Dusta Setan yang Halus

Oleh Romo Vincent Lampert

Yesus di Padang Gurun (Sumber: stpaulcenter.com)

Sangat sedikit dari umat beriman yang merasa harus khawatir dengan serangan, gangguan batin, obsesi, dan kerasukan roh jahat. Banyak hal yang menarik perhatian seperti kepala berputar, benda-benda beterbangan, tubuh yang melayang, orang yang bisa merayap di tembok seperti laba-laba. Kenyataannya memang banyak aktivitas setan yang di luar kebiasaan, tapi sangat sedikit dibicarakan tentang aktivitas setan yang biasa. “Setan jauh lebih ditakuti dalam apa yang disebut manifestasi daripada pengaruh yang tidak kelihatan terhadap jiwa-jiwa yang tidak terlatih atau jiwa-jiwa yang tidak bertemperamen baik.” Dengan kata lain, kita harus lebih waspada terhadap setan yang menyerang kita dengan permasalahan biasa dalam kehidupan kita sehari-hari dalam berbagai cara yang tenang dan halus.

Tujuan akhir si setan adalah menghancurkan kehidupan doa, iman, moral, sakramental, dan hubungan kita satu sama lain supaya dengan berbagai macam cara kita semakin jauh dari Allah. Dan lebih jauh lagi, kita memisahkan diri dari Allah, akibatnya kita kehilangan identitas kita. Ketika kita bersekutu dengan Allah, kita memahami apa artinya menjadi manusia. Ketika kita terpisah dari Allah, citra pribadi manusia menjadi terdistorsi. Setan menggunakan cara yang biasa untuk memisahkan kita dari Allah, sehingga kita menjadi semakin terasing, berpaling kepada diri sendiri, dan lebih rentan untuk mempercayai dusta yang ditawarkan si setan. Dalam aktivitas roh jahat yang biasa saja, setan ingin supaya dustanya menjadi kebenaran dalam pikiran pribadi manusia. Iblis sudah melakukannya terhadap Adam dan Hawa di Taman Eden, dan terus menggunakan rencana serangan yang sama sampai hari ini. Kita semua perlu tahu bagaimana setan berusaha untuk menghancurkan kita dengan cara menjauhkan kita dari Allah dalam permasalahan biasa dalam hidup kita.

Pribadi manusia mencari keintiman dengan Allah. Hal ini dicerminkan dengan sangat baik dalam tulisan St. Agustinus: “Agunglah engkau, Ya Tuhan, dan sangat terpuji; agunglah kekuatan-Mu, dan kebijaksanaan-Mu tiada akhinya. Dan manusia, menjadi bagian ciptaan-Mu, hendak memuji-Mu – manusia, yang menanggung kematiannya, saksi dari dosanya, bahkan saksi bahwa Engkau ‘menolak yang tinggi hati,’ – namun manusia yang menjadi bagian ciptaan-Mu, berkehendak untuk memuji-Mu. Engkau menggerakkan kami untuk senang memuji-Mu; karena Engkau telah menjadikan kami untuk diri-Mu sendiri, dan hati kami tidak tenang sebelum beristirahat di dalam Engkau.”

Setan ingin menghancurkan keintiman kita bersama Allah dengan mengganggu kehidupan kita sehari-hari dengan cara yang sangat berbahaya. Setan ingin membuat kita berdosa karena “setiap dosa memperkuat cengkraman Iblis di dunia ini” dan membuat kita keluar dari jalan menuju pohon kehidupan. Romo Louis J. Cameli pernah menulis sebuah buku yang sangat memengaruhi saya dalam memahami aktivitas setan yang biasa saja itu. Ia salah satu guru saya ketika saya kuliah di University of St. Mary of the Lake di Mundelein, Illinois. Ia berkata kalau setan menggunakan rencana dalam bentuk empat tahap untuk menyerang kita. Rencana pertama dimulai dengan penipuan, yang mengarah ke perpecahan, yang mengarah ke pengalihan perhatian (menjadi menyimpang), dan berakhir dengan keputusasaan.

Setan ingin mengambil dari kita, karunia harapan yang berasal dari Yesus. Senjata utamanya adalah kemalasan (Latin: acedia). Evagrius mengatakan bahwa acedia sebagai “kelesuan jiwa” atau “kurangnya energi spiritual.” Bayangkan ada banyak orang yang dibesarkan dalam rumah Kristen yang sekarang sudah meninggalkan Gereja dan mengatakan bahwa Allah itu tidak ada atau sudah tidak relevan lagi. Orang-orang yang baru mengaku diri sebagai ateis ini menolak apa pun yang berhubungan dengan Allah, terutama Gereja, dan hanya menganut sains (ilmu pengetahuan). Gereja dipandang sudah tidak sejalan dengan dunia modern, sedangkan sains mampu menjawab semua pertanyaan yang kita butuhkan. Bahayanya adalah “masyarakat yang terpengaruh oleh acedia akhirnya menegaskan bahwa sains harus mampu menjelaskan segala hal dan membuktikan segala hal, selain itu sains menganggap suatu hal menjadi sah, atau bahkan jika perlu menerapkan dan mengalami segala sesuatu mampu dicapai dengan sains.” Acedia menyebabkan kita bertindak tanpa batas, hal ini ditunjukkan dalam bentuk kloning, aborsi, dan eutanasia. Sikap mempertuhankan pribadi manusia menyebabkan kita bertindak tanpa batas. Hanya karena kemanusiaaan mampu melakukan sesuatu, bukan berarti hal itu diperbolehkan di mata Allah.

Ketika orang banyak sudah melalui tahapan aktivitas umum setan dan sampai pada acedia dan disertai dengan keputusasaan, kehampaan, kelelahan, kekecewaan, kegelisahan, dan hidup yang monoton, saya percaya kalau kita berada di persimpangan jalan. Kita bisa menyerahkan diri kita pada kenyataan bahwa kita sedang berjalan di jalan setan atau kita bisa memilih jalan Yesus Kristus. Setan menjanjikan kematian. Yesus Kristus menjanjikan kehidupan. Dalam Injil Yohanes dituliskan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Ketika kita dihadapkan dengan acedia, kita harus berkomitmen kembali kepada Yesus Kristus. Ia berkata kepada kita semua, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Saya percaya ketika kita menemukan kembali Yesus di tempat yang semestinya di hidup kita, maka itulah panggilan dari Evangelisasi Baru seperti yang dikatakan oleh St. Yohanes Paulus II.

 

Romo Vincent Lampert adalah Pastor Paroki St. Michael dan Paroki St. Peter di Brookville, Indiana. Pada tahun 2005, ia ditunjuk menjadi seorang eksorsis untuk Keuskupan Agung Indianapolis. Ia menerima pelatihan di Roma dan juga anggota International Association of Exorcists. Ia juga penulis buku yang berjudul “Exorcism: The Battle Against Satan and His Demons.”

 

Sumber: “The Devil’s Lies Are Subtle”

Posted on 3 December 2020, in Kenali Imanmu and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: