Apakah Kenaikan Yesus ke Surga itu Benar-benar Terjadi?

Oleh Matt Nelson

Jesus ascending to heaven (1775) karya John Singleton Copley (Sumber: wikimedia.org)

Sebagian besar bukti yang ada menunjukkan bahwa Kenaikan Yesus sebagai fakta sejarah

Puncak dari empat puluh hari yang dihabiskan bersama para murid setelah kebangkitan-Nya, Yesus naik secara jasmani ke surga. Umat Katolik selalu memahami bahwa peristiwa ini secara harfiah sebagai peristiwa yang ajaib. Kita percaya peristiwa itu benar-benar terjadi dan sebagai satu Gereja kita menyatakannya setiap hari Minggu (dalam syahadat –red.).

Namun dogma selalu ada pencelanya. Beberapa orang mengolok-olok doktrin ini, seperti menyamakan Yesus “terbang” menaiki pesawat luar angkasa Apollo sebagaimana lelucon umum di antara para ateis pada tahun 1960-1970-an. Orang lain juga menyangkal kemungkinan mukzijat ini sama sekali. Dan yang lainnya lagi, seperti dikemukakan teolog Episkopal yang bernama John Shelby Spong yang membaca bahwa kenaikan ini sebagai bukan secara harfiah melainkan sesuatu yang simbolis: “Seorang modern tahu bahwa jika naik dari bumi (seperti dalam kenaikan), Anda tidak pergi ke surga. Anda pergi ke dalam orbit (lintasan benda angkasa).”

Mempertimbangkan kritik semacam ini, bagaimana seorang Katolik mempertahankan kenyataan dari kenaikan Kristus?

Seseorang mungkin setuju dengan keberatan yang dinyatakan Spong di atas. Lagipula, bukankah surga itu seharusnya “melampaui” alam semesta fisik? Ini suatu keberatan yang menarik, yang juga diajukan oleh C.S. Lewis yang saya temukan sebagai bantahan yang memuaskan. Setelah kebangkitan-Nya, mungkin Tuhan kita itu,

manusia yang masih dalam bentuk tertentu, meskipun bukan bentuk kita secara jasmani, yang menarik diri atas kehendak-Nya sendiri dari kodrat yang ditampilkan dalam tiga dimensi dan panca indra kita yang tidak pasti ke dalam suatu yang tidak indrawi dan tidak berdimensi namun kemungkinan ke dalam atau melalui suatu dunia atau dunia-dunia melebihi indra dan melebihi ruang. Dan Ia memilih melakukannya secara bertahap. Siapa yang berada di bumi tahu apa yang mungkin dilihat oleh para saksi? Jika mereka berkata bahwa mereka melihat suatu gerakan sesaat di sepanjang bidang vertikal – lalu massa yang tidak jelas – kemudian ke tidak ada – siapa yang mengucapkan ini mustahil?

Jadi mungkin saja Yesus masih dalam rupa tubuh memilih untuk tidak naik menuju bintang-bintang, tetapi dari tanah sebagai awal perjalanan yang melampaui fisik ke surga. Tentu saja hal ini masing mengasumsikan bahwa mukjizat itu mungkin terjadi. Tapi apakah itu?

Secara definisi, mukjizat adalah peristiwa supernatural, dan ilmu pengetahuan hanya meneliti fenomena alam. Untuk membuat klaim tentang apakah mukjizat itu bisa terjadi, seseorang harus melihat lebih dalam lagi, contohnya melalui mikroskop dan ukuran juga bertanya apakah peristiwa-peristiwa itu mungkin terjadi atas dasar filosofis. Mungkin Anda pernah mendengar beberapa versi keberatan dari David Hume bahwa mukjizat adalah pelanggaran hukum alam. Asumsinya adalah bahwa jika Allah ada, Ia tidak memiliki hak untuk menciptakan dampak supernatural di dunia yang lazim ini. Tapi mengapa tidak? Bagi umat yang percaya, mereka secara konsisten menyatakan bahwa Allah sebagai Penyebab Utama dari realitas fisik. Hal ini berarti Ia adalah Sang Pencipta dan pemelihara hukum-hukum alam yang mengatur segala sesuatunya. Ia adalah Pencipta Hukum yang tertinggi.

Tidak masuk akal untuk menuntut Allah dengan tuduhan telah melanggar “hukum”-Nya sendiri karena Ia tidak memiliki kewajiban moral atau logis untuk menimbulkan dampak hanya melalui hubungan kausal fisik normal yang Ia sendiri junjung tinggi. Seperti yang ditanyakan seorang filsuf yang bernama Alvin Platinga, mengapa kita tidak dapat berpikir bahwa hukum alam sebagai sesuatu yang menjelaskan bagaimana Allah biasanya memperlakukan hal yang Ia ciptakan? Dan ketika kita menemukan bahwa begitu banyak teori yang mapan pada akhirnya tidak memadai untuk menjelaskan segala fenomena yang relevan, bagaimana kita bisa berkata bahwa kita bahkan tahu dengan pasti apa itu “hukum”?

Langkah lain dalam memperkuat pertahanan kita dalam kebangkitan Kristus adalah dengan menunjukkan bahwa ada alasan yang baik untuk percaya akan kebangkitan Yesus. Jika ada kemungkinan akan kebangkitan Yesus menjadi bahan pertimbangan yang rasional, maka demikian juga dengan kenaikan-Nya.

Salah satu cara paling efektif untuk menjelaskan kasus kebangkitan adalah dengan menggunakan pendekatan fakta minimal yang dikemukakan oleh seorang ahli yang bernama Jürgen Habermas. Pendekatan ini mempertimbangkan fakta-fakta historis yang diterima secara luas oleh semua ahli (termasuk sebagian besar ahli yang skeptis), kemudian menunjukkan kebangkitan bukan dengan penjelasan alamiah yang merupakan penjelasan terbaik bagi mereka. Fakta-fakta yang dibuktikan dengan baik seperti yang dikemukakan oleh sejarawan yang bernama Mike Licona, ia menyebutnya “batu fondasi historis” termasuk kematian Yesus dengan penyaliban, penampakan yang dilaporkan tentang Kristus yang dibangkit, kubur yang kosong, pertobatan seketika dari St. Paulus, musuh dan penganiayaan orang Kristen perdana.

Teori lainnya adalah para murid mengalami halusinasi ketika mereka melihat Yesus yang bangkit. Hipotesis ini pada awalnya sudah terbantahkan oleh kenyataan bahwa seluruh kelompok yang menyatakan melihat Yesus sekaligus (1 Korintus 15:3-6). Halusinasi kelompok tidak mungkin terjadi karena orang banyak tidak berbagi kecerdasan ataupun pemikiran. Kalau pun halusinasi massal memang terjadi, penjelasan apa yang bisa menjelaskan pertobatan St. Paulus? Kemungkinan apa bahwa ia dan pengikut Kristus akan berhalusinasi tentang Yesus yang sama yang telah bangkit? Penjelasan yang paling dapat dipertahankan untuk semua peristiwa ini melibatkan orang yang nyata, Yesus yang bangkit dari kematian setelah penyaliban-Nya.

Bisakah kisah kenaikan itu dipertanyakan? Dengan St. Lukas sebagai sumber utamanya, bagaimana kita bisa percaya bahwa ia menceritakan sejarah dan bukan kiasan? John Shelby Spong menemukan penjelasan ini yang kemungkinan besar adalah: “Lukas tidak pernah bermaksud supaya tulisannya dipahami secara harfiah. Kami sudah salah menggambarkan kejeniusan Lukas dengan membacanya secara harfiah.”

Masalah dengan pembacaan ini adalah bahwa Lukas secara eksplisit menolak kemungkinannya. Penginjil dengan jelas menyatakan dalam pembukaan Injilnya bahwa tujuan penulisannya untuk menggambarkan sejarah yang benar-benar terjadi. Lebih jauh lagi, ketika Lukas menggambarkan kenaikan itu tidak ada tanda-tanda yang dilebih-lebihkan (tulisan yang bertujuan memberi hiasan yang didramatisir –red.). Dalam kisah Injil itu, Lukas dengan sederhana memberi tahu kita bahwa Yesus “berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga” (Lukas 24:51). Dalam Kisah Para Rasul, Lukas menulis bahwa Yesus “terangkat dan awan membawa-Nya hilang dari pandangan mereka” (Kisah Para Rasul 1:9). Dingin dan klinis, seperti seorang sejarawan yang serius yang hanya tertarik pada fakta, Lukas memberi tahu kita tentang apa yang terjadi, dan hanya itu saja. Perlu dicatat juga bahwa karena kisah Injil itu dituliskan hanya beberapa dekade setelah penyaliban Yesus, dan ada saksi mata yang masih hidup untuk memberikan koreksi atau keberatan tentang tulisan Lukas. Namun tidak ada tulisan keberatan semacam itu.

Memang, Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (yang merupakan “buku pendamping”) sudah dipuji oleh para ahli sejarah kuno sebagai catatan yang sangat akurat. Arkeolog ternama yang bernama Sir William Ramsay dengan baik sekali mengakui St. Lukas sebagai “seorang sejarawan kelas utama.” Studi terbaru tentang akurasi sejarah St. Lukas dikemukakan oleh seorang ahli klasika Colin Hemer semakin menegaskan kelayakan atas pujian yang diberikan kepadanya. Maka, ketika Lukas menggambarkan kenaikan jasmani Yesus ke surga, kita punya banyak alasan baik untuk percaya bahwa St. Lukas menuliskan sejarah yang benar-benar terjadi, “suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi … seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata” (Lukas 1:1-2).

Sumber: “Did the Ascension Really Happen?”

Posted on 28 May 2020, in Apologetika and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: