Dampak dari Lagu Liturgis yang Buruk

oleh Sarah Cain

Musik (Sumber: catholic.com)

Lagu Misa bukan bertujuan untuk menghibur, tetapi ada tujuan yang lebih agung.

Baru-baru ini topik musik liturgis mendapat perhatian, setelah keuskupan Jefferson City mengeluarkan sebuah memo yang melarang penggunaan lagu-lagu dan komponis tertentu dalam Misa, khususnya yang dianggap bermasalah secara doktrinal oleh USCCB (Konferensi para uskup di Amerika Serikat). Tentu saja, hal itu menimbulkan reaksi yang kuat dari beberapa orang, tetapi kita harus berhenti sejenak dan mempertimbangkan untuk apa fungsi musik dalam Misa. Hanya dengan cara itulah larangan ini dapat dipahami dengan semestinya.

Meskipun jarang diungkapkan dengan lantang, kesalahpahaman yang umum terjadi adalah musik ditujukan untuk menghibur umat. Bagaimanapun juga, itulah tujuan kebanyakan musik di luar liturgi. Dengan pemikiran yang sama, beberapa orang berpikir bahwa musik dinyanyikan sebagai pengisi jeda waktu atau mencegah keheningan yang mungkin terasa janggal ketika umat “tidak bisa melakukan apa-apa,” misalnya saat imam membersihkan bejana.

Apa yang luput dari semua ini adalah Misa bertujuan untuk didoakan, baik oleh para rohaniwan maupun umat awam. Musik Misa tidak dimaksudkan untuk menghibur pada saat umat merasa bosan, melainkan menjadi bagian dari liturgi. Katekismus menjelaskan:

Tradisi musik Gereja semesta merupakan kekayaan yang tak terperikan nilainya, lebih gemilang dari ungkapan-ungkapan seni lainnya, terutama karena nyanyian suci yang terikat pada kata-kata merupakan bagian Liturgi meriah yang penting atau integral (KGK 1156).

Terkadang kata “partisipasi” digunakan untuk merujuk kepada umat awam dalam Misa yang maknanya sering disalahartikan. Kita berpartisipasi baik secara internal (batiniah) maupun eksternal (lahiriah) selama Misa. Partisipasi batiniah kita dilakukan dengan berdoa dalam Misa, yang merupakan sebuah tindakan penyembahan. Partisipasi lahiriah kita adalah dengan menggerakkan tubuh kita untuk mengajarkan jiwa kita tentang disposisi yang seharusnya dimiliki secara batiniah. Jadi, sikap berlutut atau nyanyian kita harus mengekspresikan dan meningkatkan doa kita kepada Allah. Semua itu harus mencerminkan apa yang seharusnya terjadi di dalam batin kita.

Di sanalah letak sesuatu yang sangat penting. Musik bukanlah tentang kita; melainkan tentang Dia. Seperti segala hal lainnya dalam Misa, musik harus difokuskan pada Sang Transenden, bukan pada kita atau apa yang mungkin ingin kita dengarkan. Kesukaan pribadi kita bukanlah yang menjadi masalah, melainkan musik apa yang paling indah dan hormat yang dapat kita persembahkan kepada Allah dalam penyembahan.

Gereja kita memiliki perbendaharaan nyanyian dan polifoni yang indah yang berusia berabad-abad. Kita tidak kekurangan pilihan. Lebih jauh lagi, apa yang sakral tidak harus rumit. Ada banyak pilihan lagu bagi para pemimpin paduan suara berdasarkan tingkat pengalaman paduan suara mereka tanpa mengorbankan penghormatan.

Meskipun Misa harian yang hening dapat menjadi pengalaman kontemplatif yang berbuah dalam hal doa, versi liturgi Gereja yang paling lengkap adalah Misa yang dinyanyikan. Musik suci dapat dilihat sebagai penghias liturgi dengan keindahan, menawarkan segala sesuatu yang kita miliki dalam satu tindakan penyembahan yang utuh.

Ketika kita memahami apa yang dicapai oleh musik di dalam diri kita, kita dapat mengatakan bahwa musik yang buruk tidaklah netral secara rohani karena musik mempengaruhi cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak terhadap Allah, Gereja, dan liturgi. Jika musik yang kita nyanyikan buruk, tidak sesuai dengan ajaran dan tidak serius, maka musik tersebut akan menyampaikan sikap seperti itu dalam Misa. Hal ini mempengaruhi kita semua karena kita semua terpengaruh melalui tubuh kita. Ingatlah bahwa ini sebabnya mengapa hal-hal lahiriah penting, apakah itu cara kita berlutut atau sekadar menyatukan kedua tangan dalam doa. Postur tubuh dan gerak tubuh ini mengkomunikasikan dan menunjukkan apa yang sedang kita coba lakukan dan bagaimana perasaan kita. Demikian juga, ketika kita bernyanyi, kita harus mengomunikasikan kebenaran tentang siapa Allah dan apa yang seharusnya kita lakukan.

Jika hal-hal seperti ini mempengaruhi kita sebagai orang dewasa yang telah menerima katekese, terlebih lagi akan mempengaruhi anak-anak dan mereka yang tidak memahami Iman dengan baik. Kita bertindak sesuai dengan apa yang kita imani, jadi jika suasana Misa lebih mementingkan sisi untuk menghibur umat daripada penyembahan kepada Allah yang transenden yang kita muliakan dan kasihi, maka hal ini menjadi masalah.

Kenyataannya, pemikiran bahwa iman adalah untuk anak-anak, orang-orang yang kurang intelektual, dan primitif secara moral adalah klaim dari banyak orang ateis. Oleh karena itu, sungguh memalukan ketika pilihan kita menunjukkan kesetujuan terhadap penilaian yang keliru tersebut. Iman kita kaya dan cukup dalam untuk membangun dunia Barat. Kita seharusnya memperjuangkan tradisi kita yang telah berusia berabad-abad daripada mencoba untuk mengambil hati dunia modern dengan mengikuti apa yang sedang digemari.

Ketika kita memikirkan musik yang tepat untuk Misa, maka kita harus memikirkan musik yang pantas bagi Allah. Kita harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah musik ini menyampaikan rasa transendensi?” atau “Apakah musik ini terdengar seperti doa?” atau “Apakah musik ini membawa kita keluar dari diri kita sendiri?”

Ingatlah bahwa ini bukan hanya tentang syair lagu pujian. Sebagai contoh, naskah kuno yang indah yang digubah dalam irama karnaval hampir tidak dapat disebut sebagai sesuatu yang sakral. Selama berabad-abad, Gereja telah memberikan panduan tentang alat-alat musik yang dapat diterima untuk liturgi. Organ selalu menjadi pilihan utama yang disukai setelah suara manusia, sedangkan band dan alat musik lain semacam itu dianggap tidak pantas sebagai pengiring musik sakral.

Keindahan, kekhusyukan, dan keluhuran Misa tidak dapat dilepaskan dari musik sakral yang mengiringinya. Jika kita ingin bergabung bersama dalam penyembahan yang pantas pada saat Tuhan dihadirkan kembali dalam Misa, kita harus menyadari keagungan yang ada di hadapan kita. Kita melakukan hal itu dalam setiap aspek liturgi yang diiringi dengan musik yang indah dan sakral, serta dijadikan sebagai persembahan yang agung.

 

Sumber: “The Problem with Bad Church Music”

Posted on 26 March 2025, in Ekaristi and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.