Baptisan Secara Logis Diperlukan

Oleh Parker Manning

Baptismal Pile (Sumber: catholic.com)

Sebagian orang Protestan menggunakan alasan keliru ketika mereka berargumen tentang beberapa pengecualian terhadap keharusan seseorang untuk dibaptis.

Baptisan perlu untuk keselamatan adalah doktrin yang sudah lama diakui dan diterima secara luas di sebagian besar Kekristenan. Namun, beberapa orang berpendapat bahwa pengecualian yang ditemukan dalam Alkitab, seperti penyamun yang disalibkan, mematahkan persyaratan ini. Argumen ini sangat ahistoris dan merupakan kekeliruan yang dikenal sebagai argumen berdasarkan pengecualian (argument by exception).

Sebelum membahas argumen-argumen logis, saya harus mengingatkan Anda bahwa konsep bahwa baptisan merupakan kelahiran baru dan diperlukan untuk memasuki surga dipercayai sepenuhnya oleh Gereja perdana. Hal ini dapat ditunjukkan oleh dua orang cendekiawan Protestan yang mengakui fakta ini. Sebagai contoh, dalam bukunya mengenai doktrin-doktrin Kristen perdana, J.N.D. Kelly mengatakan bahwa baptisan selalu dilihat sebagai cara untuk menghapuskan dosa, bukan hanya sebagai simbol iman (hlm. 193-194). William Webster dari kalangan Protestan dalam buku sejarah anti-Katoliknya juga mencatat bahwa doktrin pembaptisan seperti yang diajarkan oleh Katolik bersifat universal di antara para Bapa Gereja. Oleh karena itu, ketika ada sebagian kalangan Protestan yang menyangkal baptisan sebagai kelahiran baru, mereka berargumen bahwa sola scriptura tidak anti-tradisi, hal ini tidak bisa dibuktikan dengan keadaan yang sebenarnya.

Dalam beberapa kasus, beberapa kalangan Protestan yang menyangkal kelahiran kembali melalui baptisan akan berargumen dengan menggunakan pengecualian-pengecualian di dalam Alkitab. Pendeta Baptis Mike Winger membuat argumen ini dalam sebuah video tentang Katolik:

[Dalam agama Katolik,] baptisan adalah salah satu dari sekian banyak langkah yang perlu Anda tempuh supaya bisa diselamatkan. Nah, berlawanan dengan hal ini, Alkitab sebenarnya memiliki contoh-contoh orang yang tidak dibaptis yang diselamatkan bahkan setelah Injil diberitakan.

Tidak ada orang Kristen yang berpendapat bahwa baptisan mutlak diperlukan demi keselamatan, yaitu baptisan diperlukan untuk semua orang tanpa kecuali. Memang, hal ini jelas bertentangan dengan beberapa tokoh dalam Alkitab yang masuk surga tanpa baptisan air. Namun, kami berpendapat bahwa baptisan diperlukan secara bersyarat: secara umum diperlukan untuk sebagian besar orang, tetapi untuk orang-orang dalam keadaan yang ekstrim (seperti mereka yang secara fisik tidak dapat dibaptis air) ada pengecualian. Allah biasanya menyampaikan kasih karunia melalui sakramen-sakramen, tetapi Allah tidak terikat oleh sakramen-sakramen-Nya.

Kembali ke argumen berdasarkan pengecualian. Kekeliruan ini terjadi ketika seseorang mengutip sebuah pengecualian untuk mencoba membatalkan aturan umum. Berikut ini adalah contohnya:

“Hukum menyatakan bahwa melebihi batas kecepatan yang ditetapkan di jalan raya adalah pelanggaran hukum. Namun, ada kalanya ambulans melebihi batas kecepatan karena situasi darurat supaya lebih cepat menuju ke tempat tujuan. Karena ambulans diizinkan untuk melanggar aturan batas kecepatan dalam pengecualian tertentu, hal ini membuktikan bahwa hukum yang melarang melebihi batas kecepatan tidak valid dan tidak perlu diikuti.”

Contoh di atas bukan struktur logika yang valid. Hanya karena mengebut diperbolehkan dalam keadaan yang ekstrim, bukan berarti setiap orang dapat mengebut setiap saat. Seseorang yang berpendapat bahwa baptisan tidak diperlukan untuk keselamatan karena adanya pengecualian dalam Alkitab, berarti ia sedang melakukan argumen yang keliru.

Argumen yang keliru ini juga dapat ditunjukkan dengan menggunakan contoh lain yang lebih relevan. Beberapa orang Protestan yang menyangkal kelahiran kembali melalui baptisan juga akan berargumen bahwa seseorang yang tidak percaya kepada Yesus dapat diselamatkan dalam keadaan-keadaan yang ekstrim. Kita dapat membayangkan seorang anak berusia sembilan tahun yang meninggal dunia, dan yang ia ketahui hanyalah ateisme karena kedua orang tuanya adalah ateis. Karena orang ini masih sangat muda dan tidak tahu apa-apa selain ateisme, ia dapat diselamatkan meskipun ia tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.

Namun, bagaimana jika ada orang yang berkata, “Lihat, Anda tidak perlu percaya kepada Yesus untuk masuk surga! Kita memiliki pengecualian dalam hal ini. Orang Kristen salah ketika mereka berpendapat bahwa seseorang harus percaya kepada Yesus untuk masuk surga.”

Sebagian besar orang Kristen tidak akan percaya bahwa contoh di atas adalah logika yang valid. Hanya karena ada pengecualian, hal ini tidak membatalkan aturan umum yang telah diterima secara universal oleh para Bapa Gereja.

Saya juga harus menekankan hal ini, jika baptisan diterima secara universal sebagai cara bagi umat Allah untuk dilahirkan kembali, maka seharusnya dalam kasus ajaran tentang keselamatan kekal (eternal security atau once saved always saved, sekali selamat tetap selamat) juga ditolak dengan suara bulat. Lagi pula, karena baptisan menyelamatkan, dan tidak semua orang yang dibaptis akan tetap menjadi seorang Kristen seumur hidupnya, maka pastilah para Bapa Gereja juga percaya bahwa orang Kristen yang sungguh-sungguh diselamatkan dapat kehilangan keselamatannya. Oleh karena itu, beberapa kalangan Protestan yang berargumen bahwa orang Kristen tidak dapat kehilangan keselamatannya, tetapi juga mencoba untuk berargumen bahwa sola scriptura tidak anti tradisi, berarti mereka juga tidak konsisten.

Kesimpulannya, menggunakan pengecualian yang ditemukan di dalam Alkitab, seperti penyamun yang disalibkan, untuk berargumen menentang perlunya baptisan untuk keselamatan adalah contoh dari kekeliruan argumen berdasarkan pengecualian. Penalaran yang salah ini mencoba untuk membatalkan prinsip umum yang diterima secara luas dengan mengutip pengecualian-pengecualian yang bersifat tersendiri. Namun, seperti yang ditunjukkan melalui contoh-contoh seperti hukum mengemudi dengan kecepatan tinggi, keberadaan pengecualian yang jarang terjadi tidak meniadakan aturan atau persyaratan yang telah ditetapkan.

Doktrin pembaptisan sebagai kelahiran kembali dan perlunya pembaptisan ditegakkan dengan suara bulat oleh para Bapa Gereja perdana. Mencoba menggunakan kasus-kasus di luar kebiasaan untuk meruntuhkan kepercayaan yang telah lama ada ini merupakan sebuah kekeliruan logis dan gagal memberikan argumen yang valid.

 

Sumber: “Baptism Is Logically Necessary”

Posted on 28 June 2024, in Apologetika and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.