AI Bisa Seperti Manusia?

oleh Pat Flynn

Robot dengan AI (Sumber: catholic.com)

Singkatnya, tidak. Berikut ini tiga alasannya.

Pertanyaan yang ingin saya jawab dalam artikel ini adalah: apa yang menjadikan manusia tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI)? Lebih tepatnya, bagaimana kita dapat mempertahankan pandangan Kristen tentang kemanusiaan/humanitas ketika robot dapat meniru kemanusiaan dengan hampir sempurna? Apakah keduanya akan sulit dibedakan, atau haruskah ada perbedaan di antara keduanya? Dan jika demikian, apa perbedaannya?

Kami memulai dengan membahas apa yang secara istimewa dimiliki oleh manusia, dari perspektif Kristiani. Saya akan menyebutkan aspek-aspek paling penting, sejauh mana aspek-aspek tersebut menandai perbedaan mendasar yang sejati dengan AI, dan kemudian menjelaskan mengapa AI bukanlah manusia dan tidak dapat menjadi atau memiliki apa yang dimiliki manusia dalam hal-hal ini.

  1. Manusia adalah substansi

Dalam istilah Aristoteles, manusia adalah makhluk dasar yang terpadu secara erat, suatu entitas yang memiliki prinsip kesatuan intrinsik—dan tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi komponen material dasarnya.

Memang, dalam banyak substansi, dan terutama dalam manusia, terdapat tingkat sistem kekuatan atau kemampuan yang nyata dan seringkali baru—misalnya, kemampuan berpikir konseptual—yang tidak dapat sepenuhnya atau memadai dijelaskan hanya dengan komponen-komponen penyusunnya.

Pertimbangkan betapa banyak komponen material dalam tubuh kita—organ dan sel—tidak hanya memiliki fungsinya masing-masing, bahkan sifatnya pun ditentukan oleh posisinya sebagai bagian dari keseluruhan. Misalnya, jantung hanya dapat diidentifikasi sebagai jantung dalam sistem peredaran darah, yang fungsinya melayani sistem tersebut; mata hanya dapat diidentifikasi sebagai mata dalam sistem visual yang memungkinkan penglihatan; dan bahkan sel-sel hanya memperoleh sifat-sifat spesifiknya—otot, hati, kulit—melalui peran mereka dalam kesatuan terorganisir organisme. Kita bisa berkata, seluruhnya memiliki prioritas atau kendali atas bagian-bagiannya—sifat yang luar biasa dan tak terbantahkan. Dan ada hal-hal yang dapat dilakukan manusia—kekuatan baru yang esensial—yang tidak dapat dijelaskan secara memadai hanya melalui koordinasi dan operasi mekanis bagian-bagian material penyusunnya.

Hal ini tidak berlaku untuk AI. AI bukanlah entitas yang terpadu secara ketat, melainkan kumpulan komponen yang sepenuhnya berbeda, sama seperti radio, komputer, atau mobil. Prinsip kesatuan AI bersifat eksternal yaitu apa kita tentukan sendiri. Fungsi apa pun yang ditampilkan oleh AI hanyalah agregat mekanis dari komponen-komponennya yang beroperasi dalam susunan yang kita rancang. Tidak ada pusat kesatuan yang terpadu dalam AI, dan AI pada dasarnya dapat direduksi menjadi jumlah komponen-komponennya (algoritma, parameter, hardware, dan data pelatihan—tidak lebih, selain makna yang dimilikinya hanya dalam hubungannya dengan pikiran kita, bukan secara intrinsik). Setiap “kemampuan” yang ditampilkan AI sepenuhnya berasal dari operasi terkoordinasi bagian-bagian ini; tidak ada hal baru yang muncul pada tingkat keseluruhan. Lebih jelas lagi, tidak ada “keseluruhan” yang sejati yang berdiri di atas dan melampaui konstituennya sama sekali.

Hal ini tidak berlaku bagi manusia. Manusia adalah substansi, makhluk yang secara alami dan intrinsik bersatu; AI adalah artefak, sesuatu yang hanya memiliki kesatuan yang bersifat aksidental yang ditanamkan oleh pikiran (yaitu, pikiran kita).

Kini saatnya untuk membahas dua dari kekuatan-kekuatan yang tidak dapat dipisahkan ini—berpikir (atau memahami) dan berkehendak.

  1. Manusia adalah makhluk yang berpikir

Berpikir konseptual berarti memahami konsep yang pasti (tepat dan tidak ambigu) tentang sesuatu atau suatu unit dengan makna yang tepat. Hal ini bukanlah sesuatu yang dimiliki atau dilakukan oleh AI. Faktanya, AI sama sekali tidak memahami apa pun. Simbol-simbol yang dimanipulasinya tidak memiliki makna bagi mesin itu sendiri; mereka hanya memiliki makna sejauh kita menafsirkannya atau memberikan makna kepadanya. Tanpa adanya pikiran untuk menafsirkannya, simbol-simbol tersebut hanyalah bentuk-bentuk tidak bermakna yang ada di dalam mesin itu sendiri.

Seperti yang akan dijelaskan oleh ChatGPT sendiri, apa yang sebenarnya dilakukan mesin ini adalah melakukan pengenalan pola yang sangat kompleks: ia mengubah teks menjadi representasi numerik, mencocokkan angka-angka tersebut dengan pola yang diambil dari data pelatihan, menghitung distribusi probabilitas atas kemungkinan token berikutnya, dan kemudian menghasilkan kelanjutan yang secara statistik paling mungkin. (Dengan kata lain, mesin ini seperti versi yang lebih canggih dari fitur autocomplete di ponsel Anda.) Tidak ada satupun dari proses tersebut—secara harfiah tidak ada satupun—yang memerlukan pemahaman atau penguasaan makna di balik simbol-simbol yang diprosesnya.

AI beroperasi sepenuhnya pada tingkat manipulasi simbol formal, tanpa kesadaran intrinsik tentang apa yang diwakili oleh simbol-simbol tersebut. Memang, AI bahkan tidak “memahami” aturan yang diikuti; ia hanya secara mekanis berpindah dari satu keadaan fisik ke keadaan lainnya—seperti roda air yang berputar, hanya saja jauh lebih kompleks.

Bagi mereka yang sudah familiar, inilah tepatnya inti dari pemikiran terkenal John Searle tentang Eksperimen Ruangan Tionghoa (The Chinese Room Argument). Singkatnya, Searle membayangkan seorang pria yang tidak memahami bahasa Mandarin terkunci dalam sebuah ruangan. Dia diberi simbol-simbol aksara Tionghoa dan buku petunjuk (ditulis dalam bahasa Inggris) yang menjelaskan secara tepat cara memanipulasi simbol-simbol tersebut untuk menghasilkan output yang sesuai (yaitu, kalimat yang koheren). Dari luar ruangan, seolah-olah dia memahami bahasa Mandarin—jawabannya tidak dapat dibedakan dari jawaban penutur asli. Namun, di dalam ruangan, dia sama sekali tidak memahami bahasa Mandarin. Dia hanya mengikuti aturan formal dalam manipulasi simbol.

Pendapat Searle adalah bahwa sintaksis/syntax (aturan formal untuk memanipulasi simbol, yang jelas dapat diikuti oleh mesin) bukanlah semantik (makna). Manipulasi simbol semata-mata—bahkan manipulasi yang sempurna—tidak menghasilkan atau menyiratkan pemahaman atau makna. Dengan kata lain, seberapa pun benar manipulasi simbol, tidak sama dengan pemahaman; keduanya adalah aktivitas yang secara kategoris berbeda. Pemahaman bukanlah hasil komputasi sama sekali, melainkan suatu tindakan pikiran—ranah di mana makna ada dan melalui mana segala sesuatu yang bermakna memperoleh maknanya.

Alasan lain untuk berpendapat bahwa pemahaman tidak sepenuhnya bersifat komputasional karena pemahaman harus bersifat immaterial. Mengapa? Karena segala sesuatu yang sepenuhnya fisik secara inheren bersifat tidak pasti—dengan sendirinya tidak membawa makna yang tepat atau ambigu, tetapi selalu terbuka untuk rentang interpretasi makna yang sangat luas (bahkan berpotensi tak terbatas). Contoh sederhana untuk menggambarkan hal ini, yang diambil dari filsuf Edward Feser (berdasarkan karya James Ross), adalah segitiga yang digambar di papan tulis. Apa yang digambarkannya? Segitiga merah? Segitiga sama kaki? Bentuk abstrak segitiga? Atau bahkan band pop yang terlupakan bernama Triangle? Tidak ada satu pun sifat fisiknya sendiri yang dapat menentukan makna tersebut. Tanda-tanda fisik selalu secara inheren tidak pasti, sedangkan pemikiran konseptual bersifat pasti—misalnya pemahaman kita tentang segitiga sebagai entitas itu tepat dan tidak ambigu. Kita tahu persis apa yang kita pikirkan dengan makna yang tepat.

Namun, satu hal tidak dapat menjadi yang lain, artinya apapun yang terjadi dalam aktivitas konseptual kita, bukanlah hal atau operasi yang murni fisik. Namun, jika AI terdiri sepenuhnya dari operasi fisik—dan kita memiliki alasan yang kuat untuk berpikir demikian—maka AI tidak dapat berpikir seperti kita berpikir, karena aktivitas intelektual kita secara inheren melibatkan dimensi yang benar-benar non-fisik. Dan sejauh AI tampaknya menghasilkan konten yang ditentukan, hal ini hanya karena kemampuan pengenalan pola AI yang canggih mampu menghasilkan output yang sesuai dengan struktur pemikiran dan bahasa manusia yang familiar—struktur yang hanya ada karena kita telah menetapkan ruang relevansi melalui konsep-konsep kita sendiri.

AI beroperasi dalam lingkup konseptual yang dibentuk oleh makhluk yang benar-benar memahami apa itu, misalnya, segitiga; setiap bagian dari sistem ini dibatasi oleh kerangka konseptual kita yang sudah ada sebelumnya. Dengan kata lain, kepastian terletak pada akal kita, bukan pada operasi fisik yang tidak pasti dari mesin[1].

  1. Manusia adalah makhluk yang berkehendak

Secara tradisional, kehendak dipahami sebagai selera rasional—dalam praktiknya, kemampuan kita untuk mengakhiri pertimbangan, sebuah keputusan akhir “Saya memilih ini.” Namun, karena kehendak secara inheren terkait dengan akal—sejak pertimbangan melibatkan peninjauan “ruang alasan” atau konsep—tindakan menimbang alasan untuk memilih, misalnya, es krim cokelat daripada vanila (misalnya, karena kelezatannya), memerlukan tepatnya jenis aktivitas konseptual yang dijelaskan pada poin sebelumnya, yang secara fundamental tidak dimiliki oleh AI.

Sebenarnya lebih dari itu. Secara tradisional, diyakini bahwa kehendak secara alami tertuju pada kebaikan itu sendiri (yang pada akhirnya berujung kepada Tuhan), dan bahwa tidak ada objek yang terbatas dapat secara sendiri menentukan kehendak, karena setiap hal yang terbatas selalu dapat dipandang dari sudut pandang yang berbeda—sebagai lebih atau kurang diinginkan, lebih atau kurang sempurna atau tidak sempurna, memiliki atau tidak memiliki kualitas tertentu. Oleh karena itu, kehendak adalah kekuatan aktif kita untuk mengakhiri pertimbangan, untuk memberikan dorongan akhir pada suatu objek keinginan yang tidak cukup kuat untuk memengaruhi kita. Ia membutuhkan keputusan akhir kita: “Saya memilihmu.”

Kekuatan inilah yang sama sekali tidak dimiliki oleh AI. AI sepenuhnya ditentukan oleh prosedur fisik; karena tidak dapat memahami dan tidak berkehendak. Karena AI mengikuti hukum fisik yang tetap, dengan jelas AI ditentukan oleh hukum-hukum tersebut. Namun, jika manusia—atau setidaknya aspek tertentu dari manusia, seperti yang saya yakini terkait dengan akal dan kehendak—benar-benar bersifat immaterial, maka apapun yang ingin dikatakan tentang benda-benda fisik yang ditentukan oleh hukum fisik, pertimbangan-pertimbangan tersebut jelas tidak berlaku untuk kekuatan-kekuatan non-fisik atau immaterial.

Saya baru saja mengidentifikasi tiga perbedaan antara manusia dan mesin yang tidak dapat diatasi: manusia adalah (1) substansi yang terpadu secara erat yang (2) berpikir dan (3) berkehendak—dan pemahaman yang tepat tentang apa arti konsep-konsep ini, serta apa itu AI memberi kita alasan yang kuat untuk berpendapat bahwa AI tidak akan pernah memasuki ranah metafisik manusia.

Namun, perbedaan-perbedaan ini bergantung pada suatu konsepsi tertentu tentang manusia—tidak hanya konsepsi Kristen, tetapi juga gambaran filosofis klasik tentang manusia secara lebih luas. Jika seseorang tidak sependapat dengan konsepsi ini dan justru berpendapat bahwa pikiran manusia, serta segala hal yang terjadi di dalamnya, pada dasarnya bersifat komputasional, maka orang tersebut dapat berpendapat bahwa AI tidak hanya berpotensi menjadi segala hal yang dimiliki manusia, tetapi dalam arti tertentu sudah melakukannya—bahkan mungkin telah melampauinya.

Saya tekankan kembali kesimpulannya: AI sebaiknya dipahami sebagai simulasi (simulasi yang mengesankan, tetapi tetap sebatas simulasi). Seperti yang dicatat oleh Feser, Arthur C. Clarke pernah berkata bahwa “teknologi yang cukup canggih tidak dapat dibedakan dari sihir,” tetapi paling jauh hal ini berarti kita mungkin salah mengira teknologi canggih sebagai sihir, bukan berpikir bahwa teknologi itu menjadi sihir dalam arti sebenarnya. Kita tahu bahwa itu bukanlah sihir, tepatnya karena kita tahu bahwa hal itu dihasilkan oleh teknologi. Demikian pula, tidak peduli seberapa canggih program komputer suatu saat nanti, program itu tidak akan menjadi kecerdasan. Berpikir sebaliknya hanya akan membingungkan penampilan suatu benda dengan benda itu sendiri.

Catatan tambahan: Pembaca mungkin akan terhibur dengan cerita ini, tepat sebelum menyelesaikan artikel ini, anak perempuan saya memasukkan sepotong kecil lilin ke dalam hidungnya. ChatGPT langsung memberikan instruksi tentang cara melakukan “mother’s kiss” untuk mengeluarkannya—memberikan solusi instan untuk apa yang seharusnya menjadi insiden dramatis. Meskipun mungkin bukan apa yang dimiliki manusia, AI tentu memiliki keuntungannya sendiri dan seperti teknologi lainnya pada akhirnya AI akan berfungsi sebagai pelipatganda kekuatan untuk tindakan baik maupun buruk. Pada saat itu, setidaknya saya bersyukur memiliki teknologi ini.

 

Catatan kaki:

[1] Untuk menghindari kesalahpahaman: apa yang saya kemukakan tidak bermaksud untuk menyangkal peran otak (mungkin yang tak tergantikan) dalam kognisi manusia. Yang disangkal adalah bahwa aktivitas otak saja sudah cukup untuk menjelaskan apa itu pemahaman. Seperti yang saya jelaskan dalam buku The Best Argument for God, pertimbangan semacam ini hanya membenarkan pernyataan berikut: meskipun kita tidak dapat berpikir tanpa otak, kita tidak berpikir dengan otak. Otak mungkin merupakan syarat yang diperlukan untuk pikiran manusia, tetapi bukan syarat yang cukup untuk fungsi pikiran manusia—setidaknya sejauh yang berkaitan dengan pikiran formal dan konten konseptual.

 

Sumber: “Can AI Become Just Like Man?”

Posted on 14 February 2026, in Apologetika and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.