Pantang Daging, Makan Salmon – Tentang Pantang Katolik

Salmon With Smoked Salmon Butter foto oleh Lisa Nicklin (Sumber: cooking.nytimes.com)

Pada masa Prapaskah umat Katolik selalu membahas tentang tata cara pantang dan puasa. Salah satu pantang yang paling umum dilakukan adalah pantang daging.  Gereja menyerukan umat beriman untuk berpantang pada hari Jumat sepanjang tahun yang diatur dalam Kitab Hukum Kanonik 1250-1251.

Definisi pantang daging dan diperbolehkan makan ikan selalu menjadi topik umum selama masa Prapaskah. Maka dari itu, saya akan duduk perkarakan mengenai pantang daging, dan diperbolehkan memakan ikan. Menurut beberapa pengertian tata bahasa Latin dan Roman istilah daging (carnis), tata kebiasaan pantang dan puasa ritus Latin, ikan tidak dikategorikan sebagai daging (meat). Selama berabad-abad daging merupakan ciri khas dari pesta dan sukacita. Sedangkan, ikan tidak memiliki makna demikian, dan pada zamannya dianggap makanan yang tidak mahal sehingga tidak perlu menyembelih satu ekor binatang.

Lantas bagaimana jika kita berpantang daging dan mengganti makanan kita dengan yang berbahan ikan. Secara “aturan” memang tidak menyalahi. Namun, ada sisi lain mengenai pantang Katolik bukan sekadar mengganti pola makan kita. Misalnya, kita berpantang daging dengan tidak makan rendang, dan menggantinya dengan ikan salmon atau seafood. Dengan memilih ikan salmon yang harganya relatif mahal, menjadi pertanyaan bagi kita apakah makna pantang dan puasa bagi kita? Apakah dengan makan makanan yang lebih mewah puasa dan pantang kita bermakna penitensial?

Puasa dan pantang Katolik punya makna lebih dari sekadar menahan atau menghindari makanan tertentu, atau berpuasa untuk menginginkan berkat tertentu, tetapi lebih dalam lagi seperti yang dinyatakan dalam Katekismus Gereja Katolik 540:

Percobaan itu menunjukkan, alas cara apa Putera Allah itu Mesias, bertentangan dengan peranan yang setan usulkan kepada-Nya dan di mana manusia lebih senang melihatnya. Karena itu Kristus mengalahkan penggoda demi kita. “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Oleh masa puasa selama empat puluh hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun.

Demikian pula dalam Kitab Hukum Kanonik menjelaskan makna dan tujuan puasa dan pantang yang kita lakukan, saya akan menyajikan satu bagian ‘Hari Tobat’ supaya kita bisa melihat konteksnya:

Kan. 1249 – Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.

Kan. 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.

Kan. 1251 – Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.

Kan. 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.

Kan. 1253 – Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat mengganti-kan seluruhnya atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.

Dengan melihat konteks puasa dan pantang sebagai ikut ambil bagian dalam penderitaan Yesus di padang gurun, sengsara dan wafat-Nya, dan sebagai usaha memulihkan hubungan dengan-Nya dari dosa, maka puasa dan pantang terpusat kepada Yesus dengan melalukan silih atau mati raga dengan melakukan tiga latihan rohani, yaitu puasa dan pantang, doa, dan amal kasih. Senada dengan Katekismus Gereja Katolik 1434:

Tobat batin seorang Kristen dapat dinyatakan dalam cara yang sangat berbeda-beda. Kitab Suci dan para Bapa Gereja berbicara terutama tentang tiga bentuk: puasa, doa, dan memberi sedekah (Bdk. Tob 12:8; Mat 6:1-18) sebagai pernyataan pertobatan terhadap diri sendiri, terhadap Allah, dan terhadap sesama. Di samping pembersihan secara menyeluruh yang dikerjakan oleh Pembaptisan atau martirium, mereka mencatat sebagai sarana-sarana untuk memperoleh pengampunan dosa: upaya-upaya untuk berdamai dengan sesamanya, air mata pertobatan, keprihatinan untuk keselamatan sesama (Bdk. Yak 5:20), doa syafaat para kudus, dan cinta aktif kepada sesama – karena “kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Ptr 4:8).

Jadi pantang dan puasa bukan sekadar mengubah pola makan, tetapi ikut menderita menurut kelekatannya masing-masing pribadi. Selain itu pantang dan puasa harus disertai doa dan amal kasih. Maka banyak presbiter memberikan renungan yang kurang lebih berbunyi demikian, “Tanpa doa, pantang puasa sekadar diet. Tanpa amal kasih, pantang dan puasa sekadar mengirit.”

Dengan demikian, dalam melakukan pantang dan puasa bukan sekadar boleh dan tidak boleh. Dalam pantang dan puasa kita diberikan kebebebasan dalam latihan pengendalian diri dan diberikan kebijaksanaan (prudence) dalam memutuskan apa yang kita pilih. Sehingga makna pantang dan puasa menjadi lebih dalam, yaitu sebagai pernyataan kasih kita kepada Tuhan Yesus dan kemauan berkorban bagi dunia.

Maka pantang daging, dan menggantinya dengan ikan salmon, silakan Anda menilainya masing-masing?

 

Referensi:

Jimmy Akin, Why Is Fish Permitted on Days of Abstinence?

Michelle Arnold,  Are “Meatless Burgers” Really Penitential?

Stefanus Tay dan Ingrid Listiati, Berpuasa dan Berpantang menurut Gereja Katolik

Posted on 24 February 2021, in Kenali Imanmu and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

<span>%d</span> bloggers like this: