Advertisements

Tanda dan Simbol dalam Misa

Oleh Philip-Michael Tangorra

Credit photo: Josh Applegate (Sumber: stpaulcenter.com)

Untuk menyampaikan misteri keselamatan kita, liturgi suci menggunakan berbagai macam tanda dan simbol yang merupakan penyingkapan yang nampak dari misteri-misteri yang tidak kelihatan. Adapun misteri itu sedang dirasakan dan dihadirkan kepada kita. Karya seni, arsitektur, lagu, dan puisi linguistik dalam Misa dimaksudkan untuk mengangkat umat beriman supaya hati dan pikiran mereka bersatu dalam pujian, penyembahan, penghormatan dan kemuliaan yang dipersembahkan bagi Allah. Maka tanda-tanda yang nyata ini yang termasuk tata gerak, pergerakan para pelayan liturgi suci, pakaian liturgi dan penggunaan bejana-bejana kudus, diperuntukkan untuk “mengangkat hati kita” maka berbagai tanda-tanda itu harus indah agar dapat mengilhami kehadiran kasih, cahaya, dan keagungan Allah.

Citarasa kita terikat oleh keindahan, maka kita dibimbing kepada sumber keindahan itu yang merupakan Allah sendiri. Tanda-tanda liturgis yang suci memberi pengaruh terhadap persekutuan kita dengan Allah dalam kasih dan kekudusan, sebagaimana yang Paus Benediktus XVI nyatakan: “Seperti yang dikatakan oleh St. Bonaventura, di dalam Yesus kita merenungkan keindahan dan kemegahan pada sumbernya. Ini bukanlah sekadar estetika, namun cara yang nyata bagaimana kebenaran kasih Allah dalam Kristus berjumpa dengan kita, menarik kita, dan memuaskan kita, dan memampukan kita untuk keluar dari diri kita sendiri dan menarik kita pada panggilan sejati kita, yaitu kasih.” Keindahan liturgi adalah salah satu dari penyingkapan yang nampak dari tanda-tanda itu, lanjut Paus Benediktus XVI, yang mana membawa kita ke dalam misteri Trinitas, karena Allah sendiri itu indah.

Sakramen adalah tanda kehadiran nyata Allah di antara kita, dan sakramen itu memancarkan keindahan dan kemuliaan Allah. Penyingkapan kasih Allah memikat dan menarik kita ke dalam keinginan untuk mengikuti keagungan Allah, keinginan inilah yang menuntun kita untuk melakukannya dalam kehidupan kita, hal ini merupakan realitas yang disampaikan dalam tanda-tanda suci dalam liturgi. Tanda-tanda sakramental menarik pengalaman dan tindakan manusia ke pemenuhannya yang mulia, yang hanya dimungkinkan dalam keindahan kasih Ilahi.

Tindakan Kristus dalam liturgi suci mengambil tindakan manusia secara umum bagi semua budaya dengan tujuan agar semuanya bersatu dengan-Nya. Gereja mengekspresikan hal-hal yang tidak bisa diungkapkan ke dalam hal-hal sederhana yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari seperti air, roti, anggur, minyak dan garam. Sebagaimana dinyatakan dalam Katekismus demikian, “Karena mereka diciptakan oleh Allah, maka kenyataan yang dapat ditangkap oleh indera ini menjadi tanda karya Allah, yang menguduskan manusia, dan juga karya manusia yang menyembah Allah. Demikian berlaku pula untuk tanda dan lambang dalam hidup sosial manusia: mencuci dan mengurapi, membagikan roti dan minum dari cawan yang sama dapat menjadi pernyataan kehadiran Allah yang menguduskan dan terima kasih manusia terhadap Penciptanya (KGK 1148).” Tanda-tanda suci ini dikenali oleh semua orang, sehingga melalui tanda sakramental yang universal dan sehari-hari ini, Yesus dapat diketahui dan dipahami oleh seluruh umat manusia.

Roti merupakan gabungan dari banyak butiran-butiran gandum melambangkan banyaknya umat manusia yang datang untuk mempersembahkan diri mereka dalam kurban Perjanjian Baru dan Kekal dalam Kristus. Dalam Ekaristi kita memperbarui keikutsertaan kita dalam Perjanjian Baru, sebagaimana dalam Doa Syukur Agung doakan: “Terimalah dan minumlah: Inilah piala Darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.” Suatu perjanjian selalui dimateraikan dalam darah, oleh karena itu jika kita melihat kembali kurban dalam Perjanjian Ibrani, secara khusus kurban domba untuk penghapus dosa (lihat Imamat 4:32, 14:13, dan 14:24) sebagai gambaran awal kurban Perjanjian Baru dalam Kristus, Sang Anak Domba yang tak bercela. Katekismus menunjukkan banyak cara tentang kedatangan Kristus yang telah dinubuatkan sepanjang Perjanjian Lama: “Penyunatan, pengurapan, dan penahbisan para raja dan para imam, peletakan tangan, persembahan, dan terutama Paska, termasuk tanda-tlanda liturgis Perjanjian Lama ini. Gereja melihat di dalam tanda-tanda ini pratanda Sakramen-sakramen Perjanjian Baru (KGK 1150).”

Melalui tanda-tanda yang berdaya guna ini, Allah berkomunikasi serta menyatakan rahmat dan terang Kristus, “oleh karena kuasa dan karya Roh Kudus,” kepada Gereja, Umat Allah, bagi pengudusan dan keselamatan kita.  Kehidupan spiritual seorang Kristen itu tentu saja bersifat mistik (rohani bukan fisik –red.), sebagaimana dalam partisipasi aktif secara batiniah dalam liturgi suci kita akan menerima buah-buah Misteri Paskah yaitu pengampunan dosa dan ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal Kristus, yang disampaikan kepada kita dalam tanda-tanda dan simbol-simbol, sabda dan karya nyata, dalam liturgi suci. Oleh karena alasan ini, Konsili Vatikan II menekankan, “supaya kita selalu membawa kematian Yesus dalam tubuh kita, supaya hidup Yesus pun menjadi nyata dalam daging kita yang fana. Maka dari itu dalam korban Misa kita memohon kepada Tuhan, supaya dengan menerima persembahan korban rohani, Ia menyempurnakan kita sendiri menjadi  korban abadi bagi diri-Nya (Sancrosanctum Concilium 12).” Dengan mendalami tanda-tanda sakramental dan simbol-simbol liturgi, realitas-realitas ini menjadi meresap dalam diri kita dibandingkan dengan simbol-simbol lahiriah belaka.

Tanda dan simbol lahiriah digunakan dalam liturgi suci memengaruhi perubahan dalam diri kita. Tanda dan simbol itu bukan hanya memengaruhi apa yang mereka maknai, namun memengaruhi supaya memberikan daya guna. Daya guna itu seharusnya menjadikan kehidupan seseorang menjadi lebih kudus yang ditandai dengan kerendahan hati, keberanian, sikap hormat, kesalehan, kemurnian, iman, pengharapan, dan kasih. Supaya daya guna ini bisa terwujud, maka kira harus bekerja sama dengan rahmat Allah.

Sumber: “A Priest Explains the Signs and Symbols of the Mass”

Advertisements

Posted on 9 May 2019, in Ekaristi and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: