Advertisements

Beata Barbara Choe Jo-i

Beata Barbara Choe Jo-­i (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Beata Barbara Choe Jo-­i (Sumber: koreanmartyrs.or.kr)

Profil Singkat

  • Tahun lahir: 1790
  • Tempat Lahir: Yeoju, Gyeonggi-do
  • Gender: Wanita
  • Posisi/Status: Janda dari keluarga kelas bangsawan
  • Usia: 50 tahun
  • Tanggal Kemartiran: 4 Januari 1840
  • Tempat Kemartiran: Jeonju, Jeolla-do
  • Cara Kemartiran: Dipenggal

Barbara Choe Jo-i adalah putri dari Marselinus Choe Chang-ju yang menjadi martir pada tahun 1801 di Yeoju, Gyeonggi-do. Dia mempelajari Katekismus ketika dia masih muda dan kemudian dia menjadi seorang Katolik. Setelah ayahnya menjadi martir, dia memiliki kehidupan yang menyedihkan. Cinta dan kemurahan hatinya kepada Tuhan dan kepada tetangganya sangat besar sehingga menggerakan hati banyak orang.

Barbara Choe menikah dengan putra dari Petrus Sin Tae-bo, namun suaminya meninggal pada usia muda dan dia menjadi janda. Dia tidak pernah menyatakan beban menjadi penyokong tunggal bagi ayah mertuanya. Ketika Penganiayaan Jeonghae terjadi pada tahun 1827 dia ditangkap bersama dengan ayah mertuanya, namun dia dibebaskan.

Dia sendiri menjadi tergantung kepada kerabat dan teman-temannya. Walaupun kesulitan hidupnya, dia tidak melupakan ayah mertuanya di penjara dan dia sering mengunjunginya. Dia berusaha mendukung ayah mertuanya dan juga umat Katolik lainnya di penjara.

Barbara Choe ditangkap ketika Penganiayaan Gihae pada tahun 1839 bersama dengan umat Katolik lainnya yang tinggal bersamanya di rumah Protasius Hong Jae-yeong di Gwangju, Jeolla-do. Barbara Choe dibawa ke Jeonju di mana dia pertama kali menjalani interogasi dan siksaan. Dia menahan semuanya dengan berani dan hati yang tenang. Dia dibawa menghadap gubernur. Dia mengaku dengan berani bahwa dia adalah putri dari Marselinus Choe yang menjadi martir pada tahun 1801, dan juga mengakui bahwa Petrus Sin yang menjadi martir di Jeonju pada musim semi sebelumnya adalah ayah mertuanya.

Setelah mendengar perkataan itu, gubernur berkata, ‘Anda tidak memiliki pilihan lain selain mati.’ Dia menjawab, “Sudah lama saya memiliki keinginan untuk mati bagi Tuhan, dan saya sudah mempersiapkannya.”

Barbara Choe ditahan di penjara sampai istana menyetujui hukuman matinya. Pada tanggal 4 Januari 1840 (30 November 1839 pada penanggalan Lunar), dia dibawa ke tempat eksekusi bersama dengan umat beriman lainnya. Dia dipenggal dan meninggal sebagai martir. Pada saat itu, Barbara Choe berusia 50 tahun.

Berikut ini adalah surat hukuman mati mengenai Barbara Choe:

“Choe Jo-i sama seperti ayahnnya dan juga ayah mertuanya mereka semua orang Katolik dan pengikut yang keji. Dia percaya akan agama Katolik sejak kecil. Dia sangat menjiwai agama itu sehingga dia tidak dapat meninggalkan agamanya. Dia menganggap ajaran agama Katolik sebagai hal penting dalam keluarganya dan hukuman sebagai peristiwa sehari-hari. Dia seperti pendosa yang melakukan dosa sepanjang waktu. Oleh karena itu, dia layak untuk mati.”

Sumber: koreanmartyrs.or.kr

Advertisements

Posted on May 5, 2015, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: