Kitab Suci dalam Kehidupan Gereja Perdana

Oleh Joe Heschmeyer

Folio from Papyrus 46, containing 2 Corinthians (Sumber: wikipedia.org)

Salah satu distorsi masa kini yang timbul dalam pendekatan yang kami lakukan mengenai wahyu adalah preferensi untuk menganggap kata-kata yang tertulis lebih tinggi daripada yang lisan, bahkan cenderung yang lisan ini dikesampingkan. Bentuk distorsi lainnya yaitu kita menganggap bahwa berbagai kitab itu milik pribadi bukan milik publik. Seperti yang dijelaskan Mary Mills dalam tafsirannya tentang kitab Pengkhotbah, “di dunia modern kebanyakan kegiatan membaca adalah hal pribadi melalui keterampilan literasi maka seorang individu ikut serta dalam suatu naskah itu secara langsung dan pribadi.” Dampak gabungan dari kedua distorsi itu adalah ketika kita menggabungkan Kitab Suci dan wahyu dan kemudian menganggap kalau Kitab Suci itu sesuatu yang pada dasarnya “pribadi” bukan komunal.

Tapi itu bukan begitu cara umat Kristen perdana atau juga umat Yahudi yang ada sebelum umat Kristen dalam mendalami Kitab Suci. Hukum Taurat secara khusus, Perjanjian lama secara umum, dibaca dalam konteks liturgi. Tuhan memerintahkan pembacaan Hukum Taurat secara lengkap dan diumumkan semuanya setiap tujuh tahun, “Seluruh bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak, dan orang asing yang diam di dalam tempatmu, supaya mereka mendengarnya dan belajar takut akan TUHAN” (Ulangan 31:12). Ada seorang sejarawan Yahudi abad pertama yang bernama Josephus, ia membandingkan Hukum Musa dengan hukum-hukum bangsa lain dengan menjelaskan bahwa “setiap pekan, kaum pria harus meninggalkan pekerjannya yang lain dan berkumpul untuk mendengarkan Hukum Taurat dan juga mendapatkan pengetahuan yang utuh dan akurat tentang itu, suatu praktik yang tampaknya sudah diabaikan oleh semua pemegang hukum.” Kita bisa melihat sekilas tentang ini dalam Lukas 4:16-21:

Ia [Yesus] datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Perhatikan hal yang sangat kecil ini. Yesus tidak membuka Alkitab berupa buku saku, karena yang seperti itu belum ada. Maka, Yesus diberikan satu kitab, yang sesudah dibacakan akan dikembalikan. Dan kitab yang Ia terima bukan Alkitab secara lengkap (bahkan bukan Perjanjian Lama yang lengkap seperti kita tahu sekarang) karena yang seperti itu juga belum ada. Kitab Suci Yahudi itu berupa gulungan, dengan kitab-kitab yang isinya panjang dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih teratur (seperti yang bisa kita lihat dalam kitab Samuel, Raja-raja, dan Tawarikh). Ketika dikatakan bahwa Yesus membuka kitab Yesaya, kata kerja yang digunakan adalah anaptussó yang artinya “membuka gulungan.” Maka Yesus membuka gulungan itu dan harus menemukan bagian itu. Umat Kristen Perdana yang memelopori peralihan dari gulungan ke kodeks (bentuk awal dari buku) dengan harapan supaya Kitab Suci harus dibaca secara komunal dan liturgis. Kitab Wahyu dibuka dengan berkat bagi ia yang “membacakan” juga “mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini” (Wahyu 1:3).

Dengan kata lain, Kitab Suci diharapkan akan dibacakan (dan didengarkan) di hadapan umum, bukan dibaca secara pribadi di ruang tamu atau di dalam gua. Mengapa? Tentu saja sebagian alas an bersifat praktis. Karena suatu hal, naskah-naskah kuno “hanya sedikit atau tidak ada pembagian di antara kata, kalimat, atau paragraf, dan juga hanya sedikit tanda baca. Oleh karena itu, pembaca punya kewajiban untuk membentuk makna dari suatu naskah dengan menyuarakannya, dan dengan cara ini, pembaca mengubah yang tertulis menjadi lisan.” Selain itu, sebelum ditemukan mesin cetak, buku itu sangat mahal karena butuh waktu dua tahun untuk menyalin dengan tangan satu Alkitab utuh. Perlu bertahun-tahun bagi orang biasa untuk mengumpulkan uang supaya bisa membeli satu buku saja. Eric Greitens menunjukkan bahwa, “pada saat ini hampir semua pekerja di negara maju mana pun bisa membeli hampir semua buku dengan jumlah nilai yang setara dengan perhitungan upah dua atau tiga jam kerja. Upah dua jam kerja sangat berharga, tapi harga buku sudah jauh lebih murah dari masa sebelumnya. Misalnya, di Bizantium pada abad pertengahan, seorang buruh pada umumnya harus bekerja dua atau tiga tahun untuk membeli satu buah buku.

Artikel ini kutipan dari buku “The Early Church Was the Catholic Church” (Catholic Answers)

Sumber: “The Place of Scripture in the Life of the Church”

Posted on 6 September 2022, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: