Mengelilingi Dunia Protestan dalam 48 Tahun – Kisah Kira Ciupek

Kira Ciupek (Sumber: kira-marie-mccullough.com)

Jika Jules Verne penulis “Around the World in 80 Days (Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari),” menuliskan kisah hidup saya, mungkin judulnya “Around the Protestant World in 48 Years (Mengelilingi Dunia Protestan dalam 48 Tahun).” Saya bukan penjelajah bumi, tapi saya seorang yang pindah-pindah gereja. Sebagian besar hidup saya, saya tidak mendalami berbagai denominasi yang saya ikuti, sekadar mengagumi keindahan dan bingung akan perbedaan denominasi-denominasi itu. Saya bergabung dengan sebuah gereja dan kemudian dengan gereja lainnya, pindah dari Texas ke Tennessee, kemudian ke California dan kembali ke Texas, coba-coba dari non-denominasi, Presbiterian, Injili Bebas (Evangelical Free), gereja Baptis Amerika, dan gereja Southern Baptist. Akhirnya pada usia 49 tahun, saya menemukan apa yang saya cari-cari sepanjang hidup saya, yaitu Gereja Katolik. Anehnya, Alkitab yang membimbing saya kepada Gereja Katolik.

Saya lahir pada tahun 1961 di Topeka, Texas, dari pasangan muda yang tidak dapat merawat saya karena alasan yang tidak jelas,. Pada bulan Juli 1962, saya diadopsi oleh seorang pendeta dari Evangelical United Brethren yang bernama Charles dan istrinya seorang guru yang bernama Doris, mereka membawa saya ke rumah mereka di pedesaan di Camp Creek, Texas. Ketika saya berusia dua tahun, ayah saya mengambil pendidikan pendeta senior di gereja Methodist di Manhattan, Texas. Saat inilah saya mengalami kenangan manis akan keluarga dan gereja. Saya masih ingat ketika saya pergi ke gereja, duduk bersama ibu saya di loteng balkon ketika ibu saya memimpin paduan suara, mengagumi ayah saya dengan jubahnya sambil berkhotbah di mimbar. Setelah itu kami pulang ke rumah dengan aroma harum masakan daging sapi, memasak sepanjang pagi langsung dari oven. Pada hari Minggu, ketika kami duduk di meja dapur untuk makan malam, ayah saya akan membaca dengan keras perikop dari Alkitab sementara itu saya duduk di pangkuannya. Dalam hati saya sebagai anak kecil, saya memahami bahwa buku besar itu adalah buku tentang Tuhan, dan Ia mengasihi saya, seperti ayah saya.

Pada tahun 1969, ayah saya menjadi pendeta kampus Methodist di Ohio University di Athens. Sebagai keluarga yang beranggotakan empat orang (adik perempuan saya diadopsi pada tahun 1964), kami pindah ke kaki gunung di Pegunungan Appalachian, kami hidup bahagia dalam dua cerita yang indah, pendeta bergaya kolonial dan ikut di gereja Methodist di pusat kota selama hampir sepuluh tahun. Ketika saya tumbuh besar, dari seorang anak kecil menjadi seorang remaja pemalu, kedua orang tua saya yang sama-sama dididik dalam gereja Nazarene sedang mempertanyakan pandangan Methodist tradisional mereka. Untuk pertama kalinya, saya mulai mendengarkan frasa-frasa seperti “harga diri,” “feminisme,” dan “humanisme sekuler.” Ayah saya mengajarkan saya bagaimana untuk mempertanyakan pandangan dunia keagamaan yang ia sebut sebagai “Fundamentalisme Kristen.” Ayah saya menjelaskan bahwa penafsiran harfiah dari Alkitab merupakan sesuatu yang harus dihindari. Anehnya, ketika kedua orang tua saya mempertanyakan iman Kristen mereka, saya menemukan iman Kristen menurut diri saya sendiri.

Pada suatu hari Natal, kami mengunjungi kakek dan nenek dari pihak ibu di Dallas, Texas, di sana kami berkumpul dengan bibi, paman, dan sepupu, yang semuanya menganut denominasi Nazarene. Kakek saya seorang pendeta Nazarene yang sangat dihormati, beliau menggembalakan umat yang berkembang pesat di Dallas. Tak seorang pun dari keluarga ibu saya yang mempertanyakan Alkitab. Bahkan, tampaknya Alkitab adalah sumber kedamaian bagi mereka. Iman mereka begitu hangat dan menarik hati. Sebaliknya, saya merasa tidak pasti dan juga tidak percaya diri mengenai apa yang saya imani. Saya juga mengalami kebosanan pada masa remaja yang tak lama kemudian berubah menjadi perasaan depresi yang terus menerus.

Ketika saya berusia 13 tahun, pertama kali saya mengalami sukacita adikodrati yang menegaskan kehadiran Allah yang nyata dan hidup. Saya baru saja selesai membaca buku The Hiding Place karya Corrie Ten Boom. Dia percaya pada Alkitab, dan inti iman Kristen baginya adalah seorang manusia yang bernama Yesus Kristus yang juga adalah Allah. Di akhir buku itu tertulis “Doa Orang Berdosa” yang adalah undangan untuk menerima Yesus sebagai “Tuhan dan Juruselamat pribadi.” Saya menginginkan sukacita yang dimiliki Corrie, maka saya mendoakan doa itu, tak lama kemudian, saya merasakan hati yang tanpa beban dan bahagia. Saya membagikan kabar baik itu kepada kakek dan nenek saya, yang mengatakan bahwa saya sudah “dilahirkan kembali.” Pada Natal berikutnya, kakek saya membaptis saya dan semua sepupu saya dengan sebotol air yang diambil dari Sungai Yordan pada waktu ziarah ke Israel.

Kedua orang tua saya diam-diam menerima ilham yang saya alami tiba-tiba itu, seakan-akan saya menumbuhkannya dalam satu hari. Saya kira mereka benar. Tanpa apa pun kecuali Alkitab saya itu, dan tak ada seorang pun yang membantu saya dalam menafsirkannya, saya menjadi kewalahan dengan perjuangan saya untuk menjadi “orang baik.” Pada usia 14 tahun, saya berhenti berdoa dan membaca Alkitab. Saya memutuskan untuk bereksperimen dengan filosofi lain. Saya membaca buku-buku psikologi popular dan mencoba meditasi trensendental. Namun, saya tidak pernah memperoleh kembali sukacita yang pernah saya rasakan setelah membaca buku karangan Corrie Ten Boom, atau juga perasaan manisnya pengampunan yang melanda diri saya ketika kakek saya memerciki kepala saya dengan air Sungai Yordan.

Pada tahun 1978, kami pindah tempat untuk terakhirnya sebagai sebuah keluarga. Ayah saya mengambil jabatan sebagai pendeta kampus Texas A&I University di Kingsville, Texas. Saya dan adik saya bergabung dengan sebuah gereja Methodist yang kecil, di gereja itu kami disambut oleh seorang pendeta muda yang punya daya tarik. Saya sudah belajar untuk mempertanyakan Alkitab, sehingga saya tidak terlalu peduli dengan khotbah atau sekolah Minggu. Kelompok orang muda menjadi pusat kehidupan kami. Setelah pertemuan orang muda, kami akan pergi untuk makan pizza, nonton film, dan ikut pesta. Di situlah saya jatuh cinta dengan Dennis. Sementara itu saya masih punya banyak keraguan, sedangkan Dennis punya iman yang kuat akan Yesus. Setelah saya lulus sekolah menengah (setara dengan SMA –red.), kami mulai berkencan. Pada musim panas ketika saya berusia 19 tahun, kami dengan sukarela mengajukan diri untuk menjadi penasihat kamp “anak-anak bermasalah” di sebuah perkemahan Methodist di “negara pegunungan” Texas.

Kami tidak pernah sampai ke kamp itu. Dalam perjalanan, kami mengalami kecelakaan mobil tragis dalam kegelapan malam di jalan pedesaan yang berliku. Sedihnya, Dennis meninggal di tempat. Selain luka dan memar, cedera terbesar yang saya peroleh adalah paha depan kiri saya terbagi dua (bisected quadriceps), yang memerlukan operasi besar. Ketika saya pulih dari operasi dan berduka karena kehilangan Dennis, saya memutuskan untuk mendaftar di Mid-America Nazarene College di Olathe, Kansas, di tempat semua sepupu saya yang menganut Nazarene bersekolah. Di tengah rasa sakit yang saya alami, saya merindukan kenyamanan yang saya alami di masa kecil, dan iman dari kakek saya.

Pada musim gugur tahun 1981, dengan kaki digips dan menggunakan tongkat, saya pergi ke Olathe. Saya langsung tertarik pada sukacita para mahasiswa dan dosen. Namun hati saya masih memberontak. Saya melewatkan ibadah wajib di kapel dan berdebat dengan mahasiswa lain mengenai Alkitab.

Dalam salah satu percakapan-percakapan  yang tidak menyenangkan ada yang mengguncang kesombongan saya. Setelah kelas usai, saya kebetulan mendengar dua orang mahasiswa yang mendiskusikan topik mengenai “dosa.” Saya ikut bergabung dengan bias saya yang anti-Kristen. Mereka mengutip ayat-ayat Kitab Suci untuk mendukung argumen mereka, dan saya membantah setiap ayatnya. Akhirnya, seorang pria muda bertanya kepada saya, “Apakah kamu percaya pada Alkitab?” Saya menjawab, “Tidak.” Lalu dengan suara lembut ia berkata, “Kita benar-benar tidak punya landasan yang saya untuk mendiskusikan ini. Kami percaya bahwa Alkitab adalah Sabda Allah, sedangkan kamu tidak percaya.” Dengan pernyataan itu, mereka memalingkan diri dan pergi dari hadapan saya. Saya terkejut! Tidak pernah ada seorang pun yang bisa lepas seperti itu dalam suatu perdebatan dengan saya.

Setelah dua semester, saya menginggalkan Mid-America. Pada musim panas berikutnya, saya kembali ke Texas untuk tinggal bersama kedua orang tua saya, saya masih merasakan kesedihan dan kekosongan yang telah mendorong saya ke Olathe. Saya masih terus mengingat sukacita yang saya lihat di wajah para siswa di Mid-America, dan iman mereka yang begitu yakin. Saya tahu kalau mereka percaya pada Yesus dan penafsiran harfiah dari Alkitab. Apakah iman mereka membuat mereka bahagia? Suatu malam, ketika saya sendirian di rumah, saya berseru kepada Allah:

Ya Tuhan …  Engkau tahu bahwa saya tidak percaya pada Alkitab. Ya, mungkin di bagian dari Perjanjian Baru, tapi yang jelas bukan Perjanjian Lama! Bagaimanapun, Tuhan … kalau Yesus itu nyata … jika Ia benar-benar nyata … tolong bantu saya!

Anehnya, di saat saya benar-benar jujur dan tak berdaya, keputusasaan yang saya rasakan terangkat. Untuk pertama kalinya, saya tidur dengan perasaan bahagia sejak Dennis meninggal. Ketika saya bangun, saya masih merasa bahagia. Saya pikir saya harus menjadi seorang Kristen. Saya bertanya-tanya, apa yang harus saya lakukan selanjutnya? Sebuah ayat Kitab Suci muncul dalam benak saya:

Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (Matius 6:6).

Saya menemukan sebuah Alkitab di rak buku di ruang baca dan saya duduk di lantai kamar tidur saya. Kali ini, saya memiliki stamina dan keberanian untuk membaca. Saya tinggal bersama dengan kedua orang tua saya selama dua tahun berikutnya dan bekerja di stasiun radio setempat. Saya seorang “Kristen Fundamentalis” yang diam-diam, membaca Alkitab di lemari pakaian saya dan menonton acara Kristen di televisi pada larut malam setelah mereka tidur. Sayangnya, iman saya yang baru saya temukan itu menyebabkan ketegangan dan perdebatan antara saya dan ayah saya.

Akhirnya, saya meninggalkan Kingsville untuk kuliah di University of Texas di Austin dan mengejar gelar dalam Jurnalisme Siaran. Untuk membayar tagihan bulanan, saya mendapatkan pekerjaan di stasiun radio Kristen. Di sana saya bertemu dengan seorang pria muda yang bernama Paul, yang merupakan musisi rock Kristen dengan selera humor yang unik dan iman yang kuat. Ia percaya bahwa musik penyembahan mengantar kita ke hadirat Allah, yang menyebabkan Roh Kudus “turun” kepada kita. Saya merasa penasaran dengan gagasan baru yang aneh ini, dan mulai menghadiri gereja non-denominasi. Kebaktiannya berbeda dari yang pernah saya alami. Orang-orang mengangkat tangan dan memejamkan mata, bergoyang mengikuti suara gitar listrik dan drum. Saya merasakan hubungan emosional dengan Yesus yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya kembali lagi untuk ikut di gereja non-denominasi bersama dengan Paul, sambil bersemangat dengan apa yang mereka sebut sebagai “gerakan Roh Kudus.”

Selama musim semi, saya dan Paul mulai serius berpacaran, dan pada pertengahan musim panas, Paul meminta saya untuk menikah dengannya. Kami menikah di gereja non-denominasi yang di mana kami menjadi jemaatnya pada tanggal 30 November 1985, dengan kakek dan ayah saya yang memimpinnya. Pada tahun 1987, putri kami yang bernama Evangeline lahir. Ketika suami saya ditawari tur singkat band Kristen pada tahun 1990, kami mengambil sebuah “langkah iman” dan pindah ke Nashville, Tennessee.

Di sana, kami menemukan jemaat non-denominasi yang sedang berkembang yang berjumlah 500 orang, gerejanya berada di antara hutan pinus di perbukitan Tennessee Valley. Musiknya mirip, namun lebih professional, dengan musisi dan penyanyi dari Nashville yang tampil dengan sempurna, namun demikian fokusnya berada pada khotbah. Pendeta menggali secara Kitab Suci secara sistematis, menafsirkan baris demi baris, ajaran demi ajaran. Ia menjelaskan hubungan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, menenun Kitab Suci menjadi jubah iman yang indah yang tanpa batas yang juga masuk akal. Empat tahun berada di gereja itu merupakan pengalaman yang luar biasa. Saya bergabung dengan beberapa kelompok studi Alkitab, membeli Vine’s Expository Dictionary of New Testament Words dan Strong’s Concordance, dan terjun ke dalam dunia tafsir bahasa Yunani dan Ibrani. Melalui pengejaran saya dalam hal intelektual pengetahuan Alkitab, iman saya akan Kristus bertumbuh.

Tak lama kemudian, putra kami lahir pada tahun 1992, ia bernama Clyde, dan pada waktu itu, untuk pertama kalinya kami mengalami perpecahan gereja. Saya masih tidak tahu masalah apa yang menyebabkan para diakon dan para penatua tidak setuju, namun pada akhirnya hampir 200 orang meninggalkan gereja non-denominasi di Tennessee Valley, termasuk kami. Kami pindah ke jemaat non-denominasi kecil yang beranggotakan 50 orang, yang bertemu di depan sebuah toko. Gereja ini menekankan penyembuhan fisik dan emosional. Setiap hari Minggu ada “antrian penyembuhan,” ketika orang-orang datang menuju altar mendekati pendeta atau orang-orang lain untuk berdoa bagi mereka sambil “menumpangkan tangan.”

Kemudian, pada tahun 1995, putri kami lahir, dia bernama Joy. Dia didiagnosis menderita Cystic Fibrosis, suatu penyakit genetik dan berbahaya. Kami mengikuti arahan dokter, dengan pengobatan dan rawat inap. Prognosisnya baik, namun dia akan memerlukan perawatan medis terus menerus. Meskipun saya percaya kalau suatu hari Allah akan menyembuhkannya, saya tidak sepakat dengan ajaran pendeta mengenai penyembuhan. Pendeta itu mengajarkan bahwa jika seseorang punya cukup iman, dia akan sembuh dengan sekejap. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang saya pahami tentang Kitab Suci, juga tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi kami. Saat itulah kami mulai mengunjungi sebuah gereja non-denominasi terdekat yang punya anggota besar sebanyak 3.000 orang. Saya merasa lega bisa “berbaur” dengan orang banyak. Suami saya melayani sebagai tim penyembahan. Saya tidak ikut studi Alkitab apa pun karena saya terlalu sibuk sebagai ibu rumah tangga, membesarkan tiga anak yang cantik.

Dua tahun kemudian, kami terkejut ketika gereja ini mengalami perpecahan. Teman-teman mulai berbondong-bondong meninggalkannya. Pada titik ini, kami sudah muak dengan pergolakan yang terjadi di gereja, maka kami ikut beberapa teman kami yang paling dekat ke sebuah gereja Presbiterian Reformasi terdekat yang tenang. Saya berharap untuk sesuatu yang lebih tradisional, seperti gereja Methodist, tempat saya dibesarkan. Saya tidak merasa kecewa. Khotbah selama 30 menit itu masuk akal secara intelektual dan alkitabiah. Kami menyanyikan lagu pujian dan mengikuti alur acara yang dicetak dalam buletin. Dalam satu jam, kami sudah berada di rumah, dan makan malam.

Beberapa bulan kemudian, suami saya ditawari posisi sebagai pendeta penyembahan di jemaat Baptis Amerika di California, dan kami pindah dari Tennessee ke North Bay. Suami saya memimpin penyembahan di tiga gereja Baptis Amerika yang berbeda tempat. Saat ini merupakan tahun-tahun yang bahagia tinggal di dekat tempat tinggal orang tua dan keluarga Paul, dan juga saya menjadi ibu rumah tangga dan ibu dari anak-anak yang melakukan homeschooling. Saya melanjutkan untuk membaca Alkitab pada “saat teduh” di pagi hari dan bertumbuh pemahaman saya tentang Alkitab melalui khotbah dan studi Alkitab dari umat Baptis Amerika.

Pada tahun 2004, hidup kami sudah utuh. Kami kembali ke Texas, di mana kedua orang tua dan keluarga adik saya masih tinggal di sana. Suami saya ditawari posisi sebagai pendeta di gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (Assemblies of God) di Austin. Tidak seperti lima tahun sebelumnya dalam situasi gereja yang stabil, enam tahun ke depan akan menjadi pusaran angin puting beliung dengan berpindah-pindah gereja. Tak lama setelah kami tiba di Assemblies of God, terjadi pepecahan gereja yang menyakitkan. Tanpa disadari kami masuk ke situasi yang kontroversial. Ketika gereja runtuh di sekitar kami dan orang-orang meninggalkannya, suami saya mulai mencari pekerjaan di tempat lain. Kami bersyukur ketika ia ditawari pekerjaan oleh sebuah gereja non-denominasi di Texas tenggara, yang memiliki jemaat yang dinamis dan berkembang. Apa yang tidak kami ketahui sampai kami tiba di sana adalah ada seorang pendeta yang dianggap sebagai seorang “Rasul,” mengarahkan gereja berdasarkan visi pribadinya yang ia percaya berasal dari Allah. Hal ini merupakan bentuk baru kepemimpinan gereja bagi kami, dan kami merasa tidak nyaman. Beberapa bulan kemudian, Paul ditawarkan posisi sebagai pendeta penyembahan paruh waktu untuk gereja Injili Bebas, dan kami pindah kembali ke daerah Texas tengah. Pada tahun 2007, ia memperoleh posisi tetap sebagai pendeta penyembahan untuk jemaat gereja Southern Baptist di Killeen. Kami membeli rumah pertama kami di komunitas terdekat yang jaraknya 30 mil jauhnya.

Di semua gereja yang pernah kami ikuti, saya menemukan orang-orang yang saleh dan menjalin persahabatan yang penuh kasih. Namun, pada saat kami mulai menghadiri gereja Baptis di Killeen, saya mulai merenungkan dengan serius mengenai perbedaan antara kelompok-kelompok Protestan. Pengetahuan saya tentang Kitab Suci merupakan referensi saya untuk menganalisis perbedaan. Yang paling mengejutkan saya adalah bahwa kita semua punya Alkitab yang sama, namun tidak bisa sepakat dalam masalah-masalah mendasar mengenai doktrin. Apakah baptisan itu boleh dengan percikan atau harus selam? Apakah kepemimpinan gereja itu oleh monarki atau demokrasi atau dewan penatua atau sesuatu yang lain? Apakah pada zaman ini masih ada Para Rasul, atau tidak? Apakah kita, “sekali diselamatkan, tetap selamat,” atau dapatkah dosa memengaruhi keselamatan kita?

Saya mulai melakukan peninjauan sistematis dari semua gereja yang pernah kami ikuti, dan bertanya, “Bagaimana Roh Kudus bisa memberikan penafsiran yang berbeda tentang Kitab Suci kepada kelompok-kelompok yang berbeda, bukankah Yesus ingin supaya kita menjadi ‘satu’? (Yohanes 17:11). Tidak ada otoritas yang bisa kita tuju kepada siapa untuk menafsirkan Kitab Suci, kecuali pada diri kita sendiri. Kadang-kadang, kami akan menemukan seorang pendeta atau gereja yang mencerminkan pandangan kami, namun setelah itu kami berbeda pandangan, dan juga terjadi perpecahan. Ulasan yang saya buat membawa saya menuju wahyu yang menakjubkan: tanpa adanya persetujuan akan kebenaran, dan adanya otoritas yang diakui untuk menafsirkan Kitab Suci, maka tidak akan pernah ada kesatuan yang dijanjikan Yesus.

Akhirnya, pada suatu hari, ketika saya mencuci piring di wastafel dapur, saya berdoa dengan cara yang paling drastis dan berbahaya seumur hidup saya. “Ya Tuhan, Saya tidak bisa menemukan sebuah gereja yang menunjukkan persatuan yang Engkau janjikan dalam Alkitab. Mungkin gereja itu ada di suatu tempat, mungkin jauh di masa lalu, mungkin di negara lain, mungkin di tempat yang jauh, atau di masa depan yang tak bisa terlihat. Apa pun itu, saya tidak bisa menemukannya sekarang dan juga di sini.”

Kemudian dengan rasa takut, gentar, dan berlinang air mata, saya membisikkan kata-kata ini, “Ya Tuhan, saya keluar dari anggota gereja zaman ini. Saya bukan anggota gereja mana pun, saya hanya milik Yesus Kristus.”

Pada masa-masa yang sangat putus asa itu, Allah mulai bekerja dalam cara yang ajaib. Seolah-olah Ia sudah menunggu saya untuk mengucapkan kata-kata itu. Dalam beberapa minggu, saya dan Paul menjalin hubungan kembali dengan teman-teman yang kami kasihi yaitu Phillip dan Caroline. Kami berjumpa dengan mereka di pertanian mereka, makan, bersekutu, bermain musik, dan tertawa bersama. Anak-anak kami senang bersama dengan anak mereka, berlari-lari di rumput yang tinggi dan bunga liar, menangkap kunang-kunang dan bermain kejar-kejaran. Yang menarik, Phillip dan Caroline yang ketika masa muda bersama-sama beribadah dengan kami di Austin, baru saja berpindah ke Gereja Katolik. Kendati demikian mereka jarang membicarakan kisah perubahan keyakinan ketika kami bersama mereka, sikap mereka yang tenang dan damai membuat saya terkesan. Suatu hari, saya bertanya kepada Phillip, “Apa yang umat Katolik pikirkan tentang kami sebagai umat Protestan?” Ia menjawab, “Kami mengasihi saudara-saudari Protestan kami. Kami merasa sedih karena kami berharap mereka juga bisa merasakan kepenuhan yang ada di Gereja Katolik.” Jawabannya membuat saya gundah. “Kepenuhan” apa yang belum saya miliki?

Pada musim gugur tahun itu, Joy harus menjalani rawat inap yang panjang. Caroline datang menemui kami, dan ketika putrinya mengunjungi putri saya, saya dan Caroline berjalan-jalan di taman luar. Akhirnya, saya mengumpulkan keberanian untuk bertanya tentang Gereja Katolik. Saya ingin tahu tentang “kepenuhan” yang pernah disebut oleh Phillip. Caroline berkata bahwa hal itu merupakan Ekaristi, yang dia jelaskan sebagai “Kehadiran Nyata” yaitu roti dan anggung benar-benar menjadi Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian Yesus Kristus. Hal ini membuat saya bersemangat. Saya bertanya kepada Caroline mengenai doktrin-doktrin Katolik lainnya mengenai penyembuhan, panggilan, dan memilah-milah kehendak Allah. Jawabannya mencerminkan banyak hal tentang kepercayaan saya sendiri, yang diambil dari membaca Kitab Suci selama bertahun-tahun. Hati saya dipenuhi dengan harapan. Saya bergumam kepadanya, “Saya kira saya harus selalu punya hati yang berbentuk Katolik!”

Setelah dia pergi, saya kembali ke kamar rumah sakit, dan ketika Joy mandi, saya menyalakan TV. Sebelumnya, saya sudah pernah melihat wajah seorang biarawati dari saluran TV itu. Pada waktu itu, acara itu terasa membosankan, namun setelah obrolan yang saya lakukan bersama Caroline, saya ingin mendengarkan apa yang dibicarakan biarawati ini. Saya menemukan saluran TV yang bernama EWTN. Namun bukan acara TV tentang biarawati itu yang saya temukan melainkan acara yang bernama The Journey Home yang pembawa acaranya adalah mantan pendeta Protestan yang bernama Marcus Grodi. Saya tidak ingat siapa yang sedang diwawancara, namun saya hanya ingat perasaan sukacita yang luar biasa ketika saya mendengar tamu itu menceritakan kisahnya pulang ke Gereja Katolik. Saya segera mematikan saluran TV itu ketika Joy memasuki kamar, saya tidak ingin menyibukkan Joy dengan pergumulan spiritual pribadi saya. Namun malam itu ketika saya berbaring di kasur lipat di sebelah ranjang rumah sakit, saya berdoa dalam hati, “Tuhan, apakah Engkau memanggil saya ke Gereja Katolik?” Saya tidak mendengar suara apa pun, namun seketika saya merasakan gelombang energi listrik mengalir ke seluruh tubuh saya, seolah-olah Roh Kudus hampir tidak bisa menahan diri saya dengan sukacita yang saya tegaskan dengan berdoa, “Ya! Tahun depan saya ingin memanfaatkan waktu untuk mempelajari Gereja Katolik. Saya menemukan bahwa Gereja Katolik mempunyai kebenaran yang ada dalam Alkitab (73 kitab diakui sebagai kanon Gereja Katolik jika dibandingkan dengan umat Protestan yang mengakui 66 kitab) dan dalam Tradisi (tulisan lain dan praktik-praktik umat Kristen perdana). Gereja Katolik juga punya otoritas yang disebut Magisterium, yang berada di tangan Paus dan para uskup, yang diberi tugas untuk melindungi kebenaran dari ajaran sesat, dan menafsirkannya melalui doktrin, dogma, dan ajaran. Oleh karena kebenaran dan otoritas Gereja Katolik, maka ada persatuan yang sejati, yang mana semua umat Katolik di seluruh dunia merayakan Misa bersama dengan cara yang sama, dan membaca Katekismus (ringkasan dari ajaran-ajaran Gereja) yang sama.

Saya memutuskan untuk memulai RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.) di sebuah paroki Katolik terdekat. Suami saya masih memimpin ibadah di gereja Southern Baptist di mana saya juga bermain piano untuk tim penyembahan. Pada Rabu malam saya mengikuti RCIA dan hari Sabtu malam saya ikut Misa, namun tidak ikut menerima Ekaristi. Pada hari Minggu pagi, saya bermain piano di gereja Baptis. Saya seorang Katolik diam-diam, dan kami merahasiakannya. Kami menghadapi kemungkinan yang nyata jika saya menjadi Katolik, yaitu suami saya akan kehilangan pekerjaannya. Ketika Paskah semakin dekat, saya menjadi takut akan pengorbanan besar yang akan terjadi jika saya menjadi Katolik. Saya memohon kepada Allah agar saya hanya bisa menjadi Katolik “sembunyi-sembunyi.” Lagipula, bisakah saya hanya membaca Kitab Suci dan Katekismus Katolik? Bisakah saya berdoa rosario sendirian? Apa lagi yang saya butuhkan? Kemudian, saya memikirkan Ekaristi. Hanya melalui Ekaristi, saya bisa menggenapi Yohanes 6:56-59. Apakah saya akan mempertaruhkan segalanya demi itu?

Saya memikirkan pemikiran ini ketika saya mengemudi sendirian di jalan raya. Ada truk pengangkut barang (flatbed truck yang bentuknya seperti truk pengangkut semen hanya bentuknya lebih kecil –red.) di depan saya, yang membawa furniture yang diikat di belakangnya. Tiba-tiba, sebuah meja besar terbang dari bagian belakang truk itu, dan jatuh terbalik di jalan. Saya segera memperlambat laju mobil saya ketika meja itu akan menghantam saya, saya kira saya akan menabraknya. Saya menyaksikannya dengan rasa tidak percaya, dan segera saya membanting setir ke sisi jalan yang berkerikil. Ketika saya melewati meja terbalik itu, saya merasa kagum. Saya menyadari bahwa hal ini adalah pertanda dari Allah bagi saya. Seolah-olah Ia membawa “meja” itu kepada saya. Dalam hati saya, saya tahu bahwa Yesus sendiri benar-benar ada dalam rupa roti dan anggur. Bagaimana saya bisa berpaling dari-Nya? Jika karena alasan lain selain Ekaristi, “sumber dan puncak iman kita,” saya akan mengambil keputusan dan mengambil segala risiko untuk menjadi Katolik.

Paskah 2010, saya merasakan sukacita dengan diteguhkan dalam Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik dan saya menerima Ekaristi. Umat gereja Baptis masih mengira bahwa saya adalah umat gereja Baptis, namun sebenarnya saya sudah benar-benar menjadi Katolik! Saya terus menjalani kehidupan ganda, berharap dan berdoa supaya suami saya bisa ikut bersama saya dalam lompatan iman. Namun, suami saya tidak melakukannya. Pada tahun 2011, suami saya mengajukan cerai.

Dengan menjadi Katolik, saya kehilangan suami, rumah, dan banyak teman. Namun, saya sudah memilih untuk tetap menjadi Katolik, dan setia pada janji perkawinan saya dengan harapan suami saya akan kembali suatu hari nanti. Saya mengenakan cincin kawin saya sebagai teladan bagi anak-anak saya mengenai kesetiaan Kristus, yang tidak pernah meninggalkan kita. Saya terus menumbuhkan iman melalui sakramen, hadir di paroki terdekat. Saya bersyukur karena kedua orang tua saya menerima perubahan keyakinan saya menjadi Katolik, dan ayah saya benar-benar memuji Gereja Katolik yang sudah membantu saya dan anak-anak kami untuk melalui perceraian yang menyakitkan. Hubungan argumentatif antara saya dan ayah saya selama bertahun-tahun sudah pulih setelah saya menjadi Katolik, dan dalam delapan tahun terakhir hidupnya, kami menganggap diri kami sebagai sahabat terbaik.

Saya merasa bersyukur atas tahun-tahun ketika saya berpindah-pindah gereja, karena para pendeta dan guru di berbagai denominasi yang berbeda itulah yang membuka pikiran saya akan Kitab Suci. Mereka sudah memberikan fondasi Kristen yang kuat. Dan saya masih punya beberapa teman Protestan. Namun, studi Alkitab saya yang mendalam pada akhirnya menuntun saya ke “kepenuhan” yang dijelaskan oleh Phillip. Saya menemukan Gereja Katolik dan Ekaristi sebagai mutiara yang sangat berharga yang sudah saya cari di sepanjang hidup saya.

 

Kira Ciupek, dibesarkan pada generasi tahun 60-70an, dia masih ingat akan masa kecilnya yang bahagia di kaki Pegunungan Appalachian di tenggara Ohio. Dia memuji kedua orang tuanya karena telah memberikannya pendidikan Kristen yang penuh rahmat di Gereja Methodist, tempat di mana dia dibaptis dan dikuatkan. Keluarganya pindah ke Texas pada tahun 1978, dan setelah lulus sekolah menengah (setara SMA –red.), Kira mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai direktur berita di sebuah stasiun radio musik di Texas Selatan. Kariernya di bidang radio mengarahkannya untuk mengejar gelar dalam bidang jurnalisme siaran di University of Texas di Austin. Di sanalah dia jatuh cinta dengan seorang pemuda tampan, seorang rekan kerja, yang kemudian menjadi suaminya. Pada tahun 1985, mereka menikah. Dalam rentang waktu sepuluh tahun, keluarga mereka dianugerahi tiga orang anak. Kira bekerja di rumah sebagai penulis lepas dan ibu rumah tangga. Perjalanan Kira menuju Gereja Katolik dimulai pada tahun 2009, setelah tahun-tahun berpindah-pindah di gereja-gereja Protestan bersama dengan keluarganya, yang juga termasuk pindah antar negara bagian dari Texas ke Tennessee, kemudian ke California dan kembali ke Texas. Kira diteguhkan di Gereja Katolik pada tahun 2010, dan sekarang dia adalah ibu dari tiga orang anak yang sudah dewasa, dan memanfaatkan waktunya untuk mengajar para mahasiswa dan menulis cerita dengan nama pena Kira Marie McCullough. Anda bisa menemukan karyanya di http://www.kira-marie-mccullough.com/

 

Sumber: “Church Hopper Finds Her True Home”

Posted on 21 September 2020, in Kisah Iman and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: