Mengapa Keluarga disebut ‘Gereja-domestik’?

Oleh Caitlin Bootsma

Pope Francis celebrates a mass at St. John Lateran Basilica to mark the Solemnity of Corpus Domini or Corpus Christi in Rome, Italy on May 26, 2016. The Roman Catholic feast of Corpus Domini, commemorates Christ’s last supper and the institution of the Eucharist. The mass was followed by the traditional torchlight procession, in which parish groups, sodalities and charitable and fraternal organizations of all kinds participate along with ordinary citizens, from the St. John Lateran Basilica to the of St. Mary Major Basilica. (Photo by Giuseppe Ciccia/Pacific Press)

Rumah menjadi tempat yang lazim bagi anak-anak pertama kali menerima iman

Salah satu dokumen Konsili Vatikan II yaitu Lumen Gentium (Terang Bangsa-bangsa), menyatakan bahwa keluarga sebagai ‘Gereja domestik’ atau ‘Gereja-keluarga’ atau ‘Gereja-rumah tangga’ karena menjadi tempat pertama bagi orang-orang muda Kristen yang sudah dibaptis mempelajari iman mereka. Dinyatakan demikian, “Sebab dari persatuan suami-istri itu tumbuhlah keluarga, tempat lahirnya warga-warga baru masyarakat manusia, yang berkat rahmat Roh Kudus karena baptis diangkat menjadi anak-anak Allah, untuk melestarikan Umat Allah dari abad ke abad” (Lumen Gentium 11). Mungkin Anda juga pernah mendengar bahwa keluarga adalah “unit terkecil” yang membentuk masyarakat, demikian pula keluarga menyokong landasan bagi kelanjutan dan kekuatan Gereja di antara umat beriman yang tidak ditahbiskan (laici).

Selanjutnya Lumen Gentium menjelaskan bahwa Gereja-keluarga memiliki peran serta tanggung jawab membimbing jiwa-jiwa ke surga: “Dalam ‘Gereja-keluarga’ itu hendaknya orangtua dengan perkataan maupun teladan menjadi pewarta iman pertama bagi anak-anak mereka; orangtua wajib memelihara panggilan mereka masing-masing, secara istimewa panggilan rohani” (Ibid.). Melalui surat ini, para Bapa Konsili bermaksud untuk menekankan bahwa Kristus adalah Terang Bangsa-bangsa. Oleh karena itu, sebagai Gereja, kita masing-masing punya tanggung jawab membawa Terang Kristus kepada orang lain. Dalam Gereja-keluarga, artinya sebagai orang tua harus mengolah kehidupan keluarga yang berpusat pada Kristus.

The United States Council of Catholic Bishops (USCCB) [KWI-nya Amerika Serikat] menyediakan beberapa cara untuk membantu supaya keluarga bisa menjalankan panggilan mereka sebagai Gereja-keluarga. Beberapa saran itu di antaranya adalah berdoa sebagai satu keluarga setiap harinya, menyimpan pengingat iman dalam bentuk fisik (seperti salib ber-corpus) di rumah, dan merayakan hari raya liturgi Gereja. Anda bisa membaca saran-saran itu di sini.

Gereja Katolik mengakui bahwa karunia dibangun di atas kodrat. Maka keluarga adalah salah salah satu anugerah yang paling mendasar juga penting yang Allah berikan kepada kita. Melalui komitmen perkawinan yang teguh antara pria dan wanita, serta melalui partisipasi aktif mereka sendiri dalam iman dan janji mereka untuk membesarkan anak-anak mereka dengan kasih kepada Kristus dan Gereja-Nya. Gereja-keluarga adalah salah satu tempat pertama bagi kaum muda Katolik mengalami terang iman dalam kehidupan mereka.

 

Sumber: “Why is the family called the ‘domestic Church’?”

Posted on 9 October 2021, in Keluarga and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: