Hari Puasa & Pantang dan Masa Suci Quadragesima

40 Hari Prapaskah (Sumber: www.catholicsistas.com/)

40 Hari Prapaskah (Sumber: http://www.catholicsistas.com/)

Terima kasih kepada RD. Yohanes Istimoer Bayu Ajie yang telah memberikan penjelasan mengenai hal ini untuk menambah wawasan kami. (Di-update tanggal 28 Februari 2020)

Masa Prapaskah adalah masa pertobatan dalam menyambut Paskah Tuhan kita Yesus Kristus. Pada masa Prapaskah ini umat Katolik mengisi kegiatannya dengan berdoa, puasa (dan pantang) dan amal kasih. Masa Prapaskah ini kita memperingati 40 hari Tuhan Yesus berpuasa di padang gurun dan dicobai Iblis dan juga masa pengembaraan umat Israel di padang gurun setelah keluar dari tanah Mesir. Masa Tobat ini dimulai dari Rabu Abu sampai Sabtu Suci. Dan muncul angka 46 hari. Kok bisa begitu?

Ternyata dalam Masa Prapaskah ini ada dua macam perhitungan yaitu hari pantang dan puasa dan Masa Suci Quadragesima, yang keduanya berjumlah 40 hari [1]. Unik kan?

Masa pantang dan puasa Prapaskah

Hari Puasa dan pantang tidak menghitung hari Minggu. Dalam Masa Prapaskah terdapat enam hari Minggu, dengan rincian 5 hari Minggu dalam Minggu Prapaskah I sampai Minggu Prapaskah V dan satu hari Minggu Palma. Alasannya, hari Minggu tidak dihitung sebagai masa pantang dan puasa karena semua hari Minggu memperingati kebangkitan Kristus. Jadi pada hari Minggu ini tidak diperbolehkan untuk berpuasa dan melakukan tindakan silih termasuk pada Masa Prapaskah.

Dalam dokumen gereja yang bernama “Perayaan Paskah dan Persiapannya” (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis / Circular Letter Concerning the Preparation and Celebration of the Easter Feasts) yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat Ilahi (Congregatio de Cultu Divino) pada tanggal 16 Januari 1988, pada nomor 21 dituliskan demikian:

Pada Rabu Abu kaum beriman dengan menerima abu, memasuki masa yang diperuntukkan bagi pemurnian jiwa. Tanda tobat ini yang berasal dari tradisi alkitabiah dan melalui tradisi Gereja sampai kepada kita, berarti bahwa manusia itu pendosa yang mengakukan dosanya terbuka di hadapan Allah; dengan demikian ia mengungkapkan kemauannya untuk bertobat, di-bimbing pengharapan agar Tuhan berbelaskasih kepadanya. Dengan tanda ini mulailah jalan tobat yang bertujuan menerima sakramen tobat sebelum Hari Raya Paskah”[2]

Perhitungan Masa Puasa dan Pantang menurut Paus Gregorius adalah enam minggu dari Minggu Prapaskah I sampai Minggu Paskah, yakni sebanyak 42 hari. 42 hari ini dikurangi 6 hari Minggu maka berjumlah 36 hari. Maka supaya jumlahnya 40 hari beliau menyerukan supaya puasa Prapaskah dimulai 4 hari lebih awal yang jatuh pada hari Rabu.

Menurut tradisi kuno Gereja mengatakan bahwa Tuhan kita Yesus Kristus dilahirkan pada hari Minggu, dibaptis pada hari Selasa, dan memulai puasa di padang gurun pada hari Rabu. Selain itu Raja Salomo membangun Bait Allah pada hari Rabu, maka kita umat Katolik mempersiapkan tubuh kita menjadi Bait Roh Kudus dengan mulai melakukan pantang dan puasa Prapaskah pada hari Rabu Abu[3].

Masa Suci Quadragesima

Masa Quadragesima secara harfiah berarti empat puluh. Dasar perhitungan Quadragesima ini bukan dimulai dari Rabu Abu tetapi pada Minggu Prapaskah I dan berakhir pada Kamis Putih (sore) sehingga Masa Quadragesima selama 40 hari tidak terputus. Hal ini dijelaskan dalam dokumen gereja yang bernama “Perayaan Paskah dan Persiapannya” pada nomor 23 untuk melihat permulaan Masa Suci Quadragesima:

Hari Minggu Prapaskah I adalah permulaan Masa suci terhormat 40 hari. Dalam Perayaan Ekaristi Minggu ini dapat diungkapkan misalnya dengan prosesi masuk yang diiringi nyanyian Litani Para Kudus. Uskup harus mengadakan perayaan para pendaftaran para pelamar dalam gereja katedral atau juga dalam gereja lain, sesuai dengan kebutuhan pastoral. [4]

Setelah itu kita lihat di dokumen yang sama pada nomor 27:

Dalam Pekan Suci Gereja merayakan misteri keselamatan yang diwujudkan Kristus pada hari-hari terakhir hidup-Nya, sejak Ia sebagai Al Masih memasuki Yerusalem.
Masa Prapaskah berlangsung sampai dengan Kamis pekan ini. Dengan ekaristi Perjamuan Malam Terakhir mulailah ketiga Hari Paskah, yang meliputi Jumat Agung dan Sabtu Paskah, dan me-muncak dalam perayaan Malam Paskah dan berakhir dengan ibadat sore Minggu Paskah.[5]

Sebagaimana yang dijelaskan dalam Katekese Liturgi Romo Bayu, hal serupa disampaikan oleh Romo Joseph Previtali pada homilinya pada Minggu Prapaskah I. Romo Joseph Previtalli mengatakan tentang istilah “Minggu Invocabit” yang merupakan permulaan Masa Suci Quadragesima[6].

Berbicara Quadragesima maka tidak akan luput dari Septuagesima (tujuh puluh), secara teologis hal ini bermakna 70 tahun setelah bangsa Yahudi kuno dibebaskan dari pengasingkan di Babilonia. Mereka membangun kembali Bait Allah selama 46 tahun yang dihancurkan oleh bangsa Babilonia. Hal ini bermakna supaya kita membangun kembali bait Roh Kudus yaitu tubuh kita, yang sudah dibangun Allah pada pembaptisan kita dan kita hancurkan karena dosa kita[7].

Sekilas Bacaan Rabu Abu dan Minggu Prapaskah I

Jika kita memperhatikan bacaan Injil pada permulaan hari puasa dan pantang (Rabu Abu) dan permulaan Masa Suci Quadragesima pada Minggu Prapaskah I memberikan gambaran teologis mengenai kedua masa ini. Mari kita lihat:

Bacaan Injil Rabu Abu: Matius 6:1-6,16-18 yang memberikan pengajaran tentang beramal, berdoa, dan berpuasa.

Bacaan Injil Minggu Prapaskah I: Matius 4:1-11 (Tahun Liturgi A), Markus 1:12-15 (Tahun Liturgi B), dan Lukas 4:1-13 (Tahun Liturgi C). Semuanya mengisahkan Tuhan Yesus berpuasa di padang gurun selama 40 hari.

Kesimpulan

Perhitungan 40 Masa Suci Quadragesima menyertakan hari Minggu, sedangkan perhitungan 40 hari puasa dan pantang mengecualikan hari Minggu[8]. Silakan melihat gambar di bawah ini. Sungguh indah kan?

Quadragesima dan Puasa

Catatan kaki:

    1. Mengurai Kusut Prapaskah oleh RD Yohanes Istimoer Bayu Ajie
    2. Seri Dokumen Gereja No. 71: Perayaan Paskah dan Persiapannya, Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Wali Gereja Indonesia
    3. Why is Ash Wednesday is on a Wednesday? oleh Catholic Fortress
    4. Seri Dokumen Gereja No. 71: Perayaan Paskah dan Persiapannya, Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Wali Gereja Indonesia
    5. ibid.
    6. Invocabit Sunday: Temptation – What is it and how do we resist it?
    7. Why is Ash Wednesday is on a Wednesday? oleh Catholic Fortress
    8. Mengurai Kusut Prapaskah oleh RD Yohanes Istimoer Bayu Ajie

Posted on 18 March 2016, in Ekaristi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: