Misi Ekaristis Gereja

Oleh Leroy Huizenga

Perjamuan Malam Terakhir (Sumber: stpaulcenter,com)

Tema “penggenapan” dalam Injil Matius telah membuat banyak perbincangan, khususnya yang berhubungan dengan rumusan kutipan “umpan” yang digunakan St. Matius sebagai rumusan umum untuk menunjukkan kutipan dari Perjanjian Lama, seperti “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi” (Matius 1:22). Fenomena “penggenapan” begitu terasa dalam seluruh Injil Matius, bukan hanya ditemukan dalam rumusan kutipannya saja. Rumusan kutipan itu disajikan dalam Injil Matius untuk memberikan semacam “umpan” bagi kita tentang penggenapan yang berbeda cara dengan Injil lainnya. Setiap kata dalam Injil Matius diarahkan kepada penggenapan, menunjukkan bagaimana Yesus dan Gereja menggenapi kisah dan sosok dalam Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi. Dan memang, kehidupan Yesus itu sangat mengambil kisah Israel.

Hal ini menjadi masuk akal mengenai stuktur Kitab Suci Kristen, yang menempatkan Injil Matius dalam pusat kanonik sebagai Injil Pertama, sebagaimana memahami Injil Matius itu sendiri sebagai Injil yang ditulis pertama kali. Injil Matius menjadi yang pertama karena itulah Injil penggenapan, kanon menyatakan kepada umat Kristen bahwa Yesus memanglah penggenapan dari perkataan para nabi, yang berakhir dalam Perjanjian Lama Kristen.

Injil Matius menampilkan Yesus sebagai Israel yang baru, sebagai perwujudan Israel. Rumusan kutipan dari Hosea 11:1b dalam Matius 2:15 (“Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku”) menampilkan Yesus sebagai perwujudan Israel. Begitu pula dengan kisah Pencobaan Yesus di padang gurun (Matius 4:1-11) yang berkaitan dengan pencobaan Yesus sebagai perwujudan Israel. Namun demikian, seorang pembaca yang idealis akan mempertanyakan, apakah Yesus sebagai perwujudan Israel akan setia? Karena sejarah Israel dipenuhi dengan berbagai macam kegagalan dan ketidaktaatan yang dilakukan bangsa Israel maupun tokoh-tokoh heroiknya. Hosea 11 juga menceritakan ketidaktaatan Israel. Kisah Pencobaan di padang gurun menjawab pertanyaan ini dengan tegas dan lugas:

Yesus

Israel

Yesus dicobai (Matius 4:1) Israel dicobai di padang gurun (Ulangan 8:2)
Yesus di padang gurun selama empat puluh hari empat puluh malam (Matius 4:1) Israel di padang gurun selama empat puluh tahun (Ulangan 8:2)
Yesus lapar (Matius 4:2) Israel lapar (Ulangan 8:3)

Dalam kisah singkat ini ada tiga kutipan dari kitab Ulangan:

Kitab Ulangan

Injil Matius

Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. (Ulangan 8:3) Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4)
Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa. (Ulangan 6:16) Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Matius 4:7)
Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. (Ulangan 6:13) Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:7)

Dalam bagian Kitab Ulangan ini, Israel dinasihati berulang kali supaya mereka setia kepada Tuhan dalam menyoroti kisah Keluaran dan pemberian Perintah (Ulangan 5). Dengan demikian, “di hadapan kita adalah kisah Haggadah (bacaan yang dibacakan ketika Seder pada malam pertama dari dua hari Paskah Yahudi –red.) yang berasal dari renungan Kitab Ulangan 6-8. Yesus, Anak Allah mengulangi apa yang dialami Israel di padang gurun.” Yesus menaatinya dengan sempurna, tidak seperti yang dilakukan Israel di padang gurun. Jika seseorang membaca kisah penjelmaan dalam Matius 1:23, maka Allah sendirilah (yang bukan allah para filsuf, tetapi Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah Israel) yang datang kepada umat-Nya dalam diri Yesus untuk menggenapi kisah Israel sendiri. Semua tipologi dan gelar Kristologis lainnya harus ditempatkan lebih rendah dari yang satu ini (Allah yang menjadi manusia –red.). Yesus bukan hanya menggenapi beberapa ciri tertentu dalam Kitab Suci secara tipologis, namun keseluruhan “hukum Taurat dan kitab para nabi” (Matius 5:17).

Jika Allah menggenapi kisah Israel dalam diri Yesus, maka seorang pembaca yang idealis bisa melihat lebih jelas penekanan Matius akan kesinambungan. Mudah sekali untuk menekankan ketidaksinambungan dalam Injil Matius, mengingat anti-Yudaisme dalam sejarah Kristen, peran historis dari Injil sendiri dalam menghasilkan sejarah mengalami salah persepsi, dan pernyataan radikal tentang sesuatu yang baru dalam Injil berakar dari Yesus sendiri:

Kuasa Ilahi yang unik dalam diri Yesus sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Matius 7:19)
Yesus yang berani dalam mengeluarkan perintah-perintah-Nya sendiri Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:19-20)

Dalam Kitab Suci ada kata ganti “these” yang merujuk pada perintah hukum Taurat dalam ayat 19, dan dalam Injil Matius, Yesus berulang kali merujuk pada Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus (lihat Matius 4:17) yang bukan memandang Hukum Taurat dan Kitab para nabi, tetapi perintah Yesus sendiri dalam Sabda Bahagia dan Injil secara keseluruhan. Mengenai penekanan ketidaksinambungan yang sering ditanyakan oleh pembaca idealis, justru ada kesinambungan dalam Injil Matius ini, Yesus menggenapi garis keturunan Israel sebagai putra Abraham (Ishak yang baru dengan menjadi kurban) dan putra Daud (Sang Kristus atau Mesias atau yang diurapi) (Matius 1:1-17) ketika Allah sendiri turun ke dunia (Matius 1:18-25) yang selalu berserta kita (Matius 1:23; 28:20).

Yesus tetap sebagai orang Yahudi. Yesus mengambil cara pandang dunia Yahudi, apa pun pola pikir tertentu dalam agama Yahudi. Yesus tidak memulai dari awal, seperti yang diungkapkan oleh teologi pencerahan moralistik dan Docetisme. Menjawab pembaca idealis yang ingin merasakan suatu kesinambungan. Kisah Israel berpuncak pada Yesus, orang Yahudi, sebagai hasil dari rencana Ilahi sebagaimana yang ditunjukkan dalam kisah para Majus dan kutipan dari Kitab Nabi Yesaya bab 9 dan 12, dan juga permusuhan umat manusia. Yesus mendirikan Gereja bukan untuk menggantikan Israel dalam artian digantikan secara kasar, namun melanjutkan karya-Nya untuk menjadi hamba dan mewartakan “keadilan bagi bangsa-bangsa,” Yesus sendiri memimpin orang-orang Yahudi (dan juga orang bukan Yahudi, sesudah kebangkitan) yang akan bergabung dengan-Nya sebagai murid dan Allah akan menyertai kita (Matius 1:23), dan hadir di tengah-tengah mereka ketika mereka berkumpul (Matius 18:20), dan berjanji akan menyertai mereka sampai akhir zaman (Matius 28:20). Maka, rentang waktu Injil Matius adalah sekarang, pada zaman misi Ekaristis Gereja ke segala bangsa, sebagaimana Gereja yang melakukan apa yang Yesus perintahkan, yang utama dari segala sesuatu adalah merayakan Ekaristi (Matius 26:26-29) yang telah Ia perintahkan melalui teladan dalam menetapkan Ekaristi. Injil Matius menjelaskan bahwa Yesus Kristus berada di pusat sejarah keselamatan dan kehadiran-Nya dalam Ekaristi menjadi pusat misionaris Gereja dan keselamatan kita saat ini. Gereja diperintahkan untuk menjadikan segala bangsa sebagai murid, Gereja berada pada zaman misi Ekaristis.

Leroy A. Huizenga adalah Ketua Admnistratif dalam bidang Human and Divine Sciences di University of Mary di Bismarck, North Dakota. Dia pengarang buku “Behold the Christ: Proclaiming the Gospel of Matthew.”

Sumber: The Church’s Eucharistic Mission

Posted on 21 November 2019, in Ekaristi, Kitab Suci and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: