Tanda Yunus – Kisah Romo Scott Wooten

 

Romo Scott Wooten (Sumber: fwdioc.org)

Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka. Tetapi jawab Yesus: “Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi (Matius 16:1-4)

Pernahkan Anda punya ayat dari Kitab Suci yang terbayang-bayang selama bertahun-tahun? Suatu waktu, Matius 16:1 menjadi salah satu ayat yang membingungkan bagi saya. Mengapa ayat ini? Ayat ini bukanlah ayat yang sangat unik, dan tidak secara khusus mewakili ayat tentang “kabar gembira” melainkan ayat yang menyedihkan. Namun, ayat ini melekat pada diri saya karena saya merasa kasihan pada orang-orang Farisi dan Saduki. Tampaknya mereka tersesat, dan setelah membaca kisah berikutnya, saya tahu kalau akhir cerita mereka tidak bagus.

Saya juga sangat tertarik dengan kisah Yunus. Yunus merupakan kisah favorit saya waktu Sekolah Minggu. Saya dibesarkan sebagai seorang Episkopal sebagai seorang anak yang mencintai gereja. Saya memohon kepada ayah saya dan juga kepada pastor kami, supaya saya bisa menjadi seorang akolit pada usia 6 tahun. Apa yang saya lakukan ini sangat mengganggu, tapi akhirnya saya diizinkan untuk ikut prosesi dan duduk di bagian koor sambil mengenakan alba dan superpli, kalau saya tetap diam. Saya tidak duduk di bangku umat selama 12 tahun berikutnya. Ketika saya berusia 10 tahun, pastor saya menempatkan tangannya di kepala saya dan memberi tahu kedua orang tua saya bahwa suatu hari saya akan menjadi seorang presbiter Episkopal. Dan akhirnya itu terbukti benar.

Sementara itu, ada bagian lain dari cerita saya yang terjadi pada usia 10 tahun. Waktu itu saya ikut di sekolah Katolik. Di sanalah saya menemukan Gereja yang benar, dan saya tahu demikian adanya. Pada saat ini, kelihatannya aneh tentang masa lalu saya itu. Seiring bertambahnya usia, saya tidak punya masalah dengan menjadi anggota dari cabang Gereja yang benar. Skisma yang sudah terjadi karena berbagai alasan. Dan akan terus berlangsung sampai akhir perubahan keyakinan yang saya alami.

Semuanya tampak sudah disediakan, panggilan saya diterima, saya akan menjadi seorang presbiter Episkopal. Namun saya tidak memahami takdir saya. Saya adalah Yunus modern yang tidak mengerti mengapa saya dipanggil, dan melalui sekolah menengah (setara SMA –red.) dan kuliah, seperti Yunus, saya akan selalu mengembara. Saya bersekolah di sekolah Katolik di Our Lady of Victory School, Fort Worth, hanya untuk waktu singkat. Sepertinya saya adalah satu-satunya anak di kelas itu yang suka ikut Misa, meskipun saya bukan Katolik, dan tentu saja saya tidak menerima komuni. Pengalaman ini penting. Saya punya sebagian besar teman Protestan yang semuanya menyangka bahwa Gereja Episkopal itu salah, karena kami terlalu mirip dengan Gereja Katolik. Masa-masa di OLV memungkinkan saya melihat Katolikisme dari dekat, dan saya sangat nyaman berada di sana. Bahkan juga ketika saya bersama dengan para biarawati, yang tidak pernah memberikan tindakan indisipliner yang tidak layak saya terima.

Ini semua merupakan puzzle perubahan keyakinan saya, namun saya hanya punya satu sudut kecil yang berhasil saya susun. Keping-keping puzzle lainnya perlu waktu yang lebih lama untuk menyelesaikannya. Kuliah adalah perjuangan. Saya tidak akan pernah bisa lulus jika bukan karena kekasih saya di SMA, yang pada kemudian hari menjadi istri saya. Saya kuliah di jurusan arsitek yang tidak bisa menggambar, dan saya buruk dalam pelajaran matematika. Saya merasa yakin dengan panggilan saya dan saya tidak bisa melihat alasan untuk masuk ke dalam pelayanan. Sekali lagi, pengetahuan tanpa pemahaman. Yunus terus menerus bertanya kapada Allah, “Mengapa?” Ia mengembara di tempat yang jauh dan luas, berusaha mencari tahu mengapa Allah menginginkan ia di tempat lain, dan saya menghadapi hal yang serupa.

Setelah bertahun-tahun kuliah (lebih lama dari yang hendak saya akui), dan di berbagai pekerjaan berbeda, akhirnya saya lulus. Saya bekerja di bidang arsitektur selama enam tahun, namun pada tahun ketiga, saya lebih banyak menggunakan waktu di gereja. Saya benar-benar tidak bisa mengabaikan panggilan saya untuk menuju altar. Allah selalu menarik saya kembali ke gereja. Akhirnya, saya berada di kantor pastor saya, memohon kepadanya supaya menghilangkan panggilan ini supaya saya bisa kembali ke dunia arsitektur. Namun, lima tahun kemudian, saya meraih gelar Master of Divinity dan menjadi pastor muda.

Seminari menjadi waktu penting dalam perubahan keyakinan saya. Saya ikut di Nashotah House di Wisconsin, yang saat itu menjadi rumah Anglo-Katolik yang terkenal. Nashotah House mengajarkan teologi Katolik dan untuk pertama kali dalam hidup saya, saya mempelajari semua kisah yang terpisah-pisah yang pernah saya dengar di Sekolah Minggu, dan semuanya menjadi berhubungan. Satu dunia baru terbuka bagi saya ketika saya mulai memahami “mengapa” dengan panggilan saya. Namun, seminari itu meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang sama banyaknya dengan jawabannya. Gereja mula-mula adalah Katolik, dan teologinya benar, lalu mengapa kami sebagai umat Episkopal tidak dalam persekutuan dengan Roma?

Jawaban yang diberikan oleh profesor saya menunjuk pada Reformasi: segala sesuatu yang berlebihan tentang Roma yang harus dijawab. Gereja Anglikan didirikan beberapa saat sebelum abad keempat, mungkin lebih awal. St. Agustinus dari Canterbury disambut di pantai Inggris atas nama Tuhan, dan orang Inggris bukanlah orang barbar yang ditakuti oleh Agustinus, dan seiring waktu, Gereja Inggris sepakat untuk bergabung dengan Gereja Roma. Dan masuk akal jika Gereja Anglikan memilih untuk keluar dari Roma pada abad ke-16, dengan membawa Katolikisme di dalamnya. Inilah yang dikenal sebagai teori cabang, yang telah menampung banyak umat Anglikan selama beberapa waktu. Dan saya memutuskan menjadi Katolik sebagai seorang Anglikan. Tidak pernah terbayangkan bahwa gereja Anglikan adalah duplikat, kenyataannya mengenai hal itu tidak datang kepada saya di kemudian hari.

Pelayanan adalah yang harus dinyatakan, dan saya mengerjakannya dengan lumrah. Segala sesuatunya baik-baik saja sampai perahu itu mulai tenggelam. Dari awalnya, Gereja Episkopal adalah perahu tanpa kemudi, tapi kami tidak mengetahuinya. Nama “Episkopal” muncul karena “Gereja Inggris” tidak laku di Amerika pasca-revolusi. Gereja itu didirikan seperti negara baru, dengan seperangkat uskup dan sekelompok umat dan para presbiter. Keduanya menyuarakan semua masalah yang berkaitan dengan gereja. Satu uskup akan memimpin semuanya. Akhirnya, diputuskan bahwa pemimpin uskup akan dipilih bukan diangkat. Semua uskup akan disetujui melalui pemungutan suara di keuskupan, diikuti dengan pemungutan suara oleh dewan uskup dan dewan yang lebih rendah yaitu umat dan para presbiter. Jadi, dengan Kitab Suci sebagai kemudi kami, ada dua dewan yang mengelola gereja, Gereja Episkopal dengan cepat lepas landas, menggembar-gemborkan beberapa jemaat yang lebih besar dan orang-orang yang bergengsi di negara bagian. “Persekutuan” dijaga dengan Canterbury, yang dipandang sebagai tempat kelahiran Anglikanisme; sama seperti Roma, hanya bukan Romawi. (Apakah Anda bingung?)

Permasalahan besar terjadi pada abad ke-19, ketika para ahli mulai menyunting Alkitab. “Apakah benar itu yang dikatakan Allah?” (Di mana kita mendengar hal itu sebelumnya? Petunjuknya: Kejadian 3). Pada awal abad ke-20, bukan Kitab Suci, melainkan politik yang memutuskan teologi dari Gereja Episkopal. Hanya dengan seperempat abad, dengan tidak adanya studi teologis, gereja mengadopsi penggunaan kontrasepsi, diakon wanita, dan presbiter dan uskup wanita. Kurangnya pengajaran, membuat sebagian besar gereja memandang Ekaristi sebagai simbol yang paling baik, dan juga sekadar ibadah yang lama, membosankan, dan paling buruk. Gereja Episkopal, kenyataannya adalah keseluruhan Gereja Anglikan, yang mencakup rentang teologis dari gereja “agung” dengan tujuh sakramen, sampai ke teologi yang lebih dari pergerakan gereja tanpa sakramen dan kurangnya pendidikan bagi para presbiternya. Hal itu seperti kolase, namun semuanya masing mengklaim persekutuan. Setiap keuskupan adalah miliknya sendiri, seorang uskup adalah hukum tertinggi dan teolog tertinggi. Satu keuskupan menyatakan klerus wanita dan dua sakramen, sementara itu ada keuskupan lain yang mengklaim lebih katolik dari Gereja Katolik, dengan tujuh sakramen dan liturgi yang mirip Tridentina.

Saya berlayar dengan perahu ini pada pertengahan 90-an, seorang anggota dari Keuskupan Fort Worth yang bergengsi. Fort Worth dipisahkan dari Keuskupan Dallas karena alasan politis, yang konservatif tetap di Fort Worth, dan mereka yang liberal ada di kota yang lebih besar yaitu di Dallas. Fort Worth adalah sebuah pulau Gerakan Oxford di tengah laut liberalisme. Saya tidak tahu kalau ada klerus wanita sampai saya meninggalkan keuskupan untuk sekolah di seminari. Sebagai anggota keuskupan, kami berpikir bahwa kami harus mempertahankan posisi dan membawa kembali Katolisisme dalam Gereja Episkopal, tapi Gereja Episkopal punya pandangan lain. Tak lama setelah saya ditahbiskan, klausul hati nurani dihapuskan dari tahbisan. Klausul hati nurani menyatakan jika seorang uskup tidak berada dalam hati nurani yang benar untuk menahbiskan wanita, maka itulah yang menjadi hukum di keuskupannya. Dan tiba-tiba, kami orang-orang Anglo-Katolik dikepung. Uskup kami dengan berbagai macam cara diancam jika ia tidak menahbiskan wanita masuk ke dalam presbiterat. Pada periode tahun 1990-2003, saya mulai mendengar tentang provisi pastoral dalam Gereja Katolik. Para presbiter Episkopal yang berpindah keyakinan ke Katolik, kemudian menjadi presbiter Katolik tertahbis. Yang bisa saya pikirkan, “Mengapa?” Kan kami punya tahbisan yang sah, kami kan cabang ketiga dari Gereja Katolik, kenapa seseorang harus meninggalkan pelayanannya ke tempat lain? Kami bisa menjadikan Gereja Katolik tepat di mana kami berada, dan kami bisa menjadi agen perubahan yang membawa Gereja Episkopal memahami Katolikisme. Kami bisa menyelamatkan Gereja Episkopal!

Saya diberkati dengan panggilan besar untuk pelayanan, sejak muda sebagai pastor muda dalam berbagai misi, hingga pertama kali menjabat sebagai pastor paroki, Allah telah memanggil saya untuk melayani orang-orang yang luar biasa. Meskipun, tak lama kemudian saya menemukan kurangnya pengetahuan akan Gereja Episkopal dalam gereja-gereja ini, maka dari itu saya hendak melakukan katekese. Setelah saya melakukan apa yang disebut sebagai katekismus dalam Gereja Episkopal, maka saya kembali ke Buku Doa Umum 1979 (1979 Book of Common Prayer), dan segera saya menyadari bahwa saya butuh lebih banyak materi dalam katekisasi. Setelah tiga tahun dalam pelayanan, saya menemukan dua buku: Orthodox Dogmatic Theology karya Protopresbiter Michael Pomazansky dan Katekismus Gereja Katolik (KGK), edisi kedua. Kedua buku ini membuat segala sesuatunya cocok satu sama lain. Saya mengajar dengan menggunakan buku-buku itu selama bertahun-tahun, secara bertahap saya lebih condong ke Katekismus Katolik. Umat pun menerimanya! Tentu saja, saya tidak menyebutkan sumber pengajaran saya. Saya hanya mengajar, dan 98 persen dari pelajar Protestan berpikir seperti saya, akhirnya kami dibuat masuk akal dari campur aduknya pendidikan Kristen yang telah dipelajari seumur hidup.

Pada musim panas tahun 2003, saya akan berusia 40 tahun. Saya sudah mengikuti politik Gereja Episkopal selama bertahun-tahun, dan saya siap terlibat di dalamnya. Konvensi Umum adalah tempat itu, di mana Gereja Episkopal memberikan suaranya akan segala hal, bahkan juga doktrin. Saya tidak terpilih untuk menjadi delegasi, maka saya memohon kepada uskup saya supaya saya bisa pergi dan melihat konvensi itu, dan ia merasa enggan untuk menyetujuinya. Saya berkendara ke Minnesota melalui Wisconsin untuk menjemput seseorang yang dulu ditahbiskan menjadi diakon bersama saya, ia bernama Russ Arnett. Kami pergi ke konvensi; dan hal itu terbukti sangat penting bagi kehidupan kami.

Urutan permasalahan menampilkan seorang homoseksual yang terpilih menjadi uskup di New Hampshire. Konvensi menyetujui pemilihannya. Perceraian, homoseksualitas, gaya hidup alternatif, salah satu dari permasalahan ini semuanya masuk dalam agenda. Jika terpilih, maka homoseksualitas, dan juga tahbisan wanita, aborsi, perkawinan, dan kontrasepsi akan diakui dan diberkati oleh gereja, tanpa satu pun tulisan teologis resmi yang ditulis dan diperdebatkan.

Saat berjalan-jalan ketika konvensi, saya akan ditanyai orang lain mengenai tempat saya berasal. Ketika saya mengucapkan “Fort Worth,” saya akan diabaikan atau diejek. Keuskupan Fort Worth dikenal sebagai benteng konservatisme. Dibenci dan dicaci-maki di dalam Gereja Episkopal, kami adalah orang asing di tempat yang seharusnya menjadi gereja kami sendiri.

Akhirnya, pada hari terakhir saya berada di sana, mereka melakukan pemungutan suara dan menyetujui seorang homoseksual menjadi uskup. Saya hancur dan berusaha untuk menghentikan seorang uskup dari keuskupan besar dan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa dibenarkan secara alkitabiah dalam suara dukungannya. Ia menjawab, “Kadang-kadang Anda cuma perlu menyadari bahwa Alkitab adalah kumpulan cerita usang yang hanya perlu disimpan di rak buku.” Saya menghampiri Russ, dan kami berdua keluar dari pusat konvensi sambil merasa sedih. Saya memandang Russ dan mengatakan kepadanya, bahwa untuk pertama kalinya saya ingin melepaskan collar (kerah putih yang dikenakan klerus –red.) saya. Saya tidak ingin ada yang tahu kalau saya seorang presbiter Episkopal.

Jadi, apa yang dilakukan seorang Protestan yang marah dengan gerejanya saat ini? Ia menciptakan perpecahan! Keuskupan Fort Worth segera bergabung dengan sebuah kelompok yang kemudian menjadi ACNA (Anglican Church of North America).

Di sanalah kami berada, keluar dari Gereja Episkopal. Lalu apa? Apa yang ada di pikiran kami adalah mendirikan satu gereja baru. Akhirnya, ada kesempatan mendirikan gereja katolik kami sendiri! Sebenarnya ini apa yang ada dalam pikiran saya. Sekali lagi, melihat ke belakang yang menjelaskan kesetiaan saya pada tujuan tersebut. Ingat, saya percaya bahwa tahbisan saya sah, saya pikir Gereja Anglikan sebagai cabang ketiga dari Gereja yang benar. Saya melihat kalau cabang yang satu ini sedang sakit-sakitan, namun saya dan orang lain seperti saya bisa menjadi tukang kebun yang akan menghidupkan kembali cabang ini. Kami punya beberapa uskup yang punya pengaruh dalam persekutuan kami, dan kami akan mengambil kembali martabat dan memulai suatu gereja katolik yang sejati.

Saya pulang ke rumah, dengan bangga sebagai seorang Anglikan, bukan sebagai seorang Gereja Episkopal. Tak lama kemudian, saya menerima penghapusan tahbisan saya dari Gereja Episkopal. Kami disidang oleh dua orang presbiter yang pernah bekerja dengan saya di suatu kesempatan. Kami tidak diberi kesempatan untuk membela diri, kami dihakimi tanpa kehadiran kami (in absentia). Saya masih punya surat itu. Ketika surat itu keluar, kami punya satu masalah. Terputus dari Gereja Episkopal, kami tidak lagi punya hubungan dengan Canterbury. Reaksi saya mengenai masalah ini adalah, “Apa lagi?” Jika saya ingin atau berpikir kami perlu hubungan dengan takhta yang bergengsi untuk validitas, saya lebih suka dengan Roma. Inilah permulaan dari pemikiran saya menyeberangi Sungai Tiber (idiom berpindah keyakinan ke Gereja Katolik). Saya tidak sendiri. Selama beberapa tahun berikutnya, banyak kolega saya sedang melakukan penyelidikan dalam berbagai tahap untuk masuk ke Gereja Katolik. Teman saya Russ Arnett memilih pelayanan pastoral dan sekarang menjadi seorang presbiter yang bertanggung jawab atas empat paroki di Keuskupan Katolik Milwaukee.

Banyak pertanyaan yang terjadi di belakang layar yang jika dituliskan bisa menjadi sebuah novel yang hebat, namun saya seorang presbiter dari kota kecil yang tidak masuk ke pembicaraan “kelas atas.” Apa yang penting dalam tulisan saya ini adalah suatu fakta bahwa sejak tahun 2003 dan seterusnya, pindah keyakinan ke Gereja Katolik itu dibahas dan terjadi dalam berbagai tingkatan yang berbeda. Pada tahun 2012, perubahan keyakinan adalah praktik umum di kalangan kaum klerus yang condong ke Katolik. Seringkali saya mendapat surat tentang seseorang yang melepaskan tahbisannya. Saking banyaknya, sehingga suatu kali uskup saya berpikir bahwa dirinya sebagai seorang kandidat kunci masuk Roma, dan ia mulai memburu mereka yang mungkin pergi dari keuskupannya. Inilah kedua kali saya benar-benar berpikir untuk pergi meninggalkan gereja itu.

Pada masa ini, saya berbicara dengan orang-orang yang sudah pergi menuju Gereja Katolik mengenai pengalaman mereka. Saya punya dua ketakutan. Bagaimana saya bisa mencari nafkah jika saya berhenti bekerja? Bagaimana saya bisa mencabut collar ini dan melepaskan tahbisan yang saya yakini sebagai tahbisan yang sah? Banyak orang mungkin tidak menyangka atau terkejut dengan pendirian saya. Hambatan untuk perubahan keyakinan biasanya infalibiltas paus dan kontrasepsi. Namun bukan itu masalahnya bagi saya. Saya tidak punya masalah dengan semua doktrin yang sudah saya pelajari. Saya adalah seorang Katolik yang terjebak dalam Gereja Anglikan yang ketakutan karena penghasilan dan teori yang buruk (teori cabang).

Saya mulai mengajar dari KGK, dan tidak lama kemudian saya melepaskan semua kepura-puraan dan dengan terbuka mengajarkan Iman Katolik. Paroki saya menggunakan leksionari Katolik, Alkitab Katolik, dan punya kelas RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.) setiap hari Minggu. Di keuskupan yang lebih besar, banyak klerus terbaik kami pergi ke Gereja Katolik, membuat para klerus yang berpengalaman mengisi kekosongan dalam perwakilan di ACNA, jadi saya diminta oleh uskup untuk menghadiri pertemuan di Pittsburg untuk mengerjakan katekismus orang muda. Kami segera diberi tahu bahwa kelompok ini akan mengerjakan katekismus dewasa untuk ACNA serta katekismus bagi orang muda. Bayangkan dengan kemujuran yang saya terima! Inilah saya, seorang presbiter dari kota kecil yang telah menjadi anggota komite yang akan mengerjakan katekismus! Kami merencanakan pertemuan kedua yang lebih sering, dan saya ditemani dengan seorang pengajar agama Kristen yang luar biasa dari sebuah paroki di keuskupan saya. Pertemuan dibuka dengan mengajak semua orang membayangkan akan seperti apa katekismus baru itu. Mereka turun ke hadirin menanyakan pendapat setiap orang, dan seorang ibu yang adalah rekan perwakilan keuskupan saya menatap saya dan mengeluarkan KGK yang berwarna hijau itu. Dia berkata, “Sepertinya katekismus itu harus seperti ini.” Dan saya sepakat. Ketika tiba giliran dia berpendapat, dia berkata, “Mengapa kita membuat katekismus baru, padahal yang ini sudah ada?” sekali lagi dia memegang buku hijau itu. Dan saya memberinya tepuk tangan … sampai saya sadar kalau tidak ada yang tepuk tangan selain saya. Tak lama kemudian, seorang klerus Anglikan berdiri dan memberi tahu kami bahwa kami ini adalah penyakit dari Gereja Episkopal yang disebabkan oleh kehadiran sakramen, dan kami disarankan harus melepaskan diri dari sakramen. Seolah-olah ada pegas di kursi saya, jadi saya sontak berdiri untuk berbicara. Saya benar-benar tidak ingat apa yang saya bicarakan, tapi isinya adalah pembelaan panjang mengenai sakramen, dan segalanya menjadi panas. Oleh karena itu, saya tidak diminta lagi datang ke Pittsburgh.

Jadi saya pulang ke gereja kecil di ujung barat keuskupan saya. Saya terpilih menjadi anggota dewan keuskupan, yang dikenal sebagai Komite Tetap. Sejak saat itu, saya disebut sebagai kandidat “tea party (anggapan orang yang merusak ajaran daripada memisahkan diri)” oleh uskup saya. Pemilihan saya ternyata tidak sesuai dengan keinginannya. Seiring waktu berlalu, di tahun ketiga, saya terpilih menjadi presiden komite itu. Kami mengadakan pertemuan tiga kali di sepanjang tahun itu, agenda sudah ditetapkan, dan saya “dididik” tentang bagaimana saya harus memilih.

Singkatnya, saya seorang presbiter Episkopal yang tidak bisa mengikuti ajaran sesat gereja, maka saya menjadi seorang presbiter Anglikan. Yaitu orang yang berpikir bebas “menjadi” katolik, awalnya saya merasa antusias … sampai akhirnya sebagian besar ACNA dengan tegas menolak Gereja Katolik. Namun saya selalu memiliki keuskupan saya … sampai saya tahu kalau mereka mengabaikan semua doktrin dan tata cara yang tepat untuk membuat masa jabatan yang lebih mulus bagi mereka yang berkuasa. Namun saya masih punya paroki saya! Dan penggembalaan yang tepat bagi saya.

Namun ada panggilan yang mengganggu itu. Saya tahu benar dari sekolah menengah (SMA –red.), kuliah, dan karier saya sebagai seorang arsitek. Allah memanggil saya ke dalam Gereja Katolik. Dan panggilan itu semakin lebih kuat. Saya tidak bisa melanjutkan seperti adanya, namun mengapa dan bagaimana saya menjadi Katolik? Saya mulai berdoa supaya Tuhan membukakan pintu, pintu ke dalam Gereja Katolik, karena saya punya seorang istri dan tiga orang anak, pinjaman, dan tagihan. Sedangkan panggilan ke Gereja Katolik itu tidak ada yang namanya penghasilan!

Panggilan dari Allah bertumbuh. Mulai dari ketukan yang lembut dan berlanjut ke sesuatu yang rasanya seperti terkoyak. Di tengah perkembangan ini, sebuah gereja dibuka di Arlington. Saya menolak untuk mencantumkan nama saya. Kemudian tiga teman saya menelepon dan memberi tahu supaya saya mencantumkan nama saya. Kemudian uskup saya memanggil saya dan mengatakan hal serupa. Apakah ini panggilan Allah buat saya? Saya pikir panggilan itu ke Gereja Katolik, namun jika Tuhan berkehendak saya pergi ke sebuah gereja yang lebih besar dan kenaikan gaji, siapa saya yang mampu menentangnya? Saya memutuskan untuk menuliskan nama saya, dan jika undian itu jatuh ke tangan saya, saya akan pergi. Saya harus ingat bahwa undian yang kena kepada Yunus, yang membuangnya ke laut.

Saya terpilih menjadi rektor dari sebuah paroki besar (dalam istilah Anglikan) di Arlington, Texas. Dewan mengatakan kepada saya bahwa mereka sangat terpecah tentang siapa yang harus dipanggil, namun saya menang dengan suara bulat pada pemungutan suara pertama. Mereka memandang ini sebagai panggilan Allah, dan begitu pula saya. Sejak pertama kali saya melangkah ke dewan itu, saya tahu kalau itu bukan untuk saya, ada sesuatu yang salah. Allah sudah membukakan pintu ke jalan perubahan keyakinan, bukan pada pelayanan baru, dan saya tidak tahu. Tiga bulan pertama begitu luar biasa, semacam berada di awang-awang. Pada bulan ketiga, semuanya berantakan. Semuanya! Pada tahun kedua, saya begitu terpukul sehingga saya tidak mengenali diri saya sendiri. Berat badan saya naik hampir 30 pon (lebih dari 13 kg). 80 persen umat sangat senang dengan pelayanan saya, 20 persen lagi tidak bisa memaafkan saya atas keputusan yang harus saya buat. Saya punya pengalaman selama 16 tahun dalam menggembalakan berbagai gereja, namun sekarang gagal. Semua yang saya lakukan dimentahkan oleh tentangan yang luar biasa.

Saya berhenti sejenak untuk merenung. Saya mengambil semua waktu liburan saya. Melalui semua hal, saya tahu kalau saya harus jadi Katolik. Ketika saya lewat gereja-gereja Katolik dan saya punya keinginan besar untuk masuk ke sana. Saya berbicara dengan dua teman lama yaitu, Romo Arnett dan Romo Kennedy. Keduanya menggemakan panggilan itu. Istri saya sepakat kalau sudah waktunya ke Gereja Katolik. Tidak ada harapan mendirikan sebuah gereja katolik  di luar bagian manapun dalam Gereja Anglikan, maka keputusan ada di tangan saya untuk mematuhi panggilan Allah.

Saya direndahkan dan dihantam sana-sini. Saya ingin keluar. Bagi saya Gereja Episkopal sudah lenyap, ACNA sudah lenyap, keuskupan sudah lenyap juga, dan sekarang penggembalaan saya, meskipun belum lenyap, namun akan menjadian pendakian yang sangat terjal. Tidak ada persekutuan yang lebih besar untuk menjadi bagian di dalamnya, tidak ada keuskupan yang katolik di dalamnya. Semua usaha membangun kembali yang saya usahakan akan sia-sia, bukan bagi Allah, tentu saja bukan untuk mendirikan satu Gereja Anglikan yang lebih baik. Saya tahu panggilan saya itu ke Gereja Katolik, dan Allah sudah menghapuskan semua alasan untuk tinggal di sana.

Masalahnya masih tentang keuangan. Bagaimana saya bisa meninggalkan pekerjaan saya, ke mana saya harus bekerja? Bagaimana menafkahi rumah tangga saya? Kemudian saya sadar: Saya adalah orang Farisi. Mengapa orang Farisi tidak mengikuti Kristus? Karena artinya mereka harus meninggalkan pelayanan mereka dan melepaskan penghasilan yang bagus. Kebanyakan orang Farisi percaya akan perkataan Kristus. Mereka tidak bisa menyangkal mukjizat yang mereka lihat di depan mata mereka sendiri, namun mereka tidak bisa melihat suatu kehidupan tanpa gaya hidup yang bisa mereka miliki. Hal itu mengingatkan saya pada Matius 16:1-4. Tanda Yunus, apakah itu? Sekarang banyak teori berbeda mengenai tanda Yunus itu, namun harus mengitari dulu kebangkitan. Kebangkitan berasal dari karya Kristus di kayu salib. Jika kita ingin dibangkitkan bersama Yesus, kita perlu mempersembahkan diri kita sendiri, mati terhadap diri sendiri, memperkenankan Allah menciptakan kembali Anda dalam citra-Nya, membuang yang rusak yang kita miliki sejak lahir. Saya harus mengikuti Allah dalam suatu jalan yang tak bisa saya pahami, untuk memperoleh penciptaan kembali hidup saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tapi saya tidak bisa tinggal di Gereja Anglikan.

Dengan pindah kembali ke Metroplex, saya cukup dekat dengan ayah saya sehingga bisa makan siang bersama. Ayah saya menderita penyakit Alzheimer tahap awal, suatu kenyataan hidup yang kami semua (termasuk ayah saya) sebaik mungkin mengabaikannya. Suatu hari, dengan segala kekacauan dalam hidup saya sebegai presbiter Anglikan, dengan putus asa, ayah saya menelepon. Saya meninggalkan semuanya dan memberi tahu sekretaris saya bahwa saya akan pergi selama satu jam. Saya menemukan ayah saya di kantornya, menatap meja rapat yang penuh dengan bon tagihan. Ia berkata, “Saya tidak sanggup.” Tanggapan saya yang kebingungan, “Apa yang tidak sanggup Ayah lakukan?” Dengan sedih, ayah saya menjawab, “Saya tidak memahami tagihan-tagihan ini.” Segera saya sadar kalau ayah sudah kehilangan kemampuan berpenghasilan. Saya mengambil alih tagihannya dan mulai membereskan kekacauan yang terjadi. Tak lama kemudian, saya menyadari kalau saya sedang melakukan satu pekerjaan. Melalui pekerjaan ini saya hanya akan membayar $ 1.000 per bulan, itu baru permulaannya, dan hal itu mengingatkan bahwa Allah akan menyertai saya.

Beberapa hari kemudian, penjaga paroki senior saya datang kepada saya sambil berkeluh kesah. Saya sudah mengambil liburan terlalu lama dan sepertinya saya sudah “keluar.” Jujur, saya sedang banyak pikiran. Ia ingin supaya saya membuat keputusan saat itu juga supaya saya “bisa bekerja kembali.” Saya mendengarkan suara Allah dengan jelas, “Inilah pintumu.” Saya mengundurkan diri. Saya keluar, tanpa tahu bagaimana saya akan mencari nafkah, namun saya sudah tahu kalau saya punya permulaan. Saya akan selalu bersyukur bahwa dewan yang memilih saya memberikan uang pesangon yang besarnya dua bulan gaji.

Saya membantu ayah saya, saya membereskan kantornya, dan menolak tawaran pekerjaan sebagai presbiter Anglikan. Saya melepaskan tahbisan saya dan bergabung dengan RCIA di Gereja Katolik St. Stephen di Weatherford. Ada beban yang terangkat dari pundak saya.

Sebulan kemudian, ada seorang baik hati dari paroki saya sebelumnya menelepon dan bertanya apakah saya tertarik untuk bekerja di bidang peratapan. Sebagai seorang arsitek, saya tahu sedikit, namun saya senang untuk belajar lebih banyak. Saya belajar program perkiraan hitungan atap dari menonton YouTube, dan saya menjadi pengukur atap komersial. Ini pekerjaan yang bagus, dan saya menikmatinya. Meskipun mengurangi separuh penghasilan saya, setidaknya menjadi pekerjaan tetap, dan saya merasa nyaman. Tapi Allah belum selesai dengan saya. Sekali lagi saya merasakan bahwa Allah memanggil saya. Saya masuk proses discernment (pembedaan roh) untuk Ordinariat Takhta Santo Petrus. Allah memang masih memanggil saya ke dalam pelayanan tahbisan. Saya membaca melalui bacaan bimbingan dan empat pekan intensif di Houston di tribunal. Sangat menyenangkan berada di antara teman-teman yang mendukung saya. Liturgi Ordinariat berbeda dengan Liturgi Bentuk Biasa dalam Ritus Roma. Ada elemen warisan Anglikan yang membuat saya seperti di rumah sendiri.

Saya bertumbuh untuk menemukan rumah di Gereja Katolik, membantu mengajar RCIA di St. Stephen bersama dengan kelompok besar katekis yang luar biasa, semuanya sambil belajar dan memahami presbiterat dalam Ordinariat. Saya dan Stephanie (nama istri saya), bertumbuh secara rohani dalam cara yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Gereja Katolik tepat seperti yang kami butuhkan sebagai jawaban atas doa-doa kami. Sekarang saya adalah seorang diakon transisi dan administrator paroki Gereja Katolik St. John Vianney di Cleburne, Texas. Saya bersyukur sudah dihantar menuju Gereja Katolik meskipun saya tidak layak, saya merasa sangat bersyukur bisa melayani dalam Gereja yang benar.

Allah telah memanggil kita semua dan Allah bekerja dalam diri kita semua. Tidak ada ayat-ayat Alkitab yang “tidak penting.” Semuanya memberi makna pada hidup kita. Jangan khawatir tentang di mana Anda tinggal atau apa yang hendak Anda makan. Allah punya diri Anda dalam perhatian-Nya. Jangan terjebak dalam ajaran sesat, seperti orang Farisi. Ikutilah panggilan Allah, bahkan jika Anda tidak paham bagaimana dan mengapa. Yunus ada dalam diri kita semua, namun pada akhirnya, jika kita mendengar dan taat seperti Yunus, kita akan menemukan hidup kita ditata ulang sesuai dengan rencana Allah.

 

Romo Scott Wooten lahir di Weatherford, Texas dan dibesarkan di Fort Worth. Ia bersekolah di Texas Tech University, meraih gelar dalam bidang arsitektur pada tahun 1991, kemudian bekerja di tiga perusahaan arsitek sebelum masuk seminari pada tahun 1996. Belajar di Nashotah House Seminary di Wisconsin, ia meraih gelar Master of Divinity pada tahun 1999. Scott ditahbiskan menjadi diakon di Gereja Episkopal pada tahun 1999, dan menjadi presbiter di tahun yang sama. Pada tahun 1999, ia kembali ke Texas untuk melayani beberapa paroki Episkopal dan Anglikan. Pada tahun 2015, ia terpilih menjadi rektor di Gereja Anglikan St. Peter and St. Paul di Arlington, Texas. Pada bulan November 2017, ia mengundurkan diri dari jabatannya dan melepaskan tahbisannya untuk mengusahakan persekutuan dengan Gereja Katolik. Setelah proses discernment, Scott memasuki proses tahbisan dalam Gereja Katolik melalui Ordinariat Takhta St. Petrus, dan menjadi diakon transisi di Gereja Katolik pada tanggal 21 Mei 2020 dan menjadi presbiter pada tanggal 21 Oktober 2020. Ia melayani sebagai Administrator Paroki di St. John Vianney Catholic Church di Cleburne, Texas. Keluarga Romo Wooten bersama dengan istrinya yang bernama Stephanie dan ketiga putranya yang sudah dewasa.

 

Sumber: “The Sign of Jonah“

Posted on 24 November 2020, in Kisah Iman and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: