Beriman ala Masker

5 Kesalahan Umum Cara Pakai Masker (Sumber: kompas.com)

Pada masa pandemi seperti sekarang, masker menjadi sesuatu yang wajib dikenakan ketika berada di luar rumah. Berbagai elemen masyarakat dari pemerintah, pemimpin agama, dan pemimpin masyarakat ikut serta menganjurkan masyarakatnya untuk mengenakan masker dengan benar. Dalam hal ini, saya melihat adanya anggapan umum bahwa mengenakan masker pasti terhindar dari penyakit. Sayang sekali anjuran yang sudah diberikan hanya dibaca sepotong saja, banyak orang lupa bahwa mengenakan masker juga harus benar.

Dalam artikel singkat ini, saya akan memberikan sedikit refleksi iman dari fenomena yang terjadi saat ini dalam menggunakan masker. Tentunya refleksi ini saya abaikan dahulu jenis-jenis masker yang efektif dalam mencegah penyebaran virus, kalau tidak pengandaian ini menjadi terlalu kompleks untuk dicerna.

Fenomena sekarang yang kita lihat ternyata cukup memprihatinkan yaitu masyarakat mengenakan masker dengan tidak benar, misalnya yang sering kita lihat adalah masker tidak menutup hidung atau diturunkan ke dagu. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di gambar di atas (klik untuk memperbesar).

Untuk menjelaskan fenomena itu, maka kita perlu tahu duduk masalahnya atau konteks dalam mengenakan masker. Pertama, pandemi yang terjadi sekarang ini adalah virus yang menyerang organ pernapasan terutama hidung dan mulut. Kedua, masker menjadi alat bantu untuk mencegah penyebaran dengan melindungi area penularan. Ketiga, supaya penggunaan masker efektif maka harus dikenakan dengan benar. Keempat, supaya masker menjadi efektif diwajibkan disiplin tangan supaya selalu bersih sebelum menyentuh area wajah dan memegang masker, dengan rajin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer.

Dalam kehidupan beriman, kita ternyata suka melakukan iman ala masker. Asal pakai masker, maka pasti terhindar dari penyakit. Asal beriman maka pasti selamat. Kita lupa ada aspek-aspek lain yang harus disertai dalam mengenakan masker. Kita lupa bahwa iman itu harus disertai dengan perbuatan nyata. Jika asal pakai masker atau asal beriman, maka secara tidak langsung kita menjadikan masker atau iman itu sebagai jimat atau berhala baru. Beriman hanya sebagai identitas tidak akan menyelamatkan. Maka iman perlu dihayati dan dihidupi dengan benar sehingga berdaya guna bagi keselamatan jiwa kita.

Menjadi orang Kristen yang satu, kudus, katolik dan apostolik itu bukan hanya identitas. Melainkan suatu perjuangan hidup, supaya iman yang kita tidak sia-sia. Ingatlah Allah sudah memberikan anugerah keselamatan kepada kita dengan penebusan sang Kristus, dan melalui perbuatan-perbuatan baik kita iman kita menjadi sempurna (bdk. Yakobus 2:22). Iman bagaikan tawaran untuk mengenakan masker, ada pilihan apakah kita mau mengenakannya atau tidak. Menggunakan masker dengan benar adalah perbuatan-perbuatan baik kita supaya kita terhindar dari penyakit.

Semoga dengan analogi sederhana ini kita semakin terdorong untuk beriman dengan benar, sekaligus mendorong kita untuk mengenakan masker dengan benar pada masa pandemi ini.

Posted on 13 November 2020, in Apologetika and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: