Bangkit dari Jurang Okultisme dan Ateisme – Kisah Christine Mooney-Flynn

Keluarga Patrick Flynn dan Christine Mooney-Flynn beserta anak-anaknya
(Sumber: Instagram @thecatholicmama)

Saya berasal dari keluarga yang stabil dan penuh cinta. Kedua orang tua saya memiliki perkawinan yang kuat. Masa kecil saya bahagia, dan ikatan keluarga kami begitu erat. Hari Minggu dipilih sebagai waktu yang berkualitas untuk bersama. Kami semua memiliki semua tanda dari kehidupan keluarga dan rumah tangga yang sangat baik dan bisa dikatakan tertanam nilai kebajikan Kristen. Namun, agama yang terorganisasi, terutama agama Kristen tidak pernah menjadi pilihan kami.

Ayah saya berasal dari keluarga besar yang Katolik, ia masuk ke bagian yang muda dari sepuluh anak (setelah anak kelima –red.). Ibu saya anak tengah dari lima saudari, dan menurut keterangannya hanya pergi ke gereja untuk bertemu dengan teman-temannya di bangku gereja pada hari Minggu. Begitu salah seorang dari mereka meninggalkan iman, mereka berdua melakukannya, dan mereka enggan menyetujui perkawinan mereka secara Katolik, pada saat itulah saya dilahirkan, baptisan adalah sesuatu yang tidak mereka perhitungkan. Menurut ayah saya, semua itu hanya omong kosong.

Jadi ketika saya merasakan sesuatu seperti tarik ulur dalam hal supernatural di sepanjang masa muda saya, dan dalam kepolosan saya, saya hanya percaya pada Tuhan tanpa tahu banyak tentang-Nya selain apa yang saya pelajari dengan menonton film Charlton Heston (film The Ten Commandmentsred.), ketika ia berbicara kepada semak yang terbakar setiap Minggu Paskah di televisi. Dan juga apa yang sahabat saya katakan sambil lalu tentang agama yang terorganisasi itu suatu gagasan yang tidak efektif, kebetulan dia beragama Katolik. Namun seiring berjalannya waktu, tarikan sederhana dan tidak rumit kepada Tuhan yang sebelumnya saya rasakan menjadi berantakan karena dorongan dan tarikan dari dunia luar, dan system kepercayaan saya terpencar ke berbagai disiplin spiritual dari spiritualitas Timur ke New Age (Gerakan Zaman Baru) ke ateisme dan berbagai macam di antara spiritualitas-spiritualitas itu.

Ketika saya berusia enam tahun, orang tua saya yang lahir dan dibesarkan di New York, mengadu nasib dan pindah ke California ke Carolina Utara. Ketika saya dewasa dan keluar dari impian masa kecil saya dan saya menjadi sadar akan lingkungan saya, saya berada di posisi yang terbentang antara dua dunia yang sangat berbeda. Di satu sisi, ada acara barbeku (babi guling), bendera konfederasi, dan tempat usaha tutup pada hari Minggu. Di sisi lainnya, ada basa basi, roti bagel yang enak, dan cara pikir kosmopolitan dengan kerabat saya dari wilayah utara. Kedua orang tua saya sudah lama meninggalkan agama Katolik sejak masa muda mereka, entah mereka diajarkan secara eksplisit atau implisit bahwa agama yang terorganisasi paling-paling hanya sistem kepercayaan yang tidak perlu yang membuat orang banyak dibius secara intelektual, dan yang paling buruk agama adalah sebagian besar (walaupun tidak semuanya) penyebab kekejaman dalam sejarah manusia. Tapi, kami pindah ke suatu tempat yang dihuni oleh banyak orang Kristen yang percaya akan pengangkatan (rapture), mereka menunjukkan kepada saya suatu pandangan dunia yang sangat kuat dalam hal iman, namun walaupun kuat, iman itu berdasarkan teologi yang sangat keliru dan sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan di rumah kami. Sebenarnya tidak ada jalan tengah, antara agama dan kecerdasan, dan Anda tidak bisa memiliki keduanya.

Hal ini tampaknya benar setelah berurusan dengan beberapa teman dan musuh saya selama bertahun-tahun. Ada juga tetangga yang tidak cocok dengan kami, yang berusaha keras untuk menjadi seorang Kristen tapi tidak memperbolehkan bocah laki-laki keturunan Afrika-Amerika bermain di halaman mereka. Keluarga tetangga lainnya yang ibunya memberi tahu saya bahwa saya sedang menuju ke neraka, sementara itu dia mengabaikan sama sekali masalah seks dan narkoba yang menimpa anak-anaknya sendiri. Bagaimana kehidupan seorang Kristen itu seharusnya, atau paling tidak bagaimana saya mendengar cara mereka seharusnya hidup dengan kenyataan kehidupan mereka, semuanya tidak serasi.

Berkali-kali di sepanjang masa kecil dan remaja saya, saya akan ditanya oleh orang-orang, “Apakah kamu menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu?” Dengan cepat saya jawab, “Tidak,” namun saya punya pendapat mendasar bahwa orang Kristen itu suka menghakimi, arogan, dan munafik dan jika saya menerima Yesus maka itu berarti bahwa saya disatukan dengan orang-orang seperti itu.

Sentimen anti-Kristen yang saya alami semakin menguat ketika pesta piyama di kelas tujuh. Dua dari anak perempuan yang ikut pesta itu adalah orang Kristen aliran Baptis yang saleh, termasuk seorang anak yang rumahnya dipakai pesta itu. Kami berempat, ada saya dan seorang anak perempuan lainnya. Anak perempuan yang lain itu berasal dari Hong Kong namun dibesarkan di Amerika, dia lebih condong ke sistem kepercayaan Konghucu. Saya tidak ingat tepatnya bagaimana kami tiba-tiba membicarakan tentang agama, ketika malam berlalu topik berubah menjadi tentang neraka, pengangkatan (rapture), dan tidak bisa dihindarkan bagi orang non-Baptis termasuk saya dan teman saya itu akan menjadi budak Setan selama seribu tahun.

Kata seorang anak perempuan itu, “Bayangkan saja, kamu berada dalam pesawat terbang dan pengangkatan terjadi. Setengah penumpangnya tiba-tiba hilang, dan kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan kemudian … neraka ada di atas bumi.”

Ketika hal itu terjadi, minggu berikutnya teman saya yang seorang Tionghoa-Amerika melakukan penerbangan ke Asia untuk perjalanan keluarga, dan pemikiran diserahkan kepada iblis di dalam pesawat terbukti berlebihan. Dia mulai gemetar dan menangis. Merasa bahwa dia sedang diintimidasi, saya memberi tahu kepada teman-teman saya itu supaya mereka berhenti membicarakannya. Namun, mereka tidak mau berhenti. Maka terjadi pertengkaran yang semakin keras dan penuh emosi sampai-sampai ibu dari pemilik rumah memberi tahu kami supaya kami memanggil orang tua kami untuk menjemput kami jika kami tidak berhenti bertengkar. Kami tidak berhenti bertengkar, dan anak perempuan lainnya itu sangat ketakutan sehingga dia lebih senang untuk menghentikan pesta piyama dan pulang ke rumahnya bersama dengan kedua orang tuanya sekarang karena dia tidak begitu yakin bahwa pesta itu bisa selesai dengan baik.

Saya benci semua itu. Jika Tuhan itu ada, seperti yang dibicarakan anak-anak perempuan itu, saya tidak percaya bahwa Ia akan begitu kejam kepada anak perempuan baik seperti teman saya itu, sampai membuatnya menangis. Namun mereka begitu percaya diri, sangat yakin akan kepercayaan mereka, sampai-sampai saya harus bertanya kepada diri saya sendiri, “Apakah agama Kristen itu seperti ini?” Saya mempunyai beberapa teman dari aliran Mormon, Katolik dan juga Yahudi, namun oleh karena mereka yang paling besar, paling ribut, dan paling yakin, mereka sepertinya hanya ingin memberi tahu tentang Yesus supaya Anda tahu apa yang sudah dilewatkan begitu Anda tiba di neraka.

Sekitar masa ini pula, ada dua hal yang menarik terjadi pada diri saya. Saya mulai bermimpi yang seolah-olah menjadi kenyataan, baik dari tingkat pribadi (seperti apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian), maupun tingkat global (seperti perselingkuhan dan pemakzulan Bill Clinton). Saya juga mulai bersahabat dengan seorang anak perempuan yang tampaknya selaras dalam spiritual dan kami mempunyai banyak persamaan dalam hal minat dan pertanyaan teleologis yang mulai saya miliki pada saat itu. Dia seorang yang suka pilih-pilih dan dibiarkan tanpa pengawasan, namun sebagian besar dia seorang yang ramah dan tulus. Singkatnya, dia seorang yang baik hati tapi pengaruh yang buruk.

Suatu sore, kami berdua bermain-main dengan papan Ouija (permainan pemanggilan arwah –red.) di lantai kamarnya. Pesan yang kami terima pada hari itu sangat menarik. Papan permanan itu memberi tahu kita tentang kematian seorang teman sekelas yang beberapa tahun kemudian benar-benar terjadi, juga tentang bencana alam yang akan terjadi yang dijabarkan sedemikian rupa pada tanggal tertentu. Merasa kagum dengan informasi yang kami terima, kami terus melanjutkan permainan ini.

Ada berapa banyak roh yang ada bersama kami di kamar ini?

“Tujuh” yang dieja dalam satu angka sekaligus.

Kami jatuh dalam permainan itu. Dan berpikir bahwa kami itu sangat penting, merasa sangat selaras dengan dunia spiritual, bukan hanya satu dua, tapi tujuh roh yang sedang menjangkau kami! Tidak sampai jauh ke dalam pertobatan saya sebagai Katolik, sebelum itu saya sudah menyadari betapa naifnya kami, kami tidak pernah berpikir untuk menanyakan apakah roh-roh itu baik atau jahat. Asumsinya saya waktu itu begitu jelas, karena keinginan kami berasal dari rasa ingin tahu yang polos, maka makhluk dunia lain yang datang untuk menjawab kami itu juga sama polosnya. Betapa bodohnya kami! Hal itu sangat berbahaya.

Si setan pasti sangat senang. Antara impian dan papan Ouija, saya mulai berpikir bahwa saya orang yang cukup istimewa, dan saya punya informasi yang eksklusif. Pasti ada sesuatu yang berbeda dan ajaib pada diri saya sehingga saya bisa menyelinap di balik tabir dan melihat kebenaran bahwa orang-orang biasa termasuk anak-anak perempuan yang menyatakan pengangkatan yang menakut-nakuti kepada teman yang polos pada pesta piyama itu, mereka pasti tidak punya akses ke dalam hal itu. Dan itulah yang ada dalam benak saya.

Spiritualitas saya menjelaskan saya dengan sedemikian rupa bahwa alih-alih menjadi baik, membantu orang, memberi orang, dan beramal, saya bagaikan duduk di atas menara gading buatan saya sendiri, mengangkat diri sendiri bagaikan seorang dewi yang cantik dan seluruh dunia itu redup, abu-abu, dan dipenuhi orang-orang bodoh yang tidak tahu kebenaran. Dan apa sebenarnya kebenaran itu? Ya, kebenaran itu tergantung tahun atau musimnya, menurut saya kebenaran itu berubah-ubah, saat itu saya mungkin lebih suka mengatakan “diperbarui.” Reinkarnasi sangat berpengaruh sekaligus membahayakan dalam keyakinan saya. Namun bukan reinkarnasi pada umumnya yang seseorang akan segera dilahirkan kembali menjadi sesuatu yang lain. Sebaliknya, setelah kematian, seseorang bisa memutuskan kapan dan sebagai apa dan dengan siapa akan kembali. Roh-roh akan bersatu dan memutuskan untuk menjalani kehidupan berikutnya bersama-sama, mengambil peran yang berbeda dan belajar hal-hal baru satu sama lain. Seorang akan mengambil peran ayah dan yang lainnya sebagai ibu. Begitu pula dengan peran saudara kandung, teman dekat, pasangan hidup, bahkan berbagai orang-orang penting yang hadir dalam hidup kita walaupun hubungannya singkat. Dan jika kita tidak belajar apa yang seharusnya kita pelajari atau apa yang telah kita sepakati, maka hal itu baik-baik saja. Selalu ada lebih banyak peluang, lebih banyak waktu memperbaikinya. Semoga lain kali bisa lebih beruntung.

Implikasi sistem kepercayaan ini membuat semakin bodoh namun juga sangat berbahaya. Hal ini menempatkan roh dalam tubuh, seperti air yang dituangkan ke dalam bejana, sehingga tubuh hanyalah kendaraan belaka untuk dipakai, disalahgunakan atau dilecehkan sedemikian rupa dalam kehidupan yang telah diberikan, dengan taruhan yang begitu rendah dan kemampuan untuk bisa kembali ke bumi (atau, jika benar-benar mendapatkan spiritual mistis, kita bisa menuju ke planet lain dengan bentuk kehidupan yang sangat cerdas), subyektivitas dari apa yang baik bagi saya, pelajaran apa yang perlu saya pelajari, menjadi target bergerak yang pada akhirnya meninggalkan perasaan terluka, perilaku berdosa, dan kehancuran diri. Jika saya menikmati hubungan dengan seorang pacar untuk waktu yang singkat kemudian tiba-tiba entah kenapa putus dengannya? Maka ia hanya memainkan perannya dan saya memainkan peran saya sendiri. Jika saya gagal menunjukkan prestasi dalam pekerjaan yang sedang saya andalkan? Saya belajar apa yang saya perlukan dari pengalaman itu, tapi sekarang waktunya untuk melanjutkan hidup, seandainya manajer yang membimbing saya lebih maju secara spiritual, maka dia akan tahu hal itu dan tidak akan semarah itu.

Apakah sekarang ada orang yang percaya dengan apa yang dulu saya yakini? Saya tidak yakin, namun rincian keyakinan ini tidak begitu penting karena sangat subyektif. Menurut saya dahulu tidak ada satu pun kebenaran, hanya sekumpulan campur aduk dari apa yang ingin saya percayai, yang bisa berubah kapan saja, cocok dengan kemauan atau menghindari ketidaknyamanan moral. Maka, dengan meyakini bahwa saya telah memilih kehidupan ini, dan orang-orang di sekitar saya melakukan hal yang sama, masing-masing dari kita ditempatkan dalam peran yang harus kita mainkan sebelum kita dilahirkan. Aturan umum yang ada dunia dan banyak daripadanya itu ditetapkan melalui tradisi Yahudi-Kristen yang tidak berkaitan dengan saya, saya hanya berjalan menuju sesuatu yang lebih besar. Mudah dan semuanya aktual, perlu untuk melakukan pembenaran atas perilaku saya. Sebaliknya, saya merasa dipaksa untuk memperhatikan semua yang saya lakukan dengan sungguh-sungguh dan menyadari betapa salahnya itu. Saya sering mengatakan, “Saya tidak percaya pada kesalahan, kesalahan hanya terjadi jika Anda tidak belajar apa pun darinya. Saya sudah belajar dari kebohongan (dan ketahuan) / perselingkuhan / perilaku seks bebas yang tidak bermoral / keluar kerja tanpa pemberitahuan / melukai hati teman dan keluarga, dan banyak hal lainnya.” Benar saja, hal itu terjadi lebih dari sekali dan seseorang akan menuduh saya sok suci. Saya tidak membalasnya, tapi jika saya melakukan hal itu maka hal itu menjadi bisa dipahami. Saya telah melihat banyak hal, saya tahu banyak hal.

Puncak dari sistem kepercayaan spiritual yang subyektif ini (mungkin harus saya katakan sebagai titik terendahnya), hadir pada permulaan masa senior di sekolah menengah (setingkat SMA –red.), ketika saya mengalami kehamilan. Saya mohon maaf kepada bayi yang ada dalam diri saya, namun saya melakukan rasionalisasi bahwa kami berdua memainkan peran masing-masing dalam kehidupan kami dan di kehidupan sebelumnya (pada waktu kami masih berupa roh) kita sudah sepakat bahwa ketika kejadian ini pada akhirnya kita akan menjadi makhluk yang lebih tinggi tingkatannya. Apa yang saya katakan bahwa tubuh itu adalah penjara spiritual. Saya membebaskan jiwa kecil ini sebelum mengalami banyak rasa sakit dan penderitaan, dan mungkin kita akan bertemu kembali di dunia roh dan kami bisa membicarakan hal ini semua, dan semuanya akan diselesaikan dan dimaafkan.

Namun dalam keadaan rasionalisasi yang mendalam dan kepercayaan saya pada saat pembunuhan oleh karena belas kasihan, saya tahu bahwa membunuh dan sepakat untuk membunuh manusia yang tak bersalah itu salah. Kalau begitu buat apa saya meminta maaf pada bayi itu? Tapi saya setuju dengan apa yang saya lakukan, kemudian proses aborsi berjalan. Setelah itu, saya ingin sendirian. Inilah perjalanan hidup saya, bukan kisah orang lain, dan kemudian saya benar-benar menjadi jahat ketika yang kemudian menjadi pacar saya ingin berbicara dan menyelesaikan apa yang sudah terjadi bersama-sama. Saya menjadi semakin picik sehingga tidak mengherankan kami putus tak lama setelah peristiwa itu. Saya mengalami depresi dan melampiaskan diri pada ganja, alkohol dan seks bebas. Saya hampir tidak ingat semester terakhir di SMA karena sebagaian besar waktu saya berada dalam kemabukan. Suatu hari saya pulang dengan sadar dan saya tidak tahu bagaimana harus berjalan di dalam rumah. Saya pasti terlihat tidak normal sehingga ibu saya bertanya apakah saya sedang mabuk. Pada masa ini, saya katakan sebagai perpisahan yang menyebabkan saya menjadi suka bergurau, namun sebenarnya tidak demikian. Itu semua karena rasa bersalah karena aborsi, dan itu yang membuat saya bosan.

Beberapa bulan kemudian, saya melihat seorang sesama gadis SMA yang sudah hamil, tapi dia tidak memilih kematian seperti yang saya lakukan. Saya masih ingat kalau dia seorang Kristen dan waktu itu musim panas. Dia mengenakan baju hamil warna putih yang panjang, dan dia tampak bersinar. Dan saya merasa sangat kusut dan kotor. Saya berharap kalau saya bisa seberani dia.

Kemudian, saya memutuskan untuk berhenti dari semua perilaku buruk dan gagal saya. Saya meninggalkan banyak teman-teman yang sudah lama saya kumpulkan selama perjalanan hidup saya. Saya tidak berkencan selama enam bulan. Saya membaca banyak literatur agama Timur dan mulai selera makan dan menjauhi narkoba dan alkohol. Saya menunda kuliah semester pertama sehingga saya bisa mengatur diri saya sendiri. Suatu hari, selama masa penyembuhan ini, ibu saya memberi tahu saya bahwa saya tampak bersinar. Pada saat itu, saya masih memiliki kehidupan mimpi yang sangat aktif dan banyak mimpi itu yang seolah-olah menjadi kenyataan dan saya menulis banyak jurnal yang mengaitkan komentar ini dengan perasaan baru yang saya alami dengan kenyataan bahwa saya pasti berada dekat dengan pencerahan. Namun semuanya itu cepat berlalu. Kecemasan akan masa depan merasuki saya dan kilau itu memudar. Melepaskan diri dari lingkaran penderitaan ini seolah-olah lepas dari raihan saya, dalam beberapa bulan saya kembai ke cara hidup yang lama hanya tanpa perbuatan yang merusak diri.

Sepanjang kuliah dan sesudahnya, saya mundur ke suatu tempat yang paling nyaman bagi saya, saya berusaha mati-matian untuk menyembunyikan betapa takutnya saya pada keadaan yang biasa saja. Pada masa itu, diri saya bagaikan semuanya sayap tanpa akar, dan alasan ini ada dua: Jika saya benar-benar makhluk spiritual yang penting, dengan melihat di belakang panggung tentang apa dan siapa manusia itu sebenarnya, maka saya lebih baik tidak menyia-nyiakannya dan oleh karena itu saya perlu mengumpulkan banyak pengalaman yang beragam (orang, tempat, benda). Ini berarti bahwa saya tidak bisa tinggal diam berlama-lama di satu tempat, situasi, pekerjaan, pengalaman, dan sebagainya. Saya perlu terus bergerak jika saya ingin mencapai semua yang telah saya pilih untuk dilakukan ketika saya masih di dunia roh sebelum kehidupan ini dimulai. Namun satu alasan lain ini lebih egois. Semakin sedikit waktu saya terjebak di dalamnya, seolah-olah diri saya semakin membingungkan. Saya mengukir sebuah misteri, kurangnya rasa persahabatan dari seseorang yang keluar masuk dalam hidup saya seperti seorang gadis yang punya 30 pekerjaan sambilan ketika berusia 25 tahun. Jika saya tinggal terlalu lama di satu tempat, saya takut akan ketahuan (bahwa saya tidak sekeren atau tidak bisa dijelaskan seperti yang saya ingin dipikirkan oleh orang-orang). Semuanya bagaikan kilat dan kembang api yang tidak ada substansi di bawahnya. Saya tidak punya harga diri melampaui pribadi yang ingin saya bentuk, dan ketika saya kira bahwa saya semakin maju secara spiritual, diri saya menjadi semakin dangkal.

Pendapat saya akan agama Kristen adalah campuran berbagai macam hal, di beberapa waktu di kuliah menjadi sangat menarik tentang aspek sejarah antropologis manusia, sesuatu untuk dipelajari tapi bukan untuk diyakini. Saya masih berpegang pada kepercayaan bahwa sebagian besar orang Kristen modern itu suka menghakimi dan munafik, dan jika Kristus melakukan sesuatu, Ia hanya menunjuk kepada kebenaran universal yang agung seperti yang didengungkan agama yang terorganisasi ini, juga sepertu yang disinggung banyak orang, namun kebenaran ini tidak bisa mencapai sasarannya. Selama tahun-tahun ini, saya jadi semakin tertarik pada Yudaisme, karena tampak menawarkan Tuhan tanpa pengalihan mengenai Yesus, namun yang saya pelajari tentang agama Abraham dan Musa hanyalah permukaannya saja, tidak pernah repot-repot untuk mendalaminya dari satu semester di kelas studi agama yang diperkenankan.

Selain kepercayaan tentang reinkarnasi, saya juga menganggap suatu sudut pandang bahwa Tuhan itu mungkin nyata tetapi lebih dari sekadar Pencipta dan Pemelihara dualisme universal, seperti bagian yang sama antara terang dan kegelapan yang saling mendorong. Suatu hari, saya yakin terang akan menang dan semua makhluk spiritual yang lebih tinggi tingkatannya itu akan menikmati kebahagiaan abadi, sementara itu mereka yang buruk akan ditetapkan dalam keadaan beku secara kriogenik sampai mereka bisa bertindak dalam pikiran jahatnya dan ingin dan siap bergabung dengan orang-orang baik.

Namun semasa dewasa muda saya, ketika saya mengumpulkan lebih banyak kehidupan yang sudah saya peroleh dan impian yang saya punyai, perasaan penting spiritual seolah-olah mongering, saya mulai gelisah. Tanpa itu, siapa diri saya? Dan dunia tampak mengerikan. Mulai dari peristiwa serangan 11 September, kemudian tragedi bunuh diri yang dilakukan sepupu saya, kemudian teman saya yang meninggal dalam kecelakaan mobil dalam perjalanan pernikahannya sendiri. Saya mulai bertanya-tanya apakah mungkin Tuhan sudah meninggalkan saya, kami, dan juga semua orang. Saat itu saya menjadi begitu percaya pada kepercayaan saya karena saya terus menerus diberi makan (atau membaca buku-buku) mengenai pengalaman-pengalaman tertentu yang menegaskan kepercayaan itu, tanpa ini tampaknya mungkin saya salah, baik kegelapan dalam alam semesta itu lebih kuat daripada yang baik, atau mungkin tidak ada sama sekali yang disebut kekuatan yang menentang, atau sebenarnya tidak ada apa-apa. Dan perlahan-lahan, gagasan saya tentang inkarnasi, perjalanan spiritual yang saya jalani, subyektifitas moral saya mulai goyah.

Di tengah keraguan saya yang semakin besar, saya hamil, melahirkan, dan setahun kemudian saya menikah dengan Pat yang menjadi suami saya. Pat selalu menjadi seseorang yang cerdas bagi saya. Kemampuannya bernalar akan banyak hal dilakukannya dengan jelas dan cepat, dan ini membuat saya terkejut. Dan ketika ia menyatakan keyakinannya bahwa Tuhan itu tidak ada dan kepercayaan saya sendiri di tengah kehancuran, maka dengan mudah saya mulai meninggalkan kepercayaan lama saya. Antara merasa jadi orang yang sedang-sedang saja, terjebak dalam pekerjaan yang membosankan tanpa rencana masa depan yang nyata dan menarik, tanpa impian atau tanpa pesan tersembunyi spiritual yang bisa menopang saya, keputusasaan merasuki saya. Saya ingat ketika suatu hari saya duduk di pinggir kasur, memikirkan teka-teki dari pikiran dan kepecayaan saya, melihat kembali tahun-tahun yang saya rasakan dalam mempercayai Tuhan dan alam semesta sebagai sesuatu yang sia-sia. Saya bukan lagi anak muda yang naïf. Saya seorang yang masuk akal dan pintar. Sekarang saya harus mengesampingkan gagasan kekanak-kanakan saya. Jadi untuk pertama kalinya saya membentuk perkataan dalam pikiran saya, dan dengan penuh keraguan saya menyatakan dengan lantang: “Saya tidak percaya Tuhan!”

Saya merasa aneh dan terlarang seperti pertama kali meneriaki adik laki-laki saya yang masih kecil dengan kata-kata umpatan. Namun karena saya menghabiskan banyak waktu dengan pemikiran baru ini, saya semakin terbiasa dengannya. Tidak lama sebelum saya menyindir teman saya yang seorang Katolik dengan sepotong pizza pepperoni pada hari Jumat pada Masa Prapaskah dan bercanda dengan beberapa teman ateis tentang kepercayaan takhayul yang dipegang oleh orang Kristen yang pikirannya polos. “Pasti menyenangkan menjadi begitu naïf sehingga kamu bisa percaya semua hal itu.” Saya merasakan keunggulan yang pernah saya rasakan sebagai suatu spiritual tingkat tinggi yang digantikan dengan superioritas yang sekarang saya rasakan sebagai ateis yang rumit. Dosa kesombongan ini menjadi tertanam dalam kedua ujung spektrum itu.

Saya merasa sengsara. Saya sudah menyerah dengan gagasan bahwa dunia hanyalah kumpulan atom yang kebetulan dan tanpa tujuan, dan pada akhirnya kita masing-masing roda gigi yang tidak bermakna dan terlupakan dalam mesin evolusi yang tak berperasaan.

Dan lagi … saya punya seorang putra yang bernama Roan. Sebelum kelahirannya, saya tak tahu apapun mengenai kekuatan seorang ibu, dan saya berasumsi bahwa saya akan mencintainya dengan cara yang sama seperti saya mencintai anjing saya, namun ketika pertama kali saya menggendongnya, saya sangat jatuh cinta dengan anak saya itu. Saya tidak pernah merasakan atau mengalami perasaan seperti ini. Saya mencurahkan sepenuh hati, seluruh waktu, dan segenap tenaga kepadanya.

Sementara saya terjebak dalam depresi yang mendalam mengenai eksistensi, saya berpegang pada harapan yang putus asa bahwa mungkin ada sesuatu yang lebih dari itu. Karena di sinilah ada seorang bayi cantik bermata biru besar dan tawanya yang terbaik di seluruh dunia, dan jika ateisme saya itu benar, maka berarti seluruh waktu yang saya habiskan untuk merawatnya, membacakan buku kepadanya, menyusuinya, memandikannya, membuatnya tertawa, maka semua itu tidak ada artinya. Dalam seratus tahun kemudian, kami berdua hanya menjadi makanan cacing. Cinta, waktu, tenaga akan lenyap ke dalam ketiadaan. Kesimpulan ini menghancurkan diri saya.

Untuk meredam perasaan putus asa saya, sementara itu saya mencegah suami saya masuk ke dalam masalah ini dalam banyak cara, saya hanya ingin menenggelamkan diri di waktu saya yang singkat ini dengan bayi saya yang paling berharga. Saya sering minum-minum, baik bersama teman-teman atau sendirian. Saya menghabiskan banyak waktu saya dengan menonton televisi. Singkatnya, saya melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk menghilangkan banyak rasa sakit emosional tanpa melakukan sesuatu yang terlalu ekstrim.

Perlu pengorbanan yang luar biasa dalam perkawinan saya. Saya orangnya egois dan suka memendam emosi. Waktu itu, Pat sedang mengerjakan kegiatannya, tidak seorangpun dari kami yang saling berhadapan. Terjadi pula di keluarga kami ketika tas-tas dikemas dan salah satu dari kami akan pindah. Juga terjadi perdebatan dan pertengkaran yang tidak menyenangkan. Surat cerai berkali-kali diajukan. Namun ketika pertengkaran berakhir, kami saling memaafkan, dan berkomitmen untuk melakukannya lebih baik lagi. Banyak yang terjadi di antara kami, tapi saya menjadi sangat marah, dan Pat tidak cepat memaafkan seperti dulu, dan keadaan kehidupan sehari-hari kami sedikit menurun dengan setiap pertengkaran yang terjadi.

Sebagai seorang ekstovert, Pat menyatakan bahwa satu hal yang bisa membantu hubungan kami adalah dengan memperluas lingkaran sosial kami, dengan berteman dengan lebih banyak orang, dan lebih banyak bersosialisasi. Sedangkan saya sebagai seorang introvert merasa ngeri dengan ide itu, tapi saya merasa tidak enak karena selalu mengatakan “tidak mau” kepadanya mengenai hal semacam ini. Maka saya bertanya kepadanya di mana kami dapat menemukan teman-teman baru karena tidak ada seorang yang kami kenal yang mempunyai anak-anak seperti kami, hidup kami tidak ingin berkutat hanya menonton olahraga saja.

Suami saya memberi saran, “Gereja?” Saya menjawab, “Kita tidak bisa sekadar bergabung dalam sebuah gereja untuk mendapatkan teman. Tapi kita harus benar-benar percaya pada semua omong kosong itu.”

Dia agak tertawa mendengar jawaban saya, tapi biarkan kami mencobanya. Berbulan-bulan berlalu tanpa topik itu untuk dibicarakan kembali, namun suami saya yang sangat masuk akal, rasional, cerdas sudah memulai membaca sesuatu yang cukup aneh bagi saya. Ia menelusuri agama Buddha dan Taoisme. Ia penasaran tentang kepercayaan spiritual lama saya, yang saya sudah tidak anggap lagi. Saya berpikir jika kebenaran trensenden ke dalam alam semesta itu ada, itulah yang pernah saya percayai dan yang paling dekat dengan sesuatu yang benar, dan rupanya kebiasaan saya yang egois itu sulit mati. Sampai suatu hari, ketika dalam perjalanan, Pat bertanya kepada saya, “Apakah kamu tahu banyak tentang Yesus?”

Saya memandangya seolah-olah ia sudah gila, saya jawab, “Oh, tentu saja. Saya sudah melakukan penelitian, dan saya sudah lama memutuskan. Yesus itu cukup menarik, tapi bukan buat saya.”

Pipi Pat memerah dan ia semakin bersemangat, katanya, “Ya, tapi tahukah kamu apa yang Ia perbuat? Ia mengaku sebagai siapa?”

Saya mendengus sambil menjawab, “Ia bukan ‘Tuhan dan Juruselamat pribadi’ saya, itukah yang kamu maksudkan. Saya sudah cukup dengan semua omong kosong itu ketika saya tumbuh dewasa. Jika orang-orang cukup lemah sehinggan butuh seorang perantara untuk Tuhan, atau apa pun itu, maka saya kira Ia baik untuk menjadi perantara.”

Tapi Pat tidak benar-benar mendengarkan. Saya melihat dirinya sedang mengerjakan sesuatu dalam pikirannya, tapi tidak tahu sejauh mana ia sudah menerima agama Kristen. Tak sampai beberapa minggu kemudian, ketika ia mencanangkan ide untuk pergi ke gereja lagi.

Saya berkata, “Tidak.” Ia menjawab, “Mengapa tidak? Saya kira kita harus mencobanya.”

Jawab saya, “Tapi saya tidak percaya akan agama ini. Saya tidak bisa pergi ke sana. Saya tidak mau menjadi seorang yang palsu.” Saya menjadi sangat marah. Pat sudah memantapkan ateisme saya, dan sekarang ia meninggalkan saya dalam jurang kegelapan yang dingin itu sendirian? Pat menjadi seorang yang lebih baik, menjadi seorang ayah dan suami yang baik, namun saya sangat marah kepadanya, karena itu berarti ia sudah berubah dan meninggalkan saya, jadi saya terus melawan keinginannya yang baru itu, yaitu pergi ke gereja.

Pada masa ini, rumah kami mengumpulkan beberapa buku agama. Pada awalnya buku-buku gerakan zaman baru (new age movements) dan mendaki spiritualitas, kemudian spiritualitas Timur, dan yang sekarang yang paling sulit untuk tidak saya perhatikan adalah buku-buku yang jelas adalah buku-buku Kristen.

Pat bertanya kepada saya, “Maukah kamu setidaknya membaca buku yang satu ini?” Pat menyerahkan buku Lee Strobel yang berjudul The Case for Christ. Kemudian ia berkata, “Saya pikir kamu akan menyukainya. Buku ini tentang seorang jurnalis ateis yang melakukan investigasi dan mulai meneliti siapa itu Yesus dari perspektif sejarah.”

Sejarah? Jurnalistik? Ateisme? Itulah hal-hal yang saya minati sehingga saya enggan untuk membacanya, tapi saya berkata kepada Pat bahwa saya tidak akan menjadi seorang Kristen, bagaimana pun caranya. Saya tidak bisa melupakan kenangan buruk yang saya punya dari masa muda saya dari teman-teman dan orang asing yang keduanya berusaha meyakinkan saya bahwa pada dasarnya diri saya itu rusak dan Yesus sudah mati untuk menyelamatkan saya, dan oleh karena itu saya berutang sesuatu kepada-Nya sebagai balasannya.

Tapi setelah saya mulai membaca buku itu, ketika Yesus diperkenalkan dengan cara yang belum pernah saya dengar sebelumnya, bahwa Ia bukan sekadar guru spiritual atau legenda buatan manusia, tapi sebagai Allah yang menjadi manusia karena Ia sangat mengasihi kita. Cangkang luar saya yang keras, yang saya bangun di sekitar hati saya selama bertahun-tahun mengenai Yesus pelahan-lahan retak. Kemudian saya menyadari bahwa Yesus adalah yang saya butuhkan.

Pada saat saya sampai ke bagian buku yang menjelaskan Dosa Asal, dan benar saja kalau kita sudah mendapat nilai merah dalam rapor manusia kita, dan hanya Allah yang mampu menghilangkannya. Segala penderitaan yang pernah saya alami bertahun-tahun, segala cinta dan kebaikan, pengabdian saya kepada anak-anak saya, dan mengapa kerusakan diri saya tidak bisa ditaklukkan, semuanya terjawab sudah.

Kemudian saya menutup buku itu dan duduk terdiam sunyi dan di tempat yang sama dalam kamar saya ketika dahulu saya dengan penuh keraguan berkata bahwa saya tidak percaya Tuhan, saya mengatakan serangkaian kata-kata baru dengan rasa gentar tapi menggembirakan: “Saya seorang Kristen, saya seorang Kristen.”

Saya percaya kepada Kristus, Pribadi Yesus yang nyata dan historis, bukan legenda atau halusinasi massal, tapi Allah yang sejati dan Manusia yang sejati, dengan kasih yang sejati, datang untuk menghapus batu tulis hati kita supaya bersih. Ada bukti sejarah yang baik dari para cendekiawan cerdas untuk menegaskan hal ini. Bukan hanya angan-angan naif seperti yang pernah saya pikirkan sebelumnya. Beberapa saat kemudian, kata-kata lain muncul dalam benak saya: “Sekarang mau apa?”

Saya bersyukur atas iklan yang terus muncul di halaman Facebook saya menjelang saat-saat ini dan saya sudah tahu itu. Apakah iklan itu adalah pemasaran? Saya tidak yakin, namun kata-katanya melekat di benak saya: Bagaimana jika dalam 30 hari, Anda baru saja percaya?” Bagaimana jika saya melakukannya? Seperti apa nantinya? Saya memutuskan untuk melakukan sesuatu semacam tantangan iman. Selama 30 hari, saya membaca Alkitab dan pergi ke gereja dan juga mengenakan kalung salib, dan jika orang lain bertanya apakah saya seorang Kristen, maka saya akan menjawab, “Ya.”

Saya tidak tahu persis apa maknanya menjadi seorang Kristen itu, tapi tiba-tiba saya merasa terbuka untuk mencari tahu. Retakan cangkang di sekitar hati saya semakin besar, lebih terstruktur, dan ketika cangkang itu terbuka, saya tidak perlu sampai 30 hari. Dalam seminggu, saya sudah menerima sepenuhnya. Namun saya belum menjadi seorang Katolik. Bahkan, ketika dengan malu-malu saya mengaku kepada suami saya bahwa sekarang saya sudah bersedia pergi ke gereja, saya menawarkan diri ke hampir semua denominasi Kristen, “tapi,” saya mengatakan sebuah lelucon, “Tidak mungkin saya akan menjadi seorang Katolik.”

Kami mulai pergi ke sebuah gereja Lutheran, seperti saya tahu beberapa orang Lutheran ketika saya masih muda. Dan saya pikir, jika kami menjadi seorang Kristen, kami harus menemukan sebuah tempat yang mana ibadah itu dihormati, tidak ada pencahayaan yang memengaruhi suasana hati atau presentasi PowerPoint tetapi juga tidak berlebihan seperti upacara formal yang mengacaukan jalan menuju Tuhan seperti Misa Katolik. Semua persyaratan ini dipenuhi di jemaat Lutheran setempat.

Namun, suami saya lebih merasa tertarik ke arah yang berbeda: Katolik, ke suatu tempat yang saya tidak pernah mau pergi ke sana. Karena ia ingin belajar banyak, saya juga tertarik untuk belajar lebih banyak. Bersama-sama kami menonton serial Catholicism yang dibawakan oleh Uskup Robert Barron. Dalam satu episode, Uskup Barron menjelaskan tentang Ekaristi, bagaimana unsur roti dan anggur bukan sekadar simbol yang menunjuk pada Yesus, tetap menjadi Yesus itu sendiri. Dan tiba-tiba saya mengerti, dupa, musik, jendela kaca patri, dan altar yang dihias, tata gerak, membungkuk, gerakan imam, dan segala hal untuk mengangkat hati dan pikiran kita kepada-Nya dan juga mempersiapkan hati dan pikiran kita yang ikut ambil bagian dalam Ekaristi yang akan mereka terima.

Beberapa hari kemudian, Pat mengajak saya untuk pergi bersama ke Misa harian. Jika saya belum pernah berlutut ketika lonceng dibunyikan tiga kali, dan imam menyatakan perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kritus, maka saya akan berlutut kepada-Nya. Saya mengerti dan saya tahu tidak cukup hanya menjadi seorang Kristen. Saya harus total. Saya seorang Katolik.

Ada beberapa hal logis yang cenderung dilakukan bersama dalam beberapa minggu mendatang: Menarik diri dari gereja Lutheran yang sudah kami ikuti itu, bertemu dengan suster yang bertugas dalam pembentukan iman dewasa, mendaftar RCIA (katekumen), menyelesaikan dokumen, dan sebagainya. Sementara itu beberapa tugas tidak begitu menggairahkan, saya merasa sangat baik dan benar berada di jalan menuju Gereja yang sejati. Setiap awal pertemuan RCIA, kelompok itu akan membaca dan mendiskusikan bacaan Injil untuk Minggu berikutnya. Pada suatu pekan, yang dibahas adalah Matius bab 18, dan ketika tiba di ayat 20 yang bunyinya, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” saya merasa merinding. Yesus ada di sini bersama dengan kami. Perasaan itu menjadi lebih baik dan lengkap dari apa pun yang saya rasakan sebagai seorang anti-agama, orang spiritual yang begini dan begitu. Semua keinginan yang saya miliki harus dekat dengan kasih dan kebenaran yang universal, dan hal itu ada di sini, dan selalu ada di sini, yaitu di Gereja Katolik.

Setelah perubahan keyakinan yang saya alami, semuanya sudah membaik. Bukan hidup saja menjadi lebih mudah atau penderitaan sehari-hari menjadi hilang. Memang, banyak hal dalam hidup saya menjadi semakin sulit, saya dipanggil menuju kekudusan dan itu berarti dalam banyak hal saya harus mengesampingkan apa yang nyaman menurut saya tapi melakukan apa yang Tuhan kehendaki dari saya walaupun bisa jadi tidak nyaman, lebih menantang, bahkan benar-benar menyakitkan. Tapi kualitas hidup saya berubah. Keputusasaan yang pernah melanda saya hanyalah kenangan lama. Saya menjadi seorang yang lebih ramah, lebih lembut, dan juga lebih sabar. Perkawinan saya dijalani dengan cara yang indah sebagai sakramen. Saya menjadi seorang ibu, istri, anak, dan teman yang lebih baik. Saya menjadi lebih peduli kepada orang lain dan penderitaan yang mereka hadapi. Kristus telah mengambil orang yang lama dan kusut dan menggunakan diri saya dan menjadikan saya menjadi manusia yang baru. Begitu saya sedikit membuka diri kepada-Nya, Ia menghancurkan kekerasan hati saya dan menjadikan karya-Nya berjalan dengan cepat dalam diri saya. Dan secara harfiah, saya bersyukur kepada Tuhan setiap harinya karena tidak menyerah pada diri saya, meskipun saya sudah mengabaikan, melecehkan, dan membuang-Nya selama bertahun-tahun.

Christine Mooney-Flynn adalah istri dan ibu dari empat anak. Semangatnya akan iman Katolik, Christine melakukan siaran podcast dan menulis blog di TheCatholicMama.com yang berisikan segala hal tentang agama Katolik untuk membantu para orang tua merasa yakin pada iman mereka dan membesarkan anak-anak Katolik yang percaya diri.

Suaminya Patrick sudah pernah menjadi tamu di acara “The Journey Home,” dan juga pernah menuliskan kisahnya di sini.

Sumber: “From Spiritual but Not Religious to Atheist and Finally to Catholic”

Posted on 1 May 2020, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: