Natal dan Martabat Manusia

Oleh Philip Kosloski

Lilin Natal (Sumber: shutterstock dan aleteia.org)

Keindahan Natal menunjukkan kepedulian Allah bagi kita dan martabat kita yang luhur

Apakah Anda tahu kalau diri kita itu unik dan tidak bisa diulang? Inilah fakta yang mungkin kita ketahui secara intelektual, tapi sering sekali kita lupa dengan segala sesuatu yang salah dalam hidup kita.

Kelihatannya tidak ada orang yang peduli tentang kita dan bahwa hidup kita itu tidak berguna, atau hanya sekadar “angka.”

Namun, misteri Natal dengan jelas menunjukkan bahwa diri kita bukan hanya berguna, melainkan sebagai pribadi yang unik dan memiliki harga diri yang luhur.

Paus Benediktus XVI merefleksikan kenyataan ini dalam homili Adven pada tahun 2010.

Inkarnasi diungapkan kepada kita dengan terang yang kuat dan dengan cara yang mengejutkan, sehingga setiap kehidupan manusia mempunyai martabat yang sangat luhur dan tidak bisa dibanding-bandingkan1.

Allah tidak mempersatukan diri-Nya dengan makhluk lain di bumi, melainkan dengan manusia, yang memperkuat fakta bahwa kita ini makhluk yang unik di antara semua yang hidup.

Dibandingkan dengan semua makhluk hidup lain yang mendiami bumi, manusia mempunyai asal mula yang jelas. Manusia ditampilkan sebagai satu makhluk yang unik, diberkati dengan kecerdasan dan kehendak bebas, serta dibentuk dengan realitas yang material.  Manusia hidup bersamaan sekaligus tidak terpisahkan antara dimensi rohani dan fisik. Allah mengasihi kita dengan sangat besar sekaligus total, tanpa membuat perbedaan. Allah memanggil kita untuk bersahabat dengan-Nya, Ia menjadikan kita sebagai bagian dari realitas yang melampaui imajinasi dan setiap pemikiran dan perkataan: yaitu kehidupan Ilahi itu sendiri. Dengan perasaan dan bersyukur, marilah kira menyadari nilai martabat setiap pribadi manusia yang tidak bisa dibandingkan dan juga tanggung jawab besar kita untuk semua. “Kristus, Adam yang terakhir,”2 Konsili Vatikan II menyatakan, “dalam pewahyuan misteri Bapa serta cinta kasih-Nya sendiri, sepenuhnya menampilkan manusia bagi manusia, dan membeberkan kepadanya panggilannya yang amat luhur … dalam penjelmaan-Nya dengan cara tertentu telah menyatukan diri dengan setiap orang” (Gaudium et Spes 22)3.

Lebih jauh lagi, inkarnasi Yesus mengungkapkan kepada kita bahwa pribadi kita itu tidak bisa diulangi, dan tidak pernah diperlakukan sebagai “angka” atau “objek,” tetapi sebagai pribadi manusia.

Percaya kepada Yesus Kristus juga berarti memandang manusia dengan cara yang baru, dengan kepercayaan dan harapan. Selain itu, pengalaman itu sendiri dan akal budi yang benar menjadi kesaksian bahwa umat manusia itu mampu memahami dan menginginkan, menyadari dirinya sendiri dan dengan bebas, tidak bisa diulang, dan tidak tergantikan, yang merupakan puncak dari realitas di muka bumi, dan yang menuntut untuk diakui sebagai suatu nilai dalam dirinya sendiri dan selalu layak untuk diterima dengan sikap hormat dan kasih. Manusia berhak untuk tidak diperlakukan sebagai objek untuk dimiliki atau sesuatu yang bisa dimanipulasi kehendak bebasnya, dan tidak untuk dieksploitasi sebagai sarana untuk kepentingan orang lain dan kepentingan dirinya sendiri4.

Ketika kita merenungkan banyak sekali misteri Natal, jangan lupa akan martabat yang luhur yang dipercayakan kepada kita dan bagaimana kiba memiliki hubungan yang intim dengan Yesus, yang telah mengambil bagian dalam kemanusiaan kita. Hal ini mengangkat kita melampaui segala sesuatu dan harus mendorong untuk hidup yang lebih mencerminkan kebajikan, bukan hanya memperlakukan diri kita sendiri dengan hormat, namun memandang semua manusia lain dengan terang yang serupa.

Dalam menghadapi cara pandang yang menyedihkan tentang ketidakadilan yang dilakukan terhadap kehidupan manusia, sebelum dan sesudah dilahirkan, saya akan mengutip perkataan Paus Yohanes Paulus II yang penuh semangat terhadap tanggung jawab setiap dan masing-masing individu:

“Hormati, lindungi, kasihi, dan layanilah kehidupan, setiap kehidupan manusia! Dengan arah inilah Anda akan menemukan keadilan, perkembangan, kemerdekaan sejati, kedamaian dan kebahagiaan!” (Ensiklik Evangelium Vitae 5)5

 

Catatan kaki:

[1] Celebration of First Vespers of First Sunday of Advent for Unborn Life, Homily of His Holiness Benedict XVI

[2] ibid.

[3] Gaudium et Spes, katolisitas.org

[4] Celebration of First Vespers of First Sunday of Advent for Unborn Life, Homily of His Holiness Benedict XVI

[5] Evangelium Vitae, Ioannes Paulus PP. II

 

Sumber: “How Christmas reveals that we are unique and unrepeatable”

Posted on 24 December 2020, in Kenali Imanmu and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: