Memahami Tubuh sebagai Jembatan

Oleh Dr. Scott Hahn

The Incredulity of Saint Thomas karya Caravaggio (Sumber: stpaulcenter.com)

Orang Katolik sering menuduh budaya karena terlalu materialistik. Namun masalah kita yang sebenarnya adalah budaya itu tidak terlalu materialistik. Kita terlalu meremehkan masalah. Kita sudah tidak menghargai bagaimana Allah melalui hal fisik memengaruhi yang spiritual. Dan yang paling penting, kita sudah tidak menghargai tubuh kita.

Kita hidup di dunia yang melihat tubuh terutama sebagai salah satu dari dua hal, yaitu beban atau penghalang. Orang melihat tubuh sebagai beban, karena menjadi sakit, tua, dan mati. Tubuh gagal membuat kita menjadi tidak cukup kuat, tidak cukup cepat, ataupun tidak cukup menarik; tidak subur atau terlalu subur, dengan membatasi kita dengan ribuan cara yang berbeda dan mencegah kita menjalani kehidupan yang seharusnya kita pikirkan.

Orang-orang juga memandang tubuh sebagai penghalang atau pembatas. Kita berjuang untuk berkomunikasi dengan orang lain tentang siapa diri kita dan kita berjuang untuk memahami siapa orang lain itu sebenarnya. Kita merindukan persekutuan, namun tidak tahu bagaimana memberikan diri kita dengan cara yang benar atau menerima pemberian dari orang lain. Kita pikir kita telah dikurung dalam tubuh dan merindukan hari kebebasan kita dari tubuh.

Namun Gereja menawarkan kepada kita cara lain dalam memandang tubuh, yaitu sebagai jembatan.

Tubuh kita bukanlah penghalang yang mencegah orang lain untuk mengenal kita. Melainkan sebagai jembatan yang memperkenankan orang lain mengenal kita. Melalui kata-kata dan gerak tubuh kita, ekspresi wajah dan tindakan, tubuh kita mengkomunikasikan kebenaran yang tidak terlihat tentang siapa diri kita kepada dunia. Tubuh kita membuat kita dikenali dalam ruang dan waktu. Tubuh kita memampukan diri kita untuk melayani dan dilayani oleh orang lain.

Tubuh kita juga memungkinkan orang lain melihat sesuatu tentang Allah. Tubuh diciptakan dalam citra Allah, setiap tubuh dari setiap pribadi mengungkapkan kebenaran mendalam tentang siapa Allah itu. Dalam kemampuan tubuh kita untuk membuat dan memberi dan mengasihi, maka tubuh mencerminkan Allah Sang Pencipta, Sang Pemberi semua hal yang baik, dan Allah sendiri adalah kasih. Selain itu, dalam kemampuan tubuh untuk membawa kehidupan baru ke dunia merupakan gambaran Allah yang ada sejak kekekalan memberikan kasih yang menghidupkan.

Segala sesuatu tentang tubuh kita, keindahannya, kekuatannya, kelembutannya, daya tahannya, kelincahannya, keanggunannya, kapasitasnya dalam memberi hidup, semuanya itu mencerminkan tentang siapa kita dan siapa Allah itu. Tubuh adalah jembatan dari yang tidak kelihatan ke yang kelihatan dan dari yang kekal ke yang sementara. Allah menjangkau kita dengan masuk ke dalam waktu dan menempati suatu tubuh. Rahmat menjangkau jiwa kita dengan bergerak melalui tubuh kita, melalui tangan kita, kaki kita, mulut kita. Kasih Allah, kebaikan Allah, belas kasih Allah, dan perhatian Allah diwujudkan di dunia melalui kasih kita, kebaikan kita, belas kasih kita, dan perhatian kita.

Setiap hari, tubuh kita mempunyai kapasitas untuk menyampaikan beberapa kebenaran penting tentang Allah dan manusia kepada dunia. Bahkan dalam kematian sekalipun, tubuh berbicara tentang siapa kita. Tubuh telah membuktikan kelemahan kita dan kebutuhan kita akan Kristus. Namun juga tubuh mengingatkan kita bahwa masih banyak hal yang akan terjadi. Saat tubuh beristirahat dalam kematian bukan berarti tetap beristirahat selamanya. Perasaan bersalah yang kita rasakan ketika melihat tubuh seseorang yang baru saja hidup membantu kita bahwa kematian bukanlah akhir. Masih banyak yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dari permulaan hingga akhir, tubuh kita terus menerus mengajarkan dunia tentang martabat pribadi manusia dan takdir luar biasa yang menanti kita di akhir zaman.

 

Dr. Scott Hahn adalah penulis buku laris yang sudah menulis lebih dari empat puluh buku, termasuk bukunya yang berjudul “Hope to Die: The Christian Meaning of Death and the Resurrection of the Body.” Ia adalah pendiri dan presiden dari St. Paul Center dan menjabat sebagai Fr. Michael Scanlan Chair of Biblical Theology and the New Evangelization di Franciscan University.

 

Sumber: “Our Body is Not a Burden or a Barrier: It’s a Bridge”

Posted on 4 June 2020, in Apologetika and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: