Apa Maksud Alkitab mengenai “Takhta-Nya untuk selamanya”?

Oleh Philip Kosloski

Takhta Allah karya Vasiliy Koren’ (Sumber: wikipedia.org dan aleteia.org)

Sebagian besar takhta telah hancur (sebagian besar oleh api), takhta ini akan ada sampai selama-lamanya

Di sepanjang sejarah, kerajaan-kerajaan telah berjaya dan jatuh, telah ditaklukkan dan sudah dihancurkan. Seringkali pemimpin bangsa-bangsa ini duduk di atas takhta yang nyata secara fisik dan hal itu menunjukkan otoritas dan kekuasaan mereka.

Banyak dari pemimpin bangsa-bangsa ini akan menghiasi takhta mereka dengan begitu mewah, menjadikan takhta itu bukan sekadar mebel belaka. Bagi beberapa pemimpin, takhta seolah-olah menjadi sumber kekuasaan dan banyak dari mereka akan memperebutkan demi duduk di sana. Takhta itu sirna setelah beberapa generasi. Itulah kekuasaan duniawi yang cepat berlalu, seringkali merusak orang yang memegang kekuasaan itu.

Namun ada satu takhta yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama yang akan bertahan sampai sekarang dan selama-lamanya.

Allah berfirman kepada Raja Daud melalui Nabi Samuel tentang takhta yang kekal ini.

Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. 14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. (2 Samuel 7:12b-14a)

Sementara itu, beberapa hal itu digenapi oleh Salomo, putra Daud, yang akhirnya digenapi melalui Yesus Kristus, Sang Putra Daud sejati. Dialah Sang Mesias dari garis keturunan Daud dan Dia yang menggenapi nubuat ini dengan mendirikan kerajaan baru yang tidak memiliki perbatasan atau tidak berdasarkan hal duniawi.

Yesus sendiri menggambarkan di mana takhta ini nyata ketika Ia berkata kepada para rasul-Nya.

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” (Matius 19:28)

Yesus juga menggambarkan bagaimana pada akhir zaman, Ia akan kembali ke bumi dengan cara yang luar biasa.

Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. (Matius 25:31-33)

Kitab Wahyu menegaskan keberadaan takhta kekal itu di Yerusalem surgawi, dengan tampilan yang luar biasa pula.

Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya. Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah. Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan Kristal. (Wahyu 4:2-6a)

Ketika merenungkan takhta ini, maka seharusnya kita mengingat kembali ke mana kita pada akhirnya menaruh kepercayaan kita. Para pemimpin duniawi akan berjaya dan jatuh, sementara kita harus mewartakan kebenaran dan keadilan dalam masyarakat, para pemimpin duniawi ini bukanlah orang yang mana kita harus menaruh semua kepercayaan kepadanya.

Kita adalah anak-anak Raja yang berkuasa atas dunia dalam kasih dan belas kasih, dan takhtanya bukan terbuat dari besi. Takhta-Nya kekal abadi dan tidak akan pernah berakhir dan akan bersinar terang ketika dunia ini berakhir. Maka pemikiran ini seharusnya memberikan kita kedamaian.

Sumber: “This throne will endure forever according to the Bible”

Posted on 8 February 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: