami tiba di sana. Setelah mondar-mandir di sana, entah bagaimana orang tua saya berhasil mendaftarkan saya di sana. Ibu saya berjanji kepada Tuhan bahwa dia akan membesarkan saya dalam iman dan mendedikasikan diri saya kepada Tuhan jika saya selamat. Ibu saya menepati janjinya dan terus mendoakan saya sampai hari ini.

Sebagai seorang anak, saya pernah menemukan gambar Bunda Maria yang ada di rumah dan bertanya tentang gambar itu kepada ibu saya. Ibu akan menceritakan cerita itu. Ketika saya masih kecil sekali, saya tidak mengerti pentingnya Sang Bunda dan Putranya yang ada pada gambar itu. Sekarang saya tahu bahwa gambar itu adalah ikon Bunda Penolong Abadi. Sang Bunda menggendong Sang Juruselamat di buaiannya. Demikian pula, Bunda Maria juga yang sudah merawat saya selama ini.

Di mana posisi saya sekarang?

Sekarang saya menjadi seorang yang pindah keyakinan ke Katolik. Sembilan tahun belajar dan punya pengalaman pribadi yang membawa saya untuk mengenal iman Katolik sebagai kepenuhan iman yang diwariskan Yesus kepada para Rasul. Saya diterima di Gereja Katolik pada bulan Juni 2021 di Paroki Murasencode, Keuskupan Kuzhithurai, yang berada di distrik Kanyakumari, Tamin Nadu, India. Pada hari itu juga, saya menyambut Sakramen Mahakudus.

Dr. G. Lloyds Raja menjabat sebagai asisten profesor di National Institute of Technology Patna. Karena universitas tempat ia bekerja dekat dengan kediaman uskup agung dan Katedral, ia bisa mengikuti Misa harian.

Sumber: In Search of the Universal Church”

Posted on 27 September 2022, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: