Advertisements

Yesus YES!, Gereja NO! – Refleksi Pertobatan Saulus

Pertobatan St. Paulus / The Conversion of St. Paul, 1767 oleh Nicolas-Bernard Lepicie (Sumber: vocations-syracuse.org)

Dalam kehidupan menggeraja kita mungkin berhadapan dengan umat yang memiliki pandangan “Ya untuk Yesus, Tidak untuk Gereja.” Menurut pandangan ini, mereka kagum, dan memuja Yesus namun tidak suka dan curiga kepada Gereja, akibatnya mereka menolak terlibat dalam Gereja dan secara tidak sengaja mereka menolak undangan mengikuti kurban Misa. Dan terkadang lebih parah lagi, percaya kepada Yesus saja, namun ajaran Gereja ditolak mentah-mentah. Intinya pandangan itu memisahkan antara Yesus dan Gereja, namun kenyataannya pandangan ini lebih tepatnya memenggal Yesus dan Gereja.

Ada berbagai pembuktian untuk membuktikan bahwa pandangan itu salah, namun ada pandangan sederhana yang saya dapatkan dari buku “The Seven Big Myths About The Catholic Church” karangan Christopher Kaczor. Dia mengutip sebuah pembicaraan dari Uskup Agung Timothy Dolan dari New York dalam acara Los Angeles Prayer Breakfast, dengan merefleksikan kisah pertobatan Saulus (Kisah Para Rasul 9:1-18). Saulus yang kita kenal kemudian menjadi St. Paulus dalam perjalanannya menuju Damsyik terjatuh setelah Yesus menampakan dirinya dalam bentuk cahaya dan suara.

Melalui permenungan itu, Uskup Agung Dolan mengajak untuk memahami perikop berikut ini:

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” (Kis 9:3-5)

Berikut ini terjemahan bebas pembicaraan beliau:

Saulus merasakan di sekitarnya dan mendengarkan suara, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” Sekarang saudara-saudariku dalam Kristus, perhatikanlah kalimat-kalimat itu dengan saksama. Yesus tidak berkata, “Engkau menganiaya murid-Ku.” Dia juga tidak berkata, “Engkau menganiaya pengikut-Ku.” Yesus tidak juga berkata, “Engkau menganiaya sahabat-Ku.” Ataupun “Engkau menganiaya Gereja-Ku.” Tidak, melainkan, “Mengapa Engkau menganiaya Aku? … Yesus dan Gereja-Nya adalah satu. Yesus sama dengan Gereja. Yesus dan Gereja-Nya adalah satu paket. … Saya takut, kita hidup di zaman di mana orang-orang percaya bahwa mereka dapat memiliki Yesus tanpa Gereja-Nya. Orang-orang menginginkan seorang raja tanpa kerajaan. Mereka ingin seorang gembala tanpa kawanan. Mereka ingin sebuah keluarga spiritual, tentunya dengan Allah sebagai Bapa mereka dan Yesus sebagai saudara mereka dan orang-orang sebagai anak satu-satunya. Mereka ingin percaya tanpa memiliki. Mereka ingin seorang jendral tanpa pasukan. Mereka menginginkan spiritualitas tanpa agama. Mereka ingin iman tanpa kesetiaan. Mereka ingin Kristus tanpa Gereja-Nya.

Tentang pembicaaan di atas, Kaczor menuliskan bahwa banyak orang memanggil diri mereka Kristen, namun tidak melihat peranan penting Gereja. Namun sebenarnya, mereka menolak Gereja karena berbagai alasan. Sekalipun demikian, Yesus melihat adanya kesatuan yang dalam antara diri-Nya dan tubuh-Nya yaitu Gereja. Untuk menerima Yesus adalah menjadi bagian dalam tubuh-Nya, yaitu menjadi anggota Gereja.

Advertisements

Posted on July 26, 2018, in Apologetika and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: