Advertisements

Beato Yosef /Petrus Yun Bong-mun

Beato Yosef/Petrus Yun Bong-­mun (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Beato Yosef/Petrus Yun Bong-­mun (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Profil Singkat

  • Tahun lahir: 1852
  • Tempat Lahir: Gyeongju, Gyeongsang-do
  • Gender: Pria
  • Posisi/Status: Katekis
  • Usia: 36 tahun
  • Tanggal Kemartiran: 1 April 1888
  • Tempat Kemartiran: Jinju, Gyeongsang-do
  • Cara Kemartiran: Digantung

Yosef Yun Bong-mun adalah putra kedua dari Stanislaus Yun Sa-u dan Magdalena yang tinggal di dekat Gyeongju, Gyeongsang-do. Dia menjalankan agamanya sejak usia mudanya.

Ketika seluruh kekayaannya disita oleh polisi ketika Penganiayaan Byeongin pada tahun 1866, dia dan keluarganya pindah ke Yangsan. Kemudian, mereka menetap di Jinmokjeong, Pulau Geoje (sekarang, Iun-myeon, Tongyeong-si, Gyeongnam) demi mencari kehidupann beragama yang lebih bebas.

Ayah Yohanes Yun yaitu Stanislaus Yun sudah berkomitmen untuk mewartakan Injil secara rahasia. Ketika mereka pindah ke Pulau Geoje, dia mengajar keluarga Yohanes Jin tentang Kabar Gembira Yesus Kristus dan memperkenalkan mereka kepada Gereja. Melalui hubungan ini, Yosef Yun Bong-mun menikah dengan Agnes Jin.

Pada musim dingin tahun 1887, Pastor A. P. Robert yang bertanggung jawab untuk misi di wilayah Gyeongsang-do, membuat suatu kunjungan pastoral ke Pulau Geoje. Dia memberikan Sakramen kepada umat Katolik. Pada kesempatan itu, Yosef Yun adalah pemandu untuk Pastor Robert dan dia juga menjadi putra altar ketika Pastor Robert merayakan Misa. Dia juga membantu dengan Katekismus. Lima belas orang dewasa dibaptis pada tahun itu.

Pada musim semi tahun berikutnya, beberapa bulan setelah Pastor Robert pergi, polisi dari Tongyeong menangkap dan menganiaya umat Katolik di Pulau Geoje untuk memuaskan keserakahan. Pada saat itu, Yosef Yun ditangkap bersama dengan dua orang Katolik lainnya. Dia satu-satunya orang yang dibawa ke Tongyeong. Dia diinterogasi dan dihukum berat karena imannya kepada Tuhan. Kepala petugas berusaha untuk membuat dia menyangkal imannya, namun dia menolak.

Kepala petugas di Tongyeong segera melaporkan keadaan ini kepada Gubernur Daegu. Gubernur Daegu memerintahkan agar semua umat Katolik dibawa ke Jinju dan dieksekusi, dia berkata demikian, ‘Mereka semua seperti pencuri.’ Yosef Yun dibawa ke Jinju untuk interogasi lebih lanjut dan disiksa. Dia mempertahankan imannya dengan mengucapkan Sepuluh Perintah Allah. Kepala petugas mengirimkan dia ke penjara dan memerintahkan kepada sipir penjara supaya mencekik dia pada malam itu. Dia digantung dan meninggal sebagai martir pada tanggal 1 April 1888 (20 Februari pada penanggalan Lunar). Pada saat itu, Yosef Yun berusia 36 tahun.

Setelah Yosef Yun menjadi martir, Pastor A. P. Robert melaporkannya kepada Uskup, isinya demikian:

“Suatu keuntungan baik, saya mengenal martir suci ini dengan sangat dekat. Saya dapat meyakinkan Yang Mulia bahwa dia adalah seorang Katolik yang taat. Dia penuh semangat untuk merubah keyakinan mereka yang bukan Katolik. Saya melihat imannya yang sangat besar dan berharap untuk mendapat bantuan dia untuk karya misioner dalam penginjilan saya di banyak pulau. Tuhan telah mengambil dia dari saya, namun untuk memberikan dia kemuliaan yang hanya diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang setia.”

Sumber: koreanmartyrs.or.kr

Advertisements

Posted on June 17, 2015, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: