Alkitab Tidak Mengajarkan Maria Diangkat ke Surga?

Oleh Paul Senz

Feast of Assumption (Sumber: assumptiondc.org)

 

Memang tidak ada ayatnya, meskipun dogma Maria yang satu ini ajarannya tidak sekuat dengan dogma Maria lainnya. Tapi ada alasan bagus untuk percaya bahwa Maria diangkat ke surga yang ajarannya tidak bergantung pada Kitab Suci.

Inilah dogma yang harus diyakini tanpa ada keraguan bahwa memang pada akhir hidupnya Santa Perawan Maria diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya. Ajaran Maria diangkat ke surga berperan penting dalam kehidupan Gereja: jutaan umat Katolik merenungkan peristiwa ini setiap hari dalam doa Rosario, dan yang paling mengharukan adalah dalam hari raya liturgis yang memperingati Maria diangkat ke surga yang juga menjadi hari raya wajib.

Tapi dari mana kepercayaan ini berasal? Kenapa umat Katolik mempercayainya? Di mana rujukannya dalam Kitab Suci?

Pada tanggal 1 November 1950, menjadi puncak dari proses yang sudah lama berlangsung dari berbagai perundingan, diskusi, dan perdebatan, Paus Pius XII dengan resmi mengumumkan dogma Maria Diangkat ke Surga dalam konstitusi apostolik Munificentissimus Deus:

Oleh karena itu, sesudah kami berulang kali memanjatkan doa permohonan kepada Allah, dan memohonkan terang Roh Kebenaran, demi kemuliaan Allah yang Mahakuasa, yang telah mencurahkan kasih sayang-Nya yang istimewa kepada Perawan Maria, demi kehormatan Putranya, Sang Raja Segala Masa yang kekal dan Sang Pemenang atas dosa dan maut, begitu pula demi kemuliaan yang semakin besar dari Sang Bunda agung, dan demi sukacita dan kegembiraan seluruh Gereja; dengan kuasa dari Tuhan kita Yesus Kristus, [kuasa] dari Rasul Petrus dan Paulus yang terberkati, dan dengan kuasa kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan menentukannya sebagai dogma yang ilhami Roh Kudus: bahwa Bunda Maria yang tidak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan kehidupannya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi (44). (Kalimat terakhir terjemahan diambil dari katolisitas.org)

Pertanyaan yang diajukan Paus Pius kepada para uskup dan para teolog di seluruh dunia, pada umumnya berkisar apakah sudah waktunya menetapkan dogma ini. Tidak ada perdebatan tentang ajaran ini, karena ajaran ini sudah lama mapan dan diyakini secara universal. Bahkan banyak dari reformator Protestan, termasuk Martin Luther sendiri percaya akan peristiwa Maria diangkat ke surga (setidaknya di berbagai saat dalam kehidupan mereka).

Selain itu, menarik untuk diperhatikan bahwa Paus Pius XII tidak memasukkan dalam penetapan dogma itu apakah Maria wafat atau tidak sebelum diangkat ke surga. Sebaliknya, ia memilih untuk menggunakan frasa yang agak ambigu “sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia” yang menghindari pertanyaan itu. Tidak ada ajaran resmi Gereja apakah Maria wafat atau tidak, meskipun ada tradisi panjang di Barat yang mengatakan Maria wafat. Namun demikian, hal itu merujuk pada tertidurnya Maria, bukan dengan istilah kematian.

Maria diangkat ke surga adalah peristiwa sejarah. Meskipun benar bahwa akhir hidup Maria tidak dijelaskan secara eksplisit dalam Kitab Suci, ada alusi tentang itu, perikop-perikop yang menggemakan kebenaran dogma ini. Contohnya berikut ini:

  • “Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!” (Mazmur 132:8). Ada tradisi kuno yang membandingkan Maria dengan Tabut Perjanjian; dengan terang itu, maka ayat ini menjadi rujukan tentang Tabut Perjanjian yang sudah dikuduskan itu dibawa ke tempat peristirahatan Tuhan, dapat dipandang sebagai hal yang membicarakan tentang pengangkatan Maria.
  • “Turunlah kepadaku dari gunung Libanon, pengantinku, datanglah kepadaku dari gunung Libanon” (Kidung Agung 4:8).
  • “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya …” (Wahyu 12:1 dst.)

Memang kita tidak mengandalkan Kitab Suci untuk iman kita akan Maria diangkat ke surga, tapi Kitab Suci “menunjuk” mengenai hal itu.

Untungnya ada lebih banyak hal yang membenarkan peristiwa ini daripada dari Kitab Suci. Ada beberapa alasan historis, termasuk keyakinan yang dipegang terus menerus dan tidak terputus selama berabad-abad. Ada manuskrip dan fragmen yang masih terpelihara dari abad kedua atau ketiga yang mendokumentasikan kepercayaan Gereja perdana mengenai hal ini. Maria diangkat ke surga sudah dirayakan secara liturgis sejak abad kelima di Palestina, abad keenam di Galia, secara universal di Timur pada abad ketujuh, dan di Barat pada abad kedelapan.

Dalam beberapa literatur zaman awal, memang secara sah ada ketidaksepakatan apakah Maria wafat sebelum diangkat. Namun, semua sepakat tentang Maria diangkat ke surga.

Ada alasan menarik lain untuk mempercayai peristiwa ini. Ada dua klaim tentang makam Maria, satu di Efesus dan satu lagi di Yerusalem. Namun, tidak ada klaim bahwa kedua makam itu adalah tempat peristirahatan permanen bagi tubuh Maria, dan juga tidak ada dugaan tentang relikwinya. Mengapa demikian? Kita punya peninggalan-peninggalan dari orang-orang Kristen perdana, termasuk dari para rasul dan orang-orang yang sezaman dengan Tuhan Yesus. Maka, jika kita bisa memperoleh relikwinya, mengapa di dunia ini tidak ada relikwi Bunda Maria yang dihormati secara publik?

Jawaban sederhananya adalah tidak ada peninggalan Bunda Maria. Tubuhnya tidak ada lagi di bumi, karena sudah diangkat ke surga pada akhir hayatnya.

Kemudian, kita dihadapkan dengan satu pertanyaan lagi: jika Kitab Suci tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Maria secara jasmani diangkat ke surga, kenapa kita harus percaya?

Singkatnya: karena Gereja yang mengajarkannya. Seperti yang selama bertahun-tahun sudah ditunjukkan berkali-kali oleh para apologis, pemikiran bahwa Kitab Suci sebagai satu-satunya aturan iman yang tidak dapat salah itu tidak masuk akal, namun secara eksplisit pemikiran itu juga disangkal oleh Kitab Suci sendiri.

  • “Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus” (2 Timotius 1:13).
  • Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran [traditions] yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis” (2 Tesalonika 2:15).
  • Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya” (Ibrani 13:17).
  • Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat [church/gereja] dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Timotius 3:15).

Jadi, pemikiran bahwa Alkitab sebagai sumber utama dan penentu kebenaran itu suatu yang keliru dengan sendirinya. Kitab Suci sendiri menyangkal kepercayaan semacam ini. Gereja adalah penjaga perbendaharaan iman, yang dengan setia meneruskan ajaran Yesus Kristus. Kristus sendiri yang menugaskan Gereja untuk mengajar semua bangsa (lihat Yohanes 14:26, 16:13), dan kita tahu dengan perlindungan dan tuntunan Roh Kudus, Gereja mengajarkan apa yang benar kepada kita semua.

Sumber: “What If the Bible Doesn’t Teach Mary’s Assumption?”

Posted on 17 August 2022, in Apologetika and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: