Peran Penting Bunga dalam Misa

Oleh Philip Kosloski

Bunga Altar di Katedral Arundel, foto oleh Leimenide (Sumber: aleteia.org dan flickr.com)

Penggunaan bunga dalam Misa mengandung berbagai tingkatan makna simbolis yang tidak boleh kita lupakan

Di banyak Gereja Katolik, bunga paling umum digunakan di tempat kudus (panti imam). Bunga ditempatkan di sekitar altar selama Misa, di depan patung atau karya seni lainnya.

Sementara itu kita menganggap bunga sebagai “pemanis” belaka, namun sebenarnya Gereja memiliki tata cara dan aturan yang berbeda mengenai bunga dan memaknai bunga sebagai simbolisme spiritual tertentu.

Contohnya, Pedoman Umum Misale Romawi menjelaskan demikian, “Dalam menghias altar hendaknya tidak berlebihan. Selama Masa Adven penghiasan altar dengan bunga hendaknya mencerminkan ciri khas masa ini ( masa penantian penuh sukacita), tetapi tidak boleh mengungkapkan sepenuhnya sukacita kelahiran Tuhan. Selama Masa Prapaskah altar tidak dihias dengan bunga, kecuali pada Minggu Laetare (Minggu Prapaskah IV), hari raya dan pesta yang terjadi pada masa ini. Hiasan bunga hendaknya tidak berlebihan dan ditempatkan di sekitar altar, bukan di atasnya (PUMR 305).”

Dalam aspek ini bunga ditujukan untuk mengekspresikan sukacita, dan maka dari itulah penggunaan bunga dibatasi selama masa Adven dan Prapaskah yang sarat nuansa pertobatan.

Selain itu, bunga bertujuan untuk mengingatkan kita tentang ciptaan Allah dan keindahan hasil karya-Nya. Nikolaus Gihr dalam bukunya yang berjudul “The Holy Sacrifice of the Mass” menguraikan makna spiritual berikut ini:

Seorang dari kaum religius yang kudus yaitu seorang Kapusin yang bernama Francis Borgia pernah berkata demikian: “Allah telah mewariskan tiga hal dari Firdaus bagi kita: bintang, bunga, dan mata seorang anak.” Kenyataannya, dalam ciptaan Allah, bunga memiliki tempatnya sendiri. Bunga berada di bumi seperti bintang-bintang di langit, jejak yang tidak membekas dari dunia sebelumnya yaitu Firdaus dunia, yang tidak dipengaruhi oleh kutuk dosa. Dalam kemegahan warnanya, wanginya, bunga adalah pewahyuan tentang keindahan dan kebaikan Allah, lambang kebajikan-Nya, gambaran dari rancangan-Nya yang sejati dan utama (Yesaya 25:1).”

Bunga juga mengingatkan kita tentang kehidupan spiritual dan kebajikan yang harus kita peroleh dalam hati kita.

Bunga juga melambangkan hak-hak istimewa yang bersifat adikodrati itu, yakni rahmat dan kebajikan yang dengan itulah semestinya jiwa kita dihiasi. Karena para kudus mekar seperti bunga bakung dan mereka berada di hadirat Allah sebagai wewangian balsam. Dengan alasan kesegaran dan keindahannya, bunga telah menerima dari matahari dan oleh karenanya bunga menghadap ke matahari, itulah lambang kemurnian dan kekudusan yang diperoleh dari Kristus, Sang Matahari Keadilan, dan kita memuliakan Dia kembali sebagai Sang Matahari dalam kehidupan spiritual kita. Maka, bunga di altar menandakan mekarnya kasih karunia, doa, dan kebajikan yang berkembang dalam cahaya adikodrati dan dalam kehangatan surgawi yang dipancarkan dari matahari Kurban Ekaristi.

Jika kita mengikuti Misa dan melihat bunga-bunga yang menghiasi panti imam, ingatlah berbagai tingkatan simbolis yang sudah dijelaskan di atas, dan arahkan hati kita kepada Allah ketika Anda memasuki perayaan Ekaristi.

 

Sumber: “Flowers have an important role at Mass”

Posted on 23 January 2020, in Ekaristi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: