Diakon Mormon Menjadi Diakon Katolik – Kisah Diakon Steve Clifford

Deacon Steve Clifford (Sumber: Twitter @DcnSteveC)

Para rasul sudah gagal menjalankan misi mereka. Mereka sudah gagal dalam menunjuk para penggantinya. Ketika rasul terakhir meninggal, kunci-kunci kerajaan hilang dari muka bumi. Gereja yang Yesus serahkan kepada mereka runtuh, dikuasai oleh kekuatan alam maut. Yang disebut Gereja Kristen bukan lagi Gereja Tuhan. Sebuah organisasi baru, “gereja yang besar dan keji” lahir. Gereja yang jahat ini didirikan oleh Iblis, yang dikenal dengan nama “Gereja Katolik.” Dalam kerusakan yang dilakukannya, Gereja Katolik mencabut banyak bagian Injil yang gamblang dan paling berharga, menjadikannya tidak berdaya guna untuk menyampaikan rencana Injil seutuhnya. Gereja itu tetap menjadi gereja yang murtad sampai kunci-kunci kerajaan itu dipulihkan kembali ke bumi melalui Nabi Joseph Smith.

Sebagai seorang anggota Church of Jesus Christ of Latter-day Saints (LDS atau Mormon) (di Indonesia dikenal dengan nama Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (OSZA) –red.), saya tahu bahwa semua itu benar. Saya tahu bahwa Kemurtadan Besar sudah terjadi. Saya tahu bahwa Joseph Smith itu seorang nabi Allah dan ia telah dipercayakan dengan tugas membawa kitab Mormon kepada umat manusia, kitab suci yang diinspirasikan secara ilahi yang merupakan “Satu kesaksian lainnya tentang Yesus Kristus.” Yang paling penting, saya tahu bahwa gereja yang dipulihkan dan dibentuk oleh Joseph Smith adalah benar. Saya tahu semua ini oleh karena kuasa Roh Kudus. Lagi pula, kami sebagai orang Mormon hanya mengetahui bahwa hal ini benar, karena kami memiliki kepercayaan penuh dan tidak perlu dipertanyakan lagi mengenai semua hal itu, itulah Mormon.

Saya lahir dan dibesarkan di Utah, yang sulung dari dua bersaudara. Kami dibesarkan di sebuah keluarga yang bisa disebut agak religius, namun juga agama berperan besar dalam kehidupan kami ketika kami bertumbuh dewasa. Keluarga saya juga lahir dan dibesarkan di Utah di keluarga yang memiliki hubungan leluhur dengan para perintis Mormonisme yang sudah menetap di Great Salt Valley pada pertengahan tahun 1800-an.

Kakek moyang saya dari pihak ibu (lima generasi di atas saya –red.), kemungkinan yang pertama dalam keluarga saya yang bergabung dengan gereja Mormon pada tanggal 14 Februari 1832, kurang dari dua tahun setelah Joseph Smith mendirikan gereja itu. Kakek Alva Benson meyakinkan istri, ayah, dan ibunya, dan seluruh keluarga ayahnya untuk bergabung dengan gereja itu pada musim dingin tahun 1832. Mereka pindah ke Jackson County, Missouri pada bulan November 1832 namun diusir dari sana oleh sekelompok gerombolan, karena mereka adalah pengikut Mormonisme. Pada tahun 1834, mereka pindah ke Clay County untuk bergabung dengan bagian utama gereja itu. Empat tahun kemudian, mereka diusir dari Missouri oleh gabungan pasukan milisi dan warga sipil, setelah Gubernur Boggs mengeluarkan Perintah Pembasmian yang terkenal itu pada tanggal 27 Oktober 1838. Dalam surat perintah itu, penganut Mormon digambarkan sebagai orang yang “secara terang-terangan dan mengaku melawan hukum dan telah menyatakan perang terhadap orang-orang di negara bagian ini.” Dalam surat itu pula dinyatakan bahwa “orang Mormon harus diperlakukan sebagai musuh, dan jika perlu, harus dibasmi atau diusir dari negara bagian ini demi kedamaian publik, pelanggaran mereka tidak dapat dijelaskan.” Akhirnya keluarga saya menetap di Utah pada tahun 1852, lima tahun setelah para perintis perdana Mormon tiba di Salt Lake Valley di bawah kepemimpinan penerus Joseph Smith yang bernama Brigham Young.

Nenek dari pihak ayah saya yang seorang Yahudi merupakan keluarga terakhir yang berpindah keyakinan ke Mormonisme dan pindah dari Swiss ke Utah. Kakek dan nenek buyut saya pergi ke Utah untuk bergabung dengan tujuh anaknya yang sudah terlebih dahulu beremigrasi, namun mereka dipaksa untuk meninggalkan nenek saya yang bernama Marie Kauffman di negara asalnya karena dia terinfeksi TBC. Akhirnya nenek bisa melakukan perjalanan dengan saudarinya setelah gejala TB-nya sudah mereda dan bisa melawati otoritas imigrasi Amerika Serikat di pelabuhan New York.

Pada tahun 1852, kelurga saya diperintahkan oleh Brigham Young untuk bermukim di wilayah pegunungan yang tinggi di Wasatch Range di sebelah utara Utah yang juga disebut Cache Valley. Menurut tulisan kakek moyang saya (lima generasi di atas saya), “Kami bertemu dengan Rasul Ezra T. Benson di puncak gunung. Kami bertanya kepadanya apa hak istimewa di lembah itu dan ia berkata, ‘Temukan tempat terbaik semampu kalian.’” Mereka menemukan sebuah tempat di sisi tenggara lembah yang disebut Hyrum (dinamai sesuai nama kakak Joseph Smity) dan mendirikan pertanian sekitar 8 hektar dengan 12 atau 15 keluarga. Sejak saat itu, semua keluarga besar saya yang merupakan leluhur perintis itu dilahirkan dan dibesarkan sebagai anggota gereja Mormon. Maka wajar sekali jika saya dan saudari saya dibesarkan dalam agama ini.

Di Utah, Mormonisme tidak hanya dipraktikan pada hari Minggu saja, namun sebagai falsafah/pandangan hidup. Sekolah, kegiatan sosial, pramuka, menari, musik, teater, olahraga, dan banyak hal lainnya dilaksanakan di sekitar gereja. Kedua orang tua saya tidak rutin ke gereja, namun mereka bersikeras bahwa saya dan saudari saya tidak ketinggalan apa pun yang ditawarkan oleh gereja. Mereka membayar Persembahan Puasa dan mendatangkan Guru Les yang datang ke rumah dalam upaya memelihara hubungan mereka dengan gereja dan dengan demikian hubungannya selalu baik adanya. Pada masa itu, siapa pun yang tidak aktif di gereja akan diasingkan oleh mayoritas. Sekitar 77 persen populasi Utah adalah pengikut Mormon, dan kedua orang tua saya tidak mau saya dan saudari saya menjadi salah seorang yang tidak disebutkan namanya atau orang-orang yang dicabut haknya.

Mormonisme masih berkembang di Utah dan juga di seluruh dunia. OSZA memiliki citra kebersamaan keluarga yang sangat hati-hati dan juga nilai moral yang kuat. Orang Mormon percaya bahwa keluarga yang kuat membuat negara yang kuat, dan keluarga yang kuat membuat dunia yang kuat. Mereka memiliki program yang disebut “Family Home Evening,” di mana setiap keluarga yang ikut serta menyisihkan satu malam per minggu untuk berkumpul dan membahas hal-hal tentang gereja. Tujuan dari setiap umat beriman Mormon adalah menuju bait suci dan dimateraikan untuk sekarang dan selamanya sebagai satu keluarga. Untuk memasuki bait suci, setiap individu membutuhkan rekomendari bait suci dari Uskup dan Stake President (dalam OSZA ada berbagai jemaat dalam satu wilayah administratif yang disebut “stake” atau semacam keuskupan di Gereja Katolik –red.). Rekomendasi ini hanya diberikan kepada umat Mormon yang memiliki reputasi yang baik dengan gereja (yaitu mereka yang menghidupi “Word of Wisdom/Sabda Kebijaksanaan” [aturan yang diterima Joseph Smith sebagai wahyu Allah pada tahun 1833, salah satunya mengatur makanan dan minuman yang dilarang dan diperbolehkan –red.], membayar perpuluhan, dan menghadiri gereja dengan rutin, dan sebagainya).

Selain melayani anggota mereka sendiri, ada lebih dari 65.000 orang misionaris penuh-waktu dan hampir 40.000 orang misionaris pelayanan gereja di seluruh dunia, mereka ini mendedikasikan hidup, biaya pribadi, dan pengorbanan besar mereka untuk mewartakan Mormonisme kepada orang lain. Daya tarik seorang misionaris muda berasal dari penampilan dan antusiasme dan juga dari program sosial gereja seperti menari, olahraga, pramuka dan ilmu genealogi/nasab.

Sebagian besar umat gereja Mormon memiliki kepercayaan penuh dan tidak mempertanyakan ajarannya. Mereka percaya dengan sepenuh hati bahwa iman mereka mewakili satu-satunya gereja yang benar di bumi, dan tujuan dan tanggung jawab mereka adalah mewartakan kepercayaan itu kepada semua orang.

Ketika saya tumbuh dewasa, saya hanya sedikit melakukan kontak dengan orang-orang di luar gereja Mormon. Beberapa orang yang saya kenal bukan dari umat Mormon dipandang sebagai orang luar dan diperlakukan berbeda dengan umat gereja. Bahkan umat Mormon yang tidak rutin ke gereja atau yang tidak hidup sesuai ajaran gereja masih diangap “lebih baik” daripada yang bukan anggota gereja. Saya secara langsung pernah mengalami pengucilan sosial ini ketika saya memutuskan untuk tidak ikut program seminari yang disponsori gereja ketika tahun pertama sekolah menengah. Namun, hampir semua orang yang adalah umat Mormon mengikuti kelas seminari ini. Sulit bagi saya untuk berhubungan dengan teman-teman saya ketika mereka bertukar cerita tentang apa yang mereka pelajari di seminari dan dalam kegiatan yang mereka ikuti, dan saya tidak melakukan kesalahan itu lagi! Saya mengikuti program seminari tiga tahun daripada program yang normal yang biasanya ditempuh selama empat tahun, dan sekali lagi saya merasa puas akan diri saya termasuk bisa berbicara lagi dengan teman-teman saya.

Umat Mormon menganggap bahwa “Standard Works/Karya Resmi” sebagai dasar ajaran mereka. Empat kitab itu adalah Alkitab (King James Version), Kitab Mormon, Ajaran dan Perjanjian, Mutiara yang Sangat Berharga. Mereka percaya bahwa Alkitab itu tidak lengkap, kerena banyak “bagian yang gamblang dan paling berharga” sudah dibuang oleh “gereja yang besar dan keji.” Kitab Mormon dianggap sebagai bagian Kitab Suci yang konon memuat kepenuhan Injil yang kekal. Joseph Smith menyatakan bahwa Kitab Mormon sebagai “kitab paling benar di dunia, dan batu kunci agama kita.” Ajaran dan Perjanjian semuanya berisikan wahyu-wahyu yang diberikan kepada Joseph Smith dan sarat dengan perintah gereja mengenai kepercayaan dan praktik Mormon yang termasuk pembaptisan orang yang sudah meninggal, status perkawinan yang selama-lamanya, imamat, dan poligami. Mutiara yang Sangat Berharga adalah kumpulan tulisan yang lebih singkat dan berisikan 13 Artikel Iman, ringkasan keyakinan dari gereja OSZA.

Dari perspektif Mormon ada tiga klasifikasi gereja-gereja Kristen. Yang pertama adalah Gereja Katolik yang mengklaim bahwa keberadaannya tidak terputus sejak didirikan oleh Yesus Kristus. Yang kedua adalah gereja-gereja Protestan yang didirikan oleh para reformator yang percaya bahwa Gereja asli sudah jatuh ke dalam kemurtadan dan Injil dapat dikembalikan ke ajaran dan praktik Gereja mula-mula melalui studi Alkitab yang intens. Klasifikasi ketiga terdiri dari mereka yang percaya bahwa Gereja sudah jatuh ke dalam kemurtadan total dan tidak dapat dibangun kembali melalui reformasi, namun hanya bisa dilakukan melalui pemulihan/restorasi.

Saya diajarkan bahwa Gereja Katolik adalah “gereja yang besar dan keji” yang disebutkan dalam Kitab Mormon. Selain itu, Gereja Katolik sengaja membuang “bagian yang gamblang dan paling berharga” dari Alkitab yang penting untuk pemahaman penuh mengenai ajaran-ajaran Kristus. Hasilnya adalah “Kemurtadan Besar” atau “Kemurtadan Total” dari Injil, dan hal ini menjadi penting bagi gereja untuk dipulihkan oleh Yesus Kristus kepada Joseph Smith. Sebagai seorang Mormon, lebih mudah untuk berelasi dengan anggota gereja-gereja Protestan karena mereka memiliki kejijikan yang sama akan Gereja Katolik. Saya setuju dengan umat Protestan dalam pengakuan mereka tentang Gereja Katolik sebagai gereja yang murtad, namun mereka hanya merasa bahwa hanya Alkitab yang tidak lengkap itu sebagai sumber doktrin mereka. Tidak sulit menggunakan Alkitab untuk mendukung posisi Mormon di mana menuduh kemungkinan dan kemudian mengklaim bahwa ayat itu tidak diterjemahkan dengan benar ketika bertentangan dengan apa yang diajarkan untuk dipercaya sebagai seorang Mormon.

Pada tahun 1968, saya meninggalkan Utah untuk bergabung dengan militer, uskup Mormon memberikan saya kalung identitas baja (metal dog tag). Di salah satu sisinya ada gambar Bait Suci Mormon di Salt Lake City. Di sisi sebaliknya ada kata-kata “Saya anggota Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir.” Ketika mengalami masa-masa sulit, saya akan menyentuh kalung itu dengan medali Mormon sebagai pengingat akar dan warisan saya. Melakukan hal itu memberikan penghiburan untuk mengingat bahwa saya hanyalah seorang bocah Mormon sederhana dari Utah, yang dilindungi dari kejahatan dunia oleh keluarga, teman, dan gereja saya.

Terlepas dari penghiburan yang diberikan kalung itu, saya menjadi tidak aktif lagi di gereja Mormon. Sekitar setahun kemudian, saya bertemu dengan Anne yang seorang Katolik, dan kami dikawinkan oleh seorang iman Katolik di Jerman pada tahun 1971. Kedua putri saya dibesarkan secara Katolik di bawah bimbingan istri saya. Selama beberapa tahun, saya menghadiri Misa Katolik, sebagai seorang musisi dalam paduan suara. Ketika ditempatkan di San Francisco, saya bermain gitar di kapel Angkatan Darat setempat, bersama dengan pemain piano yang berasal dari gereja Baptis. Kami sering bercanda bahwa kami lebih tahu perkataan Misa lebih baik daripada kebanyakan umat Katolik yang mengikutinya.

Saya melanjutkan dengan menyatakan afiliasi Mormon saya dengan bangga, walaupun saya tidak mengikuti kebaktian mereka. Saya tidak berniat untuk bergabung dengan gereja lain, apa lagi dengan Gereja Katolik. Saya tahu betapa berharganya keluarga saya di Utah sehingga saya akan tetap menjadi seorang anggota gereja Mormon. Saya merasa takut dikunjungi Guru Les, namun saya selalu memastikan bahwa catatan gereja saya selalu dibawa ke tempat tugas yang baru. Saya tidak membiarkan umat Mormon terlalu dekat dengan saya, saya takut mereka akan membujuk saya untuk kembali ke gereja. Saya berteman baik dengan anggota pelayanan Mormon, yang selalu memberikan saya kabar terbaru dari gereja. Namun demikian, saya menjaga jarak dengan Mormon, saya merasa nyaman dengan berada di luar sebagai pemerhati saja.

Kami pindah ke Virginia pada bulan Januari 1993 dengan penugasan di Pentagon, dan saya mulai menghadiri Misa  dengan rutin. Saya bergabung dengan paduan suara kontemporer karena saya seorang penikmat musik, dan saya pikir itulah cara yang baik dan netral untuk menyembah Allah. Ketika saya diminta untuk membuat bulletin untuk Schoenstatt Rosary Campaign. Saya ikut serta dalam kesempatan itu untuk menunjukkan bakat komputer saya. Melalui masa persiapan buletin, untuk pertama kali saya diperkenalkan dengan Rosario dan peran khusus Maria dalam kehidupan, penderitaan, dan kematian Yesus. Mau tidak mau saya bersentuhan dengan hal-hal yang saya baca. Saya mulai bertanya. Tentu saja, Anne merasa senang akan minat saya, dan mulai menyimpan literatur Katolik di rumah supaya saya bisa menemukan jawaban dari sana.

Di awal bulan November, saya bertanya kepada Anne apakah dia mencoba untuk mengubah keyakinan saya. Dia berkata tidak dan dia mengingatkan saya bahwa dia tidak pernah menekan saya untuk menjadi seorang Katolik. Selama lebih dari 22 tahun kehidupan perkawinan, saya dengan senang hati menyebut diri saya seorang Mormon, dan saya memberi tahu Anne bahwa saya tidak berniat untuk menjadi seorang Mormon. Saya berseru, “Saya lahir sebagai seorang Mormon, saya dibesarkan sebagai seorang Mormon dan akan mati sebagai seorang Mormon!” Namun sesuatu terjadi pada diri saya. Kekuatan seluruh doa yang diucapkan Anne dan banyak orang lainnya untuk saya ternyata berpengaruh. Roh Kudus bekerja dalam diri saya.

Pada tanggal 20 November 1993, saya mengorbankan satu hari Sabtu untuk mengikuti seminar yang diberikan oleh Scott dan Kimberly Hahn. Scott menceritakan kisahnya seperti seorang detektif untuk membuktikan untuk sekali saja dan semua hal bahwa Gereja Katolik itu salah. Dalam proses studinya, ia menjadi seorang Katolik. Saya masih ingat ketika saya berpikir bahwa Scott tidak menelitinya dengan sangat baik, atau ia akan menjadi seorang Mormon daripada menjadi Katolik. Saya memutuskan untuk mencoba sendiri untuk berperan sebagai detektif, hanya untuk membuktikan bahwa Katolik itu salah dan Mormon itu benar.

Saya mulai membaca dan meneliti seolah-olah tidak ada hari esok. Saya membaca buku-buku mengenai Mormonisme, Protestanisme, dan Katolisitas. Saya mendengarkan berbagai kaset dan menonton video. Saya mengambil sesuatu yang bisa saya dapatkan untuk menegaskan tanpa keraguan bahwa gereja satu-satunya di bumi telah dipulihkan Yesus Kristus melalui “Nabi” Joseph Smith dan para pengikutnya. Saya merasa sangat kecewa, setiap arah yang saya pilih, dan setiap titik yang saya selidiki, saya menemukan banyak bukti yang menentang posisi Mormon. Semakin saya meneliti, semakin banyak masalah yang saya temukan tentang doktin-doktrin Mormon yang sudah diajarkan kepada saya.

Saya menemukan bahwa ajaran Mormon tentang “Kemurtadan Total” di Gereja mula-mula yang didirikan Yesus Kristus sama sekali tidak benar. Bukti sejarah yang luar bisa mendukung ajaran Katolik mengenai suksesi apostolik. Hal ini pertama kali ditunjukkan dalam penggantian Yudas oleh Matias (Kisah Para Rasul 1:15-26). Rantai itu tidak terputus dari Petrus sampai Paus Fransiskus (Matius 16:18). Tanpa kemurtadan besar dan total, dan tidak perlu ada yang namanya pemulihan. Kebenaran lainnya yang saya temukan melalui penelitian yang saya lakukan adalah hanya ada satu Allah. Saya tidak dapat lagi menerima prinsip-prinsip dasar Mormon, seperti pluralitas allah-allah yang terbuat dari daging dan tulang, kemanusian esensial Allah, dan perkembangan manusia untuk ditinggikan menjadi allah dari dunianya sendiri. Melalui misteri Tritunggal yang Kudus, saya mulai memahami satu kodrat ilahi Allah dalam tiga pribadi: Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus.

Dan yang terakhir, saya menjadi tahu bahwa Allah adalah “penyebab utama” dari segala sesuatu, dan jiwa dan tubuh kita diciptakan pada saat pembuahan. Saya tidak dapat lagi menerima rencana Mormon mengenai perkembangan kekal, yang terdiri dari keberadaan sebelum kematian, di mana setiap orang dilahirkan ke dunia ini sesuai dengan kelayakannya di dunia roh. Saya mulai percaya bahwa tidak ada yang ada itu berhutang keberadaanya kepada Allah Sang Pencipta. Langkah logis berikutnya adalah menyadari bahwa Maria diciptakan sebagai makhluk yang paling ditinggikan di bumi. Saya mulai melihat Maria sebagai putri Allah Bapa, mempelai Allah Roh Kudus, dan bunda Allah Putra. Saya melihat bahwa pemahaman yang lebih baik tentang kebajikan Santa Perawan Maria, kita bisa lebih menyerupai dalam mengikuti jejak Yesus.

Menjelang Natal, saya sangat yakin bahwa orang Mormon itu salah. Saya merasa sangat hancur! Bagaimana bisa begitu banyak orang tertipu? Bagaimana dengan semua pengorbanan yang dilakukan leluhur saya untuk gereja? Bagaimana saya bisa berpaling dari warisan, pendidikan, dan teman masa kecil daya? Saya ingin berpura-pura tidak pernah memulai perjalanan ini. Saya berharap saya bisa kembali ke keadaan semula, namun sudah terlambat. Saya sudah menemukan kebenaran.

Begitu saya memutuskan untuk menjadi Katolik, saya merasakan kedamaian yang luar biasa, karena saya tahu bahwa saya melakukan hal yang benar. Saya yakin bahwa Allah mendorong saya di sepanjang jalan dan memberikan saya rahmat untuk membuka hati dan pikiran untuk menerima kebenaran pesan Injil Yesus Kristus.

Pada saat yang sama terjadi pertempuran hebat yang mengambuk mengenai diri saya, yang membuat saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Saya merasa ditantang dari segala arah yang sedang bersama-sama mencegah saya percaya pada Tuhan. Bahkan, peperangan rohani ini memanifestasikan dirinya secara fisik. Di suatu pagi sekitar dua minggu sebelum pembaptisan saya, seorang pengemudi lain membuntuti ketika perjalanan ke tempat kerja. Secara verbal saya diserang oleh anggota keluarga saya di Utah dan beberapa rekan saya di Pentagon. Pada hari Rabu Abu, saya diejek oleh atasan saya karena ada “lumpur” di dahi saya. Gangguan dan rintangan terus menerus dan bertubi-tubi saya hadapi. Saya hanya terus mengingatkan diri bahwa saya pasti berada di jalur yang benar karena semua hal buruk yang dilemparkan kepada saya. Saya menerima penderitaan saya ini sebagai upaya setan untuk membuat saya putus asa dan menjauhkan saya dari Gereja.

Tak kalah juga, Allah memberikan saya beberapa penegasan yang penuh kasih bahwa Ia ada bersama saya. Suatu malam di gereja. Saya diliputi oleh kegembiraan dan perasaan yang tidak sanggup saya kendalikan terhadap gambar Bunda Maria dari Guadalupe. Saya membungkuk ke arah tabernakel dan membuat Tanda Salib untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Juga, pada hari Rabu Abu, beberapa hari sebelum pembaptisan saya, saya punya pengalaman yang sangat meneguhkan tentang Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Pada hari berikutnya ketika Pengakuan Dosa yang pertama saya lakukan, saya memiliki dorongan lainnya yang meyakinkan saya akan otoritas Paus sebagai penerus Petrus dan sebagai Wakil Kristus. Pada saat itu, saya tidak punya masalah untuk membedakan mana pejuang yang mengirimkan kabar baik dan yang mengirimkan kabar buruk.

Pada tanggal 19 Februari 1994, saya menerima Sakramen Pembaptisan (baptisan itu adalah baptisan bersyarat karena pada saat itu validitas baptisan Mormon tidak pasti), Penguatan, Komuni Pertama, dan peneguhan Sakramen Perkawinan yang dilakukan 22 tahun lalu. Pada tanggal 18 Januari 2014, saya ditahbiskan sebagai Diakon Permanen untuk Keuskupan Katolik Arlington, Virginia. Sambil bercanda saya memberi tahu orang lain kalau inilah kedua kalinya saya ditahbiskan sebagai seorang diakon, yang pertama saya ditahbiskan sebagai seorang diakon di imamat Harun OSZA pada tahun 1962.

Saya sering ditanya mengapa saya meninggalkan gereja OSZA ke Gereja Katolik. Jawaban saya adalah Gereja Katolik mengajarkan kepenuhan kebenaran oleh otoritas Kristus yang diberikan kepada para rasul dan diteruskan pada penggantinya yaitu para uskup. Saya cinta jadi Katolik karena itulah Gereja yang satu kudus, katolik, dan apostolik yang didirikan oleh Yesus Kristus dua ribu tahun lalu. Saya cinta jadi Katolik karena kita punya Kehadiran Nyata Kristus (Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian) dalam Ekaristi. Saya cinta Katolik karena Gereja mengakui peran penting Santa Perawan Maria dalam rencana keselamatan Allah bagi kita. Saya cinta Katolik karena ada rahmat pengudusan dalam tujuh sakramen yang memungkinkan Roh Kudus membuka hati dan pikiran untuk menerima kebenaran pesan Injil Yesus Kristus. Hari ketika saya menjadi Katolik menjadi hari suci yang akan saya hargai selamanya.

Diakon Steve Clifford lahir dan dibesarkan di Utah sebagai anggota generasi kelima dari Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir. Ia bertugas di Angkatan Udara Amerika Serikat dari tahun 1968 sampai 1972 di mana ia bertemu dan menikah dengan istrinya selama 48 tahun saat bertugas di Jerman Barat. Setelah menerima gelar sarjana dari Weber State College di Ogden, Utah, Diakon Steve bertugas sebagai perwira di Angkatan Darat Amerika Serikat selama 19 tahun, ia pensiun denga pangkat Letnan Kolonel. Ia kemudian bekerja sebagai analis sistem untuk kontraktor pertahanan selama 16 tahun. Diakon Steve dan istrinya yaitu Annerose, sekarang tinggal di Massanutten Mountains di Shenandoah Valley di Virginia. Ia sekarang seorang diakon permanen di Gereja Katolik St. John Bosco di Woodstock, Virginia. Mereka punya dua putri yang sudah menikah, delapan orang cucu, dan dua orang cicit. Versi sebelumnya dari kisah perubahan keyakinan ini pernah dimuat dalam “Envoy Magazine” edisi Mei/Juni 1998, serta dalam “Surprised by Truth 2,” yang disunting oleh Patrick Madrid dan dipublikasikan pada tanggal 1 Desember 2000. Steve pernah menjadi tamu dalam acara “The Journey Home” sebanyak dua kali dan episode tentang kisahnya bisa dilhat secara daring di chnetwork.org.

Sumber: “From LDS Deacon to Catholic Deacon”

Posted on 25 May 2020, in Kisah Iman and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: