Advertisements

Beato Richard An Gun-sim

Beato Richard An Gun­-sim (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Beato Richard An Gun­-sim (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Profil Singkat

  • Tahun lahir: 1774
  • Tempat Lahir: Boryeong, Chungcheong-do
  • Gender: Pria
  • Posisi/Status: Umat Awam
  • Usia: 61 tahun
  • Tanggal Kemartiran: 1835
  • Tempat Kemartiran: Daegu, Gyeongsang-do
  • Cara Kemartiran: Meninggal dalam tahanan

Richard An Gun-sim lahir di Boryeong, Chungcheong-do pada tahun 1774. Dia menjadi seorang Katolik ketika dia masih muda. Setelah dia meninggalkan kampung halamannya dan dia pindah ke Gyeongsang-do demi mendapatkan kebebasan dalan menjalankan kehidupan beragamanya. Dia mengabdikan dirinya untuk menulis ulang buku-buku Katolik demi mencari nafkah bagi keluarganya.

Richard An adalah seorang yang memiliki sifat yang periang, sederhana dan baik hati. Dia menyambut siapa saja dengan kasih yang peduli, dan dia menikmati dalam mengajarkan Katekismus kepada orang-orang. Dia juga seorang ayah yang baik dan pendidik yang luar biasa bagi anak-anaknya.  Dia berdoa dan bermeditasi setiap hari, dan berpantang tiga kali seminggu.

Richard An ditangkap oleh polisi dan dibawa ke kepala petugas. Dia menjawab pertanyaan dari penyidik dengan kata-kata yang ambigu segingga dia akan dibebaskan. Setelah semuanya itu, dia merasa bersalah karena dia tidak cukup berani untuk mengakui imannya kepada Tuhan.

Pada tahun 1827 ketika Richard An mendengar Penganiayaan Jeonghae terjadi, dia tahu bahwa dia akan ditangkap karena menyebarluaskan banyak buku Gereja. Dia pergi ke tempat persembunyian dan menyiapkan dirinya untuk kemartiran. Dia ditemukan oleh polisi dari Sangju dan dia ditangkap.

Ketika melihat Richard An, kepala petugas dari Sangju ingin memastikan bahwa dia adalah seorang Katolik, dia memerintahkan agar dia memberitahukan beberapa doktrin agama Katolik. Richard An memberitahukan kepadanya beberapa doktrin penting dan menjelaskannya dengan singkat dan jelas. Kepala petugas bertanya kepadanya; “Melanggar hukum nasional adalah perbuatan yang tidak setia kepada raja. Apakah Anda berpikir demikian?” Richard An menjawab:

“Tuhan adalah Raja yang Mahatinggi dari alam semesta dan Bapa dari seluruh umat manusia. Oleh karena itu, kita harus menghormati Dia sebagai Yang Mahatinggi dan Bapa. Setelah itu kita dapat menghormati raja, orang tua kita dan kepala petugas.”

Kepala petugas memerintahkan agar Richard An menyangkal imannya kepada Tuhan dan memberitahukan nama-nama umat beriman. Namun dia menolak, dan dia menerima hukuman. Dia sering dipanggil menghadap kepala petugas utuk dihukum. Walaupun menjalani cobaan-cobaan, dia menyatakan imannya kepada Tuhan dengan heroik dan keteguhan hati. Kepala petugas menyadari bahwa dia tidak dapat mengubah pikirannya, memerintahkan agar dia dipindahkan ke Daegu.

Di kantor pemerintahan di Daegu, Richard An menjalani hukuman yang kejam. Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka dan darah. Namun semakin dia disiksa, semakin dalam cintanya kepada Tuhan. Dia dijatuhi hukuman mati dan dipenjarakan. Dia menghabiskan waktu delapan tahun di penjara, dia menjadi sakit karena disentri dan meninggal sebagai martir di penjara pada tahun 1835. Pada saat itu Richard An berusia 61 tahun.

Sumber: koreanmartyrs.or.kr

Advertisements

Posted on April 15, 2015, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: