Advertisements

Yesus Kristus dalam Lukisan Korea

Tuhan Yesus hidup dalam budaya Yahudi. Walaupun demikian, berbagai macam budaya dan etnis seringkali menggambarkan Yesus dan tokoh-tokoh lainnya dalam Kitab Suci sebagai bagian dalam budaya dan etnis mereka sendiri. Terkadang, hal ini dilakukan untuk melambangkan fakta bahwa Yesus datang demi semua bangsa di dunia.

Selama beberapa abad, Kekristenan berpusat di Eropa, maka tokoh-tokoh penting dalam sejarah keselamatan seringkali digambarkan seperti orang Eropa yang berkulit putih. Hal itu sah-sah saja, namun budaya lain juga sering menggambarkan dalam penampilan mereka sendiri.

Sang Pelukis

Lantas siapa yang melukis lukisan-lukisan ini? Dialah seorang seniman Korea yang bernama Kim Ki-chang (1914-2001). Dia memiliki nama pena Unbo. Dia berasal dari sebuah keluarga Kristen yang saleh. Ibunya mengenalkan dia dengan tulisan dan lukisan. Pada usia 16 tahun dia menjadi murid dari seorang seniman yang bernama Kim Eun-ho (1892-1979). Kemudian dia menikah dengan Park Rae-hyun, yang juga seorang seniman yang memiliki nama pena Uhyang.

Pada waktu itu, Unbo tinggal di rumah ibu mertuanya di Gunsan, Provinsi Jeolla Utara untuk mengungsi dari Perang Korea. Seorang misionaris Amerika yang bernama Anders Kristian Jensen mendorong dia untuk melukiskan peristiwa-peristiwa Kitab Suci dengan latar belakang Korea. Dengan bantuan temannya itu, Kim bisa fokus melukis selama perang terjadi, dan menyelesaikan dari peristiwa kelahiran, kehidupan, wafat, kebangkitan dan kenaikan Yesus selama satu setengah tahun. Istrinya memberikan kesaksian bahwa Unbo terlihat sangat damai ketika dia melukis “Kehidupan Kristus.”

Unbo pernah berkata demikian, “Saya berdoa supaya Perang Korea cepat berakhir dan untuk persatuan yang damai (antara Korea Utara dan Korea Selatan –red.), dan juga menenangkan pikiran menyakitkan yang saya alami melalui kuas.”

Kim Ki-chang meninggal dunia pada tahun 2001, karya-karyanya dipamerkan di Seoul Museum di Buam-dong, Seoul Pusat pada tahun 2013 untuk merayakan Natal dan 100 tahun Unbo yang jatuh pada tahun 2014. Pameran itu diberi judul “Yesus dan Domba Tuli” karena Unbo mengalami tragedi kehilangan pendengarannya ketika dia berumur 7 tahun karena demam tifoid.

Yi Joo-heon, direktur museum tempat lukisan karya Kim dipamerkan memberi kesaksian demikian, “Setiap lukisan ini merupakan hasil penelitian menyeluruh dari kehidupan Yesus dan budaya Barat. Dan sang seniman menambahkan adat istiadat tradisional Korea kepada lukisan itu. … Dia berpikir bahwa tragedi masa perang rakyat Korea bisa dibandingkan dengan penderitaan Yesus Kristus.”

Detail Lukisan

Selain memberikan banyak informasi mengenai sang penulis, Yi Joo-heon juga memberikan penjelasan mengenai lukisan-lukisan itu. Menurut dia banyak detil menarik yang bisa kita perhatikan, misalnya dalam lukisan “Kabar Sukacita kepada Santa Perawan Maria”ada sebuah mesin pemintal yang merupakan simbol kemurnian Maria.

Dalam lukisan “Kelahiran Tuhan Yesus” Bunda Maria mengenakan ssugaechima atau penutup kepala yang berbentuk seperti jaket luar hanbok daripada menggunakan kerudung pada umumnya.

Dalam lukisan “Kedatangan Para Majus” menggambarkan kanak-kanak Yesus yang berada di pangkuan Maria dikelilingi orang-orang bijak dari Timur dengan corak Korea yang khas. Rumah beratapkan jerami yang merupakan rumah bagi rakyat jelata pada zaman Joseon (1392-1910). Kanak-kanak Yesus yang mengenakan jeogori, jaket tradisional Korea untuk anak-anak yang memiliki corak garis-garis pelangi. Dan para orang bijak dari Timur menyembah Yesus dengan menggunakan jubah resmi menteri Joseon.

Dalam lukisan “Penyingkiran ke Mesir” menggambarkan kanak-kanak Yesus dan orang tua-Nya Maria dan Yusuf mengungsi ke Mesir setelah mengetahui Herodes Agung bermaksud untuk membunuh anak-anak di Betlehem, tempat kelahiran Yesus. Dalam lukisan itu, mengikuti ikonografi tradisional Eropa yang menggambarkan Maria dan kanak-kanak Yesus yang mengendarai keledai, sementara itu Yusuf berjalan kaki dan menggiring keledai. Ruang kosong di sebelah kiri dihiasi dengan bulan kecil dan ssugechima Maria yang tertiup angin memberikan kesan rahmat secara klasik dan keindahan yang unik dalam gaya lukisan Asia Timur terutama lukisan Korea abad ke -18.

Dalam lukisan “Pembaptisan Yesus” kita bisa melihat bahwa Unbo mencari inspirasi dari lukisan-lukisan religius Barat. Lukisan ini mengingatkan kita dengan lukisan terkenal karya Andrea del Verrocchio dan muridnya, Leonardo da Vinci.

Dalam lukisan “Yesus diadili di hadapan Pilatus,” serdadu Romawi yang menangkap Yesus digambarkan sebagai polisi di zaman Joseon dengan mengenakan pakaian tradisionalnya.

Dalam lukisan berbagai lukisan Yesus digambarkan sebagai seorang seonbi yaitu sarjana pada zaman Joseon yang menggambarkan seorang pemimpin, walaupun Ia dilahirkan sebagai anak tukang kayu. Yesus dilukiskan mengenakan gat (topi khas Joseon) dan dopo (pakaian khas Joseon). Malaikat digambarkan dengan seonnyeo atau makhluk rohani yang kekal dalam Taoisme. Latar belakang pemandangan dan kehidupan rakyat Korea sangat jelas terlihat di sini.

 

Kabar Sukacita kepada Santa Perawan Maria (Lukas 1:16-38)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Kelahiran Tuhan Yesus (Matius 1:18-25; Lukas 2:1-20)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Kedatangan Para Majus (Matius 2:1-12)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Penyingkiran ke Mesir (Matius 2:13-15)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

(Sumber: koreajoongangdaily.joins.com)

Pembaptisan Yesus (Matius 3:13-17; Markus 1:9-11; Lukas 3-21-22; Yohanes 1:32-34)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus memanggil murid-murid yang pertama (Matius 4:18-22; Markus 1:16-20; Lukas 5:1-11)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus memberi makan lima ribu orang (Matius 14:12-21; Markus 6:31-44; Lukas 9:10-17; Yohanes 6:1-13)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus berjalan di atas air (Matius 14:22-33; Markus 6:45-52; Yohanes 6:16-21)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus dan perempuan yang berzinah (Yohanes 7:53–8:11)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus diurapi oleh perempuan berdosa (Lukas 7:36-50)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus dielu-elukan di Yerusalem (Matius 21:11-9; Markus 11:1-10; Lukas 19:28-44; Yohanes 12:12-15)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Perjamuan Malam Terakhir (Matius 26:20-29; Markus 14:17-25; Lukas 22:14-23; Yohanes 13:21-30)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus di Taman Getsemani (Matius 26:36-46; Markus 14:32-42; Lukas 22:39-46)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus didera (Matius 27:30; Markus 15:18; Lukas 23:16; Yohanes 19:2-3)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus di hadapan Pilatus (Matius 27:11-26; Markus 15:1-5; Lukas 23:1-7; Yohanes 18:28-38)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus memanggul salib (Matius 27:32-33; Markus 15:20b-22; Lukas 23:26-32; Yohanes 19:17)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus disalibkan (Matius 27:32-33-44; Markus 15:22-32; Lukas 23:33-43; Yohanes 19:18-24)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus dimakamkan (Matius 27:57-61; Markus 15:42-47; Lukas 23: 50-56a; Yohanes 19:38-42)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Kebangkitan Yesus (Matius 28:1-10; Markus 16:1-8; Lukas 24:1-12; Yohanes 20:1-10)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Yesus naik ke Surga (Kisah Para Rasul 1:6-11)

(Sumber: churchpop.com via jangheungcatholicchurch.blogspot.jp)

Selain itu ada lukisan-lukisan lain yang bukan karya dari Kim Ki-chang yang diambil dari sebuah seminari. Foto ini diunggah secara online di Tiongkok. Kita bisa melihat perbedaannya.

Perjamuan Malam Terakhir

(Sumber: kotaku.com)

Yesus Disalibkan

(Sumber: kotaku.com)Sumber:

Advertisements

Posted on 27 September 2019, in Seni dalam Gereja and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: