Suatu Hari Nanti Kita Semua akan Jadi Katolik – Kisah Ben Eicher

Ben Eicher (Sumber: chnetwork.org)

“Suatu hari nanti kita semua akan jadi Katolik.” “Apa!?” Waktu itu saya berusia delapan tahun ketika ayah saya mengucapkan  kata-kata itu. Waktu itu Minggu malam tanggal 22 Oktober 1967. Ayah sedang menyetir dari rumah kami di West Milford, New Jersey, tempat ia melayani sebagai pendeta di Holy Faith Missouri Synod Lutheran Church, yang ia dirikan pada tahun 1960 langsung dari Concordia Seminary. Tujuan kami adalah 20 mil (± 32 km) ke wilayah selatan melalui jalan tol ke Gereja Katolik Our Lady of the Valley di Wayne, New Jersey, tempat ayah saya dan Romo James Rugel akan bersama-sama memimpin kegiatan ekumenis pasca-Vatikan II.

Ayah pernah menulis pesan “Selamat Datang” yang ada pada malam itu di buletin paroki Katolik itu. Ia akan melayani sebagai salah satu dari sembilan rohaniwan: lima orang presbiter Katolik dan empat pendeta Lutheran. Don Bosco College Choir dan Lutheran Theological Seminary of Philadelphia Chorus akan membawakan lagu pujian.

Saya protes, “Kami kan Lutheran!” Saya merasa sebagai pengkhianat, atau setidaknya sudah melintasi garis musuh.

Protes yang saya lakukan bukan karena saya anti-Katolik. Hampir semua teman di lingkungan saya adalah orang Katolik Irlandia atau Italia. Mereka sekolah di Sekolah Paroki St. Joseph.

Kenapa Ayah mengatakan hal yang membingungkan semacam itu? Saya sadar kalau beberapa orang dewasa menggerutu sambil marah karena praktik liturgi ayah saya “terlalu Katolik” – bukan karena saya mengerti apa maksudnya. Saya sadar bahwa Ayah sudah terlibat masalah dengan para pejabat Sinode Missouri karena mempersembahkan komuni suci setiap minggu, daripada mengadakannya sebulan sekali, dan juga ia “berkomuni dengan kemauannya sendiri.”

Ayah saya punya garis keturunan dari pihak ibu sebagai Lutheran Jerman. Bahkan sebelum Sinode Missouri ada, leluhur dari pihak ibunya sudah mendirikan satu paroki di barat laut Ohio. Ayah adalah putra asli paroki pertama yang ditahbiskan. Tahbisan dilakukan pada bulan Juli 1960 dari tangan mentor seminarnya, Dr. Arthur Carl Piepkorn. Piepkorn pernah menjadi pendeta kepala di medan pertempuran Perang Dunia II, yang melayani bersama Jendral Eisenhower.

Saya sangat menyukai permintaan ayah saya akan upacara penyembahan “high liturgy” (penyembahan yang menekankan formalitas liturgi –red.), serta khotbahnya yang bersemangat dan cerdas. Saya juga suka kalau Ayah minta bantuan pendeta tamu, terutama yang berasal dari kelas seminari tahun 1960. Pada bulan Februari 1961, Richard John Neuhaus menyampaikan khotbah perdana di paroki tempat ayah saya yaitu Paroki Holy Faith. Kemudian, ketika kami berlibur, Ayah memanggil Robert Louis Wilken, seorang teman sekelas di seminari, untuk bertugas di mimbar sampai kami kembali. Saya bangga karena rutin melayani sebagai akolit (purta altar) dalam kebaktian kami. Pada tahun 1967, di Holy Faith lagi saya menerima komuni pertama.

Ayah berharap supaya saya mengikuti jejaknya dan menjadi seorang pendeta, tapi itu bukan impian saya. Saya ingin bermain sebagai shortstop dalam olahraga baseball dengan New York Yankees. (Ironisnya, tiga dekade kemudian, ada seorang anak dari West Milford bernama Derek Jeter yang menjadi shortstop Yankees terhebat).

“Suatu hari nanti kita semua akan jadi Katolik!” Dalam benak saya, saya memikirkan semua alasan mengapa kami umat Lutheran bukan Katolik: Bukankan umat Katolik itu menyembah Perawan Maria? Bukankah umat Katolik diperintahkan tidak boleh membaca Alkitab? Bukankah umat Katolik berulang-ulang menyebut nama Tuhan dalam pengulangan yang sia-sia? Bukankah umat Katolik percaya bahwa setiap Misa Yesus wafat lagi? Bukankah umat Katolik lebih peduli tentang “kabut orang kudus” daripada Yesus? Bukankah Gereja Katolik membakar para bidat di tiang hukuman dan menjual surat indulgensi supaya masuk surga?

Apakah Luther salah? Saya dibesarkan bahwa saya selamanya akan menjadi Lutheran Sinode Missouri. “Di tempat saya berdiri, saya tidak bisa melakukan di tempat lain.” Apa yang akan kita lakukan dengan pergi menuju ke sebuah gereja Katolik?

Saya belum pernah berada di dalam sebuah gereja Katolik. Bibi Betty (kakak perempuan ayah saya) pernah melakukan skandal dengan menikahi seorang pria Katolik dan sudah pindah keyakinan untuk menikah di parokinya. Kemudian hari, dia menjadi organis paroki.

Satu-satunya yang saya ketahui tentang bagian dalam gereja Katolik adalah rak lilin permohonan dan patung-patung aneh. Para wanita mengenakan serbet di kepalanya, tidak ada yang melepas mantel mereka, imam berbicara dalam bahasa Latin, dan umat Katolik diajarkan tentang keselamatan dengan “perbuatan baik.”

Sekarang, yang bergema di kepala saya adalah pernyataan ini, “Suatu hari nanti kita semua akan menjadi Katolik.”

Di kemudian hari saya tahu bahwa Romo Rugel dan ayah saya punya kesamaan dalam kehidupan pastoralnya. Keduanya ditahbiskan pada bulan Juli 1960, keduanya langsung ditugaskan ke pedalaman utara New Jersey sebagai misionaris pemula yang dikirim untuk mendirikan paroki-paroki dari dasar, dan keduanya punya devosi kepada Ekaristi sebagaimana tradisi iman yang diajarkan dan dilakukan masing-masing.

Terlepas dari kegelisahan saya pada malam itu, ibadah Katolik tidaklah buruk. Bangunan gerejanya tidak menakutkan. Perlengkapan yang ada di dalamnya tidak mengecewakan. Saya masih selamat pada malam itu.

Namun, tak lama setelah ibadah ekumenis itu, awan badai mengguyur ayah saya dengan hujan api dan belerang. Sayap semi-fundamentalis di Sinode Missouri sudah naik tampuk kekuasaan. Tujuan mereka salah satunya membersihkan jabatan profesor seminari dan penggembalaan “Katolik Injili,” yang mereka anggap sebagai “liberal” dalam pandangan teologis dan/atau politik. Sekelompok teman ayah yang Katolik Injili ada dalam bidikan mereka.

Pada tahun 1972, kami pindah dari New Jersey ke barat laut Ohio. Pada tahun 1973, Dr. Piepkorn yang melayani sebagai panelis teolog yang mendirikan Dialog Lutheran-Katolik resmi – bagaimanapun juga, semua kekuatan dominan yang ada di dalamnya – yang dijadwalkan untuk menghadapi pengujian bidah karena diduga mengajarkan “doktrin salah.” Pembersihan sedang berlangsung, seperti halnya peristiwa pembebasan dari tanah Mesir. Akhirnya Pendeta Neuhaus akan berenang di Sungai Tiber. Begitu juga Profesor Wilken, yang saat itu menjabat sebagai profesor Patristik di University of Notre Dame.

Pada tahun 1974, ayah saya berusaha bertahan di dalam Sinode Missouri. Ia menerima panggilan untuk menggembalakan dua paroki Sinode Missouri di wilayah yang jauh yaitu di Crawford dan Garrison, Nebraska. Kami menjadi Cornhusker (pendukung tim baseball Nebraska Cornhuskers).

Meskipun administarsi Sinode Missouri sedang kacau, saya sangat senang menjadi seorang Lutheran.  Gaya high liturgy ayah saya yang menyentuh saya, ajaran Alkitabnya menyentuh saya; khotbahnya menyentuh saya; Katekismus Kecil Luther menyentuh saya; menerima komuni Lutheran menyentuh saya; kecerdasan para pendeta Lutheran kenalan Ayah menyentuh saya. Saya tetap setia pada Lutheranisme Sinode Missouri.

Kerelaan untuk tetap berada di Sinode Missouri terus berlanjut meskipun para petinggi memantau isi khotbahnya. Pada musim gugur 1976, dakwaan terjadi lagi. Tuduhan “terlalu Katolik” disatukan dengan kesalahan yang belum pernah saya dengar: “unionisme.” Artinya beribadah dan berdoa dalam satu upacara dengan umat Lutheran bukan dari Sinode Missouri. Dalam kasus Ayah, penyimpangan utamanya adalah mengucapkan doa pembuka di baccalaureate (semacam ujian untuk mendapatkan ijazah untuk masuk perguruan tinggi –red.) SMA.

Ayah ditujukan jalan. Sinode menghapus nama ayah saya dari daftar “panggilan” yang artinya Ayah tidak mendapat izin untuk menggembalakan satu gereja pun di Sinode Missouri.

Tahun-tahun berikutnya, ayah saya mengembara di padang pasir pekerjaan. Ia bekerja shift malam sebagai penjaga keamanan, mengajar di SMA, dan ia memperoleh gelar Master dalam bidang bimbingan dan konseling. Pada tahun  1993, Sinode ELCA (Evangelical Lutheran Church in America) menawarkan satu paroki di Edon, Ohio. Ia menerima tawaran itu, meskipun ia jujur untuk memberikan ajaran Lutheranisme Sinode Piepkorn Missouri.

Perkataan “suatu hari nanti” kalau “kami semua akan jadi Katolik” tidak akan pernah terjadi pada ayah saya. Ia meninggal pada tahun 1995, pada malam sebelum Pesta Semua Orang Kudus sebagai pendeta terkenal dari Gereja Lutheran St. Peter.

Bagi saya, dengan rasa sakit hati mendalam saya pindah haluan pada bulan Desember 1982. Selama masa sekolah hukum di Lincoln, Nebraska, saya menjadi anggota AELC (sebuah sinode yang Missouri yang sudah dibersihkan pada tahun 1988, umurnya tidak bertahan lama dan kemudian masuk dalam ELCA yang baru didirikan). Saya seorang pengikut setia di Gereja Lutheran All Saints sampai saya lulus sekolah hukum.

Pada bulan Mei 1985, saya bergabung dengan sebuah firma hukum di Rapid City, South Dakota. Di Black hills tidak ada paroki AELC, dan ayah saya kembali ke Ohio, maka saya berada di ujung tanduk. Saya tidak punya kendali. Meskipun saya tidak pernah kehilangan iman kepada Kristus, kualitas iman saya turun menjadi seorang yang tidak ke gereja dan tidak adanya sacramental. Pada Minggu pagi, saya menyesali karena hilangya kesempatan “pergi ke gereja,” tapi tidak cukup dengan bergabung dengan paroki ELCA. Mereka yang terbiasa dengan Dakota tahu betul bahwa ada populasi besar yang ada di sana yang mewarisi budaya Skandinavia cenderung menjadi Lutheran. Artinya akan ada banyak paroki ELCA Lutheran. Di sisi lain, ada juga banyak penduduk asli Amerika (Lakota Sioux) di sana, dan mereka umat Katolik. Maka akan ada juga banyak gereja Katolik.

Saya mengabaikan semuanya itu. Saya bertekad untuk tidak coba-coba dengan Protestanisme non-Lutheran. Hal itu mudah bagi saya. Sebagai seorang Lutheran Sinode Lutheran, saya punya kesamaan dengan doktrin Katolik, tapi sedikit dengan doktrin Kalvinis dan Zwingli. Mereka tidak percaya akan Kehadiran nyata yang sejati, dan mereka punya rincian Sepuluh Perintah yang berbeda.

Pada tahun 1988, saya menikah dengan seorang wanita yang bercerai yang punya dua anak belum dibaptis. Saya meminta ayah saya untuk melakukan perjalanan sejauh 1.100 mil (± 1770 km) dari Ohio ke South Dakota untuk melaksanakan perkawinan dan membaptis anak-anak. Bibi saya yang seorang Katolik berkenan untuk memainkan organ bagi kami. Sebuah paroki Kongregasi di kota Nebraska tempat dulu kami tinggal menyewakan gedung gerejanya untuk perayaan itu.

Saya bekerja keras supaya upacara perkawinan berjalan dengan sempurna. Saya membeli hosti komuni. Saya membuat salib untuk prosesi. Saya mengetik bukletnya. Tapi itu hal “religius” yang saya peroleh. Saya tidak pernah berdoa mengenai situasi kami. Saya dan tunangan saya itu tidak melakukan konseling agama pra-nikah. Kami tidak mencari sebuah paroki tempat kami menjadi umatnya sesudah menjadi suami istri.

Upacara perkawinan yang dipimpin Ayah bagi kami sangat high liturgy. Juga termasuk dengan upacara pembaptisan anak-anak serta perjamuan kudus. Mempelai perempuan dan keluarganya terus menerus bercanda tentang religiusitas kami. Sesuadah itu, Ayah mengeluh karena seharusnya ia tidak menikahkan kami karena kondisi kehidupan non-religius kami yang kronis. Ia benar. Saya dan istri saya bahkan tidak berhasil melewati dua tahun perkawinan sebelum kami bercerai.

Tuhan tidak bisa disalahkan. Saya tahu kalau saya harus mendapatkan Tuhan lagi dalam hidup saya. Tapi, meskipun demikian, saya tidak terdorong untuk menjadi orang yang “bergereja.” Saya pikir bisa dengan hanya membaca Alkitab, ditambah buku-buku tentang Luther atau Lutheranisme.

Pada tahun 1990, saya berjumpa dengan seorang wanita Katolik suam-suam kuku dengan tiga anak yang sudah dibaptis, dan saya mulai menjalin hubungan serius dengannya. Kedua orang tua wanita itu, serta saudara laki-lakinya yang bernama Paul adalah Katolik yang taat, tapi dia tidak.

Selama tiga tahun bersama, kami tidak ke gereja mana pun. Bahkan Natal dan Paskah pun tidak. Juga , saya tidak begitu kenal Paul saat itu. Awal tahun 1993, hubungan kami gagal.

Waktunya sudah tiba bagi saya untuk berdoa, “Tuhan, tolong kami!” Saya menyusun rencana untuk membuat pacar saya menjadi Lutheran: “Kamu Katolik dan saya Lutheran. Mari kita bergantian setiap hari Minggu.” Saya sedang berbuat picik. Saya tidak berniat menjadi Katolik. Saya pikir kalau saya cukup Katolik berdasarkan kebiasaan ayah saya yang “terlalu Katolik.” Pacar saya sepakat dengan rencana saya. Saya menyarankan supaka kita mulai di gereja Lutheran.

Kami memilih sebuah paroki ELCA dan di suatu hari Minggu kami ke sana. Paroki itu mengadakan kebaktian liturgi “modern” tanpa komuni kudus. Saat “kebaktian kontemporer” dibuka, saya pikir, “Saya tidak kenal hal seperti ini. Di mana kemiripannya dengan liturgi Lutheran?”

Minggu berikutnya giliran pacar saya. Selama sepekan, pemikiran anti-Katolik saya  yang jinak (yang tidak saya sadari) bangun. Sebagian besar pemikiran seperti itu terlintas dalam pikiran saya: Tetzel dan penjualan surat indulgensi (“Begitu terdengar bunyi koin emas di kotak, keluarlah satu jiwa dari api penyucian.”); para kardinal dan paus yang hidupnya begitu duniawi, beberapa dari mereka adalah keluarga kaya sangat sekuler yang membeli jabatan gerejawi bagi anak-anak laki-laki mereka yang masih berusia di bawah lima tahun; para presbiter yang tidak bisa membaca dan yang menjadi ayah dari anak-anak tidak sah sambil mengibas-ngibaskan tangan (membuat berkat –red.) kepada umat supaya tidak melalukan percabulan; kepausan adalah anti-Kristus; konsili-konsili Gereja yang keliru; membakar para bidat di tiang hukuman; mereka yang merantai Alkitab di meja (tidak boleh dimiliki pribadi –red.), melarang umat Katolik untuk membaca Kitab Suci; lalu ada Inkuisisi dan Galileo. Saya membaca Kitab Konkordia yang sudah using, yaitu kumpulan tulisan doktrinal resmi Luther.

Mengenai Maria, ya, benar dia disebut sebagai Bunda Allah; ya, dia yang selalu perawan; ya, dia berada di surga untuk berdoa bagi kita. Tapi dalam Apologia Pengakuan Augsburg ada kritik mengenai Mariologi sebagai upaya menggunakan “sihir.” Salah satu contohnya dikutip demikian: di sebuah biara, patung Maria dimanipulasi dengan menggunakan tali boneka untuk mengangguk ‘Ya’ atau ‘Tidak’ atas doa dari umat kepadanya. Saya merasa yakin bahwa Gereja Katolik sudah menolak Luther atas apa yang Luther kehendaki untuk mewartakan Injil dan membawakan pendidikan bagi umat banyak.

“Protestanisme” artinya “Protes-antisme,” dan Gereja Katolik yang sedang diprotes. “Reformasi” artinya “reform-asi” bagi kami umat Lutheran, tapi bagi kepercayaan non-Katolik artinya “re-form-asi.” Tentu saja, bagi Gereja Katolik adalah pihak yang sedang “direformasi” atau “dibentuk kembali. Meskipin punya sedikit kesamaan dengan agama non-Katolik lainnya, saya yakin bahwa sejak tahun 1517, terlepas dengan adanya Konsili Trente, Gereja Katolik itu belum dibentuk kembali. Masih Gereja yang mengajarkan keselamatan melalui perbuatan baik, dan dipenuhi oleh tradisi manusia.

Dengan pemikiran seperti ini, saya bersama dengan pacar saya berangkat ke Katedral Our Lady of Perpetual Help di Rapid City. Waktu kami berkendara, saya dipenuhi perasaan geram, saya berusaha menenangkan diri: “apapun yang terjadi, jangan sampai kesabaran saya habis di tengah ibadah.”

Dengan lutut gemetar, saya mulai berjalan menaiki tangga masuk. Tiba-tiba ada suara dalam diri saya berkumandang: “sekali kamu masuk, kamu tidak akan pernah bisa keluar.” Perkataan batin itu benar-benar menghentikan langkah saya. Pacar saya memandang saya seolah-olah saya sedang mengejarnya sebelum kami berdua masuk ke dalam. Saya tercengang! Apakah perkataan itu adalah peringatan atau nubuat?

Kami masuk gedung gereja. Saya hampir mengalami hiperventilasi (kondisi di mana seseorang mulai bernapas dengan sangat cepat, bisa juga sebagai respons panik atau fobia –honestdocs.id). Ada tempat air suci di mana orang-orang mencelupkan jari mereka. Semua orang mengenakan mantel karena tidak ada tempat untuk menggantungkan mantel. Kami masuk ke nave (lorong tengah gereja). Benda paling besar di tempat kudus bukanlah salib gantung atau salib crucifix, tapi ikon Maria yang sedang menggendong bayi Yesus. Kelihatannya sangat besar – khususnya Maria. Saya khawatir: “apakah selama ibadah nanti ada penyembahan Maria?”

Saya dan pacar saya duduk di bangku belakang yang jauh. Dengan perasaan gugup, saya mengamati bangku-bangku lain dan membuat perhatian batin di mana pintu keluarnya. “Ada lebih banyak orang dari yang saya perkirakan,” saya menelan ludah ketika liturgi dimulai. Nyanyian prosesinya sudah akrab didengar. Imam dan pelayan altar dengan khusyuk mengarak salib, seperti yang biasa kami lakukan.

Saya mulai merasa tenang. Tiba-tiba saya merasa aneh kalau saya merasa sedang berada di “rumah.” Umat paroki bernyanyi, meskipun tidak sekeras yang kami lakukan sebagai umat Lutheran. Tidak ada penyembahan Maria. Liturginya hampir identik dengan “high liturgy” Lutheran tempat saya dibesarkan. Beberapa katanya berbeda, atau tidak dalam urutan yang sama, tapi selama ibadah saya tidak merasa berada di tempat yang salah.

Ketika waktunya tiba untuk pergi, saya enggan. Saya berkata kepada pacar saya, “Ayo ke sini lagi pekan depan.” Dan kami melakukannya.

Tapi dengan demikian tidak bisa menyelamatkan hubungan kami. Tak lama setelah itu kami putus. Tapi, saya masih suka kembali ke katedral itu. Satu hal yang saya tahu kemudian, saudara laki-laki pacar saya yang bernama Paul mengundang saya untuk tidak dulu pulang antara waktu Misa Minggu pagi untuk minum kopi dan makan donat di basement. Perkataan batin yang saya dengar itu benar: sekali saya masuk dan tidak bisa keluar. Saya tidak pernah kembali ke gereja Lutheran. Ketika saya terus ikut Misa di katedral, saya menjadi lebih dekat dengan saudara laki-laki mantan saya yang saleh dan juga dengan keluarganya. Saya masih tidak berniat jadi Katolik. Enter Tim – yang sekarang menjadi profesor dan apologis Katolik yang terkenal. Pada waktu itu, ia masih seorang guru agama SMA di St. Thomas More High School di Rapid City yang baru didirikan. Tim juga mengajar di kelas studi Alkitab. Paul mengajak saya supaya ikut dengannya. Kelas Alkitab Katolik? Saya tidak tahu kalau hal semacam itu ada! Saya sudah ikut berbagai banyak kelas studi Alkitab yang membosankan, dan saya merasa sudah cukup tahu Alkitab. Waktu saya berusia 11 tahun, saya peringkat kedua di acara Kuis Alkitab yang diadakan stasiun radio New York City. Dengan enggan saya memberi tahu Paul kalau saya mau mencobanya.

Luar biasa! Saya belum pernah mendengar Alkitab dikupas seperti yang dilakukan Tim. “Kacamata tafsir Alkitab Lutheran” saya terbang menjauh. Tim dengan susah payah memberi kita daging yang baru matang daripada susu yang suam-suam kuku seperti “Apa makna ayat ini bagi kamu?” gaya belajar Alkitab seperti itu yang membuat saya bosan. Tim membimbing kami untuk berjalan melalui Teologi Perjanjian dan menggali secara mendalam nuansa linguistik dan apa yang ditafsirkan oleh para Bapa Gereja tentang makna suatu ayat. Saya dibentuk oleh Tim.

Tapi saya tidak gegabah dengan hal itu. Saya menjadi berkomitmen untuk mendalami dengan semakin banyak membaca Lutheranisme. Saya mengkaji Pengakuan Iman Augsburg dan tulisan-tulisan lain yang ada dalam Kitab Konkordia; Saya juga membaca empat jilid buku karya Martin Chemnitz tentang Konsili Trente; Saya membaca berbagai buku Lutheran. Saya juga melakukan panggilan telepon jarak jauh dengan ayah saya. Saya berusaha keras untuk menjadi seorang Lutheran.

Terlepas dari apa yang saya kaji, saya hanyut dalam arus Katolik. Saya menggandakan komitmen saya pada Lutheranisme dengan memegang erat sekoci penyelamat yaitu sola Scriptura. Saya mengingatkan diri saya sendiri bahwa satu alasan Luther sangat berorientasi pada Kitab Suci adalah kurangnya kekudusan dan sikap duniawi para paus dan kardinal pada awal tahun 1500-an. Skandal yang mereka lakukan memberikan pemikiran bahwa saya tidak percaya bahwa mereka itu berbicara bagi Tuhan. Memang, kelihatannya gerbang alam maut menguasainya. Mengenai sola fide (yaitu, “hanya iman” – “doktrin yang menentukan berdiri dan jatuhnya gereja”), saya tidak bisa melihat cara yang bisa membuat doktrin ini bisa jatuh.

Pengajaran Kitab Suci Tim yang komprehensif dan baik menawarkan sekoci yang lebih baik. Saya tahu bahwa Tetzel adalah seorang penipu, Paus bukanlah anti-Kristus, Gereja mengajarkan bahwa “Tak kenal Kitab Suci, tak kenal Kristus,” tidak ada tali boneka yang memanipulasi patung Santa Perawan Maria, dan Mariologi yang benar itu menggenapi nubuat (Lukas 1:48) bahwa semua keturunan akan menyebutnya berbahagia.

Sola Scriptura tenggelam ketika saya menyadari banyaknya kelemahan: kami sebagai umat Lutheran punya Magisterium tambahan di luar Alkitab, sang “pencinta Alkitab” Martin Luther tidak suka dengan beberapa kitab kanonik dalam Perjanjian Baru; Katolik tidak menambahkan kitab dalam Alkitab, tapi Protestan yang sudah membuangnya; selama liturgi Katolik, Injil begitu dihormati sehingga diangkat tinggi-tinggi dan sering didupai sebelum dibacakan, dan kami umat Lutheran menggunakan pembacaan yang sama seperti dalam ibadah Katolik; baik Katolik dan Lutheran memegang tiga Pengakuan Iman, yaitu Kredo Para Rasul, Kredo Nikea, dan Kredo Athanasius.

Malahan sola fide kandas lebih cepat: saya tidak perlu lagi percaya dengan ajaran itu dengan bacaan yang paling menghantam yaitu Yakobus 2:24 (“bukan hanya karena iman”); sebagai perbandingan, perkataan St. Paulus harus dibaca dalam konteksnya, dan begitu juga dengan perkataan Yesus, bukan sebaliknya (2 Petrus 3:16 membicarakan mereka yang salah tafsir dengan perkataan Paulus); bahkan Kredo Athanasius ditutup dengan pernyataan anti-sola fide.

“Suatu hari” itu sudah tiba bagi saya. Datang seperti pencuri di malam hari ketika Tim mengajarkan tentang Matius 16:18, di mana Yesus menjadikan Petrus sebagai kepala Gereja-Nya. Jika benar Petrus adalah paus pertama – Yesus sudah menjadikan Simon sebagai perdana menteri-Nya, dan sudah memberikan kepadanya kunci kerajaan surga, dan berjanji bahwa gerbang alam maut tidak akan pernah menang melawan Gereja yang didirikan di atasnya – saya tahu kalau saya tidak punya pilihan lain. Hati nurani saya memaksa saya untuk masuk ke dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik.

Bagaimana saya akan menyampaikan berita ini kepada ayah saya? Bagaimana saya bisa masuk Katolik? Bagaimana saya nantinya “akan dapat” sesuatu semacam devosi Maria?

Saya menelan harga diri saya dan menceburkan diri ke air Sungai Tiber. Pada tahun 1993 waktu saya berusia 34 tahun, saya mulai ikut RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.). Saudara laki-laki mantan pacar saya yaitu Paul menjadi wali saya. Presbiter  yang mengajar di kelas itu kemudian menjadi Uskup Kesukupan Wyoming yaitu Steven Biegler. Sembilan bulan kemudian, saya menerima Sakramen Penguatan oleh Uskup Charles Chaput yang waktu itu menjabat sebagai Uskup Keuskupan Rapid City.

Selama masa Penguatan, saya mengalami pengalaman religius lain. Dalam sepersekian milidetik setelah diurapi dengan minyak Sakramen Penguatan, saya dikejutkan dengan motivasi kuat untuk mengajar studi Alkitab. Ketika Tim pindah dari Rapid City, ia meminta saya untuk mengambil alih kelas studi Alkitabnya. Saya sudah bertemu dengan Uskup Chaput mengenai hal itu, dan beliau menyepakatinya. Selama kami berdiskusi, beliau bertanya tentang latar belakang saya. Saya menceritakan tentang ayah saya. Uskup Chaput juga berkata bahwa profesor Kitab Suci favoritnya di University of San Francisco adalah seorang Lutheran yaitu Dr. John Elliot. Saya berkata kalau saya akan bertanya kepada ayah saya apakah ia mengenalnya. Malam itu saya menelepon Ayah untuk bertanya. Jawabannya adalah, “Jack? Saya lulus dari seminari bersama dengannya.” Saya mengajar pelajaran Alkitab di Rapid City dari tahun 1994 hingga 2014. Saya harus berhenti pada usia 55 tahun karena terserang stroke.

Sebelum saya terserang stroke, saya sudah bekerja keras untuk membalas kebaikan Tuhan dan Gereja-Nya atas berkat yang baru saya terima itu. Selama semester musim semi tahun 2003 dan 2004, saya mengajar agama di St. Thomas More High School. Dari tahun 2003 sampai 2005, saya melayani sebagai Konsultan Agama untuk serial drama CBS-TV yang berjudul “Joan of Arcadia.” (Film tentang seorang gadis bergaya Jeanne d’Arc pada abad 21 yang mendengar suara Tuhan dan berusaha berbuat seperti yang ada dalam pesan-Nya). Pada bulan Januari 2005, saya menjadi tamu untuk acara The Journey Home. Dari tahun 2001 sampai 2006, saya menjabat sebagai Dewan Direksi Center for Catholic and Evangelical Theology. Ketuanya adalah mantan Lutheran juga yaitu Dr. Robert Louis Wilken.

Hari ini, saya sangat cinta jadi Katolik. Karena menyelamatkan kehidupan rohani saya. Di satu sisi, juga menyelamatkan kehidupan jasmani saya. Ketika saya mengalami stroke, di ruang ICU saya “diberi sinyal akan meninggal” tujuh kali. Ketika saya sadar dari koma, ada seorang presbiter yang duduk di samping tempat tidur saya, ia memberikan saya Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Ketika saya membuka mata, ia hampir melonjak dari kursi. Saya masih ingat mendengarnya berkata, “Saya sudah sejauh ini, maka sebaiknya saya juga melanjutkannya.”

Sepuluh pekan kemudian, saya diizinkan pulang. Saya diberi tahu bahwa saya akan memakai kursi roda seumur hidup. Kemudian banyak yang mendoakan, kemudiansaya mengalami kemajuan dengan menggunakan alat bantu berjalan, kemudian bisa menggunakan tongkat. Meskipun tertatih-tatih, saya bisa berjalan. Saya sudah jarang menggunakan tongkat. Saya bisa bekerja penuh waktu.

Namun, saya masih menderita bekas sakitnya. Saya tidak bisa menelan secara permanan, dan kaki kanan saya setengah lumpuh. Tapi empat orang dokter berkata kepada saya bahwa apa yang saya alami itu adalah keajaiban. Saya bersyukur kepada Tuhan.

Saya masih menghargai didikan Lutheran yang saya terima. Melalui itulah yang menuntun saya ke Gereja yang didirikan Yesus Kristus. Yesus sudah pasti menyertai saya ketika saya tersandung oleh rasa takut dan gentar.

“Suatu hari nanti kita semua akan jadi Katolik.” Saya masuk dan tidak pernah keluar. Aleluya!

 

Ben Eicher adalah seorang pengacara selama 18 tahun sebelum meninggalkan pekerjaannya itu pada tahun 2003. Ia kemudian menjadi seorang konsultan agama untuk drama CBS-TV yang mendapatkan nominasi Emmy Award yaitu “Joan of Arcadia.” Sekarang ia menjadi kolumnis untuk surat kabar mingguan di Nebraska, menulis novel, dan melakukan penelitian hukum untuk Rensch Law Office di Rapid City, South Dakota. Ia juga seorang pengacara yang punya izin di sistem pengadilan Suku Sioux Rosebud. Ia juga pernah hadir dalam acara “The Journey Home.”

 

Sumber: “Damascus Road Traveller”

Posted on 26 August 2022, in Kisah Iman and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: