Masyarakat Sekuler Menyembah Sesuatu yang Bukan Kristus

Oleh Dr. Scott Hahn dan Brandon McGinley

New York City foto oleh Dorian Mongel (Sumber: stpaulcenter.com)

Segala sesuatu yang benar menurut apa yang dikatakan oleh masyarakat sekuler juga berlaku bagi siapa saja yang disebut sebagai individu sekuler. Menolak menyerahkan diri kepada Allah yang hidup bukanlah pilihan yang netral. Pilihan yang tidak netral itu juga tidak melindungi objektivitas atau kebebasan intelektual seseorang, dan tidak memerdekakan jiwa. Adapun, penolakan akan Allah yang hidup itu dilakukan dengan menolak untuk mengakui, menyembah, dan melayani-Nya sebagai tuntutan keadilan.

Salah satu bagian paling merusak dari pengajaran yang diajarkan liberalisme sekuler modern adalah umat beriman tidak boleh “terlalu religius” terutama di tempat umum. Percaya akan tugas-tugas keagamaan dalam batasan diri sendiri, rumah sendiri, atau di gereja bisa diterima dan kurang lebih bisa dihormati. Namun, membiarkan keyakinan seperti ini memengaruhi partisipasi seseorang dalam lingkungan “sekuler” dianggap sebagai tindakan yang telalu jauh. Artinya segala sesuatu di luar ruang yang disediakan untuk melakukan olah bakti dianggap melenceng.

Perhatikan dengan kegeraman orang banyak atas keputusan Keuskupan Agung Detroit pada tahun 2019 yang melarang acara olahraga pemuda Katolik pada hari Minggu. Kelihatan jelas sekali bahwa keluhan-keluhan mengenai keputusan itu merupakan asumsi yang tak terucapkan mengenai hal “keagamaan,” seperti Perintah Ketiga dalam Dekalog bahwa tidak ada tempat bagi kegiatan sekuler seperti atletik. Dengan membiarkan keprihatinan tentang Allah menyerang lingkungan yang secara resmi tidak bertuhan, baik sebagai komunitas maupun moralitas seseorang atau kalkulasi sosial, maka hal itu dianggap sebagai tindakan penyerangan, bahkan semacam pencemaran terbalik (sakralisasi dari apa yang seharusnya duniawi).

Saat-saat seperti ini seperti menarik kembali tirai sekularisme untuk mengungkapkan betapa subjektif dan sekretariannya keadaan yang sebenarnya. Keadaan ini memerlukan suatu keharusan yang ketat dari pemisahan publik-privat yang tidak masuk akal dalam logika Kristus. Dan ini merupakan keadaan anti-agama yang ketat, bukan hanya perasaan diskriminasi menentang keyakinan dan praktik beragama namun mengesampingkan kebajikan agama yang otentik. Ketika kewajiban beragama kita pasti juga sebagai bentuk keadilan kepada Raja di atas segala raja, maka hal itu menjadi relatif terhadap keadaan kita, atau menjadi “netral” dengan penghormatan kepada Kristus dalam waktu dan tempat tertentu, sehingga di waktu dan tempat yang lain kita meninggikan hal-hal tertentu lebih tinggi dari Kristus sendiri. Oleh karena itu, penyembahan sosial timbul dan pada akhirnya memaksakan penyembahan diri sendiri.

Seperti masyarakat, jiwa juga berjuang untuk menjadi sekuler dan menjadikan dirinya tidak merdeka melainkan tunduk pada ilah-ilah baru. Jika Yesus Kristus tidak berada di puncak hierarki kebutuhan jiwa, maka ada sesuatu atau seseorang yang lain akan berada di puncaknya. Apa yang berada di puncak itu tergantung orangnya: Si jahat tahu akan kelemahan kita dan akan menawarkan kita berhala-berhala yang paling menarik sesuai pilihan kita dan rasanya seolah-olah yang paling memerdekakan. Maka, hal itu merupakan yang paling tidak terasa daripada yang sebenarnya terjadi. Kristus menaklukkan jiwa kita melalui akal budi dan kasih, lawan-lawan-Nya selalu menggunakan paksaan dan tipu daya. Kristus adalah Raja yang baik hati, sedangkan lawan-lawan-Nya adalah diktator yang kejam.

Inilah yang disebut oleh Paus Benediktus XVI sebagai “kediktatoran relativisme.” Kediktatoran relativisme didahului dengan liberalisme sekuler. Kita diajari oleh rezim ini bahwa kita sekali-kali boleh dan harus menjadi sekuler, namun itulah satu-satunya cara yang bisa membuat kita sekali-kali menjadi penyembah berhala. Dan berhala-berhala menurut definisi adalah ilah-ilah yang pencemburu, yang segera menuntut lebih dari yang semula kita hendak berikan. Maka akan lebih banyak mengorbankan kebajikan agama untuk semakin meraup kekayaan, semakin bebas secara pribadi, lebih banyak lagi kesenangan, lebih sukses, lebih bergengsi. Pada akhirnya mereka tidak menerima apapun selain dari penyembahan, pengorbanan, dan pemujaan yang seharusnya hanya ditujukan hanya pada Yesus. Tidak ada alternatif yang tidak religius selain dari agama yang benar. Pilihan bukan lagi antara Kristus dan netralitas sekuler yang ramah, melainkan antara Kristus dan lawan-lawan-Nya.

Sekarang kita hidup di zaman yang aneh dalam banyak cara. Salah satu yang paling meresap, namun juga yang paling abstrak dan juga paling tidak jelas, adalah ketegangan antara keadaan material kita dan stabilitas yang kita rasakan.

Dari gedung-gedung pencakar langit di Manhattan sampai ke ladang di Nebraska, dari ruang rapat di London sampai pedesaan di Polandia, mulai ada kesan bahwa tatanan sosial yang kita ketahui sedang berada di ujung tanduk. Namun, peradaban Barat berada di tengah-tengah kemakmuran dan stabilitas politik yang sudah berlangsung selama beberapa generasi. Dalam ruang lingkup sejarah dunia, semenjak berakhirnya Perang Dunia II, tujuh puluh terakhir ditandai dengan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan materi yang melimpah ruah. Meskipun dalam rentang waktu itu masih ada sedikit keributan seperti kekacauan transatlantik pada tahun 1968, kesulitan reintergrasi Blok Soviet, dampak resesi tahun 2008. (Ada juga dampak jangka panjang dari pandemi virus korona yang tidak tahu akan sampai berapa tahun, sementara itu mungkin para sejarawan di masa depan akan menganggap pandemi ini sebagai awal dari berakhirnya zaman kemakmuran dan stablitas, namun pada masa sekarang tampaknya hal ini menjadi ketidakpastian.)

Kami melihat hal ini juga dalam psikologi pribadi: individu-individu dan keluarga-keluarga yang sensasi akan keadaan gentingnya sepenuhnya tidak sesuai dengan keadaan material yang sebenarnya. Begitu banyak orang merasa bahwa semua yang mereka miliki itu tidak penting, segalanya kelihatan berantakan, kecuali mereka bisa memiliki hal-hal lainnya seperti, rumah yang lebih besar, hubungan yang lain, promosi pekerjaan yang menguntungkan.

Ini hanyalah sebuah paradoks, jika kita menagmbil pandangan materialistis tentang realitas yang mengasumsikan bahwa segala sesuatu itu penting, apabila hanya bisa diihat, disentuh, dan dirasakan. Namun, di dunia ini semuanya sangat masuk akal jika realitas itu jauh lebih rumit. Realitas yang jauh lebih rumit itu bisa kita bayangkan seperti, jika kita punya jiwa, dan jika jiwa-jiwa itu diciptakan untuk menyesuaikan dengan tatanan ilahi, dan jika harmoni sejati dari pikiran, tubuh, dan komunitas hanya berasal dari tatanan itu. Maka kita bisa melihat semua hal-hal inferior semacam kemakmuran dan kenikmatan dan kebebasan pribadi, bukan sebagai pelega yang membawa kepuasan namun sebagai berhala-berhala yang membawa kekacauan.

 

Dr. Scott Hahn adalah penulis dan penyunting lebih dari empat puluh buku laris maupun akademik. Karya tulisnya termasuk “Rome Sweet Home,” “The Lamb’s Supper,” dan “The First Society.” Buku terbarunya adalah “It Is Right and Just: Why the Future of Civilization Depends on True Religion.”

Brandon McGinley adalah seorang penulis dan pembicara Katolik yang berasal dari Pittsburgh, Pennsylvania. Karya tulis McGinley dipublikasikan di Washington Post, First Things, Catholic Herald, Plough, dan  The Lamp, dan berbagai tempat lainnya. Ia adalah penulis dari “The Prodigal Church: Restoring Catholic Tradition in an Age of Deception.”

 

Sumber: “Secular Society Is Worshiping Something, and It’s Not Christ”

Posted on 6 December 2020, in Apologetika and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: