Apakah Pembunuhan Kanak-kanak Suci itu Historis?

Oleh Trent Horn

The Triumph of the Innocents oleh William Holman Hunt (Sumber: wikipedia.org)

Bukti menunjukkan bahwa narasi kelahiran Kristus menurut Matius itu bukan sekadar kisah alegoris

Dalam Matius 2:12 dikisahkan bahwa para Majus dalam mimpi diperingatkan supaya tidak kembali kepada Herodes Agung setelah mengunjungi Yesus dan keluarga-Nya, sehingga mereka pulang ke negerinya melalui jalan lain. Setelah menyadari bahwa para Majus tidak memberikan kabar tentang Yesus kepada Herodes, maka Herodes memerintahkan membunuh semua anak laki-laki di Betlehem yang usianya di bawah dua tahun (Matius 2:16). Seorang ateis yang bernama C. J. Werleman menulis tentang kisah ini:

Tidak ada tulisan tentang Raja Herodes ataupun penguasa Romawi manapun yang pernah memberikan suatu perintah tertulis mengenai pembunuhan anak-anak seperti itu. Faktanya, sejarawan kuno yang bernama Josephus, yang secara luas mencatat kejahatan Herodes, tidak menyebutkan kisah pembunuhan bayi ini, yang sejauh ini tidak perlu diragukan lagi sebagai kejahatan terbesar Herodes.

Salah satu cara untuk mempertahankan tulisan Matius adalah Matius tidak bermaksud menulis sejarah kelahiran Yesus secara literal. Sebaliknya, Matius menggunakan berbagai cara naratif, termasuk kisah fiksi, untuk memberikan penekanan tentang kenyataan bahwa Yesus adalah “Musa baru.” Salah satu caranya adalah menciptakan kisah paralel dengan pembunuhan anak-anak Ibrani yang darinya Musa berhasil selamat (Keluaran 1:22).

Namun pendekatan terhadap Kitab Suci seperti yang disebutkan di atas sering mengungkapkan “hermeneutika kecurigaan” dan mulai mengasumsikan pemikiran yang menyangkal mukjizat bahkan juga penyelenggaraan Ilahi. Dari persepektif seperti itu, peristiwa historis yang nyata tidak dapat “bersajak” satu sama lain untuk menunjukkan kedaulatan Allah atas ruang dan waktu. Setiap “kebetulan yang luar biasa” semacam itu harus dijelaskan sebagai penemuan dari seorang penulis biasa yang mempelajari sumber materi yang sudah lama ada.

Namun bukti tidak menunjukkan bahwa Injil sebagai tulisan alegoris murni. Narasi Matius secara signifikan berbeda dengan kisah kelahiran Musa. Contohnya, Yesus dibesarkan oleh ibu-Nya bukan dalam istana Herodes, dan juga Musa melarikan diri dari Mesir sebagai orang dewasa, sedangkan Yesus melarikan diri ke Mesir sebagai seorang anak. Dalam buku “Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives,” Paus Benediktus XVI menuliskan demikian:

Apa yang dilakukan Matius dan Lukas masing-masing dengan cara mereka masing-masing, bukan untuk menceritakan “cerita” namun untuk menulis sejarah, sejarah yang nyata yang sebenarnya terjadi, dan memang ditafsirkan dan dipahami dalam konteks Sabda Allah. Karena itu tujuannya bukan untuk menghasilkan laporan yang terperinci, namun tulisan yang tampaknya penting bagi komunitas iman yang baru lahir dalam terang sabda. Narasi kelahiran ialah sejarah yang ditafsirkan, ringkas dan ditulis sesuai dengan penafsirannya.

Namun bagaimana dengan pendapat tiba-tiba seperti yang dibuat oleh Werleman yang seorang ateis? Jika pembunuhan itu benar-benar terjadi, mengapa tidak ada penulis lain (dari yang alkitabiah maupun non-alkitabiah) yang menuliskannya?

Pertama, Markus dan Yohanes tidak membahas peristiwa apapun seputar kelahiran Yesus, maka kita tidak akan mengharapkan mereka berbicara tentang pembunuhan anak-anak. Kedua, tulisan Lukas dan Matius saling melengkapi, tidak dilebih-lebihkan, maka tidak mengherankan bahwa ada perincian yang unik untuk masing-masing kisah, baik itu uraian Matius tentang pembunuhan anak-anak ataupun deskripsi Lukas tentang perintah pendaftaran penduduk oleh Kaisar Agustus yang kemudian para penulis mendeskripsikannya sebagai “sensus” (Lukas 2:1).

Perbuatan kejam seperti ini sangat sesuai dangan karakter Herodes yang paranoid dan tanpa belas kasihan, bukti ini didukung secara historis. Josephus mencatat bahwa Herodes akan segera melakukan eksekusi siapa pun yang dianggap mengancam kekuasaannya, termasuk istri dan anak-anaknya (Antiquities 15.7.5–6 dan 16.11.7). Dua ahli Yahudi menyatakan bahwa Herodes mengalami “Gangguan Kepribadian Paranoid (Paranoid Personality Disorder),” bahkan seorang Kaisar Agustus pun berkata demikian, “lebih aman menjadi babinya Herodes daripada putranya.”

Selain itu, Betlehem di abad pertama merupakan sebuah desa kecil yang mungkin dihuni paling banyak dua belas anak laki-laki berusia 2 tahun. Jika Josephus tahu tentang pembunuhan ini, mungkin dia tidak berpikir bahwa peristiwa yang terisolasi seperti ini perlu dicatat, terutama karena pembunuhan anak-anak di Kekaisaran Romawi pada waktu itu bukanlah kekejian moral seperti di dunia modern dewasa ini.

Pembunuhan yang dilakukan Herodes juga bukanlah peristiwa sejarah pertama yang tidak berhasil dicatat oleh Josephus.

Kita juga tahu dari Suetonius dan dari kitab Kisah Para Rasul bahwa Kaisar Claudius mengusir orang-orang Yahudi dari Roma pada tahun 49 M, namun Josephus maupun sejarawan Romawi yang bernama Tacitus tidak mencatat peristiwa ini (Kisah Para Rasul 18). Josephus juga tidak berhasil mencatat keputusan Pontius Pilatus untuk mendirikan perisai emas di Yerusalem yang dianggap menghujat, keputusan ini mendorong orang Yahudi untuk berunjuk rasa supaya perisai itu disingkirkan. Hanya seorang filsuf Alexandria yang bernama Philo yang mencatat peristiwa ini.

Kadang-kadang para sejarawan memilih untuk tidak mencatat peristiwa, dan alasannya tidak selalu bisa ditentukan. Pada abad ke-19, Paus Leo XIII mencatat standar ganda dalam kritik bagi mereka yang berpandangan bahwa “sebuah buku profan atau naskah kuno diterima tanpa keraguan, sedangkan Kitab Suci, jika mereka hanya menemukan kecurigaan akan kesalahan di dalamnya, mereka akan meruntuhkannya dengan berbagai diskusi yang mungkin mereka lalukan sebagai rasa ketidakpercayaan” (Providentissimus Deus 20).

Kita harus menyebut standar ganda ini ketika para kritikus menuntut supaya setiap peristiwa yang dicatat Kitab Suci itu harus didukung oleh tulisan-tulisan non-alkitabiah sebelum mereka dapat menganggap sebagai peristiwa historis, termasuk kisah pembunuhan Kanak-kanak Suci.

Sumber: “Is the Massacre of the Holy Innocents Historical?”

Posted on 30 December 2019, in Apologetika and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: