Advertisements

Beato Petrus Won Si-jang

Beato Petrus Won Si-jang (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Beato Petrus Won Si-jang (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Profil Singkat

  • Tahun dan tempat Lahir: 1732, Hongju, Chungcheong-do
  • Gender: Pria
  • Posisi/Status: Keluarga kelas biasa
  • Usia: 61 tahun
  • Tanggal Kemartiran: 28 Januari 1793
  • Tempat Kemartiran: Hongju, Chungcheong-do
  • Cara Kemartiran: Dipukuli

Petrus Won Si-jang lahir pada tahun 1732 di Eungjeong-ri, Hongju, Chungcheong-do (Sekarang, Seongdong-ri, Hapdok-eup, Dangjin-gun, Chungnam) pada keluarga kelas biasa. Antara tahun 1788 dan 1789, beberapa tahun setelah agama Katolik diperkenalkan ke Korea, dia dan sepupunya Yakobus Won Si-bo mendengar tentang pengajaran agama Katolik dan mereka menjadi Katolik. Pada saat itu Petrus Won berusia 57 tahun. Nama dewasanya adalah “Si-jang”.

Petrus Won memutuskan untuk meninggalkan rumahnya selama satu tahun untuk belajar Katekismus. Selama waktu itu dia menyadari bahwa “Iman Katolik adalah sebuah obat untuk menjaga kehidupan manusia tetap hidup untuk ribuan tahun”. Ketika dia pulang ke rumah, dia menjelaskannya kepada teman dan kerabatnya nilai-nilai utama dari Katekismus. Rahmat Tuhan memperkuat penjelasan-penjelasannya dan menggerakkan semua teman dan kerabat yang mendengarkan dia. Mereka semua berjanji untuk percaya kepada Tuhan. Tetapi pada saat itu, dia belum dibaptis.

Petrus Won memiliki julukan ‘harimau’ karena karakter dia yang liar dan buas. Tetapi setelah dia menjalankan kebajikan Kristiani dia tumbuh dalam kelembutan. Dia membagikan kekayaannya kepada orang miskin dan mengabdikan dirinya untuk mengajar Katekismus kepada tetangganya dan memperkenalkan mereka kepada Gereja. Karena aktivitasnya tersebut, namanya diketahui oleh hakim.

Pada tahun 1791, ketika Penganiayaan Sinhae terjadi, hakim dari Hongju mengirimkan polisi untuk menangkap Petrus Won dan Yakobus Won. Keponakannya berhasil lolos karena saran dari temannya, tetapi Petrus Won ditangkap dan dibawa ke kantor pemerintahan di Hongju. Petrus Won segera dibawa kepada hakim yang menginterogasi dia dan juga memaksa dia untuk meninggalkan imannya kepada Tuhan. Namun dia tidak menyerah, dia berkata, “Saya tidak dapat mengkhianati Tuhan maupun teman-teman Kristen saya, ataupun mengatakan dimana buku-buku Gereja berada.”

Hakim menjadi marah kepada dia, dan memerintahkan dia untuk dipukuli bagian bokongnya sebanyak tujuh puluh kali. Meskipun demikian, dia tetap melanjutkan penjelasannya mengenai tugasnya kepada Tuhan dan orang tua, dan mengajarkan agama Katolik.

Selama dia berada di dalam penjara, Petrus Won sering dipanggil kepada hakim untuk diinterogasi, dan diperintahkan untuk murtad. Namun demikian, dia tetap menjelaskan ajaran Katolik kepada hakim. Suatu hari, seorang beriman datang mengunjunginya di penjara dan membaptisnya.

Hakim dari Hongju melaporkan kepada Gubernur perihal Petrus Won, dan kemudian diberikan perintah untuk ‘memukul Won Si-jang sampai mati.’ Hakim membawa Petrus Won keluar dari penjara dan menyiksa dia kembali, tetapi dia tidak mengubah pikirannya. Kemudian hakim, melakukan upaya terakhir untuk menarik cintanya sebagai ayah. Petrus Won memiliki beberapa anak yang menunggu dia kembali dengan penderitaan yang besar. Setelah mendengar tentang anak-anaknya, namun Petrus Won menjawab demikian:

“Hatiku tergerak mendengar cerita tentang anak-anakku, tetapi sebagaimana Tuhan memanggil saya, bagaimana saya dapat menolak panggilan-Nya?”

Hakim dari Hongju ingin menyelesaikan kasus ini sesegera mungkin. Dia memerintahkan bahwa Petrus Won diberikan makanan terakhirnya, berdasarkan kebiasaan (sebelum dilakukan eksekusi kepada tahanan), kemudian dilakukan pemukulan mati, namun dia masih bertahan. Kemudian hakim memerintahkan untuk menyiramkan air kepadanya dan dibawa keluar kemudian ditinggalkan supaya dia membeku sampai mati.

Tak lama setelah air disiramkan kepada Petrus Won, air pun mulai membeku. Namun demikian, dia hanya merenungkan Kisah Sengsara Yesus. Kemudian, dia melakukan doa syukur terakhirnya, Petrus Won menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Saat itu tanggal 28 Januari 1793 (17 Desember pada penanggalan Lunar) dan dia berusia 61 tahun.

Sumber: koreanmartyrs.or.kr

Advertisements

Posted on October 10, 2014, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: