Yesus yang Turun ke Tempat Penantian

Oleh Dr. Brant Pitre

Anastasis at Chora (Sumber: wikipedia.org)

Dalam 1 Petrus 3:18-19 tertulis sesuatu tentang Yesus demikian:

… yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara …

Merujuk tentang apa ayat ini? Nah, inilah salah satu contoh klasik dari naskah Kitab Suci di mana ada kesulitan dan ketidakjelasan, dan memang ada perdebatan tentang bagaimana menerjemahkannya di antara umat beriman Katolik, begitu juga antara orang-orang kudus dan berbagai Bapa Gereja. Jadi memang ada naskah-naskah tertentu punya argumen berbeda yang dikemukakan oleh para Bapa dan Pujangga Gereja yang berbeda pula, dan di sini Gereja tidak punya tasiran mengikat yang infabel (tidak dapat salah) … atau jika Gereja punya tafsiran yang infabel, Gereja akan memberikan pengajarannya setelah beberapa orang kudus menyatakan pendapat mereka.

Maka yang akan saya lakukan adalah memberikan Anda gambaran singkat tentang tiga pilihan utama mengenai bagaimana cara menafsirkan 1 Petrus 3 dan mengacu kepada apa. Dan kemudian saya akan memberi tahu apa yang saya pikirkan.

Pilihan pertama yang juga salah satu tafsiran perikop ini mengatakan bahwa apa yang digambarkan adalah pemberitaan Firman sebelum inkarnasi Kristus melalui sang nabi yaitu Nuh. Jadi hal ini merupakan pewartaan prainkarnasi Kristus. Menurut pandangan ini, jika Anda melihat ayat-ayat ini ketika berkata:

dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu (1 Petrus 3:19-20).

Maka penekanannya ada dalam gagasan bahwa Sang Kristus mewartakan “dalam Roh, pada zaman Nuh.” Jadi, menurut pandangan ini, yang didukung oleh dua tokoh penting – Agustinus dari Hippo dan Thomas Aquinas – yang merupakan dua Doktor dan Bapa Gereja terbesar dari Gereja Barat. Baik Aquinas dan Agustinus berpandangan bahwa yang Petrus maksud adalah Yesus mewartakan dalam Roh sebelum peristiwa inkarnasi, melalui mulut Nuh.

Perlu diingat, meskipun Yesus mengambil rupa daging dalam waktu dalam peristiwa Inkarnasi, Sang Firmasn itu kekal. Menurut para Bapa Gereja, ketika Anda mendengar suara Tuhan dalam Perjanjian Lama, kita cenderung berasumsi, “Itu Bapa yang berbicara.” Tapi sebenarnya ada banyak Bapa Gereja berkata, “Bukan itu Sang Firman – pribadi kedua dari Tritunggal adalah Sang Firman – Bapa. Setiap kali Allah berbicara dalam Perjanjian Lama, sebenarnya Sang Putra sebelum inkarnasi itulah yang mengucapkan Firman-Nya melalui Roh.” Itulah pendapat yang sangat umum.

Maka Anda mungkin berpikir: “Sekarang dari mana mereka mendapatkan pemikiran seperti itu?” Nah, jika Anda membaca 1 Petrus 1:10-11, tertulis demikian:

Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu.

Jadi menurut bab pertama dalam Surat Petrus yang pertama, Petrus berkata tentang Roh Kristus yang berbicara melalui para nabi untuk menubuatkan penderitaan Kristus. Pikirkan juga Yesaya 53, suatu gambaran spesifik tentang penderitaan Sang Hamba yang Menderita di masa yang akan datang. Inilah yang menurut 1 Petrus 1 bahwa bukan hanya Roh Allah yang mengilhami Yesaya untuk melihat nubut itu, namun juga Roh Kristus. Maka ayat-ayat seperti itulah yang membuat Agustinus dan Aquinas mengatakan bahwa dalam 1 Petrus 3 dikatakan bahwa Kristus adalah:

… tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah …

Maka maknanya adalah Roh Kristus mewartakan melalui Nuh dan kepada generasi Nuh – yang perlu diingat bahwa mereka jahat dan tidak taat dan tidak mau mendengarkan pewartaannya untuk bertobat sebelum air bah datang.

Kelemahan dari tafsiran ini adalah jika kita melihat konteksnya (ayat 18-22), konteks kelihatannya keseluruhannya adalah Misteri Paskah Yesus – Sengsara, Wafat, Kebangkitan, dan Kenaikan-Nya – bukan eksistensi-Nya sebelum inkarnasi. Maka sepertinya ayat itu melompat langsung keluar dari konteks Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan-Nya yang entah bagaimana kembali ke masa pra-inkarnasi Sang Firman. Jadi seperti mencabut ayat di luar konteks, namun demikian pendapat yang dipegang oleh dua Bapa dan Doktor Gereja yang hebat yaitu Aquinas dan Agustinus, layak dihormati dan dihargai.

Pilihan kedua yang lebih populer saat ini di kalangan penafsir modern. Menurut pandangan ini, apa yang digambarkan dalam 1 Petrus 3 adalah pewartaan kemenangan Kristus kepada para malaikat yang jatuh setelah wafat-Nya. Jadi, menurut pandangan ini, ketika 1 Petrus 3 mengatakan bahwa Kristus adalah:

… dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara …

Dalam pandangan ini sebenarnya mengacu pada tubuh kebangkitan-Nya yang dihidupkan, dan roh yang di dalam penjara adalah malaikat jahat atau malaikat yang jatuh. Jadi menurut pandangan ini, apa yang Petrus gambarkan adalah Yesus yang melakukan perjalanan ke penjara rohani yang dihuni malaikat jahat untuk menyatakan kemenangan-Nya yang sudah dicapai dengan mengalahkan mereka dalam Sengsara dan Wafat-Nya.

Dari mana gagasan ini? Menurut pandangan ini, pertama-tama didukung oleh tulisan-tulisan Yahudi dari zaman Yesus dan Petrus seperti kitab 1 Henokh atau kitab Yobel. Kedua kitab ini tidak ada dalam Perjanjian Lama, kedua kitab ini masuk dalam kumpulan literatur yang disebut Pseudopigrafa. Namun, kitab-kitab itu dibaca orang banyak. Bahkan, surat Yudas mengutip 1 Henokh. Itulah kitab yang sangat populer pada zaman Yesus. Salinannya ditemukan di Naskah Laut Mati.

Bagaiamanapun juga, satu pendapat yang mendukung hal ini adalah kepercayaan yang menyebar di antara orang Yahudi bahwa ketika air bah zaman Nuh (Kejadian 6), orang-orang jahat yang membawa umat manusia ke dalam dosa adalah para malaikat yang jahat ini. Secara khusus dalam kitab Henokh, akibat dosa para malaikat jahat yang entah bagaimana mengambil rupa manusia, mereka mengawini wanita manusia dan memiliki anak (keturunan) yang sangat jahat juga. Keturunan malaikat jahat ini adalah orang raksasa, dan mereka yang merusak Bumi.

Anda tidak perlu menerima teori itu untuk melihat hubungan antara tokoh-tokoh misterius dalam Kejadian 6 yang disebut sebagai anak-anak (laki-laki) Allah yang mengawinkan diri dengan anak-anak (perempuan) manusia, dan dari mereka menghasilkan keturunan yang disebut orang-orang yang gagah perkasa. Mereka ini berbuat jahat. Dan tampaknya ada hubungan sebab akibat antara kejahatan keturunan itu dan kejahatan yang menyebabkan air bah.

Jadi menurut pandangan ini (yang sangat populer kalangan ahli zaman sekarang), Yesus yang pergi memberitakan kepada roh-roh yang ada di dalam penjara, dan roh-roh itu bermakna “malaikat.” Maka artinya adalah para malaikat yang jahat yang menyebabkan air bah pada zaman Nuh. Maka tafsiran ini menjadi masuk akal dengan ungkapan “yang dahulu pada waktu Nuh,” serta arti roh sebagai malaikat. Dan Anda akan melihat contohnya dalam Perjanjian Baru, bahasa roh digunakan untuk menyebut malaikat jahat. Dalam Injil, ketika Yesus datang ke sinagoga dan orang-orang menanggapi:

Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya. (Markus 1:27b)

Inilah istilah Yahudi untuk malaikat jatuh atau malaikat jahat atau roh jahat. Nah, kelemahan tafsiran ini adalah Anda tidak bisa melihatnya dengan mudah dari perikop ini, tapi jika Anda membaca beberapa ayat dalam 1 Petrus 4:6:

Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.

Maka tafsiran Yesus memberitakan kemenangan kepada malaikat jahat ini sulit untuk selaras dengan ayat ini, karena pemberitaan Kabar Gembira dikatakan sampai kepada orang-orang mati. Dan biasanya bukan cara untuk merujuk pada malaikat jahat. Anda akan berbicara tentang manusia yang meninggal dan tidak akan berbicara tentang malaikat (meskipun mereka juga dihukum) karena yang sudah dihukum mati adalah manusia bukan malaikat mengingat malaikat adalah roh murni. Mereka tidak punya tubuh yang bisa mati seperti manusia.

Kelemahan lain dari tafsiran ini adalah Yesus memberitakan kabar ke penjara Neraka tidak punya dukungan apa pun – setidaknya yang saya ketahui. Maka saya belum menemukan pendukung tafsiran ini di antara para Bapa Gereja. Maka inilah hipotesis ilmiah modern yang agak baru. Bukannya salah, tapi justru melemahkan tafsiran itu sendiri.

Dan pilihan ketiga, yang mungkin paling Anda ketahui yaitu 1 Petrus 3:18-22 berbicara tentang jiwa Sang Kristus ke Hades (dunia orang mati) setelah penyaliban-nya dan sebelum kebangkitan-Nya pada Minggu Paskah. Yang akan menghubungkan ayat ini  dengan doktrin klasik tentang Yesus yang turun ke tempat penantian atau dunia orang mati.

Dalam pandangan ini, Anda akan menafsirkan ayat-ayat ini demikian, bahwa Kristus:

… yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh …

Ungkapan dari “dibangkitkan menurut Roh” tidak mengacu pada kebangkitan tubuh-Nya melainkan turunnya jiwa-Nya ke dunia orang mati, sehingga Ia bisa memberitakan Injil kepada orang mati. Oleh karena itu, dalam 1 Petrus 4:6 dikatakan:

Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati …

Yang berkorelasi dengan bab 3. Maka ketika Yesus  dibangkitkan menurut Roh dan pergi memberitakan kepada roh-roh yang ada di dalam penjara maka sedang membicarakan Yesus pergi ke penjara jiwa-jiwa – alam Hades, dunia orang mati (dalam bahasa Ibrani, sheol) untuk memberitakan Injil, Kabar Gembira tentang penebusan mereka kepada semua jiwa dari Perjanjian Lama yang sedang menantikannya dalam penjara dunia bawah atau alam Hades (dunia orang mati) demi pembebasan mereka. Yesus pergi memberitakan Injil sebagai pemenang di kayu salib … tetapi sebelum Kebangkitan dan Kenaikan-Nya ke surga.

Kelemahan pandangan ini adalah  “dibangkitkan di dalam Roh” yang lebih terdengar seperti kebangkitan daripada jiwa-Nya turun ke tempat penantian. Maka, cara ini aneh untuk merujuk pada jiwa-Nya. Namun kekuatan pandangan ini adalah 1 Petrus 4:6 menjadi masuk akal. Dengan kata lain:

… maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati

Dan kekuatan terakhir dari pandangan ini yang sekaligus menjadi hal penting, bahwa pandangan ini adalah tafsiran paling kuno dari 1 Petrus 3. Maka jika Anda membaca tulisan Klemens dari Aleksandria, tafsirannya tentang Yohanes, dan Anda melihat Bapa Gereja lain pada masa itu, tafsiran 1 Petrus 3 ini sudah sangat kuno.

Tampaknya pandangan terakhir ini yang didukung dalam Katekismus Gereja Katolik. Jika Anda melihat KGK tentang Yesus turun ke tempat penantian pada paragraf 632 yang sekaligus akan menutup pembahasan ini dari Tradisi yang hidup:

Penegasan Perjanjian Baru yang begitu sering tentang Yesus yang “bangkit dari antara orang mati” (Kis 3:15; Rm 8:11; 1 Kor 15:20) mengandaikan bahwa sebelum kebangkitan Ia tinggal di tempat penantian orang mati. Itulah arti pertama yang diberikan oleh pewartaan para Rasul mengenai turunnya Yesus ke dunia arwah: Yesus mengalami kematian seperti semua manusia dan masuk dengan jiwa-Nya ke tempat perhentian orang mati. Tetapi Ia turun ke tempat ini sebagai Penyelamat dan memaklumkan Warta gembira kepada jiwa-jiwa yang tertahan di sana.

Dan Katekismus Gereja Katolik paragraf 632 ini sebenarnya mengutip 1 Petrus 3:18-19 dalam catatan kakinya. Jadi ini tidak seperti rumusan yang infalibel dari dewan ekumenis atau semacamnya, tapi sebagai ajaran Gereja yang biasa. Ajaran ini mengusulkan kepada kita bahwa bahasa “Kristus pergi dalam rupa roh kepada roh-roh yang ada di penjara” mengacu pada Yesus pergi dalam jiwa-Nya yang merupakan kata yang digunakan untuk jiwa dalam berbagai tulisan. Bahkan contohnya adalah St. Paulus sendiri yang menulis tentang memberitakan Kabar Gembira kepada jiwa-jiwa lain yang menantikan kedatangan Sang Juruselamat di dunia orang mati.

Bagi saya, inilah tafsiran yang paling masuk akal dari keseluruhan naskah itu, terutama menggarisbawahi 1 Petrus 3 dan 1 Petrus 4. Selain itu tafsiran ini kuat karena meletakkan dasar alkitabiah untuk artikel iman bahwa Yesus turun ke tempat penantian. Tapi saya juga berpikir untuk membantu melihat sesuatu yang sering kita lewatkan. Yaitu, ketika kita bersiap-siap untuk merayakan misteri Sengsara dan Wafat Kristus, kita tidak boleh lupa ada misteri Sabtu Suci yaitu turun-Nya ke tempat penantian yang juga adalah Injil. Inilah pesan dari Kabar Gembira.

Yesus bukan hanya menaklukkan dosa pada Jumat Agung dan menaklukkan kematian pada Minggu Paskah. Tapi Ia juga membebaskan jiwa-jiwa orang mati dari dunia orang mati ketika Ia memberitakan Kabar Gembira demi penebusan mereka pada hari Sabtu Suci. Nah, itulah misteri besar Sabtu Suci yang kita peringati setiap tahun dalam Tri Hari Suci (Triduum).

 

Sumber: “Jesus’ Descent into Hell”

Posted on 16 April 2022, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: