Allah, Sang Mempelai Laki-Laki Ilahi

Oleh Dr. Brant Pitre

God The Divine Bridgeroom (Sumber: Catholic Production YouTube Channel)

Alasan St. Paulus ketika melihat kayu salib yang berdarah, ia melihat perkawinan antara Sang Pencipta dan ciptaan, Allah dan umat manusia, dalam Kristus dan Gereja. Alasan ia melihatnya demikian karena ia tahu seluruh kisah sejarah keselamatan, karena ia tahu (secara khusus) mengenai Perjanjian Lama. Ia memahaminya dari perspektif Yahudi, bahwa Allah bukan hanya Sang Pencipta, Allah bukan hanya Sang Hakim Agung, tapi Allah sang Mempelai Laki-laki. Ia adalah kekasih yang mengejar mempelai wanita-Nya yaitu Israel, umat manusia yang sudah ditebus, dalam keinginan-Nya sendiri untuk mengawini umat manusia dalam perjanjian perkawinan selama-lamanya, dan itulah alasan utama eksistensi dunia, dan itulah alasan utama sejarah keselamatan, dan inilah makna terdalam dari kisah keselamatan.

Sekarang, kebanyakan dari kita sebagai umat Katolik atau setidaknya kita sudah tumbuh sebagai seorang Kristen, pernah mendengar gagasan bahwa Kristus adalah mempelai laki-laki dan Gereja adalah mempelai perempuan. Dan itu standar yang indah. Tapi bagi saya, walaupun tumbuh sebagai seorang Kristen, hal itu tidak pernah sungguh-sungguh berarti bagi saya. Kedengarannya seperti kiasan yang indah. Yesus mengasihi Gereja, Gereja mengasihi Yesus, oleh karena itu Yesus seperti mempelai laki-laki dan Gereja seperti mempelai perempuan. Mari kita lanjutkan. Kenyataan yang akan kita lihat sekarang adalah Kristus itu tidak seperti mempelai laki-laki. Hal ini bukanlah kiasan. Kristus ADALAH mempelai laki-laki, dan semua mempelai pria lainnya adalah yang kurang lebih seperti Kristus. Dan Gereja bukanlah seperti mempelai perempuan, tapi Gereja adalah mempelai perempuan Allah. Dan semua mempelai perempuan lainnya kurang lebih seperti Gereja. Dan supaya kita bisa melihatnya dengan baik, maka kita harus tahu seluruh kisahnya, karena kebanyakan dari kita sebagai orang Katolik bagaikan orang yang masuk ke bioskop di 20 menit terakhir, ketika kita sampai pada kisah ini, yaitu kisah kasih Allah dan umat manusia. Pernahkah Anda merasakannya? Mungkin Anda menyalakan TV dan Anda menonton 20 menit terakhir dari film itu? Mungkin Anda bisa paham apa yang sedang terjadi dan Anda bisa menebak ceritanya. Tapi apakah Anda bisa benar-benar merasakan klimaks dari cerita itu jika Anda hanya tahu bagian terakhirnya? Tidak. Begitulah sebagian besar dari kita yang membaca Injil dalam kisah kasih Allah dan umat manusia. Kita harus kembali ke awal mulanya (bukan hanya mulai dari awal Perjanjian Baru, tapi kembali ke awal Perjanjian Lama) dan menceritakan kisah itu lagi. Kisah kasih ini mengarah pada salib sehingga kita bisa merasakan dampak penuh dari apa yang dimaksud Paulus ketika ia berkata bahwa Kristus adalah mempelai laki-laki dan Gereja adalah mempelai perempuan. Mari kita kembali ke awal mula dan menelusuri kisah sejarah keselamatan dan mencoba melihat kisah itu bukan hanya sebagai sejarah tetapi juga sebagai kisah cinta.

Poin pertama yang ingin kita lihat bersama yaitu dengan cara yang sangat penting ini. Inilah Kitab Suci Yahudi dalam kitab Kejadian, kisah keselamatan manusia dimulai dengan segalanya dengan sebuah perkawinan. Hal ini penting, Alkitab dimulai dengan sebuah perkawinan, yaitu perkawinan Adam dan Hawa di Taman Eden dalam Kejadian 2. Dan jika Anda tahu kisah ini, Anda akan segera melihat bahwa inilah perkawinan yang pertama, namun tidak seperti perkawinan lainnya yang pernah Anda lihat. Jadi ini bukan perkawinan biasa menurut Anda. Mari kita lihat dalam kitab Kejadian tentang perkawinan yang pertama ini:

Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan [dalam bahasa Ibrani, ishah], sebab ia diambil dari laki-laki [dalam bahasa Ibrani, ish].” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kejadian 2:21-24).

Dengan kata lain, penciptaan misterius perempuan ini berasal dari bagian sisi laki-laki (disebut juga lambung yang bukan merujuk organ tubuh dalam perut, melainkan bagian tubuh luar sebelah pinggir –red.). Sebenarnya dalam bahasa Ibraninya adalah “tsela” yang artinya bukan “rusuk,” maka ayat itu bermakna “Tuhan mengambil salah satu sisi dari padanya.” Penciptaan perempuan dari sisi laki-laki adalah fondasi perkawinan. Itulah sebabnya laki-laki dan perempuan kawin. Dengan kata lain, perkawinan adalah institusi ilahi. Dan berakar pada tujuan penciptaan, berakar dalam tindakan Allah dengan laki-laki pertama dan perempuan pertama. Maka perkawinan bukanlah sesuatu yang kita buat. Itulah perspektif Yahudi mengenai misteri perkawinan, yakni perkawinan pertama antara laki-laki dan perempuan.

Perkawinan Adam dan Hawa itu bukan satu-satunya yang penting dalam Perjanjian Lama untuk memahami makna menyebut Kristus sebagai mempelai laki-laki. Ada perkawinan kedua yang akan dijelaskan dan inilah Perkawinan Yahwe, Allah Israel dengan Israel yakni 12 suku yang sekaligus umat-Nya. Perkawinan ini terjadi ketika Allah memasuki perjanjian dengan 12 suku Israel di Gunung Sinai, pada zaman Musa dalam pembebasan dari tanah Mesir.

Jika Anda belum membaca kitab Keluaran, saya yakin setidaknya Anda sudah melihat filmnya. Inilah kisah yang terkenal mengenai pembebasan 12 suku dari perbudakan Firaun pada zaman Musa. Dan terjadi serangkaian tulah, seperti katak, lalat pikat, dan semua hal yang berbeda yang terjadi menjelang Paskah, yang akan membebaskan 12 suku Israel. Kemudian mereka menuju ke Gunung Sinai, mereka tiba di gunung itu, kemudian ada awan, ada asap, ada guruh, ada teofani (Allah menampakkan diri –red.), mereka mengorbankan lembu jantan, mereka menumpahkan darahnya, mereka menyiramkan darah itu di altar (mezbah) dan kepada bangsa itu, dan Allah memberi mereka hukum dan mereka masuk ke dalam suatu perjanjian, sebuah ikatan keluarga yang sakral antara Allah dan suku-suku Israel, antara Allah dan umat-Nya.

Begitulah sejarahnya. Itulah yang terjadi dalam ranah sejarah yang kelihatan, namun ada misteri yang lebih dalam, ada sesuatu di balik peristiwa pembebasan (Keluaran) yang kadang kita cenderung abaikan. Karena jika Anda hanya membaca kitab Keluaran tapi juga harus membaca kitab para nabi (seperti Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel), mereka sebenarnya menceritakan kembali tentang kisah Keluaran. Dan dari sudut pandang para nabi, mereka mengatakan bahwa kisah yang lebih dalam, kisah yang nyata, dan kisah sebenarnya dari keluaran adalah sebuah kisah cinta dan Yahwe adalah mempelai laki-laki dan Israel adalah mempelai perempuan-Nya. Dan perjanjian yang Allah buat dengan Israel bukan hanya seperti sebuah kontrak, namun sebuah perkawinan. Mari kita membaca perkataan para nabi. Inilah mempelai laki-laki yaitu Allah Israel mengenai perkawinan di Gunung Sinai. Inilah perkataan dari nabi Yehezkiel yang melihat hal ini dengan sangat jelas. Yehezkiel menceritakan kisah perjanjian di Gunung Sinai, namun bagaimana ia menggambarkannya sebagai suatu perkawinan:

Engkau [Israel] menjadi besar dan sudah cukup umur, bahkan sudah sampai pada masa mudamu … [dan] Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta berahi …

Dengan kata lain, engkau sudah cukup umur untuk kawin.

… Aku menghamparkan kain-Ku kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, dan dengan itu engkau Aku punya …

Dengan kata lain, engkau menjadi istriku.

Dan Aku menghiasi engkau dengan perhiasan-perhiasan dan mengenakan gelang pada tanganmu … Dan Aku mengenakan anting-anting pada hidungmu …

Maka inilah yang menjadi dasar alkitabiah mengenai anting-anting hidung! Adakah anak-anak muda yang mengenakannya? Hal ini jelas sekali ada dalam Alkitab.

… dan anting-anting pada telingamu dan mahkota kemuliaan di atas kepalamu (Yehezkiel 16:7-12)

Inilah baju kawin di Israel kuno, inilah yang menghiasi seorang wanita, perhiasan, mahkota, dan anting-anting pada hari perkawinan. Dan itulah yang terjadi di Gunung Sinai. Hari itu adalah hari perkawinan Israel, dan Allah sebagai mempelai laki-laki.

Sekarang, tak lama setelah kita melihat penjelasan di atas, dan jika Anda tahu kitab Keluaran dengan baik, Anda akan tahu bahwa beberapa bab berikutnya dari Keluaran 32 ada sesuatu yang terjadi. Itulah penyembahan anak lembu emas. Musa naik ke gunung ke dalam awan yang berapi-api selama empat puluh hari dan empat puluh malam, kan? Jadi pada dasarnya Musa berada di sana sepanjang masa “Quadragesima/Lent” (atau semacam gambaran tentang Masa Prapaskah sekarang). Suatu masa yang panjang ketika ketika kita merasakan Masa Prapaskah saat ini. Dan orang banyak mulai berpikir, “Yah mungkin orang ini (Musa) sudah pergi, mungkin juga ia sudah mati?” dan mereka mulai kembali ke cara hidup lama yaitu menyembah dewa-dewi Mesir. Mereka mendesak Harun untuk membuatkan sebuah anak lembu emas dan mereka mulai menyembah anak lembu itu, bukan lagi menyembah Yahwe. Sekarang musa turun dari gunung itu, dan tentu saja Musa merasa terkejut dan memecahkan loh-loh batu yang berisikan Sepuluh Perintah, hal ini menunjukkan bahwa perjanjian itu sudah dilanggar. Sekarang, dalam ranah sejarah, apa yang dilakukan oleh bangsa Israel? Mereka telah melakukan dosa penyembahan berhala. Tapi di balik itu ada ranah misteri, dari sudut pandang para nabi, dalam ranah misteri perjanjian, apa yang sudah mereka lakukan adalah perzinahan secara rohani. Hal ini sangat penting untuk dipahami. Jika Yahwe adalah mempelai laki-laki dan Israel adalah mempelai perempuan, maka hal itu berarti bahwa dosa itu bukan hanya melanggar aturan namun adalah pengkhianatan suatu hubungan. Sangat mudah bagi kita untuk berpikir bahwa dosa itu sama seperti melanggar aturan, namun bukan itu masalahnya. Hal ini mengenai suatu hubungan, maka dosa itu adalah pengkhianatan atau semacam perselingkuhan.

Maka Allah memiliki suatu perkawinan yang tidak utuh. Ia tahu bagaimana rasanya dikhianati atau mengalami diselingkuhi. Dan seperti yang Anda tahu, jika Anda sudah membaca Perjanjian Lama, seberapa sering Israel main serong terhadap Tuhan? Berulang-ulang, lagi dan lagi, yang berlangsung dari generasi ke generasi. Sekarang apa yang terjadi? Kemudian Tuhan mulai mengirimkan para nabi untuk memanggil umat-Nya untuk bertobat. Dan para nabi datang dan mulai memberi tahu Israel bahwa dia adalah seorang istri yang berzinah. Para nabi berkata bahwa kenyataannya Allah tidak menyerah terhadap mempelai perempuan-Nya, namun suatu hari Allah akan memperolehnya kembali. Dan Allah akan memperbarui hubungan mereka dengan mendirikan dan membangun sebuah perjanjian perkawinan yang baru dan kekal.

 

Sumber: “God: The Divine Bridegroom”

Posted on 27 November 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

<span>%d</span> bloggers like this: