Berjumpa dengan Kristus di Sumur Saat Masa Prapaskah

oleh Clement Harrold

Gesù e la Samaritana al pozzo karya Giacomo Franceschini (Sumber: wikipedia.org)

Dua hari Minggu awal Prapaskah selalu menyajikan bacaan yang sama: pencobaan di padang gurun dan transfigurasi. Namun, ketika kita sampai pada hari Minggu Ketiga, kita mulai mendapatkan variasi yang lebih beragam tergantung pada tahun liturgi yang sedang kita jalani.

Karena Masa Prapaskah 2026 jatuh pada Tahun A dalam siklus leksionari, Injil untuk Minggu Prapaskah Ketiga tahun ini adalah Injil Yohanes tentang perjumpaan Kristus dengan perempuan Samaria di sumur (lihat Yohanes 4:1-42).

Perikop Alkitab yang kuat ini juga menjadi bagian dari materi untuk Episode II dari Bible Across America, yang dapat Anda tonton di sini.

Dalam tulisannya kali ini, kita akan membahas lebih dalam tentang pelajaran yang dapat kita ambil dari perjumpaan Kristus dengan perempuan Samaria dalam perjalanan Prapaskah kita.

Adegan Pertunangan

Lebih dari para penginjil lainnya, St. Yohanes menggambarkan Yesus sebagai mempelai laki-laki rohani.

Motif ini terlihat jelas dalam pertemuan dengan perempuan Samaria di sumur.

Pertama-tama, ada latar belakang tempat adegan ini berlangsung. Siapa pun yang memahami Perjanjian Lama tahu bahwa istri-istri Ishak (lihat Kejadian 24:10-67), Yakub (lihat Kejadian 29:1-30), dan Musa (lihat Keluaran 2:15-21) semuanya pertama kali bertemu di sebuah sumur.

Rincian ini mempersiapkan pembaca untuk memahami bahwa Yesus, yang digambarkan dalam bab sebelumnya sebagai “mempelai laki-laki” (Yohanes 3:29), secara sengaja mencari perempuan Samaria tersebut supaya dia bisa dijadikan mempelai perempuan rohani-Nya.

Detail penting lainnya adalah kenyataan bahwa perempuan Samaria tersebut sudah berkali-kali gagal dalam perkawinannya:

Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: “Tepat katamu bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau telah berkata benar” (Yohanes 4:17-18 TB2)

Dengan cara ini, kisah pribadi wanita tersebut sejalan dengan pengalaman sejarah orang Samaria secara keseluruhan. Dari 2 Raja-raja 17:24-31 kita mengetahui bahwa orang-orang Samaria kawin campur dengan lima suku pagan, setiap suku menyembah dewa laki-laki yang berbeda.

Praktik-praktik penyembahan berhala ini dengan keras dikecam oleh para nabi dari utara seperti Hosea, yang menuduh orang-orang Israel utara (termasuk orang Samaria) melakukan bentuk perselingkuhan dalam perjanjian mereka dengan Tuhan.

Pada saat yang sama, nabi itu menyampaikan pesan harapan bahwa Allah yang sejati suatu hari nanti akan memanggil seluruh Israel kembali kepada-Nya:

Aku akan memperistri engkau untuk selama-lamanya dan Aku akan memperistri engkau dalam kebenaran dan keadilan, dalam kasih setia dan rahmat. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN (Hosea 2:19-20 TB2).

Janji yang Allah ucapkan melalui Nabi Hosea mulai terwujud dalam pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur. Dan janji itu juga mulai terwujud dalam hidup kita sendiri, ketika kita mendengar suara Mempelai Laki-laki dan menanggapi panggilan-Nya.

Yesus Menjumpai Kita di Tempat Kita Berada

Baik perempuan Samaria maupun para murid merasa terkejut dengan kesediaan Kristus untuk berbicara dengannya.

Ketika Yesus pertama kali meminta minum kepadanya, perempuan itu menjawab, “Bagaimana mungkin Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang perempuan Samaria?” (Yohanes 4:9 TB2). Dan ketika para murid kembali setelah pergi membeli makanan, kita diberitahu bahwa mereka “heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan” (Yohanes 4:27 TB2).

Bagi seorang rabi Yahudi, berbicara sendirian dengan seorang wanita dianggap tidak pantas. Terlebih lagi, statusnya sebagai perempuan Samaria membuat situasi menjadi jauh lebih buruk.

Orang Samaria tinggal di wilayah geografis Samaria, daerah pegunungan yang terletak di antara Yehuda di selatan dan Galilea di utara. Samaria secara historis merupakan bagian dari Kerajaan Israel Utara, tetapi setelah penaklukan Asyur atas Israel Utara pada tahun 722 SM, orang Samaria menjadi penduduk yang terdiri dari campuran etnis dan agama.

Dari segi teologi, mereka hanya menerima lima kitab pertama Alkitab, dan pusat ibadah mereka adalah Gunung Gerizim, yang terletak dekat kota kuno Sikhem.

Dari sudut pandang orang Samaria, mereka adalah keturunan sejati dari suku-suku utara Israel yang telah memelihara agama Musa yang sesungguhnya.

Pada abad pertama, hubungan antara orang Yahudi dan Samaria begitu buruk sehingga orang Yahudi yang tinggal di utara kadang-kadang harus menghindari wilayah Samaria saat melakukan ziarah ke Yerusalem untuk mengikuti hari raya.

Hal ini memerlukan perjalanan yang lebih panjang dan hanya dapat dicapai dengan dua cara: cara pertama, mengikuti garis pantai Mediterania dan melewati kota pelabuhan Kaisarea Maritima, atau cara kedua, dengan menyeberangi Sungai Yordan dan melanjutkan perjalanan sepanjang Lembah Yordan, kemudian menyeberangi sungai kembali di dekat Yerikho.

Menariknya, pada kesempatan ini St. Yohanes memberitahu kita bahwa Yesus “harus melintasi daerah Samaria” (Yohanes 4:4) dalam perjalanan pulang-Nya dari Yudea ke Galilea.

Mungkin yang dimaksud dengan pernyataan ini adalah bahwa Samaria merupakan rute paling singkat.

Bagaimanapun, yang jelas adalah bahwa Yesus ingin datang ke tempat ini supaya Ia bisa berjumpa dengan perempuan Samaria di tempat asalnya. Dan begitulah, di tengah-tengah tugas sehari-hari yang monoton, perempuan Samaria itu bertemu dengan pasangan jiwanya di tempat yang paling tak terduga, dan ketika ia sama sekali tidak mengharapkannya.

Allah Haus (Mendambakan) akan Kita

Kita sudah membahas status perkawinan yang rumit dari perempuan Samaria.

Ada detail tambahan dalam narasi yang menyiratkan bahwa dia mungkin telah menanggung beban rasa malu akibat kegagalan-kegagalannya di masa lalu (dan sekarang).

St. Yohanes memberitahu kita bahwa waktu itu “kira-kira pukul dua belas (terjemahan asli adalah ‘jam keenam’ karena menurut perhitungan Yahudi, jam pertama adalah jam 6 pagi)” (Yohanes 4:6) atau tengah hari. Yang membuat detail ini aneh adalah bahwa waktu itu merupakan waktu terpanas dalam sehari—bukan waktu biasa untuk menimba air, kecuali jika Anda memang ingin menghindari orang lain.

Sungguh beruntung bagi  perempuan itu bertemu dengan seseorang yang mengubah segalanya.

Selama bertahun-tahun, putri Samaria ini mencari kebahagiaan dan kepuasan dalam hubungan manusiawi yang berdosa, namun tetap merasa haus akan sesuatu yang lebih. Namun kini, di hadapannya duduklah Dia yang dahaganya jauh lebih besar daripada rasa dahaganya sendiri.

Katekismus mengungkapkan misteri ini dengan indah dalam pembahasan tentang doa:

“Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah (Yoh 4:10).” Mukjizat doa justru menunjukkan diri di sana, di pinggir sumur, tempat kita mengambil air. Di sana Kristus bertemu dengan setiap orang; Ia mencari kita, sebelum kita mencari Dia, dan Ia meminta: “Berilah Aku minum!” Yesus kehausan; permohonan-Nya datang dari kedalaman Allah yang merindukan kita. Entah kita tahu atau tidak, di dalam doa kehausan Allah menemui kehausan kita. Allah merasa haus akan kehausan kita akan Dia (KGK 2560).

Dengan meminta perempuan Samaria untuk memberi-Nya minum, Yesus tidak sekadar meminta segelas air. Ia meminta hatinya. Dengan menanggapi undangan ini, ia akhirnya memperoleh kebebasan dari penyesalan dan rasa malu yang telah merusak jiwanya selama ini: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat” (Yohanes 4:39).

Pada momen krusial ini, perempuan Samaria menyadari bahwa dia dikenal, bahwa dia dicintai, dan bahwa hidupnya berubah total.

 

Bacaan lebih lanjut:

Brant Pitre, Jesus the Bridegroom: The Greatest Love Story Ever Told (Image, 2014)

 

Clement Harrold meraih gelar master dalam bidang teologi dari Universitas Notre Dame pada tahun 2024, dan gelar sarjana dalam bidang teologi, filsafat, dan studi klasik dari Universitas Fransiskan Steubenville pada tahun 2021. Dia seorang kolumnis untuk The Catholic Herald, dan tulisannya juga dimuat di First Things, Word on Fire, Church Life Journal, Our Sunday Visitor Magazine, Crisis Magazine, dan Washington Examiner.

 

Sumber: “Meeting Christ at the Well This Lent”

Posted on 7 March 2026, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.