Lingkaran Adven Menjadikanku Katolik – Kisah Mary Pomeroy

Mary Pomeroy (Sumber: chnetwork.org)

Pada hari Minggu Adven pertama tahun 2017, untuk pertama kalinya saya ikut Misa Katolik, menjadi Katolik tak pernah terlintas di benak saya. Satu-satunya alasan ada di sana untuk Misa adalah untuk melihat karangan lingkaran Adven dan penyalaan lilin. Saya tidak tahu apa-apa tentang iman Katolik kecuali berbagai hal yang diberitahukan oleh orang Protestan anti-Katolik. Sedikit yang saya ketahui bahwa saya berada di sana untuk salah satu kejutan terbesar dalam hidup saya – dan sesuatu dirancang oleh Tuhan.

Yang Saya Imani

Lahir pada tahun 1951 dan dibesarkan di Seattle, Washington, saya sudah menjadi orang Kristen seumur hidup. Keluarga kami Lutheran, jadi saya dibaptis waktu masih bayi, ikut sekolah Minggu, sekolah Alkitab di saat liburan, dan ikut perkemahan gereja. Saya menerima sidi waktu berumur 14 tahun dan aktif di Luther League (semacam OMK-nya Lutheran –red.) di SMA. Saya beriman kepada Tuhan, tapi lebih ke agama orang tua saya daripada agama saya sendiri. Ada masa-masa singkat ketika saya menjauh dari iman saya dan berpaling dari Tuhan ketika saya kuliah. Saya kembali beriman pada tahun 1971, ketika gerakan Jesus People ramai, dan saya menjadi seorang karismatik. Tiba-tiba, Tuhan bukan lagi pribadi yang saya imani. Bukan sekadar ke gereja tiap hari Minggu untuk memberikan sebagian hidup saya kepada-Nya. Sebaliknya, Tuhan menjadi bagian penting seluruh hidup saya, dan saya punya relasi harian yang hidup dengan-Nya.

Pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, yaitu masa awal gerakan karismatik, ibadah karismatik terasa baru dan menyegarkan. Kami menyanyikan lagu-lagu berisi ayat Alkitab yang diiringi gitar. Kami belajar banyak tentang Roh Kudus, karya dan juga karunia-Nya. Setelah kuliah saya ikut beberapa tahun di sebuah organisasi Kristen di California yang bernama Youth With A Mission, yaitu organisasi bertaraf internasional yang melatih orang-orang untuk menjadi misionaris dan bekerja di seluruh belahan dunia. Para misionaris ini menekankan perlunya memupuk relasi yang lebih dalam dengan Tuhan. Karena saya tidak punya uang untuk ikut pelatihan, saya menjadi sukarelawan di kantor mereka di California dan belajar banyak dari pembicara tamu, mendengarkan rekaman pengajaran, dan mengobrol dengan para siswa dan pimpinan yang ada di sana.

Pada tanggal 8 Februari 1976, saya melakukan penerbangan dari Los Angeles ke Anchorage, Alaska untuk menjadi pengiring pengantin wanita di perkawinan teman sekamar waktu kuliah. Saya pergi dari tempat bersuhu 70°F (±21°C) ke tempat bersuhu -30°F (±-34°C)! Inilah titik balik dalam hidup saya. Saya menyukai Alaska dan sedang mencari petualangan hidup, dan orang tua teman saya mengundang saya untuk tinggal bersama mereka untuk sementara waktu. Saya menemukan pekerjaan dan tidak pernah meninggalkan Alaska. Di sana saya bertemu dengan Willy yang akan menjadi suami saya. Kami menikah pada tahun 1977, dan sekarang kami memiliki tiga orang anak yang sudah dewasa dan empat orang cucu.

Selama masa membesarkan anak-anak, keluarga kami ikut di gereja Assemblies of God (Sidang-sidang Jemaat Allah) yang ada di wilayah kami, di sana anak-anak kami bertumbuh dalam iman melalui banyak pelayanan yang ditawarkan gereja. Meskipun saya sibuk dalam membesarkan tiga anak, saya selalu merasa bahwa Tuhan punya tujuan dalam hidup saya yang melampaui hal itu, tapi saya tidak tahu apa itu. Dari tahun 1989 sampai 1999, saya ikut serta dalam musik di gereja kami, bernyanyi di paduan suara dan bermain piano untuk kebaktian. Hal ini tidak menjadi tujuan seumur hidup seperti yang terlihat dalam sepuluh tahun itu.

Ia membimbingku … melalui kepedihan dan kebingungan

Pada akhir tahun 1980-an, saya ikut kelompok karismatik interdenominasi bagi kaum wanita yang bernama Aglow, di sana iman saya berkembang dan saya bertumbuh secara rohani. Selama bertahun-tahun, Aglow menjadi bagian besar dari hidup saya, dan saya mulai melakukan pelayanan di dewan gereja setempat, dan berlanjut sampai menjadi Koordinator Doa Negara Bagian, kemudian menjadi Pimpinan Negara Bagian.

Selama saya bersama Aglow, kami mengunjungi banyak desa tempat penduduk asli Alaska, di sana kami mengadakan sekolah Alkitab bagi anak-anak untuk mengisi masa liburan pada siang hari, sedangkan pada malam hari kami melakukan kebaktian pelayanan bagi orang dewasa. Melalui pertemuan tingkat daerah dan negara bagian, konferensi nasional, dan perjalanan antar desa, saya berteman dengan banyak orang di Aglow baik di negara bagian saya maupun di seluruh negeri.

Pada tahun 1999, pintu pelayanan dalam bidang musik tertutup bagi saya, bagi saya saat itu menjadi masa sulit dan pedih karena saya harus mengatasi keadaan yang menyebabkan perubahan dalam bagaimana cara dan di mana saya melayani Tuhan.

Pada saat itulah saya ikut Konferensi Aglow yang diadakan untuk pertama kalinya di Orlando, Florida. Kaum wanita berdatangan dari seluruh dunia! Kami punya pembicara hebat, kami menikmati ibadah yang membawa kami ke hadirat Tuhan, dan pengalaman saya si sana membawa saya ke dalam relasi baru yang lebih intim dan dekat dengan Tuhan lebih dari sebelumnya.

Suami saya pensiun pada tahun 2011, tetapi pada tahun 2014 ia mengambil “pekerjaan pensiunan” sehingga ia bekerja pada hari Sabtu, Minggu, dan Senin, sehingga ia tidak bisa ikut ke gereja. Segala sesuatu berubah lagi. Saya mulai ke gereja yang berada di Anchorage, tapi setelah tiga tahun mengendarai mobil selama 35 menit dan duduk sendirian selama kebaktian, saya merasa lelah. Karena masalah jarak, saya tidak terlibat dengan kegiatan gereja dan juga berteman dengan umat lain. Saya juga mulai merasa bosan dengan gaya ibadah di gereja-gereja karismatik yang saya ikuti. Banyak gereja yang mengingatkan saya pada konser musik rock di ruangan gelap, kilatan lampu, tim penyembahan yang ada di depan dan di tengah, dan musik yang sangat hingar binger. Ada juga yang terjadi di Aglow yang bertempat di negara bagian kami, hal itu membuat saya merasa kesulitan, sehingga saya juga merasa sangat sulit untuk maju sebagai seorang pemimpin. Pada bulan November 2017 yang ditandai dengan hujan salju, terutama di akhir pekan. Saya berhenti ke gereja di Anchorage karena masalah cuaca.

Sekitar masa ini, ada seorang teman baik saya, dan salah satu dari sedikit teman Katolik yang saya kenali, pindah ke daerah saya. Waktu itu bulan November, dan saya sedang memikirkan Adven dan Natal. Sebagai seorang yang dibesarkan di gereja Lutheran, kami selalu punya lingkaran Adven berlilin, dan saya selalu menyukai persiapan Natal dan merayakan kelahiran Yesus. Sebagian besar gereja yang saya ikuti selama masa dewasa, tidak punya lingkaran Adven. Tiba-tiba, suatu haru saya bicara kepada teman saya itu, “Saya hanya ingin ke gereja yang punya lingkaran Adven dan melihat lilin dinyalakan.” Teman saya itu berkata kalau dia perlu menghubungi gereja Katolik yang ada di wilayah kami, dan pada hari Minggu depan adalah awal Masa Adven, dan pasti akan ada lingkaran dan lilin Adven, jadi mengapa saya tidak ikut dengannya?

Hati saya kecewa. Saya berpikir, “MENGAPA ikut dengannya ke ibadah gereja yang hampa, membosankan, dan ritualistik?”  Kendati demikian, saya mengatakan saya mau ikut. Apa lagi yang bisa saya katakan? Saya tidak bisa memberi tahu tentang perasaan saya yang sebenarnya tentang Gereja Katolik. Sampai saat ini, satu-satunya pengalaman saya dengan Gereja Katolik adalah satu kali upacara perkawinan dan dua kali upacara pemakaman, selain dari apa yang saya pelajari dari orang-orang Protestan.

Sang Bapa berlari menghampiriku

Inilah awal dari rancangan Tuhan yang luar biasa bagi saya. Saya tidak berharap ikut Misa, tapi saya mau pergi. Ketika kami berjalan dari pintu ke panti umat/nave (apa yang kami sebagai umat Protestan sebut sebagai tempat kudus), saya langsung terkejut. Meskipun saya selalu mengasihi Tritunggal, saya selalu punya relasi istimewa dengan Allah Bapa. Di gereja-gereja yang saya ikuti selama bertahun-tahun, mereka akan melakukan apa saja supaya Roh Kudus bekerja. Saya sudah terbiasa dengan hal itu, tapi berjumpa dengan hadirat Allah Bapa itu jarang sekali. Saya selalu mengetahui hadirat Allah Bapa dengan suatu kenyataan yang biasa saya menggambarkannya sebagai hadirat yang penuh hormat dan serius. Saya mengenali perasaan itu ketika berada di gereja itu, karena saya pernah mengalami hal serupa ketika mengunjungi sinagoga umat Yahudi. Ketika saya berjalan melalui pintu gereja St. Andrew, tiba-tiba perasaan hormat dan serius akan hadirat Allah Bapa muncul, dan saya terpesona.

Kemudian para imam masuk, dan tiba-tiba saya tidak melihat apa yang terjadi selanjutnya sebagai suatu “ritual.” Sebaliknya, saya melihat betapa mereka sangat menghormati kekudusan Tuhan sehingga untuk mendekati-Nya mereka punya … protokol. Hal seperti itu tidak pernah saya lihat di gereja saya – kasih dan hormat akan kekudusan Tuhan –  dan saya menyukainya. Ketika kami mulai menyanyikan liturgi, hati saya hampir melunak! Saya sangat tersentuh dengan keindahan musik dan kata-kata yang kami lantunkan sehingga saya meneteskan air mata dan terus menangis. Musiknya terdengar seperti sesuatu yang seseorang harapkan akan didengar di surga nanti.

Sentuhan dengan Sang Putra

Ketika tiba waktunya untuk menyambut Ekaristi, saya tidak tahu apa pun, saya bangkit berdiri dan ikut teman saya ke depan. Wanita itu (kemungkinan pelayan komuni tak lazim –red.) memberi saya Hosti Kudus, tetapi kemudian dia tahu kalau seharusnya saya belum boleh menerima komuni, dan dia memberi tahu saya. Saya tertangkap basah!

Ketika kami meninggalkan gereja, saya sangat terkejut. Saya tahu ada sesuatu yang mendalam sudah terjadi pada diri saya, tetapi saya tidak tahu harus berbuat apa karena saya TIDAK akan menjadi Katolik! Tetapi saya memutuskan untuk hadir di sana selama Masa Adven. Sejauh ini saya akan pergi ke sana, tetapi tidak akan lebih jauh lagi.

Bagian selanjutnya dari rencana besar Tuhan adalah ketika ikut Misa bersama teman saya itu untuk yang ketiga kalinya. Di pelataran gereja, ada pameran buku. Sesudah Misa, teman saya mengobrol dengan orang-orang, dan saya tidak kenal mereka seorang pun, saya menghibur diri dengan jalan-jalan di sekitar gereja dan melihat-lihat buku. Saya belum pernah melihat buku-buku seperti itu. Buku-buku itu kelihatan asing bagi saya karena kata-kata dan gambarnya yang aneh. Tiba-tiba, saya melihat sebuah buku yang membuat saya berhenti melangkah. Judulnya adalah Rapture: The End Times Error that Leaves the Bible Behind karya David Currie. Selama masa dewasa saya mengikuti gereja-gereja yang menganut ajaran Pengangkatan (Rapture), tapi tetap saja saya punya masalah serius dengan ajaran itu selama bertahun-tahun. Beberapa kali saya mendengarkan seseorang mengajar tentang Pengangkatan ini, malah berakhir dengan lebih banyak lagi pertanyaan dan kebingungan daripada ajaran lainnya. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang bisa saya tanyai tentang ajaran Pengangkatan, karena setiap orang yang hadir itu setuju dengan ajaran itu, terlepas mereka memahami atau tidak. Di sini, untuk pertama kalinya, saya menatap sebuah buku yang mungin punya jawaban! Saya tidak punya uang tunai, maka saya pulang dan langsung mengunduhnya (bukan dalam artian mengunduh e-book bajakan, melainkan membeli secara daring melalui marketplace e-book kemudian mengunduhnya ke dalam gawai –red.) ke dalam tablet dan saya mulai membacanya. Buku karya David Currie menjadi titik balik saya. David punya pengetahuan luas dan cermat, ia sudah membaca semua nubuatan Alkitab dan menjelaskan bagaimana sebagain besar nubuat sudah digenapi.

Natal tiba, dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya tidak ingin menjadi Katolik, tetapi saya sangat tertarik dengan Gereja Katolik sehingga saya tidak bisa menjauhinya. Lalu ada langkah lain dalam rancangan Tuhan. Kembali ke tahun 2001, ada seorang teman yang merupakan guru Alkitab, dia diundang untuk menjadi pembicara selama dua pekan di sekolah Alkitab di Magadan, Rusia, dan dia mengajak saya. Sebelum saya berangkat, seorang teman Aglow yang seorang Katolik menceritakan tentang Romo Michael, seorang presbiter dari Alaska yang menggembalakan satu gereja di Magadan. Dia memberi tahu bahwa ia seorang presbiter yang hebat, dan saya pikir, Bukankah akan menyenangkan untuk bertemu dengannya!”

Kami berada di negera asing, saya tidak bisa bahasa Rusia, dan saya tidak tahu di mana paroki Katolik berada. Tapi kami akan melihatnya!

Roh Kudus bekerja

Suatu hari di Rusia, kami sedang berjalan melewati satu gedung untuk pergi ke pertemuan, ada seseorang yang mengantar kami menunjuk ke sebuah pintu di lorong dan berkata kalau itu adalah gereja Katolik. Saya langsung terpikir dengan Romo Michael, dan pada saat itu juga ada seorang pria berjubah panjang berwarna coklat. Saya bertanya apakah ia adalah Romo Michael. Ia menjawab, betul, dan kami berbincang-bincang walaupun dengan waktu yang singkat.  Hari Minggu sesudah Natal, siapa yang akan merayakan Misa dan membawakan homili kalau bukan Romo Michael. Saya tidak sabar untuk ikut ke sana, dan saya tidak merasa kecewa.

Romo Michael menceritakan tentang seorang anak perempuan berusia lima tahun yang akan ikut Misa di Magadan seorang diri, karena kedua orang tuanya tidak suka ke gereja. Karena masih sangat muda, ia tidak memberinya Ekaristi Kudus. Suatu hari sesudah Misa, anak perempuan itu datang kepadanya dan berkata, “Romo Michael, kenapa Romo tidak memberi saya Yesus? Saya hanya ingin Yesus!” Romo Michael memberinya Yesus.

Bagaimana dengan saya? Apa yang saya inginkan?

Saya memikirkan kejadian itu, dan saya sadar bahwa saya juga menginginkan Yesus! Saya sudah mengasihi Yesus di sepanjang hidup saya, tetapi saya menginginkan Yesus yang lebih penuh dalam Ekaristi. Kemudian ia berbicara tentang Injil Yohanes 6:53-68 yang mengisahkan Yesus memberi tahu pengikut-Nya bahwa mereka harus makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, dan semua orang meninggalkan-Nya kecuali Dua Belas Murid. Kemudian Ia berkata kepada Dua Belas Murid, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Kemudian Petrus berkata, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.” Tiba-tiba, kata-kata itu meresap jauh ke dalam relung sanubari saya, dan pada titik inilah saya tahu kalau tidak ada tempat lain yang ingin saya tuju. Bahwa di sinilah saya berada, tempat Allah – Bapa, Putra, dan Roh Kudus – memanggil saya dan di sinilah tempat saya akan menemukan Kebenaran.

Saya masih membaca buku David Currie, dan suatu hari saya mulai membaca tentang dirinya, saya terkejut kalau ia pindah keyakinan dari gereja Presbiterian. Ia adalah putra seorang pendeta Presbiterian, orang tuanya guru di Moody Bible Institute. Saya baru tahu ternyata ia juga sudah pernah menulis buku lain, judulnya Born Fundamentalist, Born Again Catholic (Google Play Books). Saya tidak sabar untuk mendapatkan buku itu. Segera saya mengunduhnya (bukan dalam artian mengunduh e-book bajakan, melainkan membeli secara daring melalui marketplace e-book kemudian mengunduhnya ke dalam gawai –red.) dan mulai membaca. Saat itu menjadi waktu yang tepat bagi saya untuk membaca buku itu, karena saya tidak tahu apa-apa tentang iman Katolik dan saya punya banyak pertanyaan.

Currie menulis buku ini untuk menjelaskan kepada teman-teman dan keluarganya yang Protestan, mengapa ia menjadi Katolik. Alasannya disajikan dengan jelas dan sistematis, dengan cara yang dipahami oleh seorang Protestan – buku yang tepat untuk saya baca saat itu. Ia membahas topik-topik yang memisahkan apa yang diimani Katolik dan Protestan, termasuk tentang Paus, Ekaristi, dan Perawan Maria. Ketika saya membaca bukunya, perlahan-lahan saya mulai mengerti apa yang diimani umat Katolik, dan untuk pertama kalinya hal itu menjadi masuk akal. Masih banyak hal lain yang belum saya mengerti. Saya juga mulai membaca buku-buku lain karena saya sangat ingin belajar tentang Katolik. Saya membaca kisah perubahan keyakinan Scott Hahn, dan saya sangat menyukainya. Saya membaca buku 7 Secrets of the Eucharist dan 7 Secrets of Confession karya Vinny Flynn. Saya membeli CD tentang iman Katolik di serambi gereja dan mendengarkannya.

Ada satu hal yang belum saya pahami yaitu relasi umat Katolik dengan Perawan Maria. Di gereja-gereja yang sudah saya ikuti, kami membicarakan Maria hanya sekali setahun yaitu ketika Natal, dan hanya itu saja. Saya punya pengalaman yang mengubah semuanya itu.

Di Alaska kami mengalami gempa bumi. Sekali atau dua kali setahun, rumah berguncang sedikit selama beberapa detik, jantung kami berdetak kencang, dan kemudian kami melakukan kegiatan kami lagi. Pada tanggal 30 November 2018, kami mengalami gempa bumi sekitar pukul 8.30 di pagi hari, di wilayah kutub utara hari masih gelap. Gempa 7,2 skala Ritcher itu gempa besar! Selama semenit penuh, rumah kami berguncang, lampu padam, barang-barang dari rak jatuh ke lantai, dan saya harus berpegangan ke meja supaya tidak jatuh. Ketika gempa berhenti, gempa susulan mulai terjadi. Sudah mengalami trauma karena gempa besar, setiap 20 hingga 40 menit kami akan mengengar gemuruh dan rumah berguncang lagi, rasa takut dan hampir panik itu datang lagi. Malam itu saya berbaring di tempat tidur karena kelelahan. Setiap kali saya mulai sedikit rileks, gemuruh itu terjadi lagi, rumah akan berguncang, dan jantung saya berdebar kencang. Saya memikirkan semua orang di wilayah selatan pusat Alaska, yang seperti saya sedang berbaring di tempat tidur dengan pakaian lengkap, seandainya mereka harus tiba-tiba meninggalkan rumah, saya berpikir, “Kami semua bersama-sama!”

Pertama, Tritunggal Mahakudus, kemudian Bunda Maria

Saya berusaha berdoa, tapi tidak bisa. Saya tidak tahu caranya berdoa rosario, tapi saya bisa mengucapkan Salam Maria. Maka saya mulai mendaraskan Salam Maria, dan tak lama kemudian, saya tertidur. Saya tidak terjaga, tetapi tidak sepenuhnya tidur, ketika itu saya mendengar suara wanita yang berkata kepada saya, “Aku mengasihimu.”

Mata saya terbuka, dan saya berpikir, Apa itu?! Suara itu tidak saya kenali. Kemudian saya sadar. Saya sudah mengucapkan Salam Maria, dan dia datang untuk memberikan saya penghiburan!

Pada bulan September 2018, saya memulai RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.). Saya tidak bisa berkata  cukup tentang betapa hebatnya pengalaman yang saya alami itu! Kami punya pengajar-pengajar yang luar biasa, sehingga saya belajar banyak tentang iman Kristen, apa yang mereka imani, tentang sakramen, dan semua hal indah yang ditawarkan iman Katolik. Saya paling suka dengan ajaran tentang Ekaristi, yang menjadi salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan Gereja Katolik. Selama saya menjadi seorang Protestan, saya tahu kalau ada sesuatu yang lebih dalam tentang komuni (persekutuan) dari yang saya pahami waktu itu, tapi saya tidak pernah bisa memahaminya dengan baik.

Ketika dijelaskan sepenuhnya, hati saya bergetar ketika akhirnya saya menemukan apa sebenarnya Komuni Kudus itu dan apa maknanya bagi seorang Kristen. Ketika masih Protestan, kami tidak pernah bicara tentang dosa. Kekudusan itu penting, tetapi saya tidak mengerti bagaimana untuk bisa menyerupai Kristus dan menghadapi dosa-dosa yang saya perbuat. Ketika mempelajari Sakramen Rekonsiliasi, saya mulai memahami pentingnya mengakukan dosa kepada imam. Ketika saya lupa melakukan penitensi, saya belum mengerti pentingnya penitensi itu sampai pada waktu saya pertama kali mengaku dosa. Keesokan harinya saya ikut Misa, saya tahu kalau ada hal yang tidak beres, kemudian saya belum melakukan penitensi yang sudah diperintahkan! Maka penitensi menjadi bagian penting dari pengakuan dosa. Saya masih berjuang untuk memahami purgatorium, sesuatu yang tidak saya ketahui sama sekali. Baru-baru ini saya mengikuti kelas daring dari goodcatholic.com mengenai apa yang kami imani, di sini saya menemukan salah satu penjelasan terbaik yang pernah saya dengar tentang purgatorium.

Pada Vigili Paskah tanggal 20 April 2019, saya menerima penguatan pada usia 67 tahun. Nama penguatan yang saya pilih adalah Anne. St. Anna, ibu dari Bunda Maria, adalah santa pelindung para penjahit, dan saya adalah seorang penjahit. St. Anna adalah nenek dari Yesus, dan namanya banyak diberikan kepada banyak orang di keluarga saya.

Seumur hidup saya sudah menjadi seorang Kristen, tapi menjadi Katolik terasa seperti pulang ke rumah. Gereja St. Andrew adalah paroki yang luar biasa, di sana saya ikut paduan suara, ikut Adorasi (berdoa di hadapan Yesus dalam Ekaristi) mingguan, ikut doa rosario mingguan, juga ikut studi Alkitab. Saya membayangkan akan belajar tentang Tuhan dan menjalin relasi kami dengan-Nya di sisa hidup saya, dan pikiran itu membuat saya bahagia.

Sekarang suami saya sudah pensiun lagi dan ikut di sebuah gereja Protestan di wilayah kami. Ia sendiri tidak keberatan jika saya ikut Misa Katolik, tapi ia memilih untuk tetap menjadi Protestan. Saya ikut ke gerejanya sebulan sekali. Saya menjadi satu-satunya orang Katolik di keluarga saya yang Protestan, dan doa saya adalah semoga suatu hari kelak saya akan punya orang lain yang ikut dengan saya. Bahkan jika tidak ada, tidak mengapa, karena mereka juga orang-orang Kristen dan mereka sudah menerima pilihan saya ini. Meskipun demikian, ya Bapa jadikanlah kami satu (Yohanes 17).

 

Mary Pomeroy dibesarkan di Seattle, Washington, dan kuliah di Western Washington State University tempat dia meraih gelar BA dalam bidang Ekonomi Rumah Tangga. Pada tahun 1976, dia pindah ke Alaska, di sana dia bertemu dengan Willy, suaminya. Mereka dikaruniai tiga orang anak yang sudah dewasa, dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, dan empat orang cucu. Selama masa anak-anaknya tumbuh dewasa, Mary adalah seorang ibu rumah tangga. Kemudian dia bekerja dengan tunanetra total dan sebagian, sesudah itu dia bekerja di toko selimut. Sekarang dia sudah pensiun, Mary suka menjahit, hiking, berkemah, bermain ski, dan yang terpenting adalah meluangkan waktu untuk keluarga dan teman-temannya. Dia menjadi umat di Gereja Katolik St. Andrew, di sana ia bergabung dengan kelompok koor dan ikut studi Alkitab.

 

Sumber: “An Advent Wreath Made Me Catholic”

Posted on 10 December 2022, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: