Mencari Keseimbangan – Kisah Cara Valle

Cara Valle (Sumber: chnetwork.org)

Perjalanan iman saya dimulai dengan mendengarkan Tuhan. Beberapa kenangan masa kecil saya adalah gereja dan doa. Orang tua saya adalah jemaat setia dari komunitas Protestan karismatik non-denominasi. Bagi mereka, gereja adalah tempat doa yang berapi-api baik dalam bentuk berbicara dalam bahasa roh, menari, bertepuk tangan, dan bernyanyi, atau menangis dalam keheningan. Saya didorong untuk mencari Tuhan dan mengungkapkan kasih saya kepada-Nya selama ekspresi itu spontan. Kedua orang tua saya menolak sesuatu yang formal dan liturgis. Mereka menyebut umat Katolik sebagai orang Kristen “KTP” yang melakukan ritual hampa tapi tidak punya kerohanian yang sejati.

Masa Kecil

Terlepas dari semua kecurigaan orang tua saya terhadap tradisi dan liturgi, komunitas gereja saya waktu masih kecil masih sangat menghormati baptisan. Ketika saya berusia sembilan tahun, saya menyaksikan beberapa pembaptisan di gereja saya dan saya sendiri meminta untuk dibaptis. Baptisan saya adalah salah satu kenangan saya yang paling jelas, bukan hanya dalam detail fisiknya tapi juga pemahaman saya tentang realitasnya. Meskipun saya sudah diajarkan bahwa baptisan hanya ekspresi lahiriah dari iman batin saya, saya punya perasaan nyata bahwa sesuatu telah terjadi pada diri saya. Baptisan ini sekaligus menjadi pengalaman paling formal dan paling rohani yang pernah saya alami.

Beberapa tahun kemudian, saya menemukan gema dari pengalaman baptisan itu dalam liturgi Anglikan. Saya sekolah di SMA Kristen swasta yang menggunakan Buku Doa Umum (Book of Common Prayer) dalam ibadat pagi di kapel, dan keindahan liturgi yang penuh hormat itu membuat saya terkejut. Saya suka berdoa prosa indah Thomas Cranmer dengan suaa lantang. Di sana, saya mengalami energy kebenaran Kristen sekaligus keindahan bahasanya. Anehnya, saya suka mencurahkan hati saya dalam perkataan Cranmer yang membuat curahan hati saya terasa lebih utuh dan asli dari yang pernah saya dapatkan dalam penyembahan spontan tanpa persiapan yang saya lakukan ketika bertumbuh dewasa.

Pada saat yang sama pula saya menemukan tentang sejarah Gereja. Saya mempelajari Pengakuan Iman Para Rasul dan Nikea di kelas Alkitab dan membaca kutipan-kutipan dari St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas. Dan yang membuat saya terkejut adalah saya menemukan bahwa Kekristenan sejati sudah ada – dan memang ada bahkan berkembang – setelah wafat para Rasul dan sebelum lahirnya Protestanisme. Penemuan ini bertolak belakang dengan kurikulum homeschooling Protestan yang saya terima, dikatakan bahwa Kekristenan sejati sudah hilang sesudah wafat para Rasul (dengan pengecualian St. Agustinus), dan tidak dihidupkan kembali sampai zaman John Wycliffe dan Martin Luther pada tahun 1500-an. Sama dengan pemikiran penganut ajaran Wycliffe dan Luther bahwa mereka sebagai yang menemukan kembali kebenaran yang hilang dari Kitab Suci, saya merasa menemukan kembali kebenaran Tradisi yang hilang.

Tapi lebih dari sekadar keindahan dan keingintahuan sejarah yang menarik diri saya. Liturgi dan tradisi memberikan jawaban atas sikan sewenang-wenang dan inkonsistensi di gereja masa kecil saya. Sungguh melegakan karena mengetahui bahwa ibadah tidak tergantung perasaan pribadi. Karena saya begitu mencintai komunitas Protestan pada masa kecil saya, sayangnya komunitas itu sangat tidak stabil dan terpecah-pecah ketika saya berusia dua belas tahun. Kedua orang tua saya tidak pernah pulih dari rasa kehilangan komunitas itu. Hal itu meninggalkan banyak pertanyaan buat saya: Bagaimana saya bisa tahu kalau apa yang diajarkan kepada saya tentang Tuhan itu benar? Bagaimana saya memilih bacaan dari gereja mana benar? Bagiamana cara menyembah Tuhan jika saya tidak “merasakan Roh” pada saat tertentu? Dalam liturgy dan tradisi Anglikan, saya mulai menemukan beberapa jawaban.

Hal ini menyebabkan beberapa kali ketegangan dengan orang tua saya. Mereka tidak suka saya mendaraskan Kredo (Pengakuan Iman) dan doa tertulis dan membaca hal-hal kecil tentang doktrin. Mereka berasumsi bahwa ritual “kosong” di sekolah akan segera terjadi, karena saya dibesarkan dalam tradisi pembaruan mereka. Hal ini membuat mereka merasa lengah ketika saya jatuh cinta dengan hal-hal yang pada dasarnya mereka anggap tidak berharga. Tetapi begitu mereka diyakinkan bahwa saya masih mengasihi Yesus, mereka dengan baik hati memberi toleransi dan mengaitkan dengan keeksentrikan pribadi saya.

Masa-masa Dewasa Muda

Kemudian, ketika saya di kampus, saya berjumpa dengan orang-orang Katolik sejati, baik teman-teman sekelas maupun para profesornya. Mereka bukanlah penyembah takhayul berhala atau orang Kristen “KTP” yang imannya dangkal, seperti yang saya pernah saya dengan dulu. Mereka orang-orang beriman sejati, pemikir yang cermat, dan teman yang baik. Perjumpaan langsung dengan umat beriman Katolik bertentangan dengan karakteristik yang saya terima dari perkataan orang lain.

Meskipun saya senang tetap menajdi seorang Anglikan pada usia delapan belas tahun, minat saya akan Kekristenan pra-Protestan mulai tumbuh. Saya mendaftar kursus sejarah tentang Kekristenan Kuno dan saya dikejutkan dengan tulisan-tulisan Ignatius, Perpetua, Yustinus Martir, Irenaeus, Athanasius, dan tulisan-tulisan anonym seperti Didakhe dan Kemartiran Polikarpus. Para penulis ini dengan percaya diri menuliskan tentang hal-hal yang diajarkan kepada saya sebagai penemuan Abad Pertengahan: para uskup, purgatorium, Misa kudus, bahkan kepausan. Bukan hanya umat Katolik sejati yang berbada dari yang saya perkirakan, tapi juga Gereja perdana dalam sumber-sumber asli sangat mirip dengan Gereja Katolik, bukan seperti jaringan lepas “gereja-gereja rumah” seperti yang disebutkan mantan pendeta Protestan saya. Gereja perdana punya struktur gerejawi yang dikuduskan sejak awal mulanya, dan itulah yang menjadi pencetus suksesi apostolik – suatu konsep kuno yang membuat saya terpesona.

Secara tidak langsung, kursus Kekristenan Kuno juga memperkenalkan saya pada perkembangan doktrin. Ada satu buku yang secara khusus memberi kesan mendalam bagi saya: Early Christian Doctrines karya J. N. D. Kelly. Meskipun Kelly sendiri seorang Protestan dan dengan tekun mempertahankan perspektif Protestan dalam karyanya, bukunya menguraikan sejarah penjelasan teologis dengan menarik. Dengan membaca bukunya, saya sadar bahwa doktrin Kristen bukan hanya seperangkat proposisi yang secara jelas dijabarkan dalam Alkitab itu sendiri, tapi hasil dari studi dan kontroversi yang panjang bahkan selama berabad-abad yang dipenuhi penderitaan. Bagi saya perlu waktu bertahun-tahun sebelum saya mengambil Esai St. John Henry Newmann tentang Perkembangan Doktrin, tapi saya sudah punya rasa ketergantungan yang mendalam untuk berbagai keyakinan mendasar terkait para uskup kuno yang hampir tidak pernah saya dengar namanya. Saya mulai berpikir kalau orang-orang Katolik yang baik dan taat yang saya temui punya sesuatu yang tidak dimiliki orang-orang Protestan.

Tapi pada waktu itu ada sesuatu – lebih tepatnya, sesorang – yang menghalangi saya untuk mengeksplorasi agama Katolik secara lebih aktif. Ketika saya menemukan sejarah Gereja, saya juga berpacaran dengan seorang pria muda yang kemudian hari saya nikahi. Ia dibesarkan dalam keluarga Lutheran konservatif dan memegang erat ajarannya. Ketika kami berbincang tentang teologi dan doktrin, tampaknya ia punya semua jawaban dalam bentuk bab dan ayat. Sementara itu saya baru menemukan tentang para Bapa Gereja, ia sudah pernah membaca beberapa tulisan mereka (terutama St. Agustinus), ia juga tahu di mana menemukan kutipan-kutipan yang tampaknya sesuai dengan ajaran Lutheran. Semenrata itu saya baru punya minat akan Katolik, dalam sekejap ia punya semua katalog argument anti-Katolik. Meskipun saya belum siap untuk menolak gagasan Katolik selamanya (terutama doktrin suksesi apostolik), saya juga belum siap mempertahankan ajaran itu. Saya hanya belum tahu banyak.

Meskipun kelihatannya ia punya semua jawaban, pacar saya itu punya kebijaksanaan untuk melihat kelemahan dalam argumennya sendiri. Ia sadar bahwa ada masalah dalam Protestanisme secara umum dan secara khusus pada Lutheranisme. Jadi kami berdua sepakat untuk melakukan perjalanan iman bersama, dimulai dari ajaran tempat ia berasal. Saya bergabung dengan gerejanya yang menjadi tempat kami menikah dan tetap bahagia selama bertahun-tahun. Gereja itu denominasi konservatif yang menghargai liturgi dan tradisi intelektual, kami merasa nyaman sampai suatu saat tertentu.

Pergumulan  Intelektual dengan Protestanisme

Keraguan kami mulai terkikis dari waktu ke waktu. Pada awalnya, masalah intelektual yang paling besar adalah sola Scriptura. Seiring waktu, inkonsistensi logis dari doktrin utama ini semakin mengganggu kami. Jika sola Scriptura benar-benar penting bagi ajaran Kristen, mengapa tidak digemakan secara eksplisit dalam Alkitab itu sendiri? Dan jika sola Scriptura adalah doktrin yang tak tergantikan, bagaimana ajaran ini tidak terlihat selama lima belas abad? Para Bapa Gereja terus menerus menyerukan Kitab Suci dalam tulisan-tulisan mereka, tetapi mereka juga terus menerus mengimbau tradisi dan otoritas Gereja Katolik. Meskipun saya tidak bisa memberikan diskusi mendalam tentang hal ini, ada dua buku yang efektif untuk menguraikan inkonsistensi ajaran ini yaitu Sola Scriptura karya John Whitehead dan By What Authority? karya Mark Shea.

Pengalaman mengajar kami juga memunculkan masalah dari sola Scriptura. Suami saya mengajar di satu seminar SMA tentang Injil Yohanes dan Surat Roma, di mana ia dan para siswa harus mengandalkan hanya naskah Alkitab untuk argument mereka. Mereka tidak boleh merujuk sumber luar untuk menerjemahkannya. Anehnya, ia kesulitan untuk mengarahkan para siswa menuju tafsiran Lutheran yang bisa diterima tentang kitab Roma tanpa mengandaikan beberapa doktrin Lutheran. Tak perlu dikatakan lagi, pengalaman ini menjadi pukulan telak bagi Lutheranisme yang dikenal sebagai denominasi yang paling alkitabiah. Hal ini membuat kami berdua membaca ulang Perjanjian Baru lebih cermat lagi, mencari makna asli daripada yang hanya tertulis. Ketika dibaca secara lebih holistik, Alkitab kelihatannya lebih cocok dengan Katolik daripada teologi Protestan.

Jauh lebih berat dari sola Scriptura, kami bergumul dengan doktrin sola fide, yang juga bisa digambarkan sebagai “monergisme” – suatu keyakinan bahwa keselamatan kita hanya diusahakan oleh Allah, tanpa adanya partisipasi aktif manusia. Doktrin ini mengharuskan perkataan Yesus harus dibaca secara procrustean (memaksakan keseragaman atau kesesuaian tanpa memperhatikan variasi alami atau individualitas –red.), hal ini juga bertentangan dengan semua ajaran Kristen sebelum Reformasi. Perbedaan antara soteriologi Katolik dan Protestan sudah dibahas dalam banyak buku, tapi saya menemukan sumber yang paling ringkas dan bermanfaat yaitu Grace and Justification karya Stephen Wood.

Waktu kami mempelajari dan memikirkan masalah ini, kami juga mendiskusikan permasalahan kami ini dengan para pendeta Lutheran dan teman-teman Lutheran yang punya pengetahuan luas. Jika dulu saya menganggap argumentasi Lutheran itu mengesankan dan meyakinkan, sekarang saya menemukan argumentasi itu berputar-putar dan lemah. Mereka akan menegaskan sola Scriptura tetapi, ketika dihadapkan dengan penafsiran-penafsiran Kitab Suci Katolik yang koheren, mereka akan kembali pada sola fide, dengan alasan bahwa penafsiran Kitab Suci Lutheran pastilah yang benar karena mengajarkan monergisme yang ketat. Tetapi ketika ditanya dari mana sola fide berasal, mereka akan mengklaim bahwa sola fide berasal dari sola Scriptura, tanpa mau membahas penafsiran alternatif akan kitab suci. Akhirnya, ketika dihadapkan dengan pemikiran berputar-putar ini, para apologis Lutheran akan menegaskan dikotomi “pastoral.” Mereka berargumen bahwa sola fide haruslah benar, karena untuk mempercayai yang sebaliknya pasti akan mengarah pada “kebenaran perbuatan” (keyakinan bahwa kita dapat menyelamatkan diri kita sendiri dengan perbuatan kita sendiri) atau mengarah pada keputusasaan (keyakinan bahwa kita tidak pernah bisa diselamatkan). Saya menemukan tanggapan ini tidak memuaskan, karena sebagian dari tanggapan ini menghindari pertanyaan teologis, dan sebagian lagi karena tanggapan ini juga tidak sesuai dengan kenyataan. Saya tahu saat ini, terlalu banyak orang Katolik, yang tidak merasa dirinya benar atau merasa putus asa. Jika ada, mereka lebih rendah hati dan gembira daripada kebanyakan orang Protestan.

Di samping sola Scriptura dan sola fide, kami menghadapi masalah intelektual eklesiologi. Bagi Lutheran (dan bagi kebanyakan Protestan lain kecuali Anglikan), Gereja pada dasarnya adalah lembaga manusia atau sebatas alat untuk menyampaikan doktrin. Strukturnya bukanlah masalah wahyu ilahi tetapi kebijaksanaan manusia. Pembahasan Santo Paulus tentang para uskup dan penatua dalam surat-suratnya hanyalah pedoman yang sifatnya anjuran, hanya membuat sketsa apa yang harus dicari dalam diri para pemimpin gereja secara umum.

Tetapi studi tentang Gereja kuno sangat bertentangan dengan pandangan ini. Sebelum kodrat Kristus dijelaskan, sebelum Perjanjian Baru disusun, bahkan sebelum ada penjelasan yang logis tentang Trinitas, para Bapa Apostolik yakin bahwa Allah telah menetapkan para uskup dan memberikan otoritas kepada mereka. Doktrin suksesi Apostolik – Yesus memberi kuasa kepada para Rasul-Nya untuk menahbiskan para uskup dan para pelayan, dan kemudian mereka meneruskannya kepada para penerus mereka – adalah salah satu doktrin tertua yang kita miliki. Bisa dibilang sama tuanya dengan doktrin keilahian Kristus. (Referensi yang sangat baik untuk menelusuri perkembangan ajaran ini adalah The Teachings of the Church Fathers oleh John R. Willis, S.J.).

Ketika saya menyadari hal ini, saya membaca kitab Kisah Para Rasul dengan perspektif baru. Satu pertanyaan samar-samar yang mengganggu saya selama bertahun-tahun menjadi jelas: mengapa kedua belas Rasul sendiri harus melakukan perjalanan secara pribadi ke begitu banyak tempat di seluruh dunia? Jika Kekristenan terdiri dari seperangkat kepercayaan, mengapa Kabar Baik tidak cukup hanya disebarkan saja, baik dengan berkhotbah, menulis surat, atau dari mulut ke mulut? Tentu saja, perkataan mereka sebagai saksi mata memiliki bobot khusus, tetapi mengapa begitu penting bagi kedua belas orang ini untuk mengunjungi setiap kota yang bisa dijangkau secara pribadi? Pasti ada sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh mereka, dan bukan orang lain. Doktrin suksesi apostolik memperjelasnya: mereka pergi untuk menahbiskan uskup-uskup dengan penumpangan tangan, karena hanya kedua belas Rasul yang bisa melakukan itu. Suksesi apostolik juga menjelaskan mengapa penulis Kisah Para Rasul mau menceritakan penahbisan Matias, dan mengapa para Rasul menganggap perlu untuk menggantikan Yudas: perannya bukan informal atau opsional. Karena itu adalah suatu jabatan yang tidak bisa dibiarkan kosong selamanya.

Tetapi sekali lagi, bagi kaum Lutheran dan sebagian besar kaum Protestan lainnya, suksesi kerasulan secara harfiah tidaklah penting: yang penting hanyalah kepercayaan yang benar. Mempelajari kebenaran tentang suksesi apostolik membantu saya menyadari sepenuhnya bahwa gereja tempat saya bernaung bukanlah Gereja para Rasul ataupun para Bapa Gereja.

Pergumulan Rohani dengan Protestanisme

Di samping masalah-masalah intelektual ini, saya menemukan masalah-masalah rohani dalam Protestanisme, yang sebagian besar muncul dari pandangan Lutheranisme yang sangat pesimis tentang sifat manusia. Menurut antropologi Lutheran, kehendak bebas manusia dilenyapkan oleh peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa. Manusia tidak dapat mendambakan Tuhan atau menghendaki yang baik. Bahkan seorang Kristen yang dibaptis hanya “ditutupi” oleh Kristus, seperti dalam penggambaran Luther yang terkenal tentang jiwa yang ditebus sebagai tumpukan kotoran yang tersembunyi di bawah salju. Dalam ajarannya, tindakan paling kudus dari seorang Kristen benar-benar terkontaminasi oleh dosa. Memang, bagi kaum Lutheran yang ketat, tidak ada tindakan yang pada akhirnya bukan dosa. Di satu sisi, hal ini menghilangkan tanggung jawab seseorang atas dosa mereka sendiri, karena seseorang benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk memilih yang sebaliknya. Sebenarnya Lutheranisme mendorong untuk memikirkan kebobrokan kita, dengan asumsi bahwa hal itu akan menimbulkan ketergantungan yang lebih besar kepada Tuhan. Tetapi bagi saya (dan saya percaya, dan juga bagi banyak orang lainnya), hal itu hanya akan membawa saya kepada praduga, yang merupakan sejenis keputusasaan. Jika transformasi sejati tidak mungkin terjadi – jika saya akan selalu menjadi tumpukan kotoran di bawah salju – lalu apa yang bisa saya harapkan?

Pesimisme antropologis ini berbenturan dengan pengalaman. Sebagai seorang guru sekolah klasik, saya berjumpa dan bekerja dengan orang-orang yang kebaikannya tidak dapat saya damaikan dengan teori “tumpukan kotoran” Luther tentang kodrat manusia. Khususnya, orang-orang Katolik yang saya kenal, secara nyata adalah orang-orang yang rendah hati tetapi juga optimis secara moral. Mereka tidak bermasalah dalam mengakui kesalahan mereka, tetapi mereka memandang diri mereka sendiri mampu dan dituntut untuk melakukan yang lebih baik dengan kasih karunia Tuhan. Pandangan mereka tentang kodrat manusia tampak jauh lebih konsisten dengan kenyataan, terutama ketika saya menghayati kenyataan itu dalam perkawinan dan menjadi seorang ibu.

Di sisi lain, menghayati kekuatan transformatif dari perkawinan sakramental akhirnya membuat saya yakin bahwa iman Katolik itu benar dalam menyebutnya sebagai sebuah sakramen, bukan hanya sebuah “institusi.” Hal itu mengubah saya secara drastis, dengan cara-cara yang tidak dapat dijelaskan oleh “pertumbuhan pribadi” biasa. Ada juga kebaikan yang bisa saya lihat pada bayi dan anak-anak saya. Saya tidak bisa melihat mereka sebagai tumpukan kotoran kecil yang ditakdirkan untuk dihukum kecuali Yesus memperdayai Bapa untuk melihat kodrat mereka yang sebenarnya. Mereka memiliki kebaikan sejati dan mendasar, yang diberikan oleh Tuhan tetapi tetap menjadi milik mereka sendiri.

Di sisi lain, perkawinan dan menjadi seorang ibu memberikan tantangan. Meskipun mencintai kehidupan perkawinan dan memiliki suami yang luar biasa, saya merasa jengkel dengan siklus konflik kecil yang tidak perlu, di mana saya sendiri yang sering menjadi sumbernya. Akhirnya, saya menyadari bahwa saya tidak bisa memperbaiki perkawinan saya tanpa benar-benar menjadi pribadi yang lebih baik. Angkat tangan dan menyalahkan semua kebobrokan tidak akan pernah berhasil. Supaya berhasil dalam hidup perkawinan, saya harus mengatasi keterikatan saya pada harga diri pribadi, dan untuk melakukan itu, saya harus percaya bahwa hal itu bisa dilakukan. Demi perkawinan saya, saya harus mengubah keyakinan saya dan memutuskan bahwa Tuhan akan memberi saya anugerah yang sesungguhnya agar saya bisa berubah, bukan membiarkan saya apa adanya sekedar untuk meyakinkan saya tentang ketidakberdayaan diri saya sendiri.

Demikian pula, menjadi seorang ibu sangat menantang secara pribadi. Begitu banyak hal yang bertentangan dengan kecenderungan bawaan saya. Bagi seorang introvert yang kontemplatif, sulit untuk hidup terus-menerus di hadapan banyak makhluk kecil dan bising yang menuntut semua perhatian saya di sepanjang waktu. Saya punya pilihan: menjadi sengsara karena saya tidak bisa punya waktu dan ruang yang saya inginkan, atau percaya kepada Tuhan agar memberi saya rahmat untuk berubah. Katolik menawarkan jalan maju, karena Katolik mengajarkan bahwa saya tidak dihukum untuk berkubang dalam keegoisan saya, justru saya bisa berjuang untuk menyesuaikan kehendak saya dengan kehendak Tuhan dan mematuhi panggilan-Nya untuk menjadi lebih murah hati dan tidak terlalu mementingkan diri sendiri. (Tentu saja, saya percaya bahwa para ibu membutuhkan waktu untuk diri mereka sendiri. Kesalahan saya bukan dalam mengambil waktu untuk diri saya sendiri, tetapi dalam memberikan waktu saya dengan terpaksa, bukan dengan murah hati).

St. Therese (yang kemudian saya pilih sebagai santa penguatan saya) yang pada awalnya menunjukkan saya jalan maju ini. Saya telah mendengar namanya beberapa kali, dan saya mencari versi audio dari buku Story of a Soul. Suatu hari, ketika saya mendengarkannya sambil mencuci piring, saya menyimaknya ketika menceritakan pertobatannya di malam Natal. Dia memiliki sifat buruk yaitu hipersensitif dan mudah menangis karena ketegangan keluarga meskipun sepele. Ketika saya mendengar tentang anugerah yang tiba-tiba diterimanya untuk mengabaikan perkataan ayahnya yang tidak berperasaan, dengan mengatasi godaan untuk marah, saya berpikir, itulah yang saya butuhkan. Saya sudah menemukan jawaban atas masalah terbesar saya, dan jawaban itu berasal dari sumber yang khas Katolik. Therese akan terus menemani saya di sisa perjalanan hidup saya.

Melakukan discernment yang aktif

Pada saat kami memiliki tiga orang anak, suami saya dan saya sudah menyimpulkan bahwa doktrin-doktrin mendasar Lutheranisme tidak konsisten dengan Kitab Suci dan Tradisi. Kami merasa sudah waktunya untuk memulai discernment aktif, mempelajari Katolik dan Ortodoks Timur untuk menemukan gereja yang sejati. Namun, usaha kami terhenti oleh reaksi mertua saya terhadap pilihan kami. Seperti yang telah saya sebutkan, orang tua saya sendiri hanya menganggap kecenderungan keagamaan saya sebagai sesuatu yang eksentrik. Selama saya seorang Kristen, mereka bisa mentolerir Kristen apapun yang saya inginkan. Tetapi identitas keluarga mertua saya sangat terkait erat dengan Lutheranisme. Mereka merasa bahwa kami menolak identitas itu dengan menolak Lutheranisme dan khawatir bahwa kami berisiko mengirim anak-anak kami ke neraka dengan menjadi Katolik atau Ortodoks.

Kami telah menduga adanya tanggapan negatif, tetapi tidak begitu emosional. Dalam upaya untuk memuluskan segalanya, kami sepakat untuk melanjutkan ibadah di gereja-gereja Lutheran dan mendiskusikan masalah-masalah kami dengan para pendeta Lutheran. Meskipun menyakitkan untuk memperpanjang konflik keluarga, masa tambahan discernment ini benar-benar membantu mengarahkan kami lebih lanjut ke jalan menuju Katolik. Kami berdiskusi lebih banyak dengan para pendeta Lutheran, meskipun sekarang argumen-argumen usang terdengar hampa.

Tetapi tuduhan penyembahan berhala masih terasa menusuk. Kerabat kami berjuang keras untuk meyakinkan kami bahwa umat Katolik hanya membuat alasan-alasan yang dibuat-buat ketika mereka menyebutnya sebagai “penghormatan” atau “memohon doa perantaraan” atau apa pun juga selain penyembahan. Mereka melihat diri mereka sendiri sebagai orang yang menyampaikan argumen apa adanya, dan kami melihatnya sebagai orang yang merasionalisasi praktik yang sesat dan berpotensi merusak.

Setelah mempelajari masalah ini, saya merasa ada dua pertanyaan yang muncul. Pertama-tama, siapa yang harus saya percayai tentang apa yang diimani dan dilakukan oleh umat Katolik? Haruskah saya mempercayai perkataan mereka ketika mereka berkata bahwa mereka memohon doa dari orang-orang kudus tetapi tidak memberikan penyembahan yang hanya boleh diberikan kepada Tuhan saja? Atau apakah saya percaya perkataan umat Protestan, yang bersikeras bahwa, karena doa-doa tertentu yang ditujukan kepada orang-orang kudus terdengar seperti menyembah mereka, maka doa-doa itu pastilah merupakan penyembahan. Ini seperti seorang Muslim yang bersikeras bahwa orang Kristen menyembah tiga tuhan. Kita mungkin menyatakan bahwa kita hanya menyembah satu Tuhan dalam tiga pribadi, tetapi orang Muslim masih bisa menolak penjelasan kita dan memutuskan bahwa kita adalah politeis. Saya menyimpulkan, adalah hal yang wajar untuk membiarkan umat Katolik berbicara untuk diri mereka sendiri tentang niat mereka sendiri.

Pertanyaan kedua bagi saya adalah, apa buah dari doa kepada orang kudus? Jika doa itu memang tipuan iblis untuk memalingkan kita dari Tuhan dan mengarah pada penyembahan berhala, maka buahnya pasti jahat. Tetapi dalam hidup saya sendiri, buahnya adalah kedekatan dengan Tuhan. Ketika saya meminta perantaraan St. Therese dan Bunda Maria, saya menerima rahmat dari Tuhan untuk menjadi lebih bahagia dan untuk mencintai dengan lebih murah hati. Semakin saya memikirkan kata-kata Salam Maria, semakin saya mengerti bahwa doa ini adalah doa pujian kepada Tuhan, yang menerima kehendak-Nya, yang hidup dalam kasih-Nya. Buah dari doa ini adalah kasih kepada Tuhan, bukan mengabaikan Tuhan demi berhala.

Saya juga menyadari bahwa umat Katolik tidak meminta orang kudus tanpa alasan yang jelas. Mereka memiliki seluruh landasan doktrin tentang siapa orang kudus dan siapa yang bukan. Khususnya dalam Mariologi, ada definisi yang jelas tentang siapa Maria sesungguhnya dan mana yang keliru. Dalam batasan-batasan yang jelas ini, tidak perlu merasa takut bahwa Salve Regina (Salam ya Ratu) memberikan terlalu banyak pujian kepada Maria, karena seorang Katolik yang setia tahu bahwa Maria memiliki kuasa yang layak yang diberikan oleh Tuhan kepadanya, tidak lebih dan tidak kurang.

Selain untuk memecahkan masalah ini, masa discernment kami yang panjang juga membantu kami mempersempit pertimbangan kami. Kami telah menjelajahi baik Katolik maupun Ortodoks Timur dari kejauhan. Tetapi ketika taruhannya dinaikkan oleh reaksi keluarga kami, kami menyadari bahwa kami lebih banyak mempertimbangkan Ortodoks karena membawa lebih sedikit beban dari perspektif Protestan. Meskipun demikian, semakin kami melihat lebih dekat, semakin kami menyadari bahwa Gereja-Gereja Timur memiliki lebih banyak beban dalam diri mereka sendiri. Selain itu, pada saat ini kami sudah mempelajari sejarah keutamaan paus Roma, yang dibuktikan oleh St. Irenaeus, St. Hieronimus, St. Agustinus, dan terus berlanjut sepanjang sejarah Gereja.

Pada suatu hari Minggu pagi, kami sedang melakukan perjalanan ke gereja Lutheran yang telah kami janjikan kepada mertua saya untuk ikut hadir di sana. Kami tinggal sementara di Texas dan belum mengenal daerah itu dengan baik. Kami berada di jalan raya yang salah dan sangat terlambat untuk sampai di gereja. Kami melihat peta dan menemukan bahwa kami sangat dekat dengan Katedral Our Lady of Walsingham, dan Misa baru saja akan dimulai. Ini merupakan Misa Katolik pertama yang kami ikuti sebagai sebuah keluarga, dan sejak saat itu kami selalu mengikuti Misa setiap minggu. Kami masih memiliki beberapa konflik keluarga yang harus dihadapi, dan masih ada waktu setahun lagi sebelum kami secara resmi memulai RCIA (Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.). Tetapi Misa publik pertama kami sebagai sebuah keluarga rasanya seperti melewati sungai Rubiko (suatu idiom bahwa ‘sudah melintasi suatu titik dan tidak mau kembali’). Begitu sampai di seberang, rasanya seolah-olah tujuan kami akhirnya terlihat.

Hidup sebagai seorang Katolik

Bersama suami dan anak-anak saya, saya diterima di Gereja pada awal pandemi COVID-19. Tidak ada Misa publik, tetapi kami bisa menghadiri Adorasi setiap hari sebagai sebuah keluarga, membawa semua anak kami, termasuk bayi mungil kami yang baru lahir yang pada saat itu tampak sangat sehat. Suatu hari di Adorasi, tiba-tiba ada dorongan hati yang menuntun saya untuk memohon amal kasih yang sejati kepada Tuhan. Itulah sebuah doa yang tenang, dan Tuhan menjawabnya dengan keyakinan yang tenang. Beberapa bulan kemudian, saya berada di dekat ranjang kakek saya yang berada pada masa menjelang akhir hayatnya. Saya menggendong bayi yang sama, pada saat itu menunjukkan tanda-tanda masalah perkembangan. Kakek saya yang berusia 90 tahun adalah seorang agnostik sepanjang hidupnya, ia selalu menolak upaya ibu saya untuk menginjili dia dengan cara yang kasar. Sedangkan suami saya merawat anak-anak kami yang lebih besar, saya duduk di sampingnya pada masa kritisnya selama dua hari, sambil menyusui bayi, berbicara dengan kakek saya yang kadang-kadang tidak sadarkan diri, dan berdoa Rosario dan Kaplet Kerahiman Ilahi. Saya menggantungkan rosario yang diberkati di samping tempat tidurnya dan menaruh beberapa ikon dan salib yang sudah diberkati di dalam kamar. Pada satu ketika, waktu saya merasa ragu-ragu dan berdoa memohon perantaraan St. Therese, salju mulai turun (St. Therese sendiri pernah memohon salju kepada Tuhan untuk meyakinkannya tentang panggilan religiusnya). Ketika tiba saatnya bagi saya untuk pergi, saya dan kakek saya mengucapkan selamat tinggal terakhir kami, dan yang membuat saya terus-menerus takjub adalah ia setuju untuk dibaptis. Saya membaptisnya, dan ia meninggal keesokan harinya, yang merupakan Hari Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman tahun 2020.

Kasih karunia yang luar biasa dari pembaptisannya menopang saya selama berbulan-bulan berikutnya – berbulan-bulan penuh kecemasan dan kelelahan fisik karena merawat anak bungsu saya dan mencari penyebab permasalahannya. Akhirnya, hanya sekitar setahun setelah doa yang tenang dalam Adorasi, saya menerima diagnosis utama putra saya, yang mengakibatkan cacat fisik dan intelektual seumur hidup. Seandainya saya bukan seorang Katolik, saya percaya kejadian itu akan menghancurkan saya secara emosional. Tetapi Tuhan telah mempersiapkan saya selama bertahun-tahun: Ia membawa saya ke dalam Gereja-Nya, mengilhami saya untuk membaca tentang spiritualitas Katolik tentang penderitaan, dan karena penyelenggaraan Tuhan, Ia sudah menempatkan saya di sisi kakek saya pada saat yang tepat ketika hatinya melembut untuk sekali saja di dalam hidupnya. Seringkali, penyelenggaraan Tuhan tampak tersembunyi dan membuat frustrasi. Tetapi dalam kasus ini, saya melihat disabilitas anak saya sebagai jawaban langsung atas doa saya untuk amal kasih yang sejati. Dan saya memandang pembaptisan kakek saya, dengan segala peristiwa yang terjadi di sekelilingnya, sebagai penegasan langsung bahwa Gereja Katolik adalah benar-benar Gereja-Nya, yang melaluinya Ia menyelamatkan jiwa-jiwa dengan cara yang paling ampuh.

Mengasuh seorang anak difabel membuat saya menghargai sesuatu yang berharga tentang iman Katolik saya. Ketika sedang mempertimbangkan iman Katolik, saya membaca dua buku dalam waktu yang berdekatan: Reformations karya Carlos Eire dan Adam, God’s Beloved karya Henri Nouwen. Dalam banyak segi, kedua buku ini sangat berbeda – sejarah kultural yang rinci dan memoar pribadi yang singkat. Tetapi ada satu hal yang menonjol bagi saya dalam keduanya. Eire berbicara tentang perbedaan antara iman implisit dan eksplisit. Iman implisit adalah milik seseorang yang mempraktikkan dan memeluk suatu agama, tetapi mungkin tidak dapat mengartikulasikan dengan tepat apa yang dipercayainya atau memahami prinsip-prinsip imannya secara rasional. Sebaliknya, iman eksplisit adalah milik seseorang yang tahu persis apa yang dipercayainya secara rasional dan dapat mengartikulasikan prinsip-prinsipnya. Idealnya adalah memiliki keduanya. Tetapi banyak dari kita – terutama mereka yang tidak terdidik atau lemah intelektualitasnya – hanya memiliki satu. Sejak awal, Protestanisme menekankan iman yang eksplisit dengan mengesampingkan iman implisit. Iman dari banyak orang Katolik tidak masuk hitungan dari sudut pandang banyak orang Protestan, terutama oleh para pemimpin Lutheran dan Calvinis mula-mula.

Meskipun ia tidak menggunakan istilah yang sama, Nouwen menggambarkan iman implisit dalam buku Adam, God’s Beloved. Iman Adam, sahabatnya yang menderita disabilitas berat yang tidak bisa berbicara, berjalan, atau memberi makan dirinya sendiri, merupakan inspirasi bagi Nouwen. Iman itu sama nyatanya dengan iman seorang teolog. Ketika saya membaca buku Nouwen, iman implisit Adam menjadi inspirasi bagi saya. Kemudian, ketika saya memiliki putra bungsu saya dan mengetahui tentang disabilitas intelektualnya yang permanen, saya siap untuk menyambut imannya yang sederhana dan implisit serta kesadaran akan kasih Tuhan. Sejak menjadi Katolik, saya tidak pernah khawatir tentang ketidakmampuan anak saya untuk memahami dan mengartikulasikan serangkaian proposisi teologis. Sudah cukup bahwa ia hidup dalam kasih Tuhan. Akan sangat menyusahkan seandainya saya masih terkurung dalam salah satu perspektif yang saya huni sebelumnya – spiritualitas masa kecil saya yang terlalu emosional dan tidak stabil, atau teologi Lutheranisme yang terlalu proposisional.

 

Cara Valle adalah seorang guru bahasa Inggris, penggemar kebugaran, dan ibu homeschooling yang tinggal bersama suami dan keempat anaknya di Virginia. Dia dibesarkan di Springboro, Ohio, lulus dari perguruan tinggi Hillsdale, dan kemudian mengajar bahasa Inggris dan Puisi untuk Great Hearts Academies dan Classic Learning Resource Center. Puisi-puisinya sudah diterbitkan di First Things dan The Society of Classical Poets, di samping jurnal-jurnal lainnya.

 

Sumber: “Finding Equilibrium”

Posted on 23 January 2023, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: