Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…
Perspicuitas Sebagai Landasan Aliran Reformasi?
Oleh Casey J. Chalk

Membaca Alkitab (Sumber: stpaulcenter.com)
Banyak umat Kristen, baik Protestan, Katolik, dan bahkan Ortodoks, yang menyebut sola scriptura sebagai salah satu doktrin fundamental Protestan, bahkan yang paling fundamental di antara doktrin-doktrin Protestan. Luther sendiri pernah menyatakannya dalam Diet of Worms/Dewan Worms (1521) yang terkenal itu demikian:
“Kecuali jika aku diyakinkan oleh kesaksian Kitab Suci atau oleh alasan yang jelas, karena aku tidak dapat mempercayai paus maupun konsili-konsili, karena jelas bahwa mereka telah berulangkali melakukan kesalahan dan bertentangan dengan diri mereka sendiri, aku menganggap diriku telah ditaklukkan di bawah Kitab Suci yang aku susun sendiri, dan hati nuraniku telah ditundukkan kepada Firman Allah.”
Pernyataan tersebut tampaknya menunjukkan bahwa Luther memandang otoritas utama Alkitab sebagai landasan teologi Kristen. Calvin juga menegaskan otoritas Alkitab yang utama dan mendasar dalam pemikiran dan praktik Protestan.
Alasan dari peran fundamental dari sola scriptura sangatlah sederhana. Semua doktrin Protestan (misalnya, sola fide, sola gratia, solus Christus, soli Deo gloria, dan lain-lain) berusaha menemukan sumbernya secara eksklusif di dalam Alkitab. Pemahaman Protestan akan Alkitab – termasuk otoritas dan cukup dari Kitab Suci – menjadi sangat penting, dan berfungsi sebagai semacam penjaga yang melestarikan dan melindungi integritas Kitab Suci. Para apologis Katolik, yang banyak di antaranya adalah mantan penganut Protestan, juga berpendapat hal yang sama. Pada generasi terakhir saja, tokoh-tokoh Katolik seperti Marcus Grodi, Robert Sungenis, dan Dave Armstrong telah memberikan penjelasan panjang lebar mengenai sola scriptura karena mereka melihatnya sebagai inti dari ajaran Protestan. Namun, apakah sola scriptura benar-benar merupakan doktrin Protestan yang paling mendasar?
Banyak kalangan Protestan telah mengakui bahwa Reformasi, pada intinya, adalah perdebatan mengenai otoritas. Namun, orang-orang Protestan (dan para apologis Katolik) sering kali memahami otoritas terutama dalam kaitannya dengan Wahyu Ilahi atau apa yang dianggap sebagai sumber-sumber doktrin Kristen yang tidak dapat salah. Bagi orang-orang Protestan, hanya Alkitab yang menjadi satu-satunya sumber Wahyu Ilahi dan satu-satunya sumber doktrin yang tidak dapat salah. Bagi umat Katolik, deposit iman ditransmisikan melalui dua cara yang berbeda dan saling melengkapi: Kitab Suci dan Tradisi Apostolik, seperti yang dijelaskan dalam dokumen ekumenis Dei Verbum, sementara otoritas pengajaran magisterial Gereja (dilaksanakan dalam konsili-konsili ekumenis, pernyataan-pernyataan kepausan secara ex cathedra, dan sebagainya) bertindak sebagai penafsir yang tidak dapat salah atas deposit tersebut. Betapapun mencoloknya, perbedaan-perbedaan ini telah mengaburkan diskusi Protestan dan Katolik tentang bagaimana otoritas bekerja di dalam kedua sistem teologi tersebut.
Dengan demikian, Reformasi dalam paradigma Protestan didasarkan pada premis bahwa setiap orang Kristen adalah penafsir yang lebih baik atas makna kitab suci daripada otoritas gerejawi yang lebih tinggi. Premis ini menjelaskan penolakan Luther untuk mengakui konsili-konsili Gereja yang historis sehingga menghasilkan kesimpulan yang berbeda darinya mengenai penafsiran Alkitab, dan juga tindakan-tindakan para Reformator lainnya yang memberontak dari Roma atas dasar apa yang mereka sebut sebagai dasar-dasar alkitabiah. Seperti yang diajarkan oleh dokumen pengakuan Calvinis yaitu Pengakuan Iman Westminster: “Semua sinode atau konsili sejak zaman para rasul, baik yang umum maupun khusus, bisa membuat kesalahan dan banyak yang telah membuat kesalahan. Karena itu, sinode-sinode dan konsili-konsili tidak boleh dijadikan aturan-aturan bagi iman dan praktik, tetapi hanya sebagai bantuan keduanya” (Terjemahan dari Sinode GKIM).
Asal mula otoritas keagamaan dalam Protestanisme adalah individu Kristen, tidak hanya mengacu pada bagaimana Alkitab ditafsirkan, tetapi juga dalam menjelaskan isinya. Alkitab Luther pada tahun 1534 adalah Alkitab pertama yang memisahkan kitab-kitab deuterokanonika atau yang ia sebut apokrifa, dan mengidentifikasikannya sebagai bagian yang bersifat intertestamental1, termasuk sebuah catatan tambahan yang secara eksplisit menyatakan bahwa kitab-kitab tersebut tidak diilhamkan secara ilahi. Edisi-edisi awal Alkitab Protestan berbahasa Inggris, termasuk Tyndale dan Coverdale, juga membuat pembedaan yang serupa. Kitab-kitab ini [Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, 1 Makabe, dan 2 Makabe] sudah disahkan oleh beberapa sinode Gereja pada akhir abad keempat (Roma, Hippo, dan Kartago) dan ditegaskan kembali oleh Konsili Ekumenis di Florence pada tahun 1441. Namun, para Reformator awal seperti Luther dan Calvin, yang prihatin dengan ajaran kitab-kitab deuterokanonika tentang doktrin-doktrin seperti api penyucian, indulgensi, dan sifat pendamaian dari perbuatan-perbuatan amal (“perbuatan baik”), menilai bahwa kitab-kitab tersebut tidak memiliki otoritas yang setara dengan kanon Alkitab yang lain. Luther menyebut Tobit sebagai “komedi kesalehan,” dan Yudit sebagai kitab fiksi. Calvin menuduh bahwa hirarki Katolik “memberikan diri mereka sendiri dukungan baru ketika mereka memberikan otoritas penuh kepada kitab-kitab Apokrifa. Dari kitab Makabe yang kedua mereka akan membuktikan Api Penyucian dan penyembahan orang-orang kudus; dari Tobit mereka akan mendapatkan kepuasan.”
Hingga hari ini, orang-orang Protestan tetap mencurigai kitab-kitab Deuterokanonika. Sebuah artikel dalam Calvinist English Standard Version Study Bible menyatakan bahwa ajaran-ajaran dalam kitab-kitab Deuterokanonika “jelas-jelas bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Perjanjian Baru mengenai kelahiran kembali, pembenaran, dan kehidupan sekarang ini sebagai satu-satunya masa pencobaan bagi seseorang.” Pandangan-pandangan seperti itu terhadap kitab-kitab Deuterokanonika merupakan hal yang umum di kalangan Protestan yang menyatakan bahwa kitab-kitab tersebut mengandung ajaran-ajaran yang bertentangan dengan ajaran Alkitab yang “gamblang” mengenai keselamatan, sehingga patut dicurigai. Namun, penggunaan kata “gamblang” oleh para akademisi Protestan dalam kaitannya dengan Perjanjian Baru dan Deuterokanonika cukup menunjukkan sesuatu. Apa yang ditunjukkannya adalah bagaimana doktrin perspicuitas menginformasikan bagaimana orang-orang Protestan melakukan pendekatan terhadap setiap subjek Alkitab, termasuk apa yang dianggap sebagai Kitab Suci kanonik.
Akibatnya (meskipun tidak pernah dinyatakan seperti itu), para Reformator mengganti kepercayaan bahwa Allah menuntun Gereja dalam menetapkan kanon menjadi kepercayaan bahwa Allah menuntun setiap orang Kristen dalam menetapkan kanon. Maka di era modern, kita melihat para pemikir Calvinis yang terkenal, seperti R.C. Sproul, menggambarkan kanon Alkitab sebagai “daftar yang dapat salah dari kitab-kitab yang tidak dapat salah,” karena isinya didasarkan pada keputusan-keputusan yang dapat salah dari setiap orang Kristen. Selain itu, gagasan bahwa umat Kristen dapat membuat keputusan seperti itu dibuat dengan alasan bahwa Alkitab cukup jelas untuk menjadi dasar penilaian mereka.
Dalam Protestantisme, otoritas pada akhirnya berada dalam hati nurani yang bebas dari setiap orang Kristen, yang mewakili apa yang disebut oleh Charles Taylor sebagai “peralihan batin modern.” Kebebasan ini didasarkan pada doktrin perspicuitas, yang memberikan kemampuan kepada orang Protestan untuk mendefinisikan dan menafsirkan Alkitab, “tunduk” kepadanya melalui penafsirannya sendiri, dan dengan demikian mempertahankan otonominya. Dalam ajaran Katolik, otoritas berada di tangan magisterium, yang menyatakan kuasa ini sebagai penerus Kristus dan para Rasul-Nya, suatu otoritas yang harus diakui oleh orang Kristen dengan tindakan iman. Ketika seorang Katolik melakukan tindakan iman tersebut, ia melepaskan otonominya untuk menentukan isi, parameter, dan makna dari Wahyu Ilahi. Apa pun kebenaran dari pernyataan Katolik tersebut, perbedaan ini menunjukkan perbedaan yang paling esensial di antara kedua sistem teologi ini.
Casey J. Chalk meraih gelar Sarjana Sejarah dan Keguruan dari University of Virginia dan gelar Magister Teologi dari Notre Dame Graduate School of Theology di Christendom College. Ia menjadi editor atau kontributor tetap untuk berbagai publikasi, termasuk The New Oxford Review, The Federalist, Crisis Magazine, The American Conservative, dan The Spectator. Ia adalah penulis buku “The Obscurity of Scripture: Disputing Sola Scriptura and the Protestant Notion of Biblical Perspicuity.” Casey, beserta istri dan kelima anaknya tinggal di kampung halamannya di Virginia Utara.
Catatan kaki:
- Intertestamental adalah suatu masa di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang lamanya berkisar 400 tahun, menurut orang Protestan masa ini disebut juga “400 tahun masa sunyi” di mana Allah tidak menyatakan apapun kepada umat-Nya.
Posted on 2 December 2023, in Apologetika and tagged Alkitab, Kitab Suci, Magisterium, Sola Scriptura. Bookmark the permalink. Leave a comment.


Leave a comment
Comments 0