Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…
Eksorsisme Bukan Tindakan Sembarangan
oleh Adam Blai

Temptation of Christ on Mountain (Sumber: stpaulcenter.com)
Pelepasan dan eksorsisme adalah dua bentuk intervensi rohani yang berbeda. Pelepasan adalah istilah umum yang dapat berarti dibebaskan dari masalah apa pun yang bersifat atau disebabkan oleh hal-hal rohani. Di sini, istilah ini akan didefinisikan sebagai doa (permohonan ) yang dipanjatkan dengan harapan supaya Allah membebaskan seseorang dari penderitaan rohani.
Lebih dari lima puluh tahun terakhir, sebagian besar pelayanan pelepasan roh jahat dilakukan oleh denominasi Protestan, dan buku-buku tentang pelepasan roh jahat pada masa itu berasal dari sudut pandang mereka. Salah satu pemikiran keliru yang muncul dari pemahaman ini adalah jika seorang Kristen yang telah dibaptis dalam nama Yesus memberi perintah kepada setan, maka setan itu akan mematuhinya. Inilah pendekatan yang berpikiran magis karena tidak memperhitungkan kehendak bebas orang yang sedang memiliki relasi dengan setan itu. Kita tidak dapat memaksakan pilihan kita kepada orang dewasa lainnya karena mereka memiliki kehendak bebasnya sendiri. Dalam beberapa buku Protestan tentang pelepasan, seseorang didorong untuk berbicara langsung kepada setan dan memerintahkannya. Ini adalah doa imprecatory yang berupa perintah langsung. Sangatlah penting untuk memahami bahwa doa imprecatory itu secara langsung memerintahkan setan yang berarti secara tak langsung setuju untuk berperang secara pribadi dengan setan tersebut, sementara doa deprecatory bersifat permohonan kepada Allah untuk bertindak melawan setan. Gereja Katolik telah memahami bahwa otoritas penuh untuk memerintah setan diberikan kepada Dua Belas Rasul, oleh karena itu seorang imam membutuhkan otoritas Apostolik yang diberikan kepadanya oleh seorang uskup sebelum dia terlibat dalam pertempuran dengan setan. Tentu saja seorang uskup, kardinal, atau paus dapat melakukan eksorsisme kapan saja.
Sangat mudah untuk teralihkan oleh drama pelepasan dan eksorsisme, kita justru melupakan fakta bahwa sumber masalah gangguan setan adalah hubungan dengan dosa, dan biasanya berkaitan dengan Perintah Pertama. Seiring berjalannya waktu, hal ini sering terjadi karena luka emosional yang mengarah pada dosa, yang kemudian menjadi kebiasaan. Orang itu tumbuh ke arah yang salah, seperti pohon yang diikat dan menjadi bengkok ke samping sebagai pohon muda. Tipu daya setan adalah bersembunyi di dalam luka batin dan distorsi perasaan diri sendiri, seolah-olah menjadi bagian yang integral dan perlu padahal sebenarnya menimbulkan lebih banyak kerusakan. Orang-orang yang dipengaruhi oleh setan harus memulai penyembuhan mereka dengan melepaskan dosa-dosa mereka sendiri melalui pertobatan dan dosa-dosa orang lain melalui pengampunan.
Siklus pertobatan dan pengampunan diperkuat dengan menegaskan kembali kesetiaan seseorang kepada Allah, seperti dengan pengucapan Pengakuan Iman Para Rasul, pembaharuan janji baptis, dan ikut serta dalam berbagai sakramen. Allah bekerja dengan orang tersebut di tempat mereka berada dan mereka biasanya diberi wawasan sebanyak mungkin tentang luka batin dan keberdosaan mereka sendiri yang dapat mereka tangani pada saat itu. Hal ini seperti melatih pohon itu untuk tumbuh dengan cara yang baru: berubah terlalu cepat akan membuat pohon itu patah.
Tantangan umum dalam pelayanan pelepasan dan eksorsisme adalah membedakan apakah suatu kasus adalah kerasukan (possession) atau penindasan yang parah (severe oppression). Di bawah tingkat kerasukan penuh, seseorang mungkin bermanifestasi dalam tingkat tertentu seperti meronta-ronta, menggeram, bereaksi negatif terhadap sakramentali, dan menunjukkan ada indikasi kerasukan lainnya. Namun, dalam kasus-kasus kerasukan penuh, kita melihat setan mengambil alih tubuh sepenuhnya: kekuatan supranatural, pengetahuan okultisme, pengetahuan tentang semua bahasa, dan mendeteksi hal-hal yang kudus.
Penting untuk memahami perbedaan antara eksorsisme dan eksorsisme agung. Eksorsisme adalah sebuah doa imprecatory (perintah), seperti eksorsisme dalam Sakramen Baptis. Eksorsisme agung adalah ritual liturgis yang bersifat imprecatory yang ditentukan oleh Gereja untuk menangani orang yang kerasukan setan. Masalah muncul ketika orang-orang yang berniat baik menganggap dapat melakukan sesuatu yang menyerupai eksorsisme agung untuk membantu dalam kasus-kasus penindasan (oppression) atau kerasukan setan (possession). Doa liturgis diperuntukkan bagi para klerus, dan Gereja membatasi doa-doa imprecatory terhadap setan hanya untuk para presbiter yang mendapat otoritas dari uskupnya.
Pada tahun 1890 Paus Leo XIII menambahkan “Eksorsisme Melawan Setan dan Malaikat yang Jatuh” sebagai lampiran dari eksorsisme agung. Eksorsisme Leonin (atau “minor”) efektif dalam menyelesaikan kasus-kasus infestasi setan. Dengan izin dari ordinaris, eksorsisme minor telah digunakan sebagai tes diagnostik kerasukan dalam kasus-kasus yang belum jelas. Tidak sembarang manifestasi sebagai respons terhadap eksorsisme Leonin menjadi bukti yang cukup dari kasus kerasukan; satu atau lebih dari tanda-tanda tradisional masih harus didokumentasikan. Doa ini tidak boleh digunakan oleh publik sebagai cara untuk menguji kerasukan; doa ini hanya boleh digunakan oleh seorang imam dengan izin dari uskupnya. Ada beberapa kasus, umat awam justru mengalami kerasukan akibat dari penggunaan doa eksorsisme minor terhadap orang yang kerasukan.
Gereja menyediakan pelepasan dari kasus-kasus penindasan (oppression), bahkan kasus yang statusnya hanya di bawah kerasukan penuh pun dilakukan dengan melalui penerimaan sakramen dan bimbingan rohani. Orang yang terkena dampak si jahat berkontribusi besar terhadap pelepasannya sendiri melalui bimbingan rohani, pengakuan dosa, pengampunan, doa, silih, dan Misa. Ketika seseorang mulai menunjukkan manifestasi setan, kasusnya harus dirujuk ke kantor uskup. Meskipun kasus tersebut mungkin tidak sampai pada tingkat kerasukan penuh, kantor uskup atau personil yang ditunjuk dapat mengawasi bimbingan rohani dan memantau kasus tersebut.
Dalam instruksi bagi imam dalam Ritual Romawi, imam diperingatkan untuk tidak terlalu mudah percaya bahwa seseorang itu kerasukan dan mempertimbangkan apakah mereka menderita gangguan mental. Gereja mengharuskan adanya investigasi untuk memastikan bahwa gejala-gejala tersebut tidak dapat dijelaskan akibat dari gangguan mental atau penyakit medis, dan setidaknya ada beberapa indikasi dari empat tanda kerasukan.
Adam Blai adalah seorang ahli dalam bidang demonologi dan eksorsisme untuk Keuskupan Pittsburgh. Ia merupakan anggota pembantu dari Asosiasi Eksorsis Internasional di Roma selama beberapa tahun. Blai adalah penulis buku “Hauntings, Possessions, dan Exorcisms,” sebuah buku panduan praktis untuk pertahanan melawan gangguan setan.
Sumber: “The Truth about Exorcism”
Posted on 27 November 2024, in Kenali Imanmu and tagged Demonologi, Dunia Roh, Eksorsisme. Bookmark the permalink. Leave a comment.


Leave a comment
Comments 0