Apakah Stipendium adalah Simoni?

Oleh Jimmy Akin

Mass Stipends and Simony (Sumber: catholic.com)

Jika menjual benda-benda kudus merupakan dosa, lalu bagaimana mungkin para imam bisa menerima stipendium untuk mempersembahkan Misa?

Jika kita melihat buletin di suatu paroki Katolik, kita akan melihat jadwal Misa berikutnya beserta catatan “intensi Misa,” seperti “untuk jiwa-jiwa kudus di api penyucian,” “pro populo [untuk orang-orang],” “untuk keluarga X,” “untuk pasutri Y,” dan lain-lain.

Beberapa intensi Misa sangat jelas. Jika intensi Misa adalah untuk jiwa-jiwa kudus di api penyucian, maka imam akan berniat untuk menerapkan manfaat rohani dari Misa dengan cara yang istimewa bagi jiwa-jiwa ini.

Demikian pula, dalam bahasa Latin, pro populo berarti “untuk rakyat,” sehingga Misa akan dimaksudkan untuk memberi manfaat bagi umat dalam hal ini adalah umat paroki.

Tetapi bagaimana dengan Misa yang ditujukan untuk “keluarga X” atau “pasutri Y”? Jelas, Misa dimaksudkan untuk kepentingan orang-orang yang disebutkan di atas, tetapi mengapa mereka mendapat tempat istimewa? Mengapa mereka mendapatkan Misa yang dirayakan untuk kepentingan mereka?

Jawabannya adalah karena mereka yang memohon. Pada titik tertentu, mereka berbicara dengan pastor (atau menelepon kantor paroki), mengatakan bahwa mereka ingin mengadakan Misa untuk intensi mereka, dan dimasukkan ke dalam jadwal.

Anda dapat melakukan hal yang sama!

Tetapi ada hal lain yang mungkin mereka lakukan, yaitu memberikan apa yang dikenal sebagai persembahan Misa atau stipendium. Yaitu sejumlah uang yang diberikan kepada imam yang merayakan Misa.

Pada titik ini, akan ada sesuatu yang terlintas di benak kita. Mungkin kita bertanya-tanya, “Uang? Untuk mendapatkan Misa? Bukankah ini suatu cara yang cerdas untuk mengeruk uang dari umat beriman? Apakah ini suatu bentuk pelecehan klerus terhadap umat awam? Dan karena Misa adalah sesuatu yang sakral, apakah ini merupakan dosa simoni?”

Seperti yang akan kita lihat, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah BUKAN, setidaknya, tidak seperti itu kecuali jika seorang imam itu melanggar hukum.

Injil mencatat bahwa Yesus membuat pernyataan yang saling bertentangan satu sama lain. Misalnya, ketika Yesus mengutus Dua Belas murid untuk misi pewartaan, Ia berkata kepada mereka supaya tidak membawa bekal, karena “seorang pekerja patut mendapat nafkahnya.” (Matius 10:10 TB2). Perikop paralel Lukas berbunyi “seorang pekerja patut mendapat upahnya” (10:7).

Ayat-ayat seperti ini menunjukkan bahwa para pelayan Injil memiliki hak untuk mendapatkan nafkah dari pelayanan mereka, satu tema yang ditekankan dalam ayat-ayat lain dalam Perjanjian Baru (misalnya, 1 Korintus 9:4-14, 1 Timotius 5:18), dan St. Paulus merangkum pengajaran Yesus dengan menyatakan bahwa “Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1 Korintus 9:14 TB2).

Di sisi lain, tepat dua ayat sebelum Yesus mengatakan kepada Dua Belas murid-Nya bahwa pekerja berhak mendapatkan upahnya, Ia berkata kepada mereka, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Matius 10:8 TB2).

Hal ini terdengar seolah-olah para pelayan tidak boleh memungut bayaran untuk pekerjaan mereka. Seperti yang sering terjadi dalam Kekristenan, kita memiliki dua prinsip yang pada awalnya tampak bertentangan dan perlu diselaraskan. Keduanya mencerminkan aspek-aspek dari kebenaran yang lebih dalam dan kompleks.

Penjelasan mengenai situasi ini dapat dilihat dari kasus Simon Magus. Dalam Kisah Para Rasul 8, Simon si penyihir, bertobat menjadi Kristen melalui pelayanan Filipus Penginjil di Samaria, dan kemudian Petrus dan Yohanes tiba untuk memberikan penguatan kepada orang-orang Samaria yang sudah bertobat itu.

Ketika para petobat itu menerima Roh Kudus, Simon terkesan dan menawarkan uang kepada mereka, sambil berkata, “Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia menerima Roh Kudus” (ayat 19 TB2). Petrus kemudian menegurnya “karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang” (ayat 20 TB2).

Hal ini menyebabkan dosa Simon dinamai menurut namanya yaitu simoni, dan saat ini dosa tersebut didefinisikan sebagai “penjualan atau pembelian barang-barang rohani” (KGK 2121).

Bagaimana kita dapat menyelaraskan kedua ayat Alkitab ini? Di satu sisi, para pelayan rohani memiliki hak untuk mendapatkan nafkah dari Injil, sehingga mereka seharusnya berhak menerima uang atau bisa juga berupa barang dan jasa, yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. Tetapi, bukan itu masalahnya.

Masalahnya haruslah sesuatu yang lebih spesifik, seperti bagaimana atau dalam kondisi apa mereka menerima uang tersebut.

Salah satu cara untuk menerima uang adalah dengan menerima sumbangan secara umum, tanpa dikaitkan dengan tindakan pelayanan tertentu. Inilah cara kebanyakan dari para pelayan rohani saat ini mendapatkan nafkahnya, baik yang Katolik maupun non-Katolik.

Kendati demikian, Anda juga bisa membayar seseorang berdasarkan per pekerjaan. Ini adalah cara pekerja yang tidak memiliki gaji tetap mendapatkan nafkahnya, misalnya pekerjaan untuk setiap karung gandum yang dipanen, setiap kursi yang dibuat, atau setiap artikel yang ditulis, mereka menerima sejumlah uang. Hal yang sama dapat diterapkan pada para pelayan rohani.

Tidak ada yang tidak bermoral mengenai gaji tetap atau gaji per pekerjaan, dan hal yang sama berlaku untuk pekerja pelayanan sama seperti yang lainnya.

Jadi, apa yang salah dengan situasi Simon? Sebagai permulaan, pada dasarnya ia menawarkan untuk membeli tahbisan dari para rasul. Tetapi, tahbisan bukan semata-mata barang komersial. Tahbisan adalah karunia Allah dan suatu panggilan untuk melayani orang lain. Hal ini sesuai dengan definisi simoni sebagai pembelian hal-hal rohani.

Tetapi mungkin ada sesuatu yang lain yang bisa kita pelajari di sini. Apa yang akan Simon lakukan dengan tahbisan jika ia mendapatkannya? Agaknya, dia akan menggunakannya untuk menghasilkan uang.

Sebelumnya Simon membuat orang banyak kagum dengan sihirnya, dan tidak diragukan lagi menjadi sumber penghasilannya . Maka setelah ditahbiskan, ia akan menawarkan pemberian Roh Kudus kepada orang-orang dengan imbalan uang, yang sesuai dengan sisi lain dari simoni yaitu menjual hal-hal rohani.

Hal ini juga merupakan hal yang salah untuk dilakukan oleh Simon, tetapi mengapa jika para pelayan rohani berhak untuk mencari nafkah dari pelayanan mereka?

Bayangkan apa yang terjadi di sebuah toko. Ada sesuatu yang ingin Anda membeli sesuatu yang sangat Anda butuhkan, dan penjual meminta uang untuk sesuatu itu. Tetapi bagaimana jika Anda tidak punya uang? Yang terjadi kemudian adalah Anda tidak mendapatkan barang yang diinginkan atau dibutuhkan itu.

Sekarang arahkan pikiran Anda kembali ke dunia kuno, ketika banyak sekali orang yang miskin dan hampir tidak bisa bertahan hidup atau mendapatkan nafkah yang cukup untuk hidup sehari saja.

Hal-hal rohani adalah hal yang paling penting dalam hidup, dan jika hal-hal itu dijual dalam arti yang sebenarnya, maka orang miskin harus hidup tanpa hal-hal rohani!

Misalnya Anda adalah orang miskin dan tidak mampu membayar untuk mendapatkan baptisan supaya diampuni dan masuk surga? Kasihan sekali Anda!

Namun Allah mengasihi orang miskin, sehingga pelayanan Kristen tidak boleh membiarkan situasi seperti itu terjadi.

Para pelayan rohani Kristen berhak untuk mendapatkan penghasilan dari pelayanan mereka, tetapi orang miskin juga berhak untuk mendapatkan manfaat dari pelayanan tersebut, meskipun mereka tidak mampu membayar. Setiap sistem kompensasi bagi para pelayan rohani Kristen harus menerapkan prinsip-prinsip ini.

Oleh karena itu, para pelayan rohani tidak dapat bertindak seperti penjaga toko dan menolak kebutuhan rohani bagi mereka yang tidak mampu membayarnya. Tidak ada yang salah dengan memberikan kompensasi kepada para pelayan rohani berdasarkan per pekerjaan pelayanan, tetapi jika mereka menolak untuk melayani mereka yang tidak mampu membayar, maka mereka telah melanggar aturan dengan menjual kebutuhan rohani dan dengan demikian pelayan rohani ini melakukan simoni.

Bagaimana dengan stipendium Misa? Memang pernah terjadi penyalahgunaan stipendium Misa di masa lalu, tetapi selama berabad-abad, Gereja telah menerapkan kebijakan yang ketat untuk mencegah penyalahgunaan.

Tidak ada yang salah dengan memberikan kompensasi kepada seorang imam yang telah memimpin Misa sesuai dengan intensi Anda, tetapi perlu ada hukum untuk mencegah hal ini menjadi skema mencari uang, pelecehan terhadap umat, atau praktik simoni, dan memang hukum ini ada.

Hukum-hukum utama dapat ditemukan dalam kanon 945-958 Kitab Hukum Kanonik. Benar sekali: empat belas kanon yang dikhususkan hanya untuk topik ini! Jika dihitung dengan cara lain, bagian ini terdiri dari dua puluh dua pasal dan lebih dari 800 kata, hanya dikhususkan untuk mengatur jenis-jenis pemberian yang dapat diterima oleh para imam dan bagaimana mereka harus menanganinya. Itu adalah sebuah indikasi betapa seriusnya Gereja menangani masalah ini.

Satu perlindungan penting telah ditetapkan bahkan lebih awal, ketika KHK mengatakan,

Pelayan tidak boleh menuntut apa pun bagi pelayanan sakramen-sakramen, selain persembahan (oblationes) yang telah ditetapkan oleh otoritas yang berwenang, tetapi selalu harus dijaga agar orang yang miskin jangan sampai tidak mendapat bantuan sakramen-sakramen karena kemiskinannya (kanon 848)

Jadi, seorang imam tidak boleh meminta (atau menyiratkan) bahwa ia ingin meminta lebih dari persembahan yang disepakati secara umum. Di Amerika Serikat, persembahan ini berkisar antara $5 dan $20 untuk perayaan Misa, dengan sebagian besar keuskupan menetapkan sekitar $10. [Atau di Indonesia biasanya besarannya sukarela]

Bahkan mereka yang miskin pun “jangan sampai tidak mendapat bantuan sakramen-sakramen.” Belakangan, tema ini diangkat lagi: “Sangat dianjurkan agar para imam merayakan Misa untuk intensi umat beriman kristiani, terutama yang miskin, juga tanpa menerima stips” (kanon 945 §2).

Dengan adanya orang miskin dan orang lain yang tidak memberikan persembahan, hal itu mencegah penjualan langsung dan sekaligus mencegah terjadinya simoni.

Selain itu, hal ini juga mencegah terjadinya pelecehan rohani terhadap umat beriman. Gereja dengan sungguh-sungguh menasihati para imam untuk mempersembahkan Misa bagi intensi umat beriman meskipun tanpa persembahan.

Dan apakah ini merupakan sebuah skema untuk menghasilkan uang? KHK menyatakan, “Tak seorang pun boleh menerima sekian banyak stips Misa untuk diaplikasikan sendiri, yang tidak dapat ia selesaikan dalam satu tahun” (kanon 953).

Kecuali pada hari Natal, seorang imam hanya diperbolehkan menerima satu persembahan Misa untuk dirinya sendiri per hari (kanon 951 §1), jadi jika Anda mengalikan $ 10 dengan 365 hari, maka jumlahnya hanya $3.650 per tahun. Tidak akan ada orang yang akan menjadi kaya dengan itu.

KHK juga memberikan banyak perlindungan lain bagi umat beriman. Sebagai contoh, jika umat memberikan persembahan, dan tidak jelas berapa kali Misa yang mereka kehendaki, imam seharusnya menghitungnya dari persembahan tersebut.

Ketika saya menjadi Katolik pada tahun 1992, persembahan yang umum diberikan di Arkansas adalah $5, dan ada satu keluarga di paroki saya memberikan sumbangan sebesar $50 yang dimaksudkan untuk satu kali Misa, dan mereka terkejut ketika melihat ada sepuluh Misa yang tercantum dalam jadwal Misa bagi intensi mereka!

KHK juga memerintahkan adanya sistem pembukuan untuk memastikan bahwa Misa-misa tersebut sudah dirayakan. Para pastor paroki “hendaknya mempunyai buku khusus, dimana dicatat dengan teliti jumlah Misa yang harus dirayakan, intensi, stips yang dipersembahkan, serta perayaan yang telah dilaksanakan,” dan uskup atau wakilnya diharuskan untuk mengaudit buku ini setiap tahun (kanon 958).

Bahkan KHK juga mengatur sanksi bagi para imam yang memperdagangkan persembahan Misa (kanon 1383).

Ada ketentuan-ketentuan tambahan untuk memastikan bahwa permintaan umat beriman benar-benar dihormati mengenai hal ini, dan Gereja sangat serius supaya persembahan Misa tetap sederhana, sesuai dengan dukungan keuangan yang sah bagi Gereja dan para pelayannya, dan tidak berubah menjadi sebuah skema mencari uang yang menjijikkan.

 

Sumber: “Mass Stipends and Simony”

Posted on 28 October 2023, in Kenali Imanmu and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.