Mengapa Natal Dirayakan pada 25 Desember?

Oleh Jon Sorensen

Nativity karya Sandro Botticelli (Sumber: wikipedia.org)

Membongkar pernyataan bahwa orang Kristen “meminjam” tanggal 25 Desember dari orang pagan

Pada saat inilah kita sebagai orang Kristen menghadapi pernyataan-pernyataan bahwa dewa pagan sebelum Yesus, sudah terlebih dahulu dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Dalam berbagai acara televisi, video-video yang beredar di internet, dan berbagai media lainnya, kita dapat menemukan daftar panjang nama dewa-dewa yang konon dilahirkan pada hari yang sama.

Gagasan ini tidak terbatas pada orang yang bukan umat beriman. Saya juga mendengarnya dari orang Kristen sendiri yang menyatakan bahwa tanggal Natal dimaksudkan untuk memberikan alternatif bagi perayaan pagan. Dalam beberapa pengertian, pernyataan itu sudah menjadi legenda kesalehan. Di sisi lain, beberapa denominasi Fundamentalis menolak untuk merayakan Natal karena alasan ini.

Dari semua dewa-dewa yang dinyatakan mereka, hanya tiga dewa yang mendekati teori mereka: Saturnus, Sol Invictus (Matahari yang tak terkalahkan), dan Mithras.

Saturnalia

Saturnalia adalah perayaan yang didedikasikan kepada dewa Romawi yang bernama Saturnus. Mulai dirayakan sekitar tahun 220 SM, perayaan ini pada mulanya dirayakan pada tanggal 17 Desember. Kemudian perayaan itu diperpanjang selama seminggu dan berakhir pada tanggal 23 Desember. Dugaan hubungan dengan Natal berdasarkan kedekatan antara dua perayaan ini.

Berulang-ulang kita bisa menemukannya di internet. Seorang kolumnis Mark Whittington menulis dalam artikelnya yang berjudul “Saturnalia: The Reason We Celebrate Christmas in December,” menjelaskan demikian:

Sudah disarankan bahwa umat Kristen pada abad ke-4 menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus (dan karenanya disebut Natal) karena orang pagan sudah merayakan hari itu sebagai hari libur. Dengan cara inilah permasalahan menghilangkan hari libur populer yang sudah ada bisa dihindarkan, sehingga melakukan Kristenisasi penduduk menjadi lebih mudah.

Jika hal itu itu benar, seseorang akan berharap untuk menemukan setidaknya satu referensi oleh orang Kristen mula-mula yang mendukung pernyataan tersebut. Namun sebaliknya, kami menemukan sejumlah kutipan dari para Bapa Gereja yang menunjukkan keinginannya untuk menjauhkan diri dari agama pagan.

Sol Invictus dan Mithras

Perayaan Sol Invictus adalah upaya dari kaisar Romawi yang bernama Aurelian yang mereformasi kultus Sol (dewa matahari Romawi) dan memperkenalkannya kembali kepada rakyatnya, meresmikan kuil Sol dan mengadakan permainan untuk pertama kalinya pada tahun 274 M. Tidak hanya itu, festival ini tidak dirayakan tahunan, dan juga secara historis tidak dicatat bahwa perayaan Sol Invictus telah ditetapkan pada tanggal 25 Desember oleh Aurelian (lih. Steven HijMans, Sol Invictus, The Winter Solstice, and the Origins of Christmas, Mouseion, Series III, vol. 3, hal. 377-398).

Menurut ukiran tempat lilin dan karya seni kuno lainnya, ada hubungan antara Mithras dengan Sol Invictus. Dalam beberapa kasus, sepertinya para penganut Mithraisme percaya bahwa Mithras dan Sol adalah dua manifestasi berbeda dari dewa yang sama. Di tempat lain, mereka ditampilkan sebagai dua dewa yang dipersatukan. Hubungan ini sulit dipahami karena keterbatasan pengetahuan tentang sistem kepercayaan Mithraisme, namun kedua pandangan itu penting karena dengan pandangan itu dapat membantu menjelaskan mengapa orang skeptis menyatakan bahwa kelahiran Mithras dirayakan pada tanggal 25 Desember.

Sebuah manuskrip yang dikenal dengan nama “Chronography of 354” menunjukkan bahwa kelahiran Sol Invictus dirayakan pada tanggal 25 Desember. Mengingat fakta bahwa para penganut Mithraisme menyamakan dewa mereka dengan Sol dengan suatu cara atau cara lainnya, maka dapat dipahami bahwa mereka mengganggap tanggal itu sebagai tanggal mereka. Permasalahan bagi orang skeptis adalah tidak adanya bukti yang menunjukkan bahwa Aurelian adalah seorang penganut Mithraisme atau bahkan dia memiliki gagasan Mithraisme dalam pikirannya ketika dia menetapkan perayaan Sol Invictus. Hubungan Mithraisme dengan tanggal 25 Desember hanya kebetulan belaka.

Pukulan telak bagi paralel Mithras dan Sol Invictus bahwa manuskrip “Chronography of 354” yang pertama kali menyebutkan dewa pagan yang dirayakan pada tanggal 25 Desember. Perayaan kelahiran Kristus oleh umat Kristen juga disebutkan dalam kalender dan memang dirayakan pada hari itu, yang mengeliminasi kemiripan bahwa perayaan pagan itu sudah dirayakan terlebih dahulu. Setidaknya, dengan kalender itu bisa meniadakan pernyataan itu dan bisa membuktikan bahwa dengan catatan sejarah setiap festival pagan dirayakan pada tanggal 25 Desember, tradisi Kristen tentang Natal sudah ada terlebih dahulu.

Alasan memilih tanggal 25 Desember

Meskipun Kitab Suci tidak memberikan rincian tanggal kelahiran Kristus, ada bukti yang tercatat bahwa tanggal 25 Desember sudah memiliki nilai penting  bagi umat Kristen sebelum tahun 354 M. Salah satu contohnya bisa ditemukan dalam tulisan Hippolitus dari Roma yang menjelaskannya dalam Komentar mengenai Kitab Daniel (sekitar tahun 204 M) bahwa kelahiran Tuhan diyakini terjadi pada hari itu:

Kedatangan Tuhan kita yang pertama dalam wujud manusia, terjadi ketika Ia dilahirkan di Betlehem pada hari Rabu tanggal 25 Desember ketika Agustus berusia 42 tahun, sedangkan dari Adam 5.500 tahun. Ia menderita pada tahun yang ke-33, pada hari Jumat tanggal 25 Maret, pada tahun ke-18 Kaisar Tiberius, ketika Rufus dan Roubellion adalah Konsul.

Referensi kepada Adam dapat dipahami dalam penjelasan tulisan Hippolitus lainnya yang berjudul “Chronicon,” di mana dia menjelaskan bahwa Yesus dilahirkan sembilan bulan sebelum peringatan Kisah Penciptaan. Menurut perhitungannya, dunia diciptakan pada waktu vernal ekuinoks tanggal 25 Maret yang berarti bahwa Yesus dilahirkan sembilan bulan kemudian, pada tanggal 25 Desember.

Seorang ahli liturgi abad ke-19 yang bernama Louis Duchesne menjelaskan bahwa “menjelang akhir abad ke-3, kebiasaan merayakan hari kelahiran Kristus telah menyebar ke seluruh Gereja, namun tidak dirayakan pada hari yang sama di setiap tempat” (Christian Worship, Its Origin and Evolution: a study of the Latin liturgy up to the time of Charlemagne, hal. 260).

Di Barat, kelahiran Kristus dirayakan pada tanggal 25 Desember, dan di Timur dirayakan pada tanggal 6 Januari.

Duchesne menuliskan demikian, “seseorang cenderung mempercayai bahwa Gereja Roma memilih tanggal 25 Desember untuk ikut menyaingi Mithraisme. Namun demikian, alasan ini tidak menjelaskan pilihan pada pada tanggal 6 Januari” (ibid., hal. 261). Oleh karena itu, solusinya tanggal kelahiran Kristus diputuskan dengan menggunakan titik awal pada hari yang sama yang diyakini saat Yesus wafat. Hal ini akan menjelaskan perbedaan perayaan di Timur dan di Barat.

Mengingat keengganan besar dari sebagian orang Kristen terhadap sesuatu yang berbau pagan, maka kesimpulan logisnya bahwa suatu perayaan tidak ada hubungan dengan hal yang lainnya. Paus Benediktus XVI dalam bukunya yang berjudul “Spirit of the Liturgy” menjelaskan demikian:

Klaim yang dibuat bahwa tanggal 25 Desember dikembangkan untuk menentang mitos Mithras, atau sebagai tanggapan seorang Kristen terhadap kultus matahari yang tak terkalahkan yang dipromosikan oleh para kaisar Romawi pada abad ke-3 sebagai upaya mendirikan agama baru kekaisaran. Namun, teori-teori lama ini tidak dapat lagi dipertahankan. Faktor yang menentukan adalah hubungan antara kisah penciptaan dan Salib, kisah penciptaan dan peristiwa Yesus dikandung (hal. 105-107).

Sementara itu, berbagai penjelasan yang sudah dijelaskan di atas mengenai bagaimana tanggal 25 Desember menjadi tanggal Natal, semuanya menjadi masuk akal, kita mengetahui satu hal yang pasti: Bukti bahwa hari ini memiliki makna yang sangat penting bagi umat Kristen yang sudah ada terlebih dahulu dari berbagai bukti tentang dugaan perayaan Sol Invictus dan perayaan dewa-dewa pagan lainnya pada hari itu.

Umat Kristen memilih tanggal yang begitu dekat dengan titik balik matahari musim dingin (winter solstice) tidak bisa menjadi bukti meniru festival pagan. Semua agama pagan yang mempunyai berbagai variasi memiliki festival-festival sepanjang tahun. Pada bulan apapun yang mungkin dipilih umat Kristen untuk merayakan Natal dan dekat dengan perayaan pagan apapun, dan para ahli teori penentang akan membuat klaim yang sama pula.

Titik balik matahari itu penting bagi semua orang karena alasan agrikultur atau pertanian, hal yang serupa dengan air yang penting bagi kelangsungan hidup umat manusia, dan maka dari itu pula, kita bisa melihat ritual-ritual keagamaan yang menggunakan air ada dalam berbagai agama. Dan itu tidak membuktikan bahwa agama yang satu meminjam gagasan atau motif dari agama lainnya.

Sumber: “Why is Christmas on December 25?”

Posted on 25 December 2019, in Apologetika and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: