Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…
Devosi Jalan Salib Tidak Alkitabiah?
oleh Shaun McAfee

Ikon Perhentian XII (Sumber: catholic.com)
Banyak perhentian diambil langsung dari Kitab Suci, tapi tidak semua.
Selama masa Prapaskah, umat Katolik berkumpul di paroki masing-masing untuk berdoa Jalan Salib, berpindah dari satu gambar ke gambar lainnya sambil merenungkan perjalanan Kristus menuju Kalvari. Devosi ini sangat akrab bagi umat Katolik, namun terkadang menimbulkan pertanyaan dan keheranan di kalangan teman-teman Protestan. Salah satu keberatan yang sering diajukan kira-kira berbunyi seperti ini: “Di manakah ayat Alkitab yang menyebutkan tentang Jalan Salib?”
Pertanyaan yang wajar. Beberapa perhentian seperti Simon dari Kirene yang menolong Yesus memikul salib berasal langsung dari Kitab Suci (Matius 27:32, Markus 15:21, Lukas 23:26). Sedangkan perhentian yang lain, seperti Veronika yang mengusap wajah Kristus dan Yesus yang jatuh tiga kali, tidak dijelaskan secara eksplisit dalam Injil. Karena itu, beberapa orang menyimpulkan bahwa Jalan Salib pasti tidak alkitabiah atau penambahan kemudian yang dimasukkan ke dalam kisah Sengsara. Dan umat Katolik pun harus menjawab.
Namun, kesimpulan itu mengemukakan suatu kerangka pemikiran keliru dalam memahami tujuan devosi Jalan Salib maupun laku kesalehan Kristiani yang sesungguhnya. Alih-alih bersaing dengan Kitab Suci, Jalan Salib merupakan cara terstruktur untuk merenungkan kisah Alkitab tentang sengsara Kristus, yang diperkaya oleh tradisi panjang Gereja dalam merenungkan peristiwa-peristiwa tersebut dalam doa.
Sebagian Besar Perhentian Berasal Langsung dari Kitab Suci
Pertama-tama, perlu dicatat bahwa sebagian besar empat belas perhentian yang berlaku umum berakar kuat pada kisah-kisah Injil.
Yesus dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus dicatat dalam keempat Injil (lihat Matius 27:24-26, Markus 15:15, Lukas 23:24-25, Yohanes 19:16). Yesus memikul Salib-Nya diceritakan dalam Yohanes 19:17. Simon dari Kirene yang menolong Yesus memikul salib diceritakan dalam Matius, Markus, dan Lukas. Yesus menghibur para wanita Yerusalem dicatat dalam Lukas 23:27-31. Penyaliban, wafat, dan pemakaman Sang Kristus semuanya dijelaskan secara rinci dalam Kisah Sengsara.
Oleh karena itu, ketika umat Katolik berdoa Jalan Salib, mereka tidak menjauh dari Alkitab. Mereka justru menelusuri kembali, selangkah demi selangkah, peristiwa-peristiwa utama dalam kisah Injil.
Sebenarnya, devosi ini mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang berulang kali diserukan oleh Kitab Suci sendiri: merenungkan penderitaan Kristus. Surat kepada Orang Ibrani mengimbau umat beriman, “Ingatlah selalu Dia yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa” (Ibrani 12:3 TB2). St. Paulus juga berkata kepada jemaat Korintus, “Sebab, aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1 Korintus 2:2 TB2).
Merenungkan Kisah Sengsara Kristus merupakan inti dari pesan Kristen. Jalan Salib memberikan sarana yang nyata untuk melakukannya.
Bagaimana dengan Perhentian yang Tidak Tercantum dalam Alkitab?
Namun, ada beberapa perhentian yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Kitab Suci. Contohnya adalah Yesus yang terjatuh karena beban salib, perjumpaan-Nya dengan ibu-Nya di sepanjang jalan, serta kisah Veronika yang mengusap wajah-Nya.
Apakah ini berarti devosi tersebut menambahkan detail fiktif ke dalam Injil? Tidak juga.
Pertama, beberapa unsur ini merupakan renungan yang masuk akal berdasarkan apa yang diceritakan dalam Injil. Para penulis Injil mencatat bahwa Simon dari Kirene dipaksa untuk memikul salib Yesus (Lukas 23:26). Hal ini sangat mengindikasikan bahwa setelah Yesus dicambuk dengan kejam dan mengalami nkelelahan fisik, Ia sedang berjuang menanggung beban berat. Merenungkan Dia yang tersandung-sandung di sepanjang jalan menuju Kalvari bukanlah suatu rekayasa yang tidak masuk akal; melainkan suatu renungan yang penuh doa atas apa yang tersirat dalam kisah Alkitab.
Kedua, unsur-unsur lain mencerminkan tradisi Kristen kuno atau refleksi teologis. Misalnya, salah satu kisah tidak diceritakan dalam Injil yaitu perjumpaan antara Yesus dan ibu-Nya, hal ini muncul secara alami dari penggambaran Injil mengenai peran Maria dalam penderitaan Kristus. Ketika Yesus yang masih bayi dibawa ke Bait Allah, Simeon menubuatkan kedukaan Maria: “Supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang. Suatu pedang juga akan menembus jiwamu sendiri” (Lukas 2:35 TB2). Gereja sejak lama merenungkan bagaimana nubuat itu terpenuhi selama masa Penderitaan. Dan jika Maria hadir saat penyaliban-Nya, masuk akal untuk menyimpulkan bahwa Maria sangat mungkin berada di suatu tempat dalam perjalanan-Nya menuju Golgota.
Demikian pula, kisah Veronica mengungkapkan kebenaran rohani tentang belas kasih terhadap Kristus. Meskipun tokoh Veronica sendiri berasal dari tradisi yang muncul kemudian, Injil memang mencatat adanya para perempuan di antara mereka yang mengikuti Yesus dalam perjalanan menuju Kalvari (Lukas 23:27). Devosi ini memberikan gambaran nyata atas belas kasih dan mengajak umat beriman untuk meneladaninya.
Dengan kata lain, perhentian-perhentian ini tidak mengklaim sebagai bagian tambahan dari Kitab Suci. Perhentian-perhentian ini merupakan renungan rohani yang muncul dari kisah Alkitab dan membantu umat beriman untuk memahami maknanya lebih dalam lagi.
Devosi dan Otoritas Gereja
Hal ini mengarah pada suatu poin yang lebih dalam yang sering terlewatkan dalam pembahasan mengenai devosi Katolik. Gereja selalu mendorong berbagai bentuk doa yang membantu umat beriman menghidupi Injil secara lebih utuh. Praktik-praktik ini (yang dikenal sebagai sakramentali dan devosi) tidak menggantikan sakramen-sakramen atau menambah wahyu ilahi. Sebaliknya, praktik-praktik tersebut menerapkan kebenaran-kebenaran iman ke dalam kehidupan sehari-hari umat beriman.
Jalan Salib termasuk dalam kategori ini.
Sepanjang sejarah, umat Kristiani sudah menemukan berbagai cara untuk mengenang dan merenungkan peristiwa-peristiwa sengsara Kristus. Salah satu bentuk devosi awal dikembangkan melalui ziarah. Umat Kristiani yang melakukan perjalanan ke Yerusalem menelusuri jalur yang diyakini sebagai rute yang dilalui Yesus dalam perjalanan menuju Kalvari, sambil berhenti di beberapa titik untuk berdoa dan merenung.
Seiring berjalannya waktu, praktik ini menyebar ke seluruh dunia Kristen, terutama karena perjalanan fisik ke Yerusalem tidak mungkin dilakukan oleh banyak orang. Karena sebagian besar umat beriman tidak dapat melakukan perjalanan ke Tanah Suci, gereja-gereja mulai membuat representasi visual dari Kisah Sengsara Kristus agar umat dapat secara rohani “menempuh” perjalanan yang sama. Pada akhirnya, Gereja menetapkan jumlah perhentian secara baku dan mendorong devosi ini sebagai sarana yang efektif untuk merenungkan kurban Sang Kristus.
Jika dipandang dari sudut pandang ini, Jalan Salib bukanlah tambahan pada kisah Injil, melainkan sebuah sarana pastoral. Jalan Salib membantu umat Kristiani mengingat apa yang diwartakan Kitab Suci: bahwa Putra Allah menderita dan wafat demi keselamatan kita.
Inkarnasi dan Penggunaan Gambar
Alasan lain mengapa Jalan Salib cocok untuk doa Kristiani adalah karena Jalan Salib mencerminkan prinsip Alkitab yang sangat mendalam: Inkarnasi.
Kekristenan bukanlah agama yang sepenuhnya abstrak. Sebagaimana dinyatakan dalam Injil Yohanes, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran” (1:14 TB2). Kisah keselamatan terungkap melalui peristiwa-peristiwa nyata dalam ruang dan waktu—peristiwa-peristiwa yang dapat dikenang, digambarkan, dan direnungkan.
Oleh karena itu, Gereja sejak lama menggunakan gambaran visual Injil untuk membantu doa. Sama seperti jendela kaca patri dan seni sakral yang menggambarkan adegan-adegan Alkitab, Jalan Salib secara visual memandu umat beriman melalui kisah Sengsara Kristus. Gambar-gambar tersebut mengarahkan perhatian kita kepada karya penyelamatan Sang Kristus.
Dengan cara ini, devosi melibatkan pikiran dan imajinasi, sehingga membantu umat beriman untuk lebih menghayati peristiwa penebusan.
Renungan Alkitabiah tentang Salib
Jika dilihat dari sudut pandang ini, pertanyaan “Apakah Jalan Salib itu alkitabiah? ” dapat dijawab dengan penuh keyakinan. Devosi ini berakar pada kisah-kisah Alkitab tentang Sengsara Kristus. Devosi ini mencerminkan tradisi panjang Gereja dalam merenungkan peristiwa-peristiwa tersebut. Dan devosi ini memenuhi seruan Alkitab untuk merenungkan kasih Kristus yang menderita.
Jalan Salib sama sekali tidak mengalihkan perhatian dari Kitab Suci, justru membawa umat beriman kembali langsung ke Kitab Suci. Jalan Salib mengajak kita untuk memperlambat langkah, mengikuti Kristus selangkah demi selangkah di sepanjang jalan menuju Kalvari, dan mengingat harga penebusan kita—persis seperti yang diserukan Injil kepada kita.
Posted on 24 March 2026, in Apologetika and tagged Alkitab, Devosi, Jalan Salib, Kitab Suci, Prapaskah, Yesus Kristus. Bookmark the permalink. Leave a comment.


Leave a comment
Comments 0