Apakah Yesus Menghapuskan Hukum Musa?

Oleh Tim Staples

Tabut Perjanjian (Sumber: catholic.com)

Perkataan Yesus memberikan kita hukum baru yang akan menggenapi sekaligus menggantikan (atau menghapus) Hukum Lama

Umat Katolik seringkali begitu saja menerima jawaban dari pertanyaan ini: Apakah Kristus menghapuskan Hukum Taurat atau tidak. Katekismus Konsili Trente menjawab bagaimana Kristus membatalkan Hukum Musa dalam konteks menjelaskan mengapa umat Kristen tidak lagi memelihara hari Sabat dalam pembahasan yang berjudul “Hukum Ketiga.”

Perintah-perintah lain dalam Dekalog [selain hari di mana umat beriman beribadah] adalah aturan hukum kodrat, sebagai kewajiban di sepanjang zaman dan tidak dapat diubah. Oleh karena itu, setelah pembatalan Hukum Musa, semua perintah yang terkandung dalam dua loh batu itu dipatuhi oleh umat Kristen, bukan karena ketaatan yang diperintahkan Musa, melainkan karena sesuai dengan kodrat yang memerintahkan untuk menaatinya.

Semua ini baik dan bagus. Tapi tidak menjawab pertanyaan yang sering diajukan oleh orang-orang skeptis:

Tampak jelas bahwa Yesus dalam Matius 5:17, Ia tidak meniadakan hukum Taurat ketika Ia berkata: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Namun, apa yang kita temukan dalam Efesus 2:14-15? “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya” (lih. Roma 7:1-4; Ibrani 10:9-16).

Kelihatannya seperti kontradiksi dalam Alkitab!

Tapi sebenarnya tidak ada kontradiksi seperti itu. Dalam Matius 5, Yesus berbicara tentang “menggenapi Hukum Taurat” dalam konteks Khotbah di Bukit, di mana Ia bertindak sebagai Musa baru, mengajarkan Hukum Baru, yang menjadi bagian inti misi Yesus di dunia (lihat 1 Korintus 9:21; Galatia 6:2; Ibrani 7:11-12). Yesus membuat semua itu menjadi sangat jelas bahwa hukum lama akan dihapuskan atau “berlalu.” Pertanyaannya, kapan?

Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Ada dua hal yang sangat jelas, kata Yunani untuk “ditiadakan (parelthei) dari hukum Taurat” yang berarti “lenyap,” “pergi,” atau “berlalu.” Maka maksud Yesus adalah supaya hukum Taurat itu dihapuskan, yang akhirnya hukum itu “ditiadakan.” Kedua, “kapan” penghapusan hukum Taurat itu, yakni hanya akan terjadi seutuhnya ketika hukum itu digenapi.

Cara pertama di mana Hukum Lama dihapuskan terjadi melalui Kristus yang mengajarkan Hukum Baru yang menyempurnakan dan menggenapi yang lama. Namun, artinya adalah penggenapan Hukum Lama dan penetapan Hukum Kristus yang baru yang akan digenapi seiring berjalannya waktu. Kristus akan mengajarkan aspek-aspek Hukum Baru itu sampai Ia naik ke surga (lihat Matius 28:16-20).

Cara kedua Kristus “menggenapi” adalah dengan menjalankannya dengan sempurna! Bahkan kadang-kadang, kita bisa melihat Yesus memberikan tafsiran yang jelas mengenai makna Hukum Taurat yang sebenarnya dalam proses menjalankannya. Seperti yang terjadi dalam Markus 7:1-23, ketika Yesus bertemu dengan “serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat” yang marah karena Yesus dan para rasul tidak mencuci tangan mereka (Yunani, baptizontai atau “membaptis” tangan mereka dari ketidakmurnian ritual). Apakah dalam peristiwa ini Yesus gagal menjalankan Hukum Taurat? Dengan tidak bermaksud demikian, kita perlu memperhatikan bahwa ketika Yesus menjawabnya, Ia tidak hanya menjawab “orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat” sehubungan dengan kebenaran Hukum Taurat mengenai “pembasuhan tangan,” tetapi menghilangkan kesalahan mendasar mereka karena gagal memahami apa yang menajiskan manusia secara umum. Yesus memberikan pengajaran kepada orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, dan juga kita semua tentang ajaran yang jelas “Hukum Taurat” mengenai kebenaran paling penting dari kehidupan moral:

Bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya … Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal … Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan” (Mrk 7:18 21; bdk. KGK 582).

Inilah kunci untuk memahami: apakah kita membicarakan ajaran Kristus atau menjalankan hukum Taurat, semua itu tidak akan terpenuhi sepenuhnya setidaknya sampai wafat-Nya di kayu salib. Ibrani 9:15-17 menjelaskan demikian:

Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama. Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup.

Seseorang bisa berpendapat bahwa Kristus telah memberikan hukum baru-Nya sepenuhnya kepada kita sampai hari kenaikan-Nya. Sejauh Khotbah di Bukit berlangsung, Yesus dengan jelas membicarakannya selama masa transisi. Ketika mengkhotbahkannya, Yesus masih hidup. Tapi surat-surat yang diilhami itu [dalam hal ini Surat kepada orang Ibrani] baru ada beberapa dekade kemudian, ketika Gereja Perjanjian Baru sudah mengajarkan penghapusan Hukum Lama dalam konteks yang tepat. Mengapa? Karena semua sudah digenapi. Ajaran Kristus sangat penting untuk penciptaan Perjanjian Baru, tapi supaya Perjanjian Baru “berlaku” seutuhnya maka seperti dikatakan dalam Ibrani 9:17, “di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu (ayat 16).”

Kata orang skeptis, “Bagaimana dengan KGK 2053?” Di sini Gereja Katolik mengajarkan:

Termasuk dalam hal mengikuti Kristus bahwa orang melaksanakan perintah-perintah. Hukum tidak dihapus, tetapi warga Kristen diajak untuk menemukannya kembali dalam pribadi Gurunya, yang merupakan pemenuhannya yang sempurna.

Bagaimana tanggapan kita sebagai orang Katolik?

Katekismus mengatakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan Tuhan dan Gurunya. Hukum tidak “dihapuskan,” tapi Kristus dalam “pribadi-Nya” merupakan “penggenapan” hukum itu. Tapi perhatikan juga, Katekismus berkata bahwa Kristus “menggenapi” hukum Taurat dengan cara yang kita sebut “menemukan kembali” perintah-perintah Hukum Lama dalam pribadi (dan pengajaran) Kristus. Itulah poin penting lainnya. Hukum lama tidak dihapuskan dalam artian dikoreksi kesalahannya. Karena tidak ada kesalahan untuk diperbaiki. Hukum itu dihapuskan dalam artian digenapi dan digantikan. Dengan memasuki perintah baru atau hukum baru Kristus, beberapa di antaranya bisa kita lihat segera setelah Matius 5:17 yaitu dalam ayat 21 sampai dengan 45, di mana Yesus lima kali mengacu pada aspek-aspek yang berbeda dari Perjanjian Lama dalam istilah “kamu telah mendengar … tapi Aku berkata.” Supaya artikel ini tidak terlalu panjang, kami akan menjelaskan contoh yang pertama saja:

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: ‘Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.’ [mengacu pada Keluaran 20:13; Ulangan 30:15 dst.]. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum (Matius 5:21-22).

Ajaran yang kuat ini akan membuat St. Yohanes menyatakan perkataannya yang terkenal yaitu, “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya” (1 Yohanes 3:15). Di sini kita bisa melihat sebuah contoh bagaimna Kristus tidak meluluhlantakkan Hukum Taurat demi menghancurkan hukum itu, sebaliknya, Ia membangun yang baik sambil menggantikannya dengan yang lebih baik.

Oleh karena itu, Khotbah di Bukit tidak bisa dipahami dengan melepaskan konteksnya tentang Kristus yang memberikan hukum baru bagi kita, yang akan menggenapi sekaligus menggantikan (atau menghapus) Hukum Lama. Yesus menekankan bagian penggenapan dari persamaan itu karena Ia sedang dalam proses untuk menggenapinya. Ia tidak ingin dipandang sebagai seseorang yang menetapkan pelanggaran hukum. Jika Yesus berkata”Aku menghapuskan Hukum Taurat” maka akan menjadi hal yang sembrono dan juga tidak benar. Pada masa itu, hukum dan para nabi belum “digenapi” sepenuhnya. Sebagai Sang Guru Utama, Yesus menekankan penggenapan Hukum Taurat sampai saatnya dan akhirnya dan sepenuhnya akan diselesaikan di kayu salib. Kemudian, melalui Roh-Nya (lihat Ibrani 10:9-16), Ia akan mengungkapkan bahwa “semua [sesuatunya] sudah selesai” dan Hukum Lama sudah berlalu.

Sumber: “Did Jesus Abolish the Law of Moses or Not?”

Posted on 19 October 2021, in Apologetika and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: