Janganlah Kamu Menyebut Siapapun Bapa, Maksudnya Apa?

Oleh Dr. Brant Pitre

Woe unto You, Scribes and Pharisees (Malheur à vous, scribes et pharisiens) karya James Tissot di Brooklyn Museum (Sumber: wikipedia.org)

Ada ajaran Yesus yang terkenal, “Janganlah kamu menyebut siapapun bapa.” Dan saya kira perkataan itu menjadi ayat yang sulit, karena dalam Katolikisme, khususnya di Barat, ada kebiasaan yang sudah berlangsung berabad-abad untuk menyebut seorang presbiter sebagai bapa (di Indonesia istilah yang sama adalah rama atau romo). Saya sebagai seorang umat merasa janggal ketika seorang presbiter berkata, “Janganlah kamu menyebut siapapun bapa,” dan kita semua merasa tidak nyaman karena kita semua memanggil presbiter itu dengan sebutan romo. Maka saya akan mencoba membongkar perikop ini dengan menempatkannya dalam konteks aslinya. Seperti yang Anda lihat, perikop ini kedengarannya seolah-olah Yesus benar-benar melarang kebiasaan orang Katolik ketika menyebut para presbiter kita sebagai romo, jika melihat konteksnya maka jelas sekali hal itu bukan masalahnya. Sebaliknya, Yesus sedang memberikan pengajaran yang sangat penting tentang masalah lain yang akan menjadi kunci permasalahan bagi para murid-Nya. Maka saya akan mengutip semuanya dan membongkarnya:

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Nah, apa yang sedang terjadi pada perikop ini? Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan. Yang pertama dan terpenting: Anda akan melihat dari ayat paling awal bahwa Yesus sedang berbicara kepada orang banyak, namun Ia memusatkan perkataan-Nya kepada para murid-Nya. Ia membicarakan kelompok tertentu dalam tatanan orang Yahudi abad pertama yang dikenal sebagai ahli Taurat dan orang Farisi. Kita sudah pernah membaca kelompok-kelompok itu sebelumnya di Injil Matius sebelum perikop ini. Ahli Taurat adalah guru hukum Taurat yang profesional. Mereka dilatih untuk menyalin Kitab Suci, namun juga menafsirkan Kitab Suci bagi orang banyak. Orang Farisi adalah sekte agama Yahudi yang sangat ketat dalam pengajaran. Sebutan Ibrani untuk orang Farisi adalah perushim yang artinya “yang terpisah” dan mereka dikenal karena ketaatan yang ketat terhadap hukum Yahudi. Pada dasarnya mereka adalah kelompok yang paling punya wibawa dan kuat dalam tatanan masyarakat Yahudi pada abad pertama. Contohnya, Josephus memberi tahu tentang sekte Yahudi lainnya seperti orang Eseni, yang tinggal dekat Laut Mati, juga orang Saduki yang banyak dari mereka menjadi imam di Bait Allah, atau juga orang Zelot yang merupakan para revolusioner politik. Dan Josephus memberi tahu kita bahwa orang Farisi adalah kelompok yang paling berpengaruh. Kebanyakan orang Yahudi, yaitu orang biasa, mengikuti ajaran orang Farisi. Yesus menegaskan mengenai hal ini, dan Ia memberikan sedikit pandangan tentang mereka.

Dan yang mengejutkan, Yesus memberi tahu para murid-Nya, “Lihat, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat duduk di kursi Muka, maka lakukan apapun yang mereka perintahkan.” Kita berhenti sejenak di sini. Apa artinya? Mereka duduk di kursi Musa? Kata Yunaninya adalah kathedra (καθέδρας / kathedras). Dalam tradisi Katolik, kita memperoleh kata katedral dari sini, karena Katedral adalah kursi Uskup diosis (keuskupan –red.). Itulah simbol otoritas sebagai pengajar yang punya wewenang di wilayah keuskupan, dan Katedral adalah gereja milik uskup karena ada kursi uskup di sana. Maka, gambaran kursi dan wewenang pengajaran itu berasal dari agama Yahudi. Sinagoga-sinagoga pada abad pertama mempunyai satu kursi yang disebut kathedra (dalam bahasa Yunani), yaitu kursi Musa. Siapa pun yang menafsirkan hukum Musa akan duduk di kathedra sinagoga dan mengajarkan dengan tata cara sebagai yang berwenang. Jadi apa yang Yesus katakan kepada para rasul adalah orang Farisi dan ahli Taurat yang duduk di kursi Musa adalah pengajar yang berwenang bagi orang-orang Yahudi, maka kalian harus melakukan apapun yang mereka katakan. Maka hal itu adalah hal yang luar biasa, Yesus mengajarkan para murid-Nya untuk tunduk pada otoritas yang sah di bawah Perjanjian Lama. Pada saat ini, Yesus belum menetapkan Perjanjian Baru yang baru akan ditetapkan nanti pada Perjamuan Malam Terakhir. Maka Yesus memberi tahu mereka, lakukan apa yang mereka katakan, namun jangan lakukan apa yang mereka lakukan, karena meskipun mereka mengajarkan hukum Allah, sebenarnya mereka tidak melakukannya. Atau mereka tidak melakukan apa yang mereka ajarkan. Ada pepatah terkenal, lakukan apa yang Anda wartakan, lakukan apa yang Anda ajarkan. Itulah masalah yang terjadi dengan orang Farisi. Jadi, pada dasarnya orang Farisi itu adalah contoh kemunafikan dalam hidup beragama. Mereka tahu akan kebenaran, bahkan mereka mengajarkan kebenaran kepada orang lain, tapi mereka sendiri tidak mengikuti ajarannya. Artinya banyak dari orang Farisi yang menjadi otoritas agama yang korup. Mereka memimpin orang dengan mengajarkan kebenaran, namun tidak membimbing mereka melakukan kebenaran.

Selanjutnya Yesus menjelaskan situasinya. Apa yang Yesus katakan bahwa orang Farisi ini mengikat beban-beban berat, tapi mereka tidak mau menanggung beban itu bagi diri mereka. Maka orang Farisi meletakkannya di pundak orang lain, tapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Gambaran apakah ini? Jika Anda ingat kembali dalam Matius 16, Yesus memberikan Petrus kuasa untuk mengikat dan melepaskan, apa yang ia ikat di bumi akan terikat di surga. Itulah cara pikir Yahudi dalam membicarakan otoritas pengajaran atau ajaran yang mengikat. Jadi apa yang Yesus katakan di sini adalah orang Farisi akan mengikat semua orang Yahudi lainnya dalam pengajaran mereka yang puya wewenang, namun mereka tidak mengikuti pengajaran itu. Orang Farisi tidak mau berusaha sedikit pun untuk melaksanakan pengajaran mereka sendiri. Jadi apa yang Yesus lakukan di sini adalah memberi contoh kepada rasul mengenai contoh pemimpin yang munafik, dalam hal ini orang Farisi dan ahli Taurat. Itu poin yang pertama.

Poin kedua ini berkaitan dengan hasrat untuk dipuji, atau semacam kesombongan spiritual. Dalam poin ini, Yesus membahas beberapa masalah menarik. Dalam ayat-ayat berikutnya, Yesus mengatakan bahwa mereka memakai tali sembahyang (Inggris: phylacteries [jamak];Yunani: φυλακτήρια / phylaktēria [jamak]) yang lebar dan jumbai yang panjang. Apa artinya? Sekali lagi inilah salah satu contoh bagaimana penginjil [Matius] mengasumsikan bahwa yang membaca tulisannya adalah pendengar Yahudi. Dengan kata lain, Matius berasumsi bahwa ia sedang menulis untuk orang-orang Kristen Yahudi yang memahami adat istiadat Yahudi, karena tali sembahyang (filakteri) mengacu pada semacam pita doa yang terbuat dari kulit yang akan dikenakan orang Yahudi dengan cara dililitkan di lengan mereka, adapun pita itu berisikan ayat-ayat Kitab Suci. Contohnya, doa Shema (Ulangan 6:4-6), dalam ayat itu Allah berfirman, “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Teks Yahudi yang terkenal itu akan disalin dan dituliskan ke dalam kubus kulit kecil dan orang Yahudi akan melilitkan kubus itu di sepanjang tangannya. Itulah filakteri atau pita kulit. Ketika mereka melilitkannya di tangan mereka, mereka akan berdoa. Itulah cara mereka memusatkan pikiran untuk mendoakan doa pagi dan doa petang. Pada zaman sekarang, Anda masih bisa melihat orang-orang Yahudi Ortodoks menggunakan filakteri untuk berdoa. Kata Yahudi filekteri adalah tefillin, dan lebih umum disebut demikian.

Kemudian dikatakan mereka mengenakan jumbai yang panjang. Apa itu jumbai? Dalam bahasa Ibrani, jumbai ini disebut tzitzit. Sebenarnya benda itu disebutkan dalam kitab Bilangan. Benda itu adalah jumbai di tepi jubah, yang ada di paling bawah jubah. Orang Yahudi akan mengenakan jumbai ini untuk mengingatkan mereka akan Sepuluh Perintah Allah dalam Keluaran 20. Tidak melakukan penyembahan berhala, tidak melanggar aturan hari Sabat, semua hukum dasar dalam Dekalog. Maka, jumbai-jumbai ini adalah tanda lahiriah dari ketaatan batiniah kepada Dekalog. Dan sesuatu yang luar biasa dari Matius yaitu, ia pernah menyebutkan jumbai ini di awal Injilnya. Jika kita lihat Matius 9:20, ada kisah terkenal tentang wanita yang sakit pendarahan 12 tahun, dan dalam Injil dikisahkan bahwa wanita itu mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Apa maksudnya? Itu artinya bukan sekadar ujung jubah-Nya, namun tzitzit. Jumbai kecil yang menjulur dari ujung jubah yang dimaksudkan untuk mengingatkan tentang Perintah Allah. Saya sangsi kalau Yesus perlu pengingat yang sifatnya lahiriah untuk menaati Perintah Allah, namun Yesus melakukannya sebagai sikap hormat dan kesetiaan pada adat istiadat orang Yahudi. Inilah teladan yang luar biasa bahwa Yesus benar-benar orang Yahudi, Ia menganut agama dari bangsa-Nya.

Kembali lagi ke Matius 23, jadi apa yang sebenarnya Yesus bicarakan, yaitu para ahli Taurat dan orang Farisi mengenakan filakteri yang lebar (seperti pita doa yang sangat besar) dan jumbai jubahnya sangat panjang. Kenapa? Supaya dilihat orang banyak. Dengan kata lain, mereka melakukan hal itu bukan karena mereka benar-benar ingin supaya mereka ingat untuk menaati Perintah Allah, mereka melakukannya supaya orang lain menilai betapa salehnya mereka, betapa religiusnya mereka, betapa setianya mereka. Meskipun Yesus memberi tahu kita kalau mereka dalam batinnya tidak menaati Perintah Allah, atau dengan diam-diam tidak menaati Perintah Allah. Dan benar saja, ayat berikutnya dikatakan bahwa mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di sinagoga. Kalau sekarang, ini seperti orang-orang berebut kedudukan di Gereja. Dan sekali lagi, orang Farisi akan mendapatkan tempat terhormat di sinagoga, atau ketika ada perjamuan, dan orang Farisi akan duduk di kepala meja. Dan bukan orang banyak melakukan hal demikian sebagai cara menghormati mereka, namun orang Farisi suka dilakukan seperti demikian. Mereka puas diperlakukan demikian. Mereka mencari cara supaya diperlakukan demikian. Mereka ingin pujian seperti itu dari orang banyak, dan mereka melakukan tata cara kesalehan dengan tepat supaya dipuji oleh orang banyak, bukan untuk menyenangkan hati Allah, namun mencari pujian manusia.

Dan Yesus berkata kalau mereka suka menerima penghormatan dan suka dipanggil Rabi oleh orang banyak. Apa artinya? Kebanyakan dari kita jika membaca Perjanjian Baru, kita bisa tahu bahwa kata rabi (dari Injil Yohanes), masih digunakan sampai sekarang untuk menyebut para pemimpin Yahudi di sinagoga, misalnya pelayan tertahbis Yahudi disebut rabi. Makna rabi itu pada dasarnya adalah guru. Dan perlu disebutkan pula, secara harfiah, rabi sebenarnya bermakna “yang agung.” Rab artinya agung dalam bahasa Ibrani. Aku (Inggris: I) adalah kata ganti orang untuk saya (Inggris: me). Maka rabbi artinya “yang saya agungkan.” Bisa Anda bayangkan, mungkin gelar yang mulia untuk dimiliki, datang ke suatu tempat dan disebut “yang saya agungkan.” Kenyataannya, saya pernah mencoba hal ini dengan murid-murid saya, dan mereka tidak mau melakukannya. Mereka tidak ingin menyebut saya orang yang diagungkan, jadi saya tetap disebut doktor atau profesor. Jelas sekali bahwa “rabi” adalah gelar yang sangat dimuliakan. Itulah makna rabi secara harfiah. Jadi apa yang Yesus bicarakan di sini adalah orang Farisi senang disebut rabi oleh orang lain.

Nah, itulah konteks apa yang sedang dibicarakan Yesus. Semua yang baru Yesus bicarakan menyoroti dua aspek para ahli Taurat dan orang Farisi. Meskipun mereka guru yang punya wewenang bagi orang Yahudi, mereka orang yang munafik dan suka dipuji. Mereka ingin pujian dari manusia. Sekarang Yesus beralih topik pembicaraan dan memberikan pengajaran yang berbeda, dan inilah kalimat yang terkenal itu di mana Yesus berkata, pertama, “Janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu.” Kedua, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.” Dan yang terakhir, Yesus berkata, “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” Dalam kata lain, Mesias adalah Christos. Siapakah pemimpin (Inggris: master) itu? Yesus adalah satu-satunya pemimpin bagi mereka. Nah, apa inti dari ketiga gelar itu? Gelar pertama, yaitu dalam makna dasarnya. Kita sudah membahas rabbi yang artinya “yang saya agungkan” atau guru, maka Yesus berbicara janganlah dipanggil rabi karena kalian semua memiliki satu guru. Maka jelas sekali, implikasinya bahwa Yesus adalah Sang Guru. Di perikop lain, kita sudah melihat bahwa murid-murid-Nya memanggil Yesus dengan sebutan Guru. Gelar kedua, janganlah disebut bapa. Dalam bahasa Yunani dituliskan kata biasa untuk seorang ayah atau bapa, yaitu pater. Kita mendapat kata patriark atau patriarki dari kata itu. Aturan para bapa adalah arti dari patriarki. Mengapa? Kerena Yesus berkata bahwa hanya satu Bapa yang di surga, yang jelas sekali adalah Bapa Surgawi. Dan sebagian besar pelayanan publik yang dilakukan Yesus mengungkapkan kebapaan Allah. Contohnya dalam Khotbah di Bukit (Matius 5-7), Yesus menyebut Allah Bapa lebih sering dibandingkan dengan seluruh kitab Perjanjian Lama. Hanya sedikit referensi Allah sebagai Bapa di Perjanjian Lama, namun dalam Khotbah di Bukit, Yesus melakukannya berulang-ulang.

Dan akhirnya, gelar ketiga, Ia berkata janganlah disebut pemimpin. Dan yang menarik jika kita meninjaunya dalam bahasa Yunani yaitu kathēgētes (καθηγηταί / kathēgētai), yang dalam bahasa Latin disebut magister. Kita memperoleh kata master (diterjemahkan menjadi pemimpin dalam bahasa Indonesia), dari kata itu juga kita memperoleh kata mister, yang akan bermakna orang yang ada di atas kita, semacam tuan dan hamba. Sekarang, mengapa Yesus menggunakan ketiga gelar itu? Inilah kalimat kuncinya. Inilah yang menjadi inti seluruh pengajaran Yesus. Yaitu ayat 11, ketika Ia berkata, “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” dan kata pelayan ini dalam bahasa Yunaninya adalah diakonos (διάκονος). Dengan kata lain, siapa yang berkedudukan tinggi, sebenarnya dimaknai menjadi diakon, pelayan bagi semua orang. Mengapa? Kesimpulannya sederhana, karena siapa yang meninggikan dirinya akan direndahkan, namun siapa yang merendahkan dirinya akan ditinggikan. Dan itulah inti dari pernyataan Yesus. Seluruh pesan dalam ajaran ini adalah tentang kerendahan hati, supaya para murid tidak mencari pujian dari orang lain. Supaya mereka tidak berusaha untuk meninggikan diri di atas orang lain. Supaya mereka rendah hati. Supaya mereka menjadi pemimpin yang mau melayani. Dan saya tahu kalau hal itu klise. Pada zaman sekarang, banyak orang yang membicarakan tentang kepemimpinan, tapi hal itu klise yang berakar dengan jelas dalam Injil. Yesus menginginkan para murid menjadi pemimpin yang bertipe diakonos, pelayan bagi semua orang. Bukan orang yang meninggikan diri, seperti para ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus menginginkan mereka tidak sombong secara rohani, namun bersikap rendah hati secara rohani. Itulah perbedaan yang dimaksud Yesus.

Kemudian, jika Anda seorang Katolik, maka akan timbul pertanyaan tentang bagaimana kita menyelaraskan kebiasaan kita menyebut para presbiter sebagai bapa atau romo dengan pernyataan Yesus yang berbunyi “Janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini”? Kelihatan hal itu kontradiktif, kasus yang jelas bahwa kita punya kebiasaan Katolik yang bukan hanya tidak alkitabiah, namun juga anti-Alkitab, karena bertentangan dengan Kitab Suci. Jadi mengapa kita melakukannya? Bagaimana kita bisa menyelaraskannya dengan Firman Allah? Bagaimana kita bisa menyelaraskannya dengan ajaran Tuhan? Maksud saya, perkataan Yesus sendiri, menjadi masalah besar dan kita perlu menghadapinya. Dan jika Anda mempertanyakan pertanyaan demikian, apakah Yesus benar-benar melarang menyebut bapa sebagai panggilan? Maka dengan jelas kita tahu bahwa jawabannya, ‘Tidak,’ ketika kita menempatkannya dalam ayat ini dalam konteks Perjanjian Baru secara keseluruhan, bukan hanya konteks langsung perikop itu tentang kerendahan hati. Inilah prinsip penafsiran  yang penting. Sebagai umat Katolik, kita tidak mempercayai jika Anda mengambil satu ayat dengan mencabut konteksnya dan digunakan sebagai bukti. Kita ingin menafsirkan setiap ayat Perjanjian Baru dengan terang seluruh Perjanjian Baru. Jadi salah satu cara untuk menguji apakah Yesus benar-benar melarang sebutan bapa, adalah dengan melihat seluruh Perjanjian Baru. Kita bisa melihat apakah para rasul juga melarang sebutan bapa atau apakah mereka juga menggunakan sebutan bapa. Jika memang demikian, apa yang perlu kita ketahui tentang perkataan Yesus?

Sebenarnya pertanyaan ini cukup mudah dijawab, meskipun kelihatan sangat sulit dijawab. Anda harus ingat bahwa dalam Injil Matius, Yesus sering menggunakan metode pengajaran yang disebut hiperbola. Apa itu hiperbola? Hiperbola adalah ketika Anda membesar-besarkan sesuatu untuk menyampaikan suatu maksud. Contoh klasiknya adalah dari Khotbah di Bukit. Dalam Matius 5:28-30, di mana Yesus berkata, “Jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.” Atau, “Jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.” Maka jelas sekali bahwa Yesus menggunakan cara yang melebih-lebihkan untuk menyampaikan suatu maksud. Ia tidak berharap kalau para murid-Nya memotong tangan mereka atau mencungkil mata mereka, karena jika melakukannya akan berbuat dosa. Yesus sedang berbicara tentang sifat radikal (total) dari komitmen terhadap Kerajaan Allah, bahwa kita harus mencabut akar dosa di mana pun kita menemukannya. Yesus menggunakan gambaran yang mudah diingat untuk menjelaskan maksudnya. Dengan kata lain, jika Anda seorang guru, dan Anda juga akan melakukan hal demikian.  Mari kita hadapi hal ini, siswa akan merasa lelah, bosan, perhatian mereka tidak fokus, maka salah satu cara membantu mereka adalah dengan mengingatkan apa yang Anda ajarkan dengan cara hiperbola sebagai teknik dalam mengajar. Poin pertama yang saya akan katakan dalam Matius 23 adalah Yesus menggunakan cara mengajar hiperbola. Ia tidak memberikan larangan dengan mutlak.

Kita bisa melihatnya dalam bagian lain dalam Perjanjian Baru, di mana para rasul sendiri, dengan inspirasi dari Roh Kudus, akan menggunakan kata pater, atau bapa untuk menyebut orang lain. Ada beberapa contoh. Pertama, dalam Kisah Para Rasul 7:2, St. Stefanus sebagai martir pertama, ketika ia dibawa ke hadapan Sanhedrin yang di dalamnya ada para imam Yahudi yang merupakan para pemimpin bangsanya, menyapa mereka sebagai berikut:

“Hai saudara-saudara dan bapa-bapa (πατέρες/ pateres), dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa (πατρὶ  / patri) leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran, …”

Stefanus melanjutkan kisah perjalanan Abraham ke Tanah Terjanji. Perhatikan di sini dalam ayat pembuka perkataan Stefanus, tepat sebelum ia menjadi martir, ia menyebut para tua-tua Yahudi sebagao bapa-bapa sebagai bentuk penghormatan, karena mereka adalah para pemimpin bangsa. Dan kemudian ia juga menyebut Abraham sebagai bapa sebegai bentuk penghormatan kepadanya sebagai leluhur bangsa Yahudi. Seperti dikatakan selanjutnya, bahwa Stefanus meninggal dalam penuh Roh Kudus dan menjadi martir pertama bagi Gereja. Apakah kita percaya bahwa Stefanus itu tidak menaati perintah Kristus ketika ia menyebut para tua-tua Yahudi sebagai bapa? Tidak, hal itu tidak masuk akal kan. Apa yang tampaknya lebih masuk akal adalah Yesus memberikan perintah itu dengan teknik mengajar hiperbola dalam mengajarkan kerendahan hati, dan tidak secara mutlak melarang siapapun disebut bapa. Kemudian saya berpikir, kalau semua orang Kristen sepakat dalam hal ini, mereka punya kebiasaan bagi seorang anak memanggil ayahnya dengan makna paternal, apakah disebut bapa, ayah, papa, daddy, semua itu maknanya sama. Artinya bapa, dan umat Kristen melakukannya sepanjang masa. Namun dalam hal ini jelas karena bicara bapa sebagai gelar keagamaan, mari kita lanjutkan lagi. Bagaimana dengan St. Paulus? Dalam 1 Korintus 4, St. Paulus menyebut dirinya bapa dengan sebutan dari para murid di Korintus, kita lihat di sini:

Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa (πατέρας / pateras). Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!

Perhatikan Paulus mengandaikan bahwa meskipun jemaat Korintus punya banyak pembimbing (seperti pemimpin), tapi tidak semuanya adalah bapa rohani. Namun Paulus, karena ia membaptis mereka dan memberitakan Injil kepada mereka, ia menjadi bapa rohani dalam Kristus Yesus. Jika Yesus melarang menyebut bapa kepada para pemimpin agama, mengapa Paulus memanggil dirinya sendiri bapa? Maka masuk akal sekali bahwa Yesus menggunakan tata bahasa hiperbola dalam Injil Matius. Kemudian, St. Yohanes yang merupakan salah satu Dua Belas Rasul, yang berada di sana ketika Yesus mengajarkan ajaran ini kepada para murid. Dalam surat pertamanya, ia menyapa para pemimpin jemaatnya sebagai bapa (kata yang sama dalam bahasa Yunani, pater), maka ia berkata dua kali menyebut kata sapaan bapa:

Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Kata Yunani yang sama kan? Mengapa St. Yohanes menyebut orang-orang (maskulin) dalam komunitasnya sebagai bapa-bapa (πατέρες / pateres bentuk jamak dari pater) jika Yesus melarangnya? Jawabannya sederhana. Yesus tidak melarang panggilan itu. Yesus mengajarkan dengan majas hiperbola untuk menyampaikan kerendahan hati spiritual kepada para murid-Nya.  Singkatnya, ketika Anda menafsirkan Matius 23 dalam konteks seluruh Perjanjian Baru, maka jelas sekali bahwa ayat ini bukan larangan untuk panggilan bapa secara mutlak.

 

Sumber: “Call No Man Father”

Posted on 5 November 2020, in Apologetika and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: