Kemurnian dalam Masa Pacaran

oleh Rachel Hoover Canto

Couple (Sumber: catholicmatch.com)

Pertanyaan yang selalu muncul: ‘Sejauh mana batasannya yang disebut lewat batas itu?’

Hubungan seksual di luar perkawinan: Apa yang diajarkan Gereja Katolik

Jika Anda Katolik, Anda mungkin tahu bahwa ajaran Gereja melarang hubungan seksual dengan siapa pun selain pasangan Anda. Katekismus (KGK) menyatakan,

Percabulan adalah hubungan badan antara seorang pria dan seorang wanita yang tidak menikah satu dengan yang lain. Ini adalah satu pelanggaran besar terhadap martabat orang-orang ini dan terhadap seksualitas manusia itu sendiri, yang dari kodratnya diarahkan kepada kebahagiaan suami isteri serta kepada turunan dan pendidikan anak-anak. Selain itu ia juga merupakan skandal berat, karena dengan demikian moral anak-anak muda dirusakkan.

Pengajaran ini berdasar pada Perintah Keenam, “Jangan berzina,” dan ayat-ayat Alkitab lain yang memperingatkan kita tentang imoralitas seksual, seperti dalam 1 Korintus 6:18.

Sejauh mana yang disebut melewati batas dalam pacaran Kristiani?

Anda mungkin pernah mendengar peringatan supaya tidak “lewat batas” dengan pacar Anda. Tapi sejauh mana “lewat batas” itu?

Beberapa orang menganjurkan untuk tidak berciuman sampai hari perkawinan, atau menghindari hampir semua kontak fisik setidaknya hingga pertunangan. Alasan mereka adalah bahwa sentuhan dan ciuman dapat membawa Anda ke jalan yang licin menuju perzinahan, atau menciptakan ikatan emosional yang berlebihan yang menjadi dasar yang rapuh suatu relasi. Yang lain menganjurkan lebih banyak perhatian fisik dalam relasi, menekankan pentingnya mengetahui apakah Anda memiliki “rasa,” asalkan Anda menghindari perzinaan. Apa kebenarannya?

Untuk menjawab itu, kita perlu mundur sejenak dan memahami mengapa tindakan yang bukan hubungan seksual tetap bisa dianggap dosa sebelum perkawinan, terlepas dari apakah tindakan tersebut mengarah pada perzinaan atau tidak.

Dosa terhadap kemurnian dimulai dari hati

Pertama, Yesus memperingatkan kita agar tidak memandang seseorang dengan nafsu. “Setiap orang yang memandang perempuan hingga menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:28 TB2).

Apa arti dari “nafsu”? Katekismus menjelaskan bahwa nafsu adalah “satu kenikmatan yang tidak teratur dari keinginan seksual atau satu kerinduan yang tidak teratur kepadanya” (2351). Kemudian dijelaskan bahwa kenikmatan seksual menjadi tidak teratur “dikejar karena dirinya dan dengan demikian dilepaskan dari tujuan batinnya untuk melanjutkan kehidupan dan untuk hubungan cinta kasih.” Dengan kata lain, mencari kenikmatan seksual dalam ikatan suami istri yang terbuka terhadap kehidupan baru adalah baik, tetapi mencari kenikmatan seksual di luar konteks tersebut adalah salah.

Selain itu, Perintah Kesembilan berbunyi, “Jangan mengingini istri sesamamu.” Dengan menggabungkan hal ini dengan peringatan Yesus tentang “siapa pun yang memandang hingga menginginkannya,” kita dapat menyimpulkan bahwa, menurut Allah, meskipun kita tidak pernah berdosa secara lahiriah terhadap kemurnian dengan berbuat cabul atau berzina, kita tetap dapat berdosa secara batiniah terhadap kemurnian dengan membiarkan pikiran dan hawa nafsu yang menguasai diri kita. Berfantasi secara sengaja tentang hubungan seksual dengan orang lain yang bukan pasangan Anda adalah dosa, karena sikap dari kehendak yang penuh nafsu sama saja dengan jika Anda benar-benar melakukan fantasi tersebut.

Berciuman sebelum perkawinan, dosa?

Di mana letak perbuatan seperti berciuman? Tidak ada perintah Alkitab atau paragraf Katekismus yang secara khusus membahas hal ini. Namun, Thomas Aquinas membahas pertanyaan ini dalam Summa Theologiae, dengan bertanya, “Apakah sentuhan dan ciuman dapat menimbulkan dosa mortal?” Ia menyimpulkan bahwa ciuman, belaian, dan sebagainya tidak berdosa secara inheren jika dilakukan tanpa kenikmatan nafsu, tetapi dapat menjadi dosa berat jika menyebabkan seseorang menyetujui kenikmatan nafsu, atau jika dilakukan demi kenikmatan tersebut (II-II, p. 154, j. 4).

Perhatikan bahwa Thomas tidak mengatakan, “Ciuman adalah dosa,” atau “Satu ciuman boleh, tapi berciuman mesra tidak boleh.” Sebaliknya, ia menekankan bahwa menyetujui kenikmatan nafsu adalah dosa. Dengan demikian, ciuman dan sentuhan menjadi dosa jika dilakukan untuk menggoda seseorang untuk jatuh ke dalam nafsu, atau jika dilakukan dengan sengaja untuk merasakan kenikmatan seksual di luar perkawinan.

Membedakan batasan fisik dalam pacaran

Hal ini sangat penting. Gereja tidak memiliki aturan yang tegas tentang kapan, bagaimana, dan seberapa sering seorang Katolik boleh mencium pasangannya, sama seperti Gereja tidak memiliki aturan tentang berapa banyak roti selai kacang yang boleh dimakan seorang Katolik dalam sehari. Setiap orang harus menilai sendiri apakah konsumsi selai kacangnya sudah berlebihan, dan apakah cara dia menyentuh dan mencium pacarnya sudah termasuk nafsu.

Apa yang dimaksud dengan kenikmatan nafsu? Nafsu seksual kita adalah hal baik yang diciptakan oleh Tuhan. Gairah—bangkitnya hasrat tersebut—adalah respons alami terhadap rangsangan. Oleh karena itu, gairah bukanlah dosa atau hal yang buruk; hal yang baik dan normal, sama seperti rasa lapar. Namun, gairah adalah persiapan tubuh untuk berhubungan seksual. Oleh karena itu, gairah dapat menjadi godaan untuk berbuat dosa jika terjadi di luar konteks perkawinan.

Tentu saja, nafsu seksual dapat menggoda kita untuk berbuat dosa secara lahiriah dengan melakukan perzinaan. Atau, nafsu tersebut dapat menggoda kita untuk berbuat dosa secara batiniah, dengan menginginkan seseorang yang bukan pasangan kita (atau belum menjadi pasangan). Karena nafsu seksual cenderung sangat kuat, godaan ini sering kali menjadi kesempatan yang mendekati dosa. Karena itu, Gereja mengajak kita untuk menghindari kesempatan mendekati dosa, karena cinta kepada Allah dan kesadaran akan kelemahan kita sendiri. Oleh karena itu, di luar perkawinan, kita dipanggil untuk menghindari hal-hal yang secara wajar dapat diharapkan akan menimbulkan gairah seksual dan bisa menjadi kesempatan yang hampir menyebabkan dosa.

Inilah bagian yang rumit: setiap orang dan setiap pasangan mungkin terangsang dan tergoda oleh hal-hal yang agak berbeda. Jadi, jawaban untuk “Sejauh mana disebut  melewati batas?” seringkali jawabannya, “Tergantung.”

Namun, bukan berarti seks dan nafsu adalah hal baru—sehingga kita dapat belajar dari kebijaksanaan orang lain dan mengadopsi beberapa batasan yang berguna sebagai titik awal. Misalnya, psikolog Katolik Mario Sacasa menyoroti dalam kursus daringnya “Dating Well” bahwa ada dua batasan minimal yang harus diadopsi oleh semua orang. Pertama, tetaplah mengenakan semua pakaian Anda; kedua, hindari menyentuh “zona erotis” di tubuh Anda. Melepas pakaian dan menyentuh organ seksual adalah tanda-tanda yang sangat jelas menuju hubungan seksual, dan tidak ada orang (kecuali dokter) yang akan melakukan hal-hal ini tanpa niat untuk memberikan atau memperoleh kenikmatan seksual.

Bertumbuh dalam kemurnian dan rahmat

Selain itu, saya menemukan konsensus yang cukup jelas di antara para ahli dan pasangan bahwa ciuman singkat biasanya tidak masalah [untuk konteks Indonesia, ciuman singkat ini lebih tepat ciuman di pipi atau dahi karena ciuman singkat di bibir secara budaya timur bukan hal yang umum], tetapi “berciuman dengan penuh gairah” umumnya dapat membangkitkan gairah dan sebaiknya dihindari. Seorang wanita menceritakan bahwa dia dan suaminya saat ini menerapkan aturan tiga ciuman (tidak lebih dari tiga ciuman berturut-turut dalam satu waktu) dan aturan “tanpa lidah,” untuk menghindari ciuman berubah menjadi sesi berciuman yang penuh gairah. Seorang lainnya menceritakan bahwa dia dan suaminya memilih untuk menunda ciuman pertama di bibir hingga hari perkawinan tiba, tetapi mengekspresikan kasih sayang dengan cara lain, termasuk ciuman sesekali di pipi atau dahi. Keduanya telah membuat pilihan yang berbeda namun sah sesuai dengan ajaran Gereja.

Jadi, pasangan yang sedang berpacaran dapat menerapkan batasan-batasan dasar ini—tetap mengenakan pakaian, tangan tidak menyentuh area erotis, dan ciuman (jika terjadi) tidak berubah menjadi sesi berciuman yang intens. Kemudian, mereka dapat melatih kesadaran diri untuk menyadari apakah ada hal lain yang membuat mereka tergoda oleh nafsu, dan bersama-sama mendiskusikan penyesuaian batasan-batasan tersebut dengan semangat berdoa.

Catatan terakhir: Godaan bukanlah dosa, jadi tidak perlu terlalu ketat jika Anda bermaksud mengekspresikan kasih sayang dan tidak sengaja mengalami rangsangan. Namun, jika suatu tindakan secara rutin membuat Anda terangsang dan menggoda Anda untuk berbuat dosa, itu adalah peringatan untuk menghindari tindakan tersebut di kemudian hari. Dan jika Anda telah menyetujui kenikmatan nafsu, baik dalam pikiran maupun perbuatan, mengaku dosa akan memberikan banyak manfaat, bukan hanya anugerah pengampunan saja, tetapi juga rahmat untuk tumbuh dalam kemurnian dan menghindari dosa yang sama di masa yang akan datang. Tidak ada yang dilahirkan dengan kemurnian yang sempurna; dengan anugerah Tuhan, kita harus melatih kemurnian seperti otot dan bertumbuh di dalamnya seiring waktu.

 

Sumber: “Chastity in Dating: Not Just ‘No Sex’”

Posted on 6 March 2026, in Keluarga and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.