Sejarah Aneh Sinterklas

Oleh Trent Horn

Santa Claus (Sumber: factretreiver.com)

Sewaktu saya manjadi seorang penginjil pro-life, organisasi tempat saya bekerja terdiri dari orang-orang Katolik dan Protestan. Dalam satu acara yang kami adakan di bulan Desember, saya bertanya kepada seorang rekan kerja yang Protestan tentang apa yang hendak dia rencanakan buat Natal.

Dia menjawab, “Saya tidak merayakan Natal.”

“Oh, kenapa?”

Kemudian dia melanjutkan alasannya dengan nada yang sederhana dan lugas: “Karena merayakan Natal tidak ada dalam Alkitab.” Setiap orang Protestan lainnya yang berada di tim kami masih merayakan Natal, namun wanita muda yang satu ini menolak Natal. Penolakan ini mengingatkan saya pada orang-orang Protestan mula-mula.

Di sepanjang sejarah Gereja, umat Kristen tidak bertukar kado pada tanggal 25 Desember. Sebaliknya, umat Kristen merayakan Misa yang didedikasikan untuk kelahiran Kristus (atau “Christ-mass” terjemahan bebasnya adalah Misa Sang Kristus). Kado atau hadiah akan diberikan pada tanggal 6 Desember yang merupakan hari peringatan St. Nikolas seorang uskup dari abad ke-4, yang dikenal karena kemurahan hatinya yang luar biasa. (Hal ini tidak termasuk kebiasaan menyimpan mainan di sepatu anak-anak yang malang – orang tua di Eropa merayakan tradisi itu di kemudian hari pada “hari St. Nikolas.”)

Penulis biografi paling awal tentang St. Nikolas1 memberi tahu kita tentang rencana jahat dan iri hati setan yang membuat tetangga St. Nikolas yang mengasihi Allah jatuh miskin. Sekarang orang ini sangat miskin sehingga tidak mampu membayar mahar untuk putri-putrinya yang akan menikah. Sebagai usaha terakhirnya, pria ini memutuskan mengirim putri-putrinya itu ke rumah bordil sehingga setidaknya mereka tidak akan kelaparan karena tidak adanya suami yang menafkahi mereka setelah ia meninggal.

Untungnya, Nikolas mengasihaninya dan ingat akan ayat Perjanjian Lama, salah satunya Amsal 24:11: “Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan.” Kemudian, St. Nikolas melemparkan tiga kantong emas melalui jendela yang terbuka di rumah pria itu, dan tak lama kemudian anak-anak perempuan itu menikah. Selama beberapa abad berikutnya, Nikolas dirayakan sebagai teladan orang Kristen yang memperhatikan orang miskin dan menjadi salah satu santo pelindung paling populer di abad pertengahan.

Kendati demikian, para reformator Protestan menolak penghormatan para kudus seperti Nikolas dan menghapusnya penggunaan kalender liturgi tradisional. Lebih jauh lagi, Philip Melanchthon mengatakan, “Para uskup, teolog, dan rahib memuji cerita-cerita [tentang para kudus] yang mengerikan dan jahat ini … karena cerita-cerita itu membantu mereka untuk makanan sehari-hari mereka.”2

Bahkan beberapa reformator tidak merayakan hari-hari raya tentang Kristus sendiri. Contohnya, ketika John Calvin melihat kerumunan besar yang luar biasa yang sedang mendengarkan khotbahnya di hari Natal, ia berkata kepada mereka:

Jika kamu berpikir bahwa Yesus Kristus dilahirkan pada hari ini, kamu sama gilanya dengan binatang buas. Karena ketika kami mengangkat satu hari saja untuk tujuan menyembah Allah, maka kamu baru saja mengubah hari itu menjadi satu berhala … tidak ada hari yang lebih tinggi dari hari lainnya. Tidak masalah apakah kita mengingat kelahiran Tuhan kita pada hari Rabu, Kamis atau hari yang lainnya. Tapi ketika kita bersikeras untuk mendirikan ibadah berdasarkan kemauan kita, kita menghujat Allah, dan menciptakan suatu berhala, meskipun kita sudah melalukan semua itu dalam nama Allah.3

Martin Luther tidak begitu menentang ritual Katolik seperti Calvin atau Zwingli, dan berusaha memelihara ritual yang tidak berbau “kepausan.” Ketika tiba waktunya tradisi memberi hadiah pada Hari St. Nikolas (6 Desember), ia [Luther] menyarankan supaya umat Kristen merayakan hadiah yaitu Sang Kristus sendiri, malahan bertukar kado pada hari Natal.

Apa yang disarankan Luther tidak mencakup representasi St. Nikolas yang tetap menjadi bagian populer tradisi Natal, secara khusus di Belanda di mana St. Nikolas dikenal sebagai Sinterklaas.

Untuk menjelaskan bagaimana St. Nikolas “bertahan” di dunia yang berbahasa Inggris, kita harus melihatnya ke Inggris di abad pertengahan akhir dan perayaan “Father Christmas.” Awalnya julukan itu hanya kiasan seperti “Lady Luck” (atau di Indonesia ada istilah ‘Dewi Fortuna’ sebagai kiasan orang yang mujur –red.), yang tidak dikenali secara kultural. Namun, setelah beberapa waktu, Father Christmas ditampilkan sebagai seorang pria berjanggut yang periang dan mengenakan jubah hijau yang membawa keceriaan dan kegembiraan kepada orang dewasa (bukan kepada anak-anak) selama masa Natal.

Pada abad ke-17, setelah Perang Saudara Inggris, kaum Puritan yang menolak praktik “high church4” dalam Gereja Inggris untuk naik ke tampuk kekuasaan. Mereka berusaha untuk menghapus semua aspek Natal yang mereka gambarkan sebagai “hiasan kepausan dan jubah yang terkoyak kepunyaan binatang buas.” 5 Untuk menenangkan mereka, pelahan-lahan imajinasi populer menggabungkan sosok St. Nikolas dengan Father Christmas Inggris sampai perayaan Natal menjadi difokuskan kepada seorang pria berjanggut yang periang sambil mengenakan jubah yang membawa keceriaan, kegembiraan, dan hadiah pada tanggal 25 Desember.

Pada awal abad ke-19 di Amerika, setiap bulan Desember, orang-orang Belanda melanjutkan perayaan kedatangan Sinterklaas, yang digambarkan oleh Washington Irving pada tahun 1809 dengan padanan dalam bahasa Inggris “Santa Claus” (meskipun ia kelihatan seperti seorang pelaut berpakaian hijau yang gemuk). Hal-hal lain yang kita kaitkan dengan Santa Claus berasal dari berbagai sumber, termasuk puisi tahun 1823 yang berjudul “A Visit from St. Nicholas” (atau kita lebih mengenalnya dengan nama “The Night Before Christmas”), kartunis Harpers Weekly yang bernama Thomas Nast, dan juga iklan Coca Cola. Iklan Coca Cola itulah yang tertanam di benak orang Amerika akan gambaran seorang pria periang berjanggut berjubah merah putih yang punya tujuan supaya orang-orang minum soda selama bulan-bulan di musim dingin ketika minuman itu sedang tidak diminati.

Dari Virginia, “Santa Claus” itu berasal. Namun, warisan St. Nikolas tidak harus berakhir di sana. Natal bisa menjadi waktu yang penuh sukacita bagi umat Katolik dan memberikan kesaksian bagi saudara-saudari kita yang Protestan yang akan dikejutkan oleh para reformator yang lebih memilih ucapan “Bah Humbug 6 daripada “Merry Christmas.” Misalnya:

  • Tunjukkan kepada mereka bahwa “patung” itu tidak membuat dosa, melainkan membantu kita untuk mengingat pahlawan iman kita sehingga kita bisa meniru mereka. Lagipula, orang Protestan yang sama yang juga merasa keberatan dengan patung di Gereja Katolik biasanya tidak keberatan dengan palungan yang menggambarkan Keluarga Kudus.
  • Perkenalkan mereka kepada orang-orang kudus seperti St. Nikolas yang membantu supaya “Kristus tetap berada dalam Natal” karena tidak seperti Sinterklas, orang-orang kudus itu benar-benar ada dan menghormati mereka akan membawa kita semakin dekat dengan Kristus. Dalam biografi yang saya kutip sebelumnya, pengarang mengatakan bahwa Nikolas, “Oh tujuan yang bermanfaat dan indah dari Nikolas yang diberkati! Perhatian jiwanya yang baik hati terungkap dalam bentuk yang nyata dari teladan belas kasih Juruselamat kita yaitu Kristus kepada kita.”
  • Bantulah mereka untuk mengatasi gagasan mereka bahwa ritual-ritual itu berbahaya bagi iman yang seharusnya tentang “hubungan dengan Allah” dengan menunjukkan bahwa hubungan-hubungan yang paling penting itu dirayakan melalui ritual: kebaktian Natal yang harus mereka hadiri, menyalakan pohon Natal, memberikan hadiah, dan menyanyikan lagu-lagu Natal (yang terakhir ini dilarang oleh kaum Puritan7).
  • Tunjukkan bahwa Tradisi tidak bertantangan dengan Kitab Suci. Tidak ada orang Kristen yang mengikuti bentuk sola Scriptura yang ketat karena berbagai Tradisi berasal dari Kitab Suci dengan setidaknya ada melekat tradisi-tradisi yang non-alkitabiah (setidaknya tradisi kitab mana yang awalnya masuk dalam Alkitab). Tradisi yang bertentangan dengan Sabda Allah adalah salah, tetapi bukan Tradisi-tradisi suci yang diwariskan kepada kita selama berabad-abad, meskipun tidak secara ekspilisit ditemukan dalam Kitab Suci. Hal ini termasuk tradisi kesalehan dalam bentuk ungkapan sukacita “Selamat Natal” bukan hanya untuk satu hari saja, namun di sepanjang masa yang merayakan kelahiran Juruselamat kita Yesus Kristus.

 

Catatan kaki:

[1] St. Nicholas of Myra Life, by Michael the Archimandrite (Vita per Michaelem), Bibliotheca Hagiographica Graeca 1348

[2] Apology of the Augsburg Confession

[3] John Calvin Against Christmas, Dec. 25, ChristMass Christ-Mass Xmas Holy Days Idolatry False Worship

[4] “high church” adalah kepercayaan dan praktik dalam eklesiologi, liturgi, dan teologi yang menekankan formalitas dan penolakan akan moderinisasi (Wikipedia.org)

[5] The Puritan War on Christmas, Chris Durston

[6] “Bah Humbug” adalah ungkapan yang digunakan seseorang yang tidak setuju atau tidak menikmati sesuatu yang orang lain sukai, terutama pada kesempatan khusus seperti Natal (Cambridge Dictionary)

[7] When Christmas carols were banned, Clemency Burton-Hill

 

Sumber: “The Weird History of Santa Claus”

Posted on 16 December 2020, in Apologetika and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: