Kepada Siapa Ku Harus Pergi? – Kisah Douglas Beaumont Ph.D.

Douglas Beaumont (Sumber: douglasbeaumont.com)

Saya tidak menerima pendidikan yang sangat religius dari keluarga. Tetapi, secara tidak langsung saya diajarkan bahwa Tuhan itu ada, dan saya memegang kepercayaan yang samar-samar mengenai hal itu sampai sekolah menengah (setara SMA –red.), saat itu saya menjadi seorang agnostik praktis. Dengan adanya ribuan agama di dunia, dan juga ilmu pengetahuan yang terus mengubah pemikiran tentang “kebenaran.” Saya merasa tidak butuh untuk berkomitmen pada keyakinan apa pun. Lebih penting lagi, saya suka akan hidup saya tanpa aturan agama. Lebih jauh lagi, kelihatannya setiap orang Kristen yang berusaha menginjili saya, mereka tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Saya tidak akan mengubah hidup saya jika saya tidak punya alasan yang kuat untuk mengubahnya.

Meskipun iman saya pada Tuhan itu goyah, komitmen saya akan kebenaran tidak pernah goyah. Menjelang akhir petualang saya di SMA, ada beberapa penginjil Kristen yang berhasil mengajak saya. Mereka benar-benar tahu akan iman mereka dan dengan mudah menjawab argumen saya yang menentang Kekristenan. Sikap tidak percaya saya tinggal masalah kemauan saja, dan tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menyerah dan menyerahkan diri ke Kekristenan. Saya berdoa memohon pengampunan Allah dan menaruh kepercayaan saya kepada Yesus untuk keselamatan saya, namun saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan selanjutnya.

Pada musim panas sebelum masuk kuliah, saya mendapat pekerjaan di kamp musim panas Kristen dan akhirnya di sana saya benar-benar mempelajari iman saya. Hal ini dilanjutkan dengan ikut pelayanan di berbagai kelompok Kristen di kampus selama beberapa tahun. Pada masa ini, saya dibimbing oleh beberapa orang pimpinan yang setia yang membantu saya beralih dari murid menjadi pengajar. Pada waktu saya lulus kuliah, saya didorong supaya masuk seminari. Kedengarannya Pendidikan formal teologi itu menarik, namun di dunia Kristen Protestan Injili, seseorang biasanya masuk seminari untuk menjadi pendeta atau misionaris, dan saya tidak tertarik pada kedua peran itu.

Kemudian, saya mendengar tentang Southern Evangelical Seminary (SES) di acara radio populer. Salah satu pahlawan iman saya, Dr. Norman Geisler, hadir menjadi tamu di radio. Ia sudah mendirikan sebuah seminari di North Carolina yang didedikasikan untuk mempertahankan iman. Keputusan terasa seperti dibuat dengan sendirinya! Saya mungkin sudah berkemas pada keesokan harinya, namun waktu itu saya sedang berpacaran dengan seorang wanita yang luar biasa, Namanya Elaine, yang saya pikir mungkin menjadi calon istri saya. Saya berkata kepadanya bahwa jika kami tetap bersama, dia akan pindah ke negara bagian lain dengan saya untuk sekolah di seminari. Tiga tahun kemudian kami menikah dan pindah sejauh 3.000 mil ke North Carolina dengan menggunakan truk pickup untuk mulai sekolah di sana.

Beberapa tahun berikutnya menjadi tahun-tahun yang sungguh menakjubkan. Saya ditarik ke dalam keadaan yang tidak saya ketahui keberadaannya, mendapatkan banyak teman seumur hidup, dan merasakan kalau iman saya menguat dan terpuaskan secara intelektual dan juga dengan cara yang menyenangkan. Pada tahun kedua, saya diminta oleh Dr. Geisler untuk menjadi penilai dan asisten riset, dan setelah saya lulus sebagai lulusan terbaik, saya dipekerjakan penuh waktu di SES.

Selama beberapa tahun berikutnya, saya menjabat berbagai macam posisi diataranya sebagai Direktur Pendidikan Jarak Jauh, Perekrut, Webmaster, dan akhirnya menjadi seorang profesor.

Pada waktu saya mulai studi doktoral (dengan SES lagi), saya ditetapkan, diumumkan sebagai pendeta, dan berbicara di berbagai gereja, konferensi, dan kampus Injili di seluruh negara bagian.  Saya hampir merasa mencapai status “Bintang Rock Injili”. Dari luar tampak saya sudah “sampai” dan masa depan sudah ada dikantongi. Hal itu saja sudah sangat bagus, tapi ada sisi lain dalam kisah itu.

Masalah ini mulai saya rasakan ketika saya membaca sepucuk surat dari seorang teman dan mantan karyawan SES yang mengumumkan dirinya sudah menjadi Katolik. Katolik! Para pengajar dan staf terkejut, bahkan banyak orang merasa dikhianati. Waktu itu, saya sangat bingung. Teman saya itu sudah lulus program yang sama dengan saya dan juga sudah membaca buku Dr. Geisler tentang Katolikisme. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi? Saya membalas suratnya, dan kami memulai beberapa bulan berdialog dan berdebat. Selama pertarungan teologis, saya berkali-kali berakhir dengan jawaban buruk daripada yang ingin saya akui. Akhirnya, saya harus menunda diskusi sampai saya bisa mencurahkan waktu yang saya perlukan untuk mengatasi jawaban dari apologis Katolik yang sedang berkembang dalam imannya ini. Teka-teki mengenai Kekatolikan tetap ada dalam benak saya selama bertahun-tahun, sampai ada serangkaian peristiwa menyedihkan terjadi dan membuat hal ini muncul kembali.

Setelah 15 tahun menjalani kehidupan sebagai seorang Kristen Injili, banyak hal mulai berantakan di SES. Meskipun SES tampak baik di luarnya, di dalamnya ada perpecahan gereja (saya merasa kalau ‘pemisahan’ merupakan istilah yang lebih tepat) di samping perdebatan teologis, pemecatan tenaga profesional maupun tenaga pelayanan, manuver politik, dan berbagai macam perselisihan internal yang memecah belah fakultas dan staf kampus. Dan tidak mengherankan pula, hal ini menyebabkan sekolah mengalami masa-masa sulit. Saat itulah masa-masa yang emosional, namun secara objektif hal ini merupakan ketidakmampuan aliran Injili untuk menyelesaikan masalah-masalah secara otoritatif, inilah yang paling membuat saya gelisah. Setelah mata saya terbuka dengan kenyataan di balik retorika yang saya percayai selama bertahun-tahun, kemudian saya merasa kecewa. Kemudian hal ini membawa saya ke perjalanan pencarian selama 5 tahun,yang akhirnya membuat saya keluar dari aliran Injili.

Saya tidak sedang mencari jalan keluar, namun saya sedang mencari jawaban. Mengapa kami sebagai kaum Injili (khususnya, aliran Injili Baptis, dispensasional, non-karismatik, realis moderat) berpikir bahwa kami sudah tahu semuanya, ketika seolah-olah tidak ada kelompok Kristen lain yang sudah melakukan dengan benar dalam rentang waktu hampir 2.000 tahun? Bagaimana kita bisa tahu bahwa kitab-kitab dalam Alkitab Protestan itu diinsiprasikan? Mengapa aliran injili membentuk doktrin dan moral yang begitu buruk? Mengapa orang-orang Kristen yang “lurus” tidak sependapat dalam segala hal kecuali kebenaran “esensial” ketika Alkitab sendiri tidak mengatakan apa yang dianggap penting? Saya sudah menanyakan hal ini selama bertahun-tahun. Hal yang berbeda kali ini yaitu saya tidak akan menerima balasan yang mudah.

Masalah besar yang utama bagi saya adalah bagaimana kita bisa tahu kitab mana yang masuk dalam Alkitab (kanon Kitab Suci). Saya tahu argumen apologetika yang baik tentang “Alkitab,” namun tidak semua orang sepakat dengan isi yang tepat dalam Alkitab, jadi mana yang benar? SES mengajari saya bahwa Gereja hanya “menemukan” kanon, namun tidak “menentukan” kanon seperti yang dipercaya oleh umat Katolik. Penjelasan yang saya berikan tentang proses penyatuan kanon pada dasarnya adalah spekulasi “rekayasa terbalik” yang ternyata tidak akurat atau tidak dapat menjelaskan keseluruhan Alkitab. Ketika saya mempelajari sejarah tentang Alkitab, saya terus berlari menuju Gereja Katolik. Gereja Katolik bukan hanya Gereja yang telah memutuskan kitab mana yang masuk dalam Alkitab, namun Gereja yang terus melakukannya selama berabad-abad keberadaannya. Pada kenyataannya, dalam rentang waktu yang sangat panjang, pada waktu menghadapi daftar kanonik yang resmi, dan bagi saya banyak di antaranya adalah doktrin Katolik yang paling diperdebatkan sudah ada. Kelihatannya tidak konsisten jika percaya dengan Gereja tapi percaya pada Alkitab, dan juga menolak ajaran-ajaran lainnya yang diajarkan pada masa itu.

Setelah saya memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai dari mana kita memperoleh Alkitab, maka pertanyaan berikutnya muncul, yaitu bagaimana kita bisa mengetahui cara menafsirkan Alkitab dengan benar. Dan bukan rahasia lagi, di dunia teologi Protestan merupakan salah satu dari kekacauan yang ada. Saya punya rak-rak buku yang digunakan untuk buku-buku yang menunjukkan ketidaksepakatan doktrin Protestan. Bahkan keyakinan Protestan yang paling inti yaitu keselamatan hanya oleh iman sudah diperdebatkan dengan sengit oleh para ahli dan semuanya mengklaim bahwa Alkitab sebagai sumbernya1. Di SES, kami diajarkan bahwa kami sedang mempertahankan “iman Kristen yang historis.” Namun banyak ajaran SES yang berbeda dan dalam artian tertentu tidak bisa dihitung sebagai ajaran yang “historis.” Sebaliknya, ajaran SES adalah campuran doktrin Anabaptis, teologi pasca-Reformasi, dan bahkan kepercayaan di akhir abad ke-19. Benar atau salah, tampaknya bukan menjadi bagian dalam “iman Kristen yang historis.”

Saya perlahan-lahan menyadari bahwa memegang Alkitab yang punya otoritas dan tidak dapat salah hanya bisa masuk akal jika kita punya daftar yang punya otoritas dan tidak dapat salah mengenai kitab-kitab mana yang masuk di dalamnya. Selain itu, sedikit faedahnya jika setuju dengan isi Alkitab namun umat Kristen bisa dengan sah tidak setuju dengan segala yang diajarkan Alkitab itu sendiri. Maka kelihatan bahwa Alkitab tanpa adanya otoritas dan tradisi yang tidak dapat salah, umat Kristen bisa sesat dalam relativisme. Tapi tradisi yang mana? Sudah kelihatan dengan jelas bahwa jika Gereja benar-benar memutuskan kitab-kitab mana yang masuk dalam Alkitab, dan apa yang bisa dianggap sebagai pengajaran yang lurus (ortodoks), maka jawabannya bisa ditemukan dalam Gereja. Akhirnya, saya memutuskan bahwa Gereja yang membuat pengakuan iman yang lurus (ortodoks) dan juga kanon Kitab Suci, maka secara objektif adalah solusi dari masalah-masalah yang mendasar ini. Tentu saja, hal ini tidak menyisakan banyak pilihan bagi seseorang yang ingin tetap menjadi seorang Protestan.

Penting untuk dimengerti bahwa saat ini saya tidak membaca tulisan-tulisan dari para apologis Katolik. Memang, sebagian besar para ahli aliran Injili yang membawa masalah ini dalam perhatian saya2. Kekristenan aliran Injili (Evangelikalisme) punya banyak perselisihan internal sehingga secara praktis tidak mungkin menegaskan suatu ajaran, selain itu masalah teologis bukan satu-satunya yang merebak dalam gerakan itu.

Maka kelihatan bagi saya bahwa banyaknya masalah yang saya hadapi dengan Evangelikalisme adalah hasil yang lumrah dari cara kerja aliran itu. Saya tahu banyak penganut Injili yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh berbagai gereja, pelayanan, dan pemimpin, namun kurang adanya tanggapan yang punya otoritas. Dengan diberikannya otoritas gereja yang didasarkan pada opini kolektif anggotanya, maka macam-macam pelayanan dan para pemimpin aliran Injili hanya mencapai keberhasilan dengan mendapatkan dan mempertahankan basis penganutnya (umatnya). Seringkali perlu adanya kompromi (untuk mempertahankan umat) atau kontroversi (untuk mengeluarkan umat). Saya tahu pasti adanya tingkat otoritas di luar penafsiran pribadi seseorang (atau sekelompok orang) tentang Kitab Suci.

Saya kira otoritas yang saya dambakan bisa ditemukan di salah satu denominasi Protestan yang lebih tua. Namun, proses memilih denominasi Protestan pada dasarnya hanya memilih kelompok yang lebih banyak setuju dengan penafsiran seseorang akan Alkitab. Terlepas dari silsilah sejarah atau struktur hierarki denominasi tertentu, namun pada akhirnya otoritas suatu denominasi hanya dibatasi oleh setiap  cara seseorang membaca Alkitab. Maka, denominasi-denominasi Protestan hanya beda satu langkah dari otoritas gereja Injili, dan dengan demikian masuk gereja Protestan lainnya hanya membuang satu tingkat masalah yang sama.

Pada titik ini, berbagai pertanyaan yang saya punya dan juga riset yang saya lakukan mulai membuat saya tercengang. Saya menjadi yakin bahwa Gereja yang didirikan Yesus harus punya wewenang dan bisa dikenali secara objektif dan historis. Sementara itu saya masing berada dalam pemikiran Protestan konservatif yang terbatas, pandangan saya mengenai beberapa ajaran mulai bergeser dari Evangelikalisme seperti cara pandang saya mengenai baptisan bayi dan kehadiran nyata Kristus dalam Komuni. Sayangnya, ketidaktahuan tentang sejarah menyebabkan banyak siswa saya sendiri bingung bahkan dalam hal cara pandang Protestan terhadap Katolikisme, maka dari itu berbagai macam keluhan berdatangan. Akhirnya saya dipanggil ke dalam semacam “inkuisisi” di hadapan para pengajar SES dan mempertanyakan iman saya. Pada hari itu, saya lolos dari ujian mereka, namun saya bisa melihat jika investigasi yang saya lakukan tiga tahun terakhir akan membawa saya ke hadapan mereka, kemungkinan besar saya tak lama lagi berada di dunia Kristen aliran Injili.

Untuk melanjutkan pencarian saya dengan jujur, sambil mempertahankan pekerjaan dan keamanan dalam bidang akademik, saya memutuskan untuk menjauhkan diri dari kerumunan SES. Saya beserta keluarga saya menghadiri beberapa gereja Anglikan. Keduanya adalah kelompok konservatif yang memisahkan diri dari Gereja Epikopal modern. Orang-orang Anglikan yang setia ini membantu saya dalam pencarian saya karena apresiasi mereka terhadap sejarah, liturgi, pengakuan iman, dan sebagainya. Meskipun Anglikanisme sepertinya menawarkan jawaban yang lebih baik untuk pertanyaan saya yang bertubi-tubi, keberadaan kelompok-kelompok yang memisahkan diri ini dimungkinkan oleh prinsip-prinsip yang sama yang juga mendasari berbagai denominasi Protestan lainnya. Bahkan penyebab Anglikanisme memisahkan diri lebih buruk lagi (misalnya, keinginan Henry VIII untuk bercerai) dan juga dampak buruknya (misalnya, perceraian, kontrasepsi, perkawinan dan tahbisan homoseksual, uskup-uskup yang sesat, dan lain sebagainya) dengan mudah dilakukan pembelaaan oleh mereka. Pada akhirnya, meskipun saya menghormati banyak penganut Anglikan, saya tidak bisa berkomitmen dengan Anglikanisme. Prospek Protestan saya mulai terlihat redup.

Akhirnya saya harus mengakui bahwa masalah yang saya alami dalam melakukan pembenaran terhadap Protestanisme tidak akan pernah hilang jika saya tetap berpegang pada metodologi Protestan yang justru menjadi penyebab masalah itu sendiri. Alih-alih menggunakan pendapat teologis subjektif saya untuk membenarkan tradisi yang menegaskan pendapat teologis itu sendiri, saya perlu mengenali Gereja yang historis dengan melihat bagaimana Yesus membangung Gereja-Nya. Pada abad pertama, Gereja adalah siapa pun yang mengikuti Yesus. Setelah kenaikan-Nya ke surga, Gereja itu dikenali dalam diri para Rasul. Setelah para Rasul wafat, Gereja dibangun dalam diri para pengganti para Rasul. Dan yang saya tahu, di kemudian hari, mereka inilah yang menentukan kanon Kitab Suci dan teologi yang lurus. Satu-satunya pertanyaan yang saya punya sekarang adalah Gereja mana yang punya kepemimpinan dalam suksesi apostolik ini.

Tidak seperti waktu milenium pertama, ternyata hal ini tidak mudah ditemukan di milenium kedua ini.

Masalah dengan “Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik” ini sepertinya sudah berlalu. Tepat setelah pergantian milenium pertama, Gereja kuno terbagi menjadi “Ortodoks Timur” dan “Katolik Roma.” Maka dari itu, ini artinya perlu lebih banyak penelitian lagi (dan tak lama kemudian saya akan menemukannya, suatu metodologi baru), saya senang kalau setidaknya saya belum tentu menuju Roma. Apa pun kecuali Katolik terdengar bagus bagi diri saya!

Kesulitan yang ada dalam Katolik maupun Ortodoks, keduanya punya klaim yang sah untuk menjadi Gereja yang apostolik. Mungkin pada masa ini saya merasa lebih enak dengan Kekristenan Timur. Ortodoks Timur bukan hanya Gereja yang kuno dan apostolik, tapi Gereja yang indah. Tidak seperti Katolik, Gereja Ortodoks tidak harus bertanggung jawab atas Perang Salib, Galileo, Inkuisisi, atau bahkan juga Reformasi. Dan yang paling bagus adalah, tidak ada Paus yang harus dihadapi. Memang, iman di Gereja itu sangat mistik sehingga kebanyakan orang Protestan tidak tahu apa yang diajarkannya. Akhirnya saya mengambil kelas di Gereja Ortodoks di Gereja Yunani setempat dengan beberapa orang lain dari SES (beberapa orang dari mereka menjadi umat Ortodoks). Namun, kegembiraan saya atas pilihan menjadi Ortodoks tidak bertahan lama.

Meskipun secara teori saya menyukai Gereja Ortodoks, dalam kenyataannya saya menemukan permasalahan. Gereja Ortodoks terbagi-bagi secara kultural sampai-sampai saya merasa takut apa yang akan terjadi jika saya pindah dari gereja Ortodoks setempat yang saya ikuti. Lebih jauh lagi, tampaknya Gereja-gereja Ortodoks tidak punya kemampuan membuat penilaian yang mengikat secara universal.  Dan akhirnya, saya tidak tertarik dengan konflik Barat-Timur dengan Katolik. Untuk satu hal, saya ragu kalau saya punya banyak peluang melawan Gerejanya Agustinus, Anselmus, dan Aquinas! Selain itu, saya tidak bisa melihat bagaimana hal itu bisa diselesaikan tanpa kembali ke strategi bermasalah Protestanisme yang saya lihat sudah porak-poranda.

Satu-satunya pilihan yang tersisa: satu-satunya tubuh Kristen yang mempertahankan suksesi apostolik,  kesatuan dogmatis, dan otoritas yang berlaku universal adalah … Gereja Katolik. Dengan segera pikiran saya dipenuhi dengan keberatan-keberatan yang sudah saya dengar (dan ajarkan) selama 20 tahun terakhir ini. Infabilitas Paus? Devosi kepada Maria? Berdoa untuk orang mati? Berlutut di hadapan patung? Api penyucian? Kitab Apokrif? Para presbiter yang selibat (yang banyak dari mereka kelihatannya sebagai pedofil homoseksual)? Itulah harapan yang membuat pusing jika membahas Katolikisme, dan ternyata masalah saya baru saja dimulai.

Pada titik ini saya sedang menuju lima tahun masa penyelidikan saya mengenai masalah ini. Persahabatan dengan orang-orang mulai menegang. (Saya tidak pernah menjadi seorang apologis yang sangat ramah, dan setelah empat tahun percakapan yang penuh obsesi dan menjengkelkan, saya tidak bisa lagi berada di tempat yang orang banyak ceritakan.) Pada masa ini, keluarga saya juga tidak luput dari tekanan. Istri saya yang merupakan seorang Kristen aliran Baptis sejak lahir, mengalami masa sulit dengan arah pemikiran saya. Percapakapan di antara kami sering berakhir dengan air mata, dan saya memutuskan untuk menghentikan penyelidikan saya sampai saya lebih tenang. (Kalau dipikir-pikir, ini adalah ide buruk. Namun, dalam pembelaan saya, saya hanya berusaha melindungi istri saya dari rasa terkejut selama masa permenungan yang mungkin membawa saya ke tempat antah-berantah).

Hubungan saya dengan SES juga mengalami ketegangan yang akhirnya mencapai titik puncak. Beberapa insiden yang tidak ada kaitannya sudah memperburuk cara pandang saya terhadap kepemimpinan sekolah yang selalu berubah-ubah. Sekolah itu semakin jauh dari kehebatannya di masa lalu, dan saya tidak lagi berada di dalamnya. Saya tahu kalau sudah waktunya untuk memutuskan hubungan dengan mereka, ketika tahun ke-14 bersama dengan SES hampir berakhir, saya tidak menerima penawaran mengajar di kelas-kelas yang akan berlangsung pada musim gugur yang akan datang dan saya juga memberi tahu direktur Ph.D. bahwa saya tidak akan menyelesaikan gelar doktor bersama SES, gelar itu sebuah program yang sangat penting dalam pembentukan saya. Saya mendapatkan pekerjaan di dunia sekuler dan memulai apa yang akan menjadi langkah terakhir saya dalam perjalanan keluar dari Evangelikalisme.

Saya sangat ingin menemukan jalan keluar untuk mencapai kesimpulan yang pada saat itu tidak bisa dihindari. Maka pada musim gugur tahun 2013, saya menuju paroki Katolik di tempat saya berada dan mendaftar RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.). Saya membayangkan bahwa jika Paskah tiba dan saya belum menemukan jalan keluar menjadi Katolik, maka Gereja akan memiliki saya.

Sekarang ini, saat ini tentu saja saya tidak sendirian. Ketika penelitian yang saya lakukan membawa saya semakin menjauh dari sumber pengajaran yang disetujui SES, saya mulai menemukan bahwa SES sudah menghasilkan banyak orang Katolik selama keberadaannya. Memang, meskipun sebagian besar mahasiswa yang lulus berusia remaja atau usia 20-an, saya menemukan bahwa cukup banyak mantan mahasiswa dan pengajar yang sudah menjadi Katolik selama bertahun-tahun. Beberapa orang saya kenal, dan sebagian lagi saya kenal sambil lalu. Selain itu, ada beberapa orang dari mereka di SES yang dalam berbagai tahap sedang menyelidiki Gereja Katolik. Bagi sebagian besar orang, kami hanya saling menemukan di akhir pertanyaan pribadi kami, namun lebih banyak waktu dihabiskan untuk memperdebatkan atau menolak “perubahan keyakinan.” Waktu itu bisa dikatakan sebagai waktu yang liar dan menakutkan, namun pada akhirnya, beberapa orang menjadi anggota Gereja (Anda bisa membaca perjalanan hidup mereka dalam buku berjudul Evangelical Exodus yang diterbitkan oleh Ignatius Press).

Meskipun saya belajar banyak ketika di RCIA, banyak waktu yang dihabiskan tidak mempelajarinya. Saya menemukan Katolikisme dengan cara yang cukup berbeda dari apa yang saya bayangkan dari luar. Banyak ajaran Katolik yang “bermasalah” menjadi masuk akal ketika saya mempelajarinya. Dan banyak ajaran lainnya sudah berdasarkan pada prinsip-prinsip yang sudah saya terima sebagai seorang Protestan namun tidak pernah diterapkan secara konsisten. (Inilah yang menjadi pokok bahasan dalam buku saya yang berjudul With One Accord yang diterbitkan oleh Catholic Answers.) Dan saya mulai curiga bahwa Katolikisme sama sekali bukan sebuah sekte!

Untuk membantu menyelesaikan pemikiran saya, saya membuat blog, berdebat, mengajar, dan membahas masalah ini sebanyak mungkin. Akhirnya, setelah lima tahun belajar dan berdiskusi, saya merasa penyelidikan yang saya lakukan harus segera berakhir. Meskipun dengan berbagai macam alasan, saya tidak ingin menjadi Katolik, saya belum menemukan jalan keluar. Katolikisme tidak bisa dibantah secara logis, karena sebenaranya tidak ada kontradiksi (setidaknya tidak ada yang lebih buruk daripada yang dituduhkan oleh para skeptis yang menuduh bahwa Alkitab itu kontradiktif). Lebih jauh lagi, Katolikisme tidak bisa dibantah secara alkitabiah, karena jika pemikiran Protestan tentang pembenaran oleh iman saja (sola fide) bisa diselaraskan dengan Yakobus 2:24, saya tidak melihat bagaimana umat Katolik itu bisa dijebak oleh kontradiksi alkitabiah! Akhirnya, Katolikisme tidak bisa dibantah juga secara historis, karena banyak ajaran Katolik yang ditolak Protestan sudah diajarkan sebelum kanon Alkitab dan bahkan juga ketika pengajaran Kristen yang lurus (ortodoks) sudah ditetapkan.

Kenyataannya, Katolikisme dipenuhi dengan begitu banyak lubang yang selalu harus saya langkahi dalam Evangelikalisme, dan Gereja Katolik menawarkan lebih dari segala hal yang sudah saya miliki dan hargai sebagai seorang Kristen aliran Injili. Saya melihat, dengan menjadi Katolik saya akan menerima daripada melepaskan. Hal terakhir tiba ketika saya membaca penjelasan Thomas Aquinas tentang bidah, yang sangat meyakinkan saya tentang otonomi teologis saya: “Ia yang memegang teguh ajaran Gereja sebagai aturan yang tidak dapat salah, sepakat dengan segala hal yang Gereja ajarkan, sebaliknya, jika dari hal-hal yang diajarkan Gereja, ia menganut apa yang ia pilih untuk dianutnya, dan menolak ajaran yang ia pilih untuk ditolak, maka ia tidak lagi menganut ajaran Gereja sebagai aturan yang tidak dapat salah, melainkan pada keinginannya sendiri” (Summa Theologiae II.II.5.3). Penjelasan tentang bidah ini sangat dekat dengan bagaimana saya menghabiskan kehidupan Kristen saya sampai saat ini. Meskipun objek iman saya dalah Allah dalam Alkitab, saya sudah menaruh kepercayaan pada pemikiran saya selama ini. Menjadi Katolik berarti memilih untuk mempercayai Gereja yang dibangun Allah daripada pemikiran saya sendiri. Saya harus dengan jujur bertanya kepada diri sendiri, apakah saya bisa melakukannya, dan apa artinya jika saya tidak dapat melakukannya.

Sepanjang hidup saya dengan kemampuan terbaik saya untuk mengikuti kebenaran. Saya seorang agnostik karena saya benar-benar berpikir bahwa kita tidak dapat memahami kebenaran hakiki tentang Allah. Saya menjadi seorang Kristen karena saya pikir bahwa Yesus wafat untuk dosa-dosa saya dan Alkitab adalah wahyu Allah.  Saya mengikuti Kekristenan versi Injili karena saya pikir itulah ekspresi iman yang paling benar, dan saya meninggalkan aliran Injili karena saya merasa iman itu tidak benar. Akhirnya, keputusan itu dibuat sendiri. Namun, jika Katolikisme salah, bisakah saya tetap berada di luar Gereja, dan saya tidak berpikir demikian. Saya sama kasusnya dengan perkataan St. Petrus: “Kepada siapakah kami akan pergi?” (Yohanes 6:68).

Perubahan keyakinan yang saya alami selama 5 tahun berakhir pada Malam Paskah 2014. Keluarga dan teman-teman saya berkumpul di paroki saya untuk mengikuti masuknya saya dalam Gereja Katolik. Istri saya cukup murah hati berkenan hadir, meskipun dia masih belum yakin mengenai klaim Katolikisme. Saya menerima Ekaristi Kudus untuk pertama kalinya dan juga menerima Sakramen Penguatan. (Ternyata baptisan yang saya terima sebagai seorang Injili adalah sakramen yang sah, meskipun waktu masih seorang Injili saya tidak percaya akan sakramen!) Dan pada hari Minggu Paskah, saya bangun pagi sebagai seorang Katolik.

Saya menutup masa pengamatan saya. Selama masa penyelidikan, bagi saya orang-orang Injili eks-Katolik yang saya kenal cenderung untuk benci dan salah paham tentang Katolikisme, sementara itu orang-orang Katolik eks-Injili umumnya menghargai dan memahami Evangelikalisme. Saya mengalami kesulitan memahami hal ini, namun saya bisa katakan bahwa bagi banyak orang, termasuk saya sendiri, Katolikisme bukan penolakan terhadap kepercayaan masa lalu melainkan perkembangan kepercayaan masa lalu. Ketika saya mengakhiri bab perubahan keyakinan saya dalam buku Evangelical Exodus saya menulis demikian: “Meskipun saya sudah berdiam di berbagai pantai yeng berbeda bersama dengan rekan-rekan Kristen saya, saya masih menghargai, menghormati, dan mengasihi mereka. Jika Anda memandang pantai Sungai Tiber begitu jauh seperti yang sudah saya alami, ketahulah saya sedang membangun jembatan untuk membantu Anda dalam perjalanan Anda.”

 

Douglas Beaumont meraih gelar Ph.D. dalam bidang teologi dari Northwest University dan gelar MA dalam bidang apologetika dari Southern Evangelical Seminary (SES). Di SES, ia mengajar selama beberapa tahun sebelum masuk persekutuan penuh dengan Gereja Katolik. Sejak saat itu, ia diwawancarai oleh National Catholic Register, EWTN, Relevant Radio, dan The Patrick Coffin Show. Ia adalah penulis buku yang berjudul “With One Accord,” “Evangelical Exodus,” dan “The Message Behind the Movie” dan menjadi kontributor dalam buku “Mind, Heart, and Soul: Intellectuals and the Path to Rome,” “Bumper Sticker Catholicism,” “The Best Catholic Writing,” dan “The Apologetics Study Bible for Students,” serta menulis untuk Catholic Answers Magazine and Catholic World Report. Baru-baru ini ia menjadi pembicara resmi untuk Catholic Answers. Websitenya di douglasbeaumont.com

 

Catatan kaki:

[1] Lihat James K. Beilby, Justification: Five Views (IVP Academic, 2011).

[2] Contohnya, E.g., Craig D. Allert, A High View of Scripture? The Authority of the Bible and the Formation of the New Testament Canon (Grand Rapids: Baker Academic, 2007); Oz Guiness, Fit Bodies Fat Minds: Why Evangelicals Don’t Think and What to Do About It (Grand Rapids: Baker, 1994); Mark Noll, The Scandal of the Evangelical Mind (Grand Rapids: Eerdmans, 1994); D. H. Williams, Evangelicals and Tradition: The Formative Influence of the Early Church (Grand Rapids: Baker Academic, 2005).

 

Sumber: “To Whom Shall I Go?”

Posted on 9 November 2020, in Kisah Iman and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: