Penghujat Yesus Menjadi Penyembah Yesus – Kisah Jeff Shott

Jeff Shott (Sumber: chnetwork.org)

Saya dibaptis pada Malam Natal 2001. Waktu itu saya berusia 6 tahun, dan keluarga saya aktif di gereja Baptis kami di Largo, Florida. Kami anggota kelompok homeschooling di gereja kami ini, sehingga kami sering ada beberapa kali di sana dalam sepekan. Di rumah dan kelas sekolah Minggu kami, kisah-kisah Kitab Suci diceritakan kembali kepada saya, dan saya diajari untuk menghafal ayat-ayat Alkitab. Saya menumbuhkan kasih yang mendalam akan Firman Tuhan dan saya ditanamkan dengan semangat penginjilan. Saya ingin berbicara tentang Yesus dengan siapa saja yang mau mendengarkan.

Saya masuk ke sekolah negeri di kelas lima, dan tahun berikutnya keluarga saya pindah ke Tennessee, yang menjadi “pusat wilayah Bible Belt.” Akhir-akhir ini, ada dua hal yang disayangkan saya, dan hal ini semakin umum terjadi pada saya sewaktu SMP: Saya mulai kecanduan pornografi, dan kedua orang tua saya bercerai. Sesudah itu, keluarga saya berhenti ke gereja, dan saya sangat kaget: saya masih ingat waktu itu saya menangis dan bertanya-tanya kenapa tidak ke gereja lagi.

Menjelang akhir SMP, saya berteman dengan beberapa teman ateis (kira-kira tiga orang – tidak banyak anak seperti itu di kota kecil Tennessee). Dalam semangat saya itu, saya berusaha untuk menginjili mereka, tapi diskusi yang kami lakukan, pada akhirnya membuat saya mempertanyakan kepercayaan saya – bukan karena kepercayaan teologis melainkan kepercayaan ilmiah. Saya dibesarkan untuk percaya pada Kreasionisme Bumi Muda, dan teman-teman saya memberikan banyak pendapat yang meyakinkan terhadap tafsiran fundamentalis kisah penciptaan dalam kitab Kejadian. Tampaknya ada segunung bukti bahwa bumi berusia lebih dari beberapa ribu tahun, dan tampaknya memberikan banyak kredibilitas pada teori evolusi. Saya memutuskan bahwa saya akan mendalami dengan serius masalah ini pada musim panas sebelum saya masuk SMA.

Tidak perlu waktu lama untuk meruntuhkan pandangan saya tentang Kreasionisme Bumi Muda. Saya merasa seolah-olah saya sudah ditipu. Jika saya salah mengenai hal itu, bagaimana dengan seluruh Kekristenan? Saya memutuskan untuk menggali lebih dalam. Waktu itu tahun 2010, dan ada Gerakan Ateis Baru yang sedang berada di puncak. Tak lama setelah itu, saya tahu nama-nama seperti Sam Harris, Richard Dawkins, dan Christopher Hitchens, kemudian saya menghabiskan sisa waktu musim panas dengan melahap buku-buku mereka dan menonton acara debat dan pengajaran mereka. Waktu saya masuk SMA, saya sudah murtad. Lebih dari itu, saya sudah menjadi “pewarta” ateisme, yang mendedikasikan diri untuk membantu orang lain supaya sadar kalau mereka sudah ditipu. Ateisme Baru sudah meyakinkan saya bahwa Kekristenan sebagai sesuatu yang bukan saja naif tapi juga tidak ilmiah, bahkan berbahaya dan delusi. Saya merasa bahwa kewajiban saya untuk mewartakan “kabar baik” bahwa agama itu palsu dan kita yang berada di zaman modern tidak perlu lagi terikat dan dibelenggu olehnya.

Jeff Shott ketika menjadi seorang ateis (Sumber: ffrf.org)

Tak lama setelah itu, saya mulai menerima mentalitas seks, narkoba, dan rock ‘n roll. Gaya hidup saya semakin merosot untuk membuat diri saya semakin menentang Kekristenan dan moralitasnya yang tampaknya terlalu munafik dan membatasi, yang darinya saya sudah dibebaskan.

Namun, pengalihan nafsu kedagingan tidak mengakhiri pengejaran intelektual saya. Saya tetap melanjutkan studi, mencari lebih banyak amunisi untuk digunakan dalam debat dengan rekan-rekan Kristen. Selama SMA, saya sering mencari dan berpartisipasi dalam debat semacam itu. Saya menemukan argumen dari Masalah Kejahatan yang cukup berhasil dan bisa meyakinkan beberapa rekan saya untuk meninggalkan keyakinannya. Karena semakin berani, saya terus meningkatkan untuk mencari pengikut baru, yang segera berubah menjadi penghujatan secara terang-terangan terhadap Iman Kristen.

Ketika sekolah saya mengumumkan bahwa kami akan mengadakan hari kostum karakter fiksi sebagai bagian dari acara “pekan semangat,” menjelang prom tahun kedua saya, saya tidak bisa menolak. Saya harus berpakaian seperti Yesus Kristus. Saya tiba di sekolah mengenakan jubah sprei, dimahkotai dengan halo yang terbuat dari kertas dan menggambar luka stigmata dengan spidol. Tak lama kemudian saya dipanggil menghadap Kepala Sekolah, Asisten Kepala Sekolah, dan Petugas Sumber Daya Sekolah, dan saya diperintahkan untuk melepaskan kostum saya. Setelah beberapa perlawanan, saya mengalah. Namun, malam itu saya menghubungi Freedom From Religion Foundation (FFRF), menceritakan kejadian hari itu dan memberi tahu mereka bahwa saya merasa hal Amandemen Pertama saya sudah dilanggar.

Jeff Shott pada waktu pesta kostum karakter fiksi (Sumber: ffrf.org)

FFRF menanggapi masalah ini dan memberikan saya hadiah beasiswa seribu dolar untuk aktivisme saya, mereka memublikasikan kisah saya di buletin mereka dan mengirim surat dengan perkataan keras ke distrik sekolah saya dengan ancaman tindakan hukum. Tak lama kemudian, Channel Four News di tempat saya menawarkan untuk mewawancarai saya, dan dengan senang hati saya menerimanya. Banyak publikasi media daring mulai menyebarkan kisah saya. Saya merasa jadi orang tenar selama lima belas menit, yang akhirnya menjadi puncak anti-teisme militan saya.

Kendati demikian, saya mulai merasa ingin sesuatu yang lebih. Saya mulai merasa bahwa seluruh pandangan dunia saya didasarkan pada sikap penolakan terhadap Kekristenan dan menginginkan sesuatu yang lebih memuaskan, sesuatu yang lebih menyeluruh.

Pada awalnya, saya mencoba menyatukan sistem spiritualitas saya sendiri, mengambil dari filsafat eksistensialis, khususnya tulisan dari Albert Camus, dan mitologi pagan. Saya sangat tertarik pada Sobek, dewa buaya Mesir penguasa Nil, dewa hedonis yang dikenal sebagai “yang suka makan sambil bercinta.” Saya melangkah lebih jauh lagi dengan menganggap Sobek sebagai semacam pelindung penentang orang-orang kudus (anti-santo) selama upacara okultisme yang saya rayakan sendirian di tepi sungai dekat rumah kami.

Namun, sandiwara kecil ini tidak banyak menolong saya dalam mengatasi kekosongan batin yang saya rasakan semakin membesar. Saya mencoba mengalihkan perhatian saya dengan narkoba dan hiburan, namun justru memperburuk depresi saya. Pada tahun berikutnya, saya putus sekolah, sehingga saya punya lebih banyak waktu untuk dihabiskan untuk “kesia-siaan dan usaha menjaring angina” (Pengkhotbah 1:14). Keadaan emosional saya mencapai titik terendah setelah ibu saya diusir dari kompleks perumahan kami, sehingga memaksa kami untuk pindah kembali ke Florida dan jauh dari teman-teman saya.

Sekarang, saya seorang anak putus sekolah yang kesepian, depresi, tidak punya pekerjaan, pecandu pornografi, dan juga pemabuk. Saya ingat waktu memberi tahu adik laki-laki saya bahwa jika situasi saya tidak segera membaik dengan cepat, kemungkinan besar saya akan bunuh diri.

Hal ini menjadi kesempatan kedua bagi saya untuk menebak-nebak keyakinan saya. Saya terus-menerus terusik dengan perasaan ini: “mungkin kamu salah dengan Kekristenan,” yang bagi saya begitu aneh, karena saya sepenuhnya yakin bahwa tidak ada yang salah dengan cara pandang saya terhadap Kekristenan. Namun, perasaan itu terus ada, jadi saya seperti berkejar-kejaran. Saya memutuskan untuk menantang Tuhan, maka saya berdoa: “Saya yakin kalau Engkau tidak ada, tapi jika Engkau ada, sekaranglah waktunya untuk menunjukkan diri-Mu kepada saya. Jika tidak, maka Engkau tidak akan pernah punya kesempatan lain. Jika Engkau tidak menjawab saya sekarang, saya tidak akan pernah menebak-nebak lagi, dan mungkin tak lama lagi saya mati.” Saya memutuskan untuk mendoakan perkataan yang sama ini setiap hari, membaca kembali Perjanjian Baru dan melihat apa yang terjadi.

Beberapa bulan berikutnya, saya mengalami serangkaian “insiden Tuhan.” Saya mengucapkan doa tantangan itu dan sedikit membaca Perjanjian Baru. Kemudian, sesudah saya meletakkan Alkitab, sesuatu akan terjadi yang berhubungan langsung dengan perikop yang baru saya baca – semua ini terlepas dari kenyataan bahwa saya tidak memberi tahu siapa pun tentang apa yang saya lakukan. Hal seperti ini berlangsung selama berminggu-minggu, jadi saya tidak bisa menceritakan setiap insiden Tuhan di sini, tapi saya akan menceritakan satu peristiwa yang tak terlupakan.

Waktu itu tanggal 4 Juli, dan saya baru saja selesai membaca Matius 7:6 (“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing …”). Begitu Alkitab saya disimpan di meja, ada yang mengetuk pintu. Itulah tetangga sebelah rumah yang mengundang saya untuk acara masak-memasak di keluarganya. Tak lama setelah saya masuk halaman rumah mereka, ayahnya menyapa saya: “Jeff, saya harap kamu sedang lapar. Kalau tidak, kita harus membuang makanan ini ke anjing.”

Setelah beberapa bulan mengalami peristiwa seperti ini, saya memutuskan mungkin cukup sepadan untuk “mencoba lagi Kekristenan.” Dalam skenario terburuk, saya akan segera sadar bahwa hal itu merupakan yang paling konyol untuk dilakukan, dan tidak ada yang harus tahu kalau saya melakukan kesalahan sesaat dalam penilaian.

Pada malam tanggal 15 Oktober 2014, saya berdoa lagi kepada Tuhan, kali ini dengan nada yang jauh berbeda: “Tuhan, saya masih tidak yakin bagaimana atau kenapa itu benar, tapi saya terbuka untuk percaya bahwa benarlah Engkau ada. Kumohon terimalah saya kembali sebagai anak-Mu, dan ampunilah dosa-dosaku.”

Tak lama setelah itu, seolah-olah saya merasa beban yang luar biasa telah diangkat dari pundak saya.

Saya memutuskan bahwa saya harus melepaskan hubungan apa pun dengan pelindung “anti-santo” saya yaitu Sobek, dan saya pikir akan tepat sekali untuk menggantinya dengan santo pelindung yang sebenarnya. Saya melakukan sedikit riset daring dan menemukan kisah St. Genesius dari Roma, seorang pagan yang menulis dan memerankan drama yang menghujat Kekristenan, mengalami pertobatan yang ajaib hanya karena salah satu adegan pembaptisan satirnya. Ia menjadi martir atas perintah Kaisar Diokletianus setelah ia mulai berkhotbah dari panggung (kali ini berkhotbah dengan sebenarnya). Saya pikir, ia menjadi pilihan yang tepat. Mungkin juga ia berpakaian seperti Yesus selama melakukan dramanya, seperti yang saya lakukan pada hari kostum karakter fiksi.

Masih agak merasa tidak yakin dengan jalan baru saya ini, pada malam itu saya berpaling. Malam itu saya mengalami mimpi yang paling intens dan jelas dalam hidup saya. Sampai hari ini, satu-satunya mimpi yang saya ingat seluruhnya adalah mimpi itu: Saya berjalan di sepanjang sisi sungai yang berpasir, sungai itu besar, tiba-tiba ada seekor buaya yang sangat besar muncul dari air begitu cepat. Sambil menerkam saya, buaya itu mengejar saya ketika saya melarikan diri. Karena panik, saya tersandung dan jatuh tepat di muka saya. Saya mulai berdiri, sambil menoleh dan berharap bisa melihat binatang buas itu di belakang saya. Sebaliknya, binatang itu meringkuk, mundur dengan ketakutan ke dalam air, dengan ekor di antara kedua kakinya. Ketika saya berdiri, saya melihat sesosok malaikat yang bersinar di sisi saya dan jelas sekali monster itu takut akan kehadirannya.

Saya terbangun, tercengang karena begitu jelasnya simbolisme mimpi saya: Tuhan, melalui malaikat-Nya, melindungi saya dari Sobek, yang mewakili kehidupan saya sebelumnya yang penuh dosa. Sebenarnya, saya terkejut karena saya mengalami mimpi lagi. Karena bertahun-tahun dalam penyalahgunaan narkoba sudah membuat malam-malam saya tidak pernah bermimpi. Saya tidak bisa mengingat lagi kapan terakhir kalinya saya bermimpi, apalagi mimpi yang begitu intens dan bermakna. Saya menafsirkannya sebagai penegasan yang mendalam tentang pertobatan saya. Sekarang saya yakin bahwa saya memang salah terhadap Kekristenan.

Tapi saya juga masih tidak yakin bagaimana Kekristenan bisa masuk akal, atau jenis Kekristenan mana yang harus saya percayai. Saya tahu kalau saya tidak mau kembali ke bentuk keyakinan yang sudah saya tolak bertahun-tahun sebelumnya. Pertanyaannya adalah, “saya harus ke mana?”

Teman-teman saya yang berada di sekitar rumah tidak percaya kalau saya sudah bertobat. Sebagian besar mereka mengira kalau saya sedang bercanda, meskipun ada beberapa yang bertanya. Dan saya belum punya jawaban.

Saya mulai mendalami teologi dan sejarah Kristen, meneliti semua tradisi dan denominasi Kristen yang berbeda-beda. Saya mencari rekomendari buku di internet. Dua buku yang say abaca adalah Training in Christianity karya Søren Kierkegaard dan Pengakuan-pengakuan karya St. Agustinus dari Hippo. Kedua karya tulis ini mengubah secara radikal persepsi saya terhadap Kekristenan. Menjadi jelas bagi saya bahwa Kekristenan yang saya tolak bukanlah Kekristenan yang sejati. Selanjutnya saya melahap buku-buku karya G. K. Chersterton dan C. S. Lewis sejauh yang bisa saya peroleh. Dari hari ke hari, Kekristenan menjadi semakin masuk akal, tapi saya masih punya satu pertanyaan: “saya harus ke gereja mana?”

Ketika saya membaca buku-buku itu, saya sudah mengunjungi berbagai gereja non-denominasi yang tidak jauh berbeda dari gereja tempat saya dibesarkan. Suatu malam, di sebuah pelajaran Alkitab, saya bertanya kepada pemimpin kelompok kecil itu apakah apakah ada bahan bacaan yang bisa mereka rekomendasikan untuk membantu saya memahami apa yang diajarkan gereja mereka, semacam katekismus. Mereka menatap saya seolah-olah saya adalah orang aneh. Mengapa saya menginginkan sesuatu untuk dipelajari selain Alkitab? Inilah tanggapan yang cukup mengecewakan. Saya tahu kalau saya perlu mencari di tempat lain.

Melalui bacaan dan perbincangan yang saya lakukan di forum Kristen daring, saya sudah punya minat pada Katolik dan Ortodoks Timur. Saya sudah menemukan silsilah sejarah dan tradisi teologis mereka yang kaya dan menarik. Bahkan saya sudah mulai berdoa Rosario dan Doa Yesus. Kendati demikian, sebagai seorang anti-teis yang mulai pulih, saya belum cukup siap untuk terjun ke “agama yang terorganisir.” Saya masih punya banyak keyakinan yang tidak mau hilang dan lebih liberal mengenai beberapa hal yang belum siap saya lepaskan, seperti perkawinan gay. Saya mengungkapkan sentiment ini di komunitas daring dan diarahkan ke Gereja Inggris. Pada hari Minggu, saya memutuskan untuk mengunjungi paroki Episkopal di daerah saya.

Ternyata di sana adalah gereja yang sangat high church, paroki tipe Anglo-Katolik dengan bau dupa, lonceng, dan altar rail (penghalang antara panti imam dan panti umat, tempat umat berlutut untuk menyambut komuni –red.). Saya terpesona oleh pengalaman pertama saya ikut dalam ibadah liturgi. Setelah itu, umat menyambut saya dengan antusias. (Mungkin tidak ada salahnya bahwa ada seorang yang berusia tiga puluh tahun lebih muda dari mereka semua, ikut hadir di sana). Ada seorang umat yang mengajak saya untuk berkeliling di gedung itu dan memberi tahu semua sejarah Anglikanisme, bagaimana pun juga Anglikanisme adalah “jalan tengah” antara Katolikisme dan Protestanisme. Kemudian presbiter di sana mengajak saya makan siang, kami mendiskusikan pertobatan saya dari ateisme. Menjelang malam, saya merasa cukup berada di rumah.

Namun, beberapa pekan kemudian, berulang kali saya diberi tahu bahwa anggota paroki ini “tidak seperti orang-orang Episkopal itu,” dan bahwa kenyataannya mereka “lebih Katolik daripada paroki Romawi di ujung jalan.” Saya dibawa kembali ke zaman saya masih seorang ateis, ketika saya mulai merasakan keinginan cara pandang dunia yang punya substansi lebih dari sekadar penolakan terhadap Kekristenan. Tampaknya orang-orang Episkopal menyatakan diri mereka bukan hanya sebagai sikap yang menolak Roma, tapi juga penolakan terhadap Episkopalianisme. Saya belum menjadi seorang Kristen karena saya bukan seorang ateis atau bukan pula seorang Muslim, dan saya tidak berpikir bahwa saya ingin bergabung dengan gereja yang didasarkan pada tidak menjadi seperti gereja ini atau gereja itu.

Ketika saya melanjutkan studi dan diskusi daring, saya melihat bahwa satu-satunya kelompok Kristen yang tidak menyatakan diri sebagai oposisi terhadap kelompok Kristen lain adalah orang-orang Katolik. Semua orang selalu menjelaskan mengapa mereka bukan Katolik. Ortodoks tidak suka akan filioque atau juga kepausan. Protestan tidak suka … tergantung Protestan mana yang Anda tanyakan. Di sisi lain, Katolik selalu menjelaskan mengapa mereka adalah Katolik. Dan semakin banyak penjelasan Katolik yang saya dengar, semakin masuk akal penjelasan mereka.

Faktanya, saya tidak punya pengalaman yang dimiliki oleh banyak orang Protestan ketika mereka mempertimbangkan diri untuk pindah menjadi Katolik. Saya tidak pernah berjuang untuk menerima salah satu doktrin Katolik yang istimewa, karena saya tidak melihat Katolik melalui cara pandang orang Protestan, saya melihatnya dari cara pandang mantan ateis. Saya tidak punya keterikatan khusus pada gagasan-gagasan seperti sola Scriptura, saya tidak punya keraguan tentang Maria – justru sebaliknya. Saya menemukan ajaran-ajaran Katolik tentang Maria, sakramen, kepausan, suksesi apostolik, dan lain-lain, bukan hanya mudah diterima, tapi saya sangat senang dengan prospek bahwa semua itu mungkin benar dan bahkan semakin menggetarkan jiwa ketika saya mulai percaya bahwa semua itu mungkin benar.

Masalah utama saya adalah Katolikisme tidak akan memberi saya ruang gerak di bidang lain. Sekarang saya sudah menjadi seorang universalis yang kuat, dan saya merasa bahwa ajaran Katolik tentang perkawinan gay dan moralitas itu sebagai suatu bentuk penindasan. Tapi segala sesuatu lainnya yang diajarkan Gereja itu sangat masuk akal untuk diabaikan begitu saja: hal alkitabiah dan historis untuk otoritas yang dinyatakan Gereja Katolik tampaknya kuat, dan jika Gereja benar-benar punya otoritas seperti yang dinyatakannya, maka ketika ada pertentangan, Gereja benar dan saya salah.

Sekitar masa ini, saya memulai pekerjaan baru, pekerjaan yang memungkinkan saya untuk mendengarkan podcast selama lima jam pertama shift saya di pagi hari. Saya menggunakan lima jam, lima hari seminggu untuk mendengarkan podcast seperti Catholic Answers, Pints with Aquinas, The Art of Catholic, dan lain sebagainya. Tidak butuh lama untuk mengatasi keraguan yang masih ada pada diri saya tentang Katolikisme. Kemudian saya sadar kalau saya harus mulai ikut Misa dan RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.). Maka saya melakukannya.

Ketika saya memberi tahu teman Protestan yang berada di Tennessee kalau saya sudah ikut RCIA, ia meminta pendeta mudanya untuk membujuk saya supaya tidak “menyebrang Sungai Tiber.” Selama beberapa bulan ke depan, saya dan teman saya ini menjadi dekat, setiap hari kami berdebat teologi berjam-jam. Ia terus melontarkan tentang setiap keberatan terhadap Katolik sejauh yang ia mampu. Berkat usahanya itu, akhirnya saya bisa menggali lebih dalam tentang apologetika Katolik dari yang pernah saya lakukan sebelumnya, hasilnya justru tumbuhnya keinginan saya untuk bergabung dengan Gereja.

Pada masa ini juga, saya berjumpa dengan seorang wanita yang akan menjadi istri saya, dia bernama Britany. Dia juga dibesarkan dalam aliran Baptis tapi bersekolah di universitas Katolik. Dalam obrolan pertama kami, saya menceritakan semua yang sudah saya pelajari tentang tipologi, khususnya tentang Maria sebagai Hawa Baru, Tabut Perjanjian Baru, dan Ratu Surga. Begitu kami mulai pacaran, dia sepakat jika kami menikah dan punya anak, kami akan mendidiknya secara Katolik. Dia juga mulai datang ke kelas RCIA saya dan ikut Misa Minggu bersama saya. Kami bertunangan sebulan sebelum saya diterima menjadi anggota Gereja.

Ketika saya mempersiapkan diri menjadi anggota Gereja pada Vigili Paskah mendatang, sudah waktunya bagi saya untuk melakukan pengakuan dosa yang pertama. Saya memasuki kamar pengakuan dengan daftar dosa yang panjang, kebanyakan adalah dosa mortal, dan saya masuk kamar pengakuan dengan hati nurani yang bersih. Pengalaman pertama saya dengan sakramen-sakramen Katolik itu benar-benar ajaib. Kecanduan pornografi yang sudah saya perjuangkan sejak SMP lenyap seketika. Saya tidak lagi merasakan keinginan untuk menonton pornografi, dan syukur kepada Allah sampai sekarang saya tidak mau.

Saya mengucapkan pengakuan iman, diterima dalam Gereja Katolik, dan menerima Komuni Kudus pertama pada tanggal 15 April 2017. Vigili Paskah menjadi salah satu malam paling indah dan mengharukan dalam hidup saya. Lima puluh hari kemudian, saya menerima penguatan pada Minggu Pentakosta di Katedral Keuskupan Venice, Florida. Saya mengambil nama St. Genesius dan seorang kudus yang kemudian hari dikenal sebagai Rasul Maria, ia adalah St. Louis de Montfort, kedua nama orang kudus itu menjadi nama penguatan saya.

Pada Malam Natal tahun itu, ulang tahun ke-16 baptisan saya, dan tunangan saya memberi kado terbaik yang bisa saya minta. Dia memberi tahu saya kalau dia juga sangat ingin menjadi Katolik. Dia menjadi anggota Gereja pada Vigili Paskah tahun berikutnya, menerima penguatan pada Pentakosta, dan kurang dari satu minggu kami menikah.

Setelah berpindah dari seorang penginjil Baptis dan “penginjil” ateisme, sekarang saya seorang penginjil Katolik yang mendedikasikan kisah saya dan keindahan Iman Katolik dengan setiap orang yang mau mendengarkannya. Hasilnya, dalam dua tahun terakhir, saya mendapat kehormatan untuk menjadi sponsor (wali) sakramen penguatan untuk tiga teman saya di Tennessee.

Saya juga menerima kehormatan luar biasa untuk menjadi seorang ayag, ketika saya dan istri saya dikaruniai seorang putri yang bernama Hannah, dia lahir dan dibaptis pada musim panas 2020.

Setahun kemudian, adiknya, Benjamin lahir prematur, dibaptis dan meninggal pada tanggal 11 Juni 2021, pada Hari Raya Hati Kudus Yesus. Dalam kehilangan yang kami alami, saya dan istri saya memperoleh penghiburan besar dari Gereja dan iman Katolik kami, yang meyakinkan kami bahwa putra kami adalah seorang kudus yang berada si Surga, yang menjadi perantara doa bagi kami dan kakak perempuannya.

Inilah kisah saya. Dengan rahmat Allah, saya bisa berubah dari anak yang bandel menjadi ayah dari seorang kudus, dari penghujat Yesus menjadi penyembah-Nya.

 

Jeff Shott tinggal di Cape Coral, Florida. Ia suami, ayah, dan spesialis inventaris untuk supermarket Publix tempat ia bekerja sejak tahun 2016. Jeff sudah menceritakan kisahnya sebegai tamu di beberapa podcast,kolom AMA di Reddit, dan juga anggota focus group di sebuah universitas yang mempelajari sifat dan dampak perpindahan agama.

 

Sumber: “From Mocking Jesus to Worshipping Him”

Posted on 14 October 2021, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: