Kisah Mantan Gay – Kisah Luca Di Tolve

Oleh Roxanne King

Luca Di Tolve bersama keluarga (Sumber: ncregister.com)

Bunda Maria menunjukkan Luca Di Tolve jalan menuju Kristus.

DENVER – “Saya Luca Di Tolve. Dulu saya seorang gay. Sekarang saya sudah menikah dengan Terry, kami memiliki seorang putri dan saya bahagia. Inilah kisah saya … “

Begitulah yang ditulisakan dalam riwayat hidup Di Tolve yang berjudul “I Was Gay Once: I Found Myself in Medjugorje.” Dengan membaca cepat buku itu, dikisahkan seorang pria Italia berusia 49 tahun yang menceritakan ketertarikan sesame jenis ketika dia remaja dan didiagnosa sebagai homoseksual oleh seorang psikolog, dan juga tahun-tahunnya sebagai aktivis-selebritas untuk membela hak-hak kaum homoseksual, dia juga bergaul dengan Gianni Versace, Madonna, dan Putri Di – setelah dinobatkan sebagai “Mr. Gay” Italia pertama.

Dalam bukunya juga dikisahkan pertobatanya yang akhirnya dia menjadi Katolik dan penyembuhan defisit identitas gender melalui terapi reintegrasi. Sekarang Di Tolve dan istrinya, yaitu Terry memiliki misi untuk mendorong mereka yang mengalami ketertarikan sesama jenis yang tidak diinginkan, supaya mereka juga dapat menemukan kesembuhan dalam Kristus.

Untuk itulah, Di Tolve menjalankan organisasi nirlaba yang bernama Gruppo Lot dan meluangkan banyak waktu untuk berbagi kisahnya di Italia dan di seluruh dunia.

Baru-baru ini dalam sebuah tur untuk menjadi pembicara di Amerika Serikat, Di Tolve berbicara kepada koresponden National Catholic Register, yaitu Roxanne King, sebelum berbicara di hadapan anggota Neocatechumenal Way, sebuah katekumenat Katolik. Wawancara itu dilakukan dengan bantuan penerjemah. Dan telah dilakukan penyuntingan untuk kejelasan isi dan panjang naskah.

Bagaimana Anda melihat diri Anda sebagai seorang gay?

Tak lama setelah saya dilahirkan, ibu dan ayah saya berpisah. Mereka menikah karena pernikahan yang diatur, bukan karena cinta sejati. Mereka bercerai. Saya mulai merasakan dampak dari tidak adanya sosok seorang ayah dalam hubungan pertama saya dengan teman-teman sebaya saya. Saya merasakan banyak perasaan tidak aman, rendah diri. Ketika saya berusaha untuk menggabungkan diri dalam kelompok teman-teman saya, saya tidak bisa melakukannya. Saya takut.

Tumbuh hanya dengan bersama ibu, saya dimanja. Saya sangat sensitif. Teman-teman saya pun menyadari akan hal ini. Jadi saya merasa takut untuk bergabung kedalam kelompok anak laki-laki, walaupun saya suka berada di kelompok itu. Ada seperti penghalang, sebuah rintangan. Saya menyebutnya tindakan pertahanan. Karena takut terluka, sedikit demi sedikit, saya kehilangan kejantanan saya. Saya merindukan keindahan untuk melakukan seperti yang anak-anak laki-laki lainnya lakukan bersama – ada kehampaan dalam diri saya.

Pada masa puber, membuat saya merasakan ketertarikan seksual dan romantis terhadap anak laki-laki lainnya. Pada suatu malam, saya meneriakkan nama seorang anak laki-laki yang saya kenal. Dan pada waktu itu ibu saya merasa khawatir.

Dia membawa saya kepada seorang psikiater. Pada waktu itu saya berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Psikiater itu memberitahu ibu saya, “Putra Anda seorang homoseksual. Anda harus belajar menerimanya karena hal itu wajar.” Saya merasa diteguhkan oleh seorang dokter.

Saya bertemu dengan seorang pria yang lebih tua daripada saya, dia sangat berperilaku seperti perempuan. Dia memberi tahu saya, “Jangan khawatir; banyak orang seperti kamu. Saya akan mengajak kamu ke tempat-tempat yang indah di mana kamu akan menemukan seseorang yang mencintai kamu.” Saya masuk ke tempat pertemuan dunia gay.

Saya berasal dari keluarga miskin dengan ibu sebagai orang tua tunggal, jadi mereka menawari saya suatu kesempatan untuk menghasilkan uang sebesar $ 100 per hari dengan hanya menari, bagi seorang remaja hal itu luar biasa. Akhirnya saya mempunyai teman-teman seperti saya.

Kemudian, saya mengikuti kontes “Mr. Gay.” Saya mejadi “Mr. Gay” pertama di Italia. Oleh karena itu, saya menjadi terkenal baik di lingkungan gay maupun dunia mode di Milan. Saya bisa pergi ke gym. Saya berhasil. Pada usia sekitar 20 tahun, semuanya tampak luar biasa. Pada musim dingin, saya akan pergi ke Miami, dan pada musim panas saya akan pergi ke Sardinia bersama dengan pacar-pacar laki-laki yang kaya raya dan bersenang-senang. Inilah awal mula saya menjadi seorang gay.

Apa saya pengalaman Anda tentang gaya hidup homoseksual?

Saya menukar nilai-nilai Kristiani demi kesenangan: demi kekayaan finansial, mempunyai mobil mewah, dan orang-orang yang bergaul dengan saya. Sedikit demi sedikit, hal ini tidaklah cukup. Saya mencari cinta. Tak lama kemudian, hubungan-hubungan itu tidak memuaskan saya. Saya mempunyai pacar (pria –red.) namun kemudian saya akan putus dengannya atau dia memutuskan saya. Ada saja sesuatu yang tidak berjalan dengan baik.

Saya mulai berjuang sebagai seorang aktivis untuk mendapatkan hak-hak bagi kaum homoseksual. Saya mulai bepergian ke berbagai tempat. Suatu kali saya melihat papan iklan tentang pelayaran bagi gay, jadi saya membawa ide ini dari Amerika Serikat dan mulai mempromosikan pelayaran bagi gay dan biro perjalanan bagi gay dengan tujuan meningkatkan hubungan dengan pria dan dengan komunitas ini.

Di sekitar saya banyak teman-teman yang mulai sekarat karena AIDS. Suatu hari saya mengalami demam sepulang dari Miami. Setelah satu bulan, mereka mengetahui bahwa saya positif terjangkit HIV, hampir seperti AIDS. Jika saya tidak dirawat dengan segera, saya akan mati. Saya mengetahui ini satu hari sebelum pemakaman sahabat saya. Dia meninggal pada usia 24 tahun karena AIDS. Hidup mulai terasa seperti terjun bebas, dan saya semakin lemah. Dunia mulai hancur di sekitar saya. Namun, saya tetap melanjutkan gaya hidup sebagai gay. Saya tetap pergi ke gym, meminum vitamin. Saya mulai lebih banyak lagi minum alkohol. Saya mulai minum lebih banyak lagi narkoba. Pada malam hari saya akan tiba di rumah, rumah yang indah, pulang setelah mendapat pujuan dari orang banyak, tapi saya tidak punya seseorang yang hadir di sisi saya yang mencintai saya, kecuali mungkin selama dua malam, sebulan atau dua tahun saja. Saya muak karenanya.

Apa yang membuat Anda bertobat?

Obat-obatan yang saya minum untuk HIV membuat saya lebih kurus dan lebih buruk. Dalam diri saya ada semangat kematian yang membuat saya sedih. Suatu hari saya berkata, “Besok saya akan minum semua pil ini dan semua obat dan saya menyerah” seperti kebanyakan teman saya menghancurkan diri mereka sendiri dengan obat, pil, narkoba, dan alkohol.

Ibu saya memberikan beberapa ikon Santa Perawan Maria, ikon yang indah yang saya taruh di lorong rumah saya. Saya mulai berpikir, “Bunda Maria itu ada!” Saya memiliki kesadaran bahwa dia itu bukan sekadar gambar atau dongeng belaka. Pada saat itu, saya memohon bantuannya. Saya mengambil rosario. Saya tidak tahu tentang peristiwa-peristiwa dalam doa itu, tapi saya tahu doa-doanya. Dan saya mulai merasakan kedamaian dan kehangatan dalam diri saya dengan sedemikian rupa sehingga saya melihat Bunda Maria dalam lubuk nurani saya. Pada suatu saat saya berlutut seolah-olah terkena serangan jantung cinta. Hati saya diselimuti oleh cinta seorang ibu. Bunda Maria mengulurkan tangannya dan berkata, “Majulah.” Dia memahami penderitaan saya. Dia berkata, “Teruslah. Melangkahlah seperti seorang anak yang baru belajar berjalan. Jika kamu jatuh, Puteraku akan menggapaimu.” Saya mengerti bahwa saya bisa terus menjalani hidup ini.

Saya berhenti meninggalkan rumah, saya menjadi takut terhadap orang banyak dan kepanikan. Saya berpikir demikian, “Jika saya keluar rumah dan mengikuti Misa, saya akan membuat sebuah langkah seperti yang Perawan Maria katakan.” Saya mulai pergi ke gereja, dan saya merasakan bahwa saya perlu mengaku dosa. Ketika saya mengaku dosa, seolah-olah selubung yang menutup mata saya (kebutaan rohani) jatuh.

Akhirnya, saya tetap hidup. Saya merasa kuat. Di sanalah permulaan pertobatan saya.

Bagaimana Anda bisa mendapatkan kembali maskulinitas dan heteroseksualitas Anda?

Saya membaca sebuah buku karya Joseph Nicolosi, [almarhum] profesor Amerika dari California. Dalam buku itu, dia berkata tentang studi klinis tentang homoseksualitas dan juga tentang studinya mengenai homoseksualitas. Tulisan beliau membuat saya seperti disambar petir. Saya merasakan suatu hal yang sama persis dengan yang saya alami sekarang. Beliau berkata: Anda bukan seorang homoseksual; Anda seorang heteroseksual. Anda memiliki masalah homoseksual. Anda bisa kembali ke kodrat Anda sebagai heteroseksual; sepertinya Anda seorang heteroseksual yang terpendam. Saya melihat bahwa saya memiliki masalah dengan pertemanan dengan pria. Beliau berkata bahwa homoseksualitas adalah masalah dalam hubungan, bukan masalah seksual. Nicolosi berkata bahwa itulah lukanya: tidak mampu memiliki keakraban yang benar dengan pria lain. Saya segera menelepon Dr. Nicolosi di Amerika Serikat. Saya berbicara dengannya melalui Skype.

Saat itu begitu indah. Saya memutuskan untuk mengikuti jejaknya. Hal ini terjadi 22 tahun yang lalu.

Dia memperkenalkan saya kepada seorang psikolog yang bisa bekerja sama dengan saya di Italia, dia adalah Andrew Comiskey dari pelayanan Desert Stream Living Waters [of Grandview, Missouri; Comiskey menjadi Katolik pada tahun 2011]. Saya diberitahu olehnya bahwa dapat memadukan kembali kejantanan saya dan ketertarikan homoseksual akan hilang. Untuk pertama kalinya saya merasakan kemungkinan bahwa saya bisa memiliki keluarga. Sungguh indah. Berkat terapi inilah saya memulai perjalanan ini, dan setelah sekitar dua tahun saya mulai memiliki inisiatif untuk pekerjaan saya, untuk membuat keputusan, untuk bersikap tegas. Saya mulai berteman. Nicolosi berkata bahwa ketika Anda memiliki banyak hubungan pertemanan yang sehat, daya tarik homoseksual akan hancur. Hal ini terdengar mustahil. Apa yang membantu saya adalah doa dan iman, karena hal ini sangat sulit bagi saya.

Saya mulai mendedikasikan liburan saya untuk mengunjungi tempat-tempat ziarah yang paling indah di Eropa. Kelompok orang muda Kristen merupakan kesempatan baik untuk berteman sekaligus berlibur dengan disertai doa. Ada saatnya kita berada di pantai dan bersenang-senang dan saya menyadari bahwa saya tidak merasakan apapun melihat pria-pria dengan pakaian renang mereka. Pada saat itu, saya belum memiliki ketertarikan terhadap wanita, namun saya merasa bahagia. Maka dari itu, saya mulai berdoa dan memohon seorang wanita untuk datang dalam hidup saya. Pada saat itu saya berusia 30 tahun. Saya menginginkan seseorang yang mencintai saya. Suatu hari saya berangkat menuju Medjugorje (tempat ziarah di Bosnia-Herzegovina) untuk berterima kasih kepada Bunda Maria atas apa yang telah terjadi dalam diri saya. Pada saat itu bulan Mei, dan saya bertemu dengan beberapa orang teman. Kami memutuskan untuk kembali ke sana pada bulan Agustus untuk melakukan festival orang muda. Dan di sanalah, saya bertemu dengan istri saya. Dan kita langsung saling memahami.

Kami memiliki nilai yang sama. Kami ingin melakukan hal yang sama. Dan kami bertunangan pada tahun 2006, dan menikah pada tahun 2008.

Pesan-pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada mereka yang sedang berjuang dengan masalah ketertarikan sesama jenis?

Kami ingin memberikan sukacita yang telah kami terima ini kepada mereka yang menginginkannya. Kami mendirikan sebuah asosiasi (Grup Lot) yang membantu orang-orang yang dalam kebebasannya ingin berubah (dari homoseksualitas ke heteroseksualitas). Perkumpulan itu adalah perkumpulan penginjilan. Kita mengetahui banyak orang yang sudah mengubah hidupnya, sudah menikah dan memiliki anak-anak. Kita melawan ideologi gender karena kita tahu bahwa itu adalah pilihan. Kita ingin memberikan harapan. Studi ilmiah mengatakan bahwa homoseksualitas bukanlah kondisi genetik – Anda tidak dilahirkan dengan keadaan demikian.

Apa yang saya pedulikan adalah orang-orang memiliki kebebasan untuk menyelidiki (terapi reintrgrasi). Walaupun, pada masa ini ada perlawanan terhadap itu, bahkan ada hukum yang melarangnya. Kita orang Kristen percaya bahwa Yesus bisa menyembuhkan luka-luka kita. Bersama dengan psikoterapi yang baik, pria da wanita yang mengalami luka bisa dipulihkan maskulinitas dan femininitas mereka. Ketika luka-luka ini disembuhkan, maskulinitas dan femininitass seseorang bisa berkembang.

Anda bisa kembali kepada apa yang dirancang Allah sejak awal mula. Anda dapat mengalami kepenuhan sukacita dan kesempurnaan hidup.

 

Artikel mengenai Luca Di Tolve sudah berakhir di sini. Di bawah ini adalah informasi lanjutan mengenai terapi yang dimaksud di atas.

Website: http://reginadellapace.eu/

Buku:  I Was Gay Once: I Found Myself in Medjugorje

Penulis: Luca Di Tolve (Penerjemah Boris Iliev)
Penerbit: Lot Group, Queen of Peace, Roma
First English edition: 167 halaman
Versi Kindle: $9.90 (via Amazon.com)
Kata pengatar oleh Kardinal Robert Sarah, Prefek Kongregasi bagi Penyembahan Ilahi dan Disiplin Sakramen. Pembukaan oleh Uskup Giovanni D’Ercole dari Ascole Piceno, Italia.

Film Dokumenter: Free to Love
Film yang diproduksi tahun 2018 oleh Reintegrative Therapy Association menampilkan empat orang pria yang menjalani terapi reintegrasi yang dipelopori oleh Joseph Nicolosi seorang psikolog klinis yang juga penulis. RTA didirikan oleh psikolog klinis Joseph Nicolosi Jr.
Untuk meihat film itu di sini: ReintegrativeTherapy.com/documentary

Larangan terapi dan buku

Terapi reparatif, reintegratif dan konversi – apakah semua istilah itu sama?

Meskipun para aktivis “LGBTQ” mencampuradukan istilah itu semua dan menggunakan istilah-istilah itu secara bergantian yang mengacu kepada perawatan yang bertujuan untuk mengarahkan individu dari homoseksualitas ke heteroseksualitas, para kaum profesional yang terlibat dalam proses ini membuat perbedaan yang jelas tentang praktik-praktik dan tujuan itu, Berikut ini seklias pandang mengenai istilah-istilah itu dan mengapa istilah-istilah itu sering muncul di media belakangan ini.

Terapi Reparatif

Pada bulan Juli kemarin, para aktivis LGBTQ menekankan bahwa mereka bersikeras bahwa homoseksualitas adalah bawaan dan bersifat tetap – meskipun melalui ilmu pengetahuan belum menemukan gen “gay” dan consensus ilmiah menunjukkan bahwa seksualitas itu dinamis bagi beberapa orang – dan mereka melihat bahwa terapi di luar untuk penegasan adalah berbahaya, dan raksasa online Amazon menarik buku-buku Joseph Nicolosi dari katalognya. Nicolosi seorang Katolik yang saleh yang meninggal mendadak karena komplikasi flu pada tahun 2017, dia memelopori apa yang disebut terapi reparatif.

Nicolosi mempromosikan pemahaman klasik tentang homoseksualitas sebagai kehilangan keterikatan yang berakar dari trauma: Seorang anak tidak sepenuhnya mengenali dirinya dengan orang tua sesama jenis, hal ini menyebabkan suatu tindakan pertahanan yang mereka upayakan untuk “memperbaiki diri” dengan hubungan sesama jenis. Nicolosi berpendapat bahwa deficit identitas gender atau “luka gender” dapat diatasi dan disembuhkan.

Spesialisasinya adalah perawatan pria yang ingin menghilangkan ketertarikan sesama jenis dan mengembangkan potensi heteroseksual mereka. (Kisah para kliennya bisa dibaca di JosephNicolosi.com)

Selain menulis empat buku mengenai terapi reparatif, Nicolosi mendirikan dan mengarahkan Thomas Aquinas Psychological Clinic di Encino, California, dan juga salah satu pendiri dan mantan presiden dari organisasi profesional National Association for Research and Therapy of Homosexuality (NARTH), yang sekarang disebut Alliance for Therapeutic Choice.

Karena larangan yang dilakukan Amazon, buku-buku Nicolosi termasuk yang terbaru yang berjudul “The Best of Joseph Nicolosi” akan segera tersedia di JosephNicolosi.com. Dua karyanya, “Reparative Therapy of Male Homosexuality: A New Clinical Approach” dan “Healing Homosexuality: Case Stories of Reparative Therapy” sekarang tersedia di Rowman.com.

Terapi Reintegratif

Putra dari Nicolosi, Joseph Nicolosi Jr. yang juga seorang psikolg klinis, telah membangun atas warisan ayahnya dengan mendirikan dan mengarahkan asosiasi nirlaba yang disebut Reintegrative Therapy Association. Terapi reintegratif adalah istilah merek dagang yang merujuk kepada perawatan yang menggunakan intervensi berbasis bukti untuk menyelesaikan trauma dan kecanduan. Para penyedia haruslah psikolog klinis yang dilatih oleh dan mematuhi kode etik asosiasi. Sebagai penyedia yang membantu kliennya untuk menyelesaikan masalah trauma dan/atau kecanduan, perubahan dalam seksualitas seringkali merupakan efek sampingnya, seperti yang dikemukakan organisasi itu dalam situs webnya (ReintegrativeTherapy.com).

Free to Love, sebuah film tahun 2018 yang penuh wawasan diproduksi oleh asosiasi itu, yang menampilkan empat orang pria yang menjalani terapi reintegrasi. Film itu bisa ditonton di FreetoLoveMovie.com.

Terapi Konversi

Terapi konversi adalah istilah umum dan tidak ilmiah yang mengacu kepada upaya untuk mengubah (atau konversi) orientasi seksual seseorang. Sayangnya, tidak ada lisensi atau kualifikasi standar yang diperlukan bagi seseorang untuk mendirikan sebuah lokakarya sebagai “terapis konversi,” oleh karena itu, beberapa penawaran seperti suatu layanan yang bukan dilakukan oleh profesional dalam kesehatan mental dan perawatan yang dilakukan bervariasi dari terapi tradisional melalui percakapan sampai ke terapi aversi (keengganan) yang kontroversial. Sejak tahun 2012, yang dimulai di California, 18 negara bagian sudah melarang terapi konversi untuk anak di bawah umur.

“Bertolak belakang dengan apa yang … para aktivis dan pendukung mereka nyatakan di Amazon, ayah saya tidak pernah menganjurkan apa yang disebut terapi konversi,” tulis Joseph Nicolosi Jr. di kolom opini berita daring dan publikasi komentar The Daily Signal tanggal 10 Juli. “Ayah saya tidak ada hubungannya dengan praktik-praktik seperti ini dan yang serupa dengannya, dan sebagai seorang terapis, saya dengan sepenuh hati mengutuk konsep semacam itu.”

“Pelarangan buku oleh Amazon dan aktivis radikal LGBT mengungkapkan kemunafikan yang dilakukan secara terang-terangan dari para pemimpin gerakan LGBT sekarang ini: Mereka merayakan eksplorasi dari setiap jenis seksualitas sesuai dengan yang mereka bayangkan, kecuali jika eksplorasi itu mengarahkan seseorang ke gaya hidup heteroseksual yang tradisional. … Harapan saya adalah aka nada protes besar-besaran dari konsumen sehingga Amazon akan memikirkan kembali keputusannya. Jika tidak, buku-buku ayah saya tidak akan menjadi yang terakhir masuk daftar hitam.”

Seorang aktivis homoseksual yang paling bertanggung jawab membuat buku-buku Nicolisi dilarang di Amazon dengan menggunakan alat petisi daring, Change.org. Saat ini ada petisi daring di LifePetitions.com untuk mendesak Amazon untuk menarik keputusannya melarang buku-buku untuk membantu mereka yang tidak menginginkan ketertarikan sesama jenis.

 

Sumber: “Former Homosexual Activist Helps Others With Same-Sex Attraction”

Posted on 7 August 2019, in Kisah Iman and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: