Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…
Satu Yesus Asli, Dua yang Palsu
oleh Paul Senz

Carnival mask on the dark background (Sumber: catholic.com)
Jika Yesus bukan Allah, mungkinkah kita mengagungkan-Nya?
Yesus Kristus memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan, mereka yang menyangkal keilahian-Nya tampaknya mencari bebagai macam alasan untuk mengakui bahwa Dia adalah orang yang penting dan berpengaruh, meskipun mereka tidak mau mengakui keilahian-Nya dengan mengingkari hal yang diklaim oleh orang-orang Kristen yang membuatnya penting dan berpengaruh sejak semula. Banyak orang tampaknya enggan untuk mengabaikan atau mengesampingkan Dia. Mereka mencoba meremehkan pentingnya Dia, tetapi mereka tahu bahwa Dia penting. Jadi mereka harus menemukan alasan lain untuk mengagumi-Nya. Kita semua sudah sering mendengarnya: Yesus hanyalah seorang guru moral yang hebat, seseorang yang mengajarkan kepada kita semua untuk bersikap baik kepada satu sama lain, dan kita semua dapat belajar dari teladan kebaikan-Nya.
Ada banyak orang di seluruh dunia yang tidak memiliki keyakinan religius terhadap Yesus. Kata mereka, “Dia adalah seorang guru moral yang hebat,” atau “Kita dapat mengikuti teladan-Nya dalam hal kebersamaan dan penerimaan terhadap semua orang.” Namun, mereka dengan tegas menyangkal bahwa dia adalah Allah, dengan kata lain, mereka menyangkal bahwa Dia adalah seperti yang dinyatakan-Nya.
Masalahnya, jika Anda menyangkal keilahiannya, Anda akan menghadapi masalah yang cukup pelik. Dia adalah seorang manusia yang dengan jelas menyatakan keilahian bagi diri-Nya sendiri (lihat Lukas 22:69; Yohanes 10:30, 10:38, 14:7-10). Dia adalah seorang manusia yang pada saat dihadapkan pada penyiksaan dan eksekusi, Dia malah semakin menegaskan kepada para penyidik bahwa Dia benar-benar Putra Allah (lihat Lukas 22:70). Apakah mungkin untuk menyangkal klaim ini dan tetap mengagumi orang ini? Jika Dia bukan Allah, mungkinkah kita masih mengagumi seseorang yang mengklaim hal semacam itu bagi diri-Nya sendiri?
Jika sudah seperti itu, hanya ada tiga pilihan: 1) Dia berkata seperti yang dikatakan-Nya; 2) Dia tidak waras; 3) Dia sengaja berbohong. Argumen ini telah dikemukakan sebelumnya, terutama oleh C.S. Lewis dalam bukunya Mere Christianity, dan disebut sebagai trilema. Bagaimana kita menafsirkan klaim keilahian Yesus, dan apa implikasinya?
Secara logika, ada sejumlah kemungkinan yang terbatas, yang semuanya bersifat mutually exclusive1 dan salah satunya pasti benar. Apa yang ditunjukkan dalam trilema Lewis adalah mencari berbagai kemungkinan dan membuat sebuah kasus yang paling masuk akal untuk bisa dipercaya.
Trilema ini bukanlah argumen yang kuat mengenai keilahian Yesus. Trilema tidak menunjukkan kebenaran klaim ini dengan mengajukan argumen kepada otoritas apa pun, atau dengan menjabarkan alasan-alasan secara logis dan sistematis untuk mempercayai bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi lebih seperti argumen yang mendukung untuk mempercayai keilahian Yesus. Pertaruhan Pascal muncul dalam benak kita: meskipun bukan merupakan bukti eksistensi Allah, namun bisa menjadi pembuktian akan masuk akalnya iman. Trilema Lewis adalah semacam pembuktian deduktif: ada tiga pilihan, dua di antaranya tidak masuk akal, sehingga jawaban yang benar adalah yang ketiga. Pertanyaannya adalah: apakah dia adalah Allah, orang gila, atau pendusta?
Argumen ini biasanya disebut dengan trilema, namun ada juga yang memberikan pilihan keempat: legenda. Di sini kita mempertimbangkan kemungkinan bahwa Alkitab tidak dapat diandalkan secara historis, sehingga kita tidak dapat mengetahui dengan pasti bahwa Yesus (jika Dia benar-benar pernah ada) pernah benar-benar mengaku sebagai Tuhan, sehingga kisah-kisahnya hanya akan menjadi legenda belaka. Pilihan ini biasanya tidak disertakan dalam percakapan, karena ini akan mengalahkan tujuan dan melemahkan pertanyaan. Kita dapat dengan mudah mengakhiri percakapan sejarah dengan mengatakan, “Mungkin hal yang dimaksud tidak pernah terjadi.” Pikirkanlah: seseorang dapat bertanya apakah penjatuhan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki dapat dibenarkan secara moral atau tidak, dan ditutup dengan seseorang yang mengatakan, “Itu tidak pernah terjadi, jadi pertanyaannya tidak relevan.” Hal ini tidak memberikan kontribusi apa pun pada percakapan tersebut. Mengenai eksistensi historis Yesus, buktinya terlalu banyak untuk disangkal. Kita harus menerima fakta bahwa Dia mengaku sebagai Allah dan menjawab pertanyaan itu dari sana.
Tidak ada yang bisa menjelaskan argumennya sebaik Lewis sendiri, jadi inilah kutipan yang relevan dari Mere Christianity:
Di sini saya mencoba untuk mencegah siapa pun mengatakan hal yang sangat bodoh dan sering dikatakan orang tentang Dia: Saya siap menerima Yesus sebagai seorang guru moral yang hebat, tetapi saya tidak menerima klaimnya sebagai Allah. Itulah satu hal yang tidak boleh kita katakan. Seseorang yang hanyalah seorang manusia dan mengatakan hal-hal seperti yang dikatakan Yesus tidak akan menjadi guru moral yang hebat. Dia akan orang gila, setingkat dengan orang yang mengatakan bahwa Dia adalah telur rebus, atau Dia adalah setan dari neraka. Anda harus menentukan pilihan Anda. Entah orang ini adalah Putra Allah dan memang benar Putra Allah, atau orang gila atau sesuatu yang lebih buruk. Anda dapat membungkam-Nya karena Dia adalah orang bodoh, Anda dapat meludahi-Nya dan membunuh-Nya seperti setan atau Anda dapat tersungkur di kaki-Nya dan memanggil-Nya Tuhan dan Allah, tetapi janganlah Anda datang dengan omong kosong yang merendahkan bahwa ia adalah seorang guru manusiawi yang hebat. Beliau tidak menyatakan demikian kepada kita. Beliau juga tidak berniat seperti itu.
Argumen ini juga dikemukakan dalam konteks yang agak berbeda oleh St. Thomas Aquinas lebih dari tujuh ratus tahun sebelum Lewis. Dalam Lectura super Ioannem, dalam prolog untuk tafsiran Injil Yohanes, Aquinas mengatakan bahwa alasan Yohanes menulis Injilnya karena, “setelah para penginjil lain menulis Injil mereka, muncullah ajaran-ajaran sesat tentang keilahian Kristus yang menyatakan bahwa Kristus adalah manusia biasa seperti yang diajarkan secara sesat oleh Ebion dan Kerintus. Maka Yohanes Penginjil yang telah memperoleh kebenaran tentang keilahian Firman dari sumber mata air yang paling dalam, menulis Injil ini atas permintaan umat beriman. Dan dalam Injil itu, ia menyampaikan kepada kita doktrin keilahian Kristus dan membantah semua ajaran sesat.”
Jika penceramah ini adalah orang gila? Apakah dia gila, tanpa pegangan pada realitas? Jika demikian, tidak seorang pun boleh mengambil pelajaran tentang etika (atau apa pun juga) dari orang ini. Seseorang yang tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang realitas tidak boleh dijadikan panutan untuk mendapatkan nasihat apa pun dan tidak dapat dianggap sebagai guru moral yang hebat.
Jika penceramah ini adalah pendusta? Dan jika ya, apakah itu penting? Apakah kita masih bisa mempercayai bahwa ajaran moralnya benar? Sejujurnya, tidak. Seseorang yang sengaja berbohong bahwa dirinya adalah Allah bukanlah orang yang dapat dipercaya untuk memberikan nasihat dan bimbingan etis. Orang ini adalah seorang narsis dalam arti yang paling teknis dan klinis; individu yang egois, mementingkan diri sendiri, dan tidak memiliki belas kasihan. Tidak persis seperti gambaran seorang guru budi pekerti yang hebat.
Tampaknya pilihan ketiga yang terakhir adalah benar: Yesus adalah Tuhan.
Catatan kaki:
- Suatu kejadian yang bersifat saling lepas atau tidak bisa terjadi secara bersamaan. Dalam hal ini suatu pilihan pasti benar, dan pilihan yang lainnya adalah salah.
Posted on 30 January 2025, in Apologetika and tagged C. S. Lewis, Yesus Kristus. Bookmark the permalink. Leave a comment.


Leave a comment
Comments 0